Sign In

Remember Me

Mawar untuk Amar

Mawar untuk Amar

Mawar untuk Amar

Tau kah kau tentang seseorang atau mereka yang kerap menciptakan senyum-senyum kecil untuk hidupmu ? jika kau tau, maka kau akan tersenyum dalam setiap harinya, mensyukuri nikmat Tuhanmu, dan merasa begitu sempurna di antara manusia-manusia lainnya. Hidupku adalah bagaimana aku merasa dicintai, bagaimana aku merasa dilindungi, dan bagaimana aku menerima sebuah senyum terindah dari mereka yang menyapaku dengan hangatnya.

Aku sulit menggambarkan bagaiman rasa cinta yang besar ini pada mereka yang mampu membuatku bahagia. Merasa dicintai dan dikasihi oleh sentuhan lembut kasihnya. Aku ini seakan lapar perhatian meski aku sadar aku punya cinta yang tidak sedikit.  

Ibu, kau adalah bagian paling penting dalam hidupku. Seperti detaknya nadiku di dalam organ tubuhku ini. Tanpa belaian mu membuatku seakan tak berdiri di tempatnya, aku seakan tak mampu berlari dengan cepatnya, dan aku seakan sebuah gurun dengan ketandusannya. Ibu, bidadari tanpa sayapku. Anjungan keindahan dari sebuah lakon kehidupan.  Air matanya adalah kekuatan, tawanya seakan kesejukan, kata-katanya adalah kebaikan.

Siang ini dengan gemericik hujan sebagai bingkainya, setelah lama kuberpikir akhirnya aku putuskan untuk melakukan keinginan itu. Dengan langkah bak seorang prajurit yang tak akan kalah di medan perang. Entahlah, hal apa yang membuatku yakin untuk melakukan sebuah tindakan ini padahal aku tau ini dipandang sebuah kesalahan oleh mereka yang mengaku beriman.

“Yaya, yakin gue. Di antara payudara!” ujarku dengan lantangnya kepada seorang lelaki hitam yang begitu menawan menurut pandanganku. Ia sedikit menarik alisnya ke atas namun tak berkomentar. Setelah itu ia lakukakan perintahku dengan cekatan dan kemudian dengan sedikit kesulitan akhirnya selesai juga kerjaannya. Aku tersenyum puas saat melihat hasil dari kerjaannya.

“Berapa mas?” tanyaku sembari mengeluarkan dompet yang berisi beberapa lembar uang yang sengaja kutabung untuk melakukan hal ini.

“ 750.000 untuk semuanya.” Ujarnya dengan singkat. Lelaki ini memang tak punya basa-basi, tatapannya ramah namun terasa begitu dingin tapi ada yang aneh dari penilaianku. Dia indah di mataku.

******

Kupandangi sebuah cermin, saatku tak mengenakan bra aku tersenyum melihat sesuatu yang terlihat di antara buah dadaku. Aku jadi rindu Ibuku di kampung. Aku ingin pulang tapi pekerjaanku tak memungkinkan aku untuk menemui Ibu barang sehari pun. Tiba-tiba saja azan dzuhur berkumandang lantas dengan cepatnya aku melaksanakan kewajiban ini.  Setelah empat rakaat kulaksanakan ibadah shalat ini setelah itu aku bersila di atas sajadah. Caraku meminta dan bercerita pada Tuhan bukan dengan mengangkat ke dua tanganku melainkan tetap duduk santai dengan seragam ibadahku dan setelah itu bercengkrama akrab sambil sesekali menangis, tertawa, bahkan datar.

“Tuhan, maaf lagi-lagi aku melakukan sebuah kesalahan. Aku tau apa yang ku lakukan adalah kesalahan tapi aku ingin mengekspresikan kecintaanku dengan cara ini. Aku yakin kau memaafkanku dan memahamiku. Terimakasih”

Entahlah setelah bersantai-santai seorang diri di kamar kosku, tiba-tiba aku ingin menemui lelaki yang sempat beberapa bulan ku datangi. Tanpa banyak buang waktu aku langsung menemuinya di tempat kerjanya. Sesampainya di sana aku langsung mencari keberadaanya. Kutemui ia di sebuah balkon kecil yang terletak tidak jauh dari ruangan kerjanya.

“Haiiii” sapaku dengan senyum terbaik yang ku miliki.

“Haiii, mau buat apa lagi? Di antara buah dada lagi ? ujarnya sembari meledekku.

Aku tersenyum kecil dan mendekatkan mulutku dengan telingannya “sesuatu untuk Tuhan”  ucapku berbisik. Untuk ke dua kalinya ia menarik alisnya tinggi-tinggi. Namun, kali ini aku menangkap sebuah arti keterkejutan dari keinginanku ini.

“Apa?” singkatnya

“Kaligrafi allah”

“Di mana?” tanyanya

“Di bawah payudara kiri?” lagi-lagi ia terkejut.

“Melecehkan sekali” ucapnya sembari meninggalkanku. Kali ini ia merasa keberatan dengan keinginanku. Aku pun segera mengejarnya dan kutarik lengan kirinya sehingga membuat langkahnya terhenti.

“Aku punya alasan mengapa memutuskan di tempat ini. Jauh dari kesan melecehkan karena aku mau ia selalu dekat”

“Aku hanya pekerja dan seharusnya saya lakukan keinginanmu. Masalah melecehkan itu urusanmu dengan Tuhan.”

Membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk melakukan keinginanku. Lagi-lagi proses ini membuat lelaki tersebut melihat sebagian besar payudarku. Tapi, kulihat ia tampak professional, ia berbeda dengan lelaki lainnya sehingga aku merasa tak keberatan saat ia sedang menjalankan tugasnya. Seperti biasa setelah pekerjaannya mengukir tubuhku  usai aku melihatnya di cermin. Aku pun tersenyum puas.

******

            Sudah tiga hari aku berada di rumah ibuku, meski semua seisi rumah mendiamkanku aku tetap bertahan di sana, semua karena kesehatan ayahku dan tangisan Ibuku. Sudah satu bulan ayah sakit stroke, semenjak kepergianku dari rumah ayah dan ibu memang kerap sakit-sakitan. Aku tau mereka marah karena aku bersikeras untuk meninggalkan rumah setelah aku memutuskan bekerja sebagai seorang penulis. Alasanku adalah karena aku seorang penulis maka aku membutuhkan inspirasi yang berbeda maka ku yakin dengan lingkungan yang berbeda maka tulisan yang ku hasilkan pun akan memiliki identitas yang berwarna namu mereka tak ingin memahami alasanku.

            Setelah ayah pulang dari rumah sakit, ayah menulis sesuatu di sebuah kertas. Ayah tak lagi bisa berbicara, bibirnya sedikit miring, bahkan ia hanya bisa berjalan dengan kursi roda satu-satunya yang ia miliki.

            Jangan kembali dulu, ayah masih rindu. begitu tulisannya. Akhirnya aku urungkan keinginanku untuk kembali ke Jakarta dan tetap menginap di rumah. Sembari mencium kening ayah aku tinggalkan ayah keluar dan diganti oleh Ibu dan kakak lelakiku yang menemani ayah di ruang tamu. Sejak kecil aku memang kerap memisahkan diri dari kebersamaan keluarga karena aku memang tidak suka keramaian. Aku lebih suka berdiam diri di sebuah gubuk kecil di belakang rumahku sambil melihat pemadangan gunung yang terhampar indah sebagai objeknya. Di sana aku banyak memproduksi imajinasi-imajinasi baru yang sulit kutelurkan saat aku berada di kamar atau saat aku sedang bercengkrama dengan keluargaku.

            Sekitar pukul 14.14 aku sedang asik berdiam diri di gubuk kecil itu, tiba-tiba sebuah tanda pesan masuk dari e-mailku, aku kotak-katik laptop kecilku dan segera ku buka e-mail tersebut.

Dear : [email protected]

From : [email protected]

Text

Haiii, gak pernah mengukir tinta lagi di studioku ?

Kalau butuh aku telpon aja ke 02141364865.

Aku tersenyum membacanya. Entahlah, lelaki ini benar-benar membuatku merasakan sesuatu yang aneh.

******

            Setelah menginap 4 hari di rumah Ibu dan memastikan kondisi ayah baik-baik saja akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kosanku yang begitu kurindukan. Tak ada penahanan lagi yang dilakukan ayah terhadapku. Ibuku pun selalu tampak diam saat aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Sejak dulu semua anggota keluargaku tak ada yang menyetujui jika aku pergi ke Jakarta, alasan mereka kolot menurutnya karena aku seorang wanita maka aku tak boleh keluar dari rumah sebelum aku dinikahkan.

            Aku adalah anak gadis satu-satunya milik Ayah dan Ibu, sejak dulu aku memang enggan untuk mengakrabkan diri dengan keluarga bukan karena aku tak menyayangi mereka tapi aku selalu merasa banyak perbedaan dengan mereka dalam segala hal. Maka, sejak aku merasa mampu untuk hidup sendiri aku memutuskan untuk segera pergi dari rumah dan menggapai cita-citaku menjadi seorang penulis dan entahlah rasanya Tuhan menyukai jalanku karena aku merasa Tuhan selalu memberi jalan baik dalam setiap langkahku.

            Cianjur-Jakarta di tempuh tidak terlalu lama. Dalam waktu tidak sampai 3 jam aku sudah sampai di sebuah kamar kecil penuh kebahagiaan. Aku rebahkan badanku yang letih ini. Tiba-tiba dalam rebahku ku temui wajah ayah di dalam fikiranku, jelas sekali wajah ayah saat menahanku untuk pulang beberapa hari yang lalu, wajah ayah yang selalu tersenyum saat ku mencium keningnya.

“Ayah, cepat sembuh ya” ucapku lirih.

            Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki di studio itu, tak lama aku langsung menghubunginya.

“Haiiii, mas aku yang beberapa hari lalu memintamu membuatkan sesuatu untuk Tuhan” ungkapku sambil mengingatkannya pada sosokku dan ternyata tidak butuh lama untuk dia mengingatku

“Oh, kamu. Ada yang bisa saya bantu?” ujar ia seadanya.

“Bisa ke kosanku? aku enggak bs ke studiomu”

“Oke tunggu beberapa jam lagi aku ke sana. Sms alamatnya saja!”

            Sambil menunggu kedatangannya aku tetap berbaring lemas di atas tempat tidurku, hari ini kepalaku terasa begitu sakit namun aku tetap bisa menahnya. Entahlah, mungkin karena akan kedatangan seseorang yang selama ini mampu membuatku terasa begitu gugup di hadapannya.

******

            Setelah cukup lama aku menunggu kedatangannya, akhirnya ia datang juga dengan membawa satu tas ransel berukuran sedang namun terlihat begitu padat isinya. Ia tersenyum ke arahku, tatapannya semakin membuatku merasa nyaman berada di sisinya. Aku serasa beruntung mengenal dan telah berkerjasma dengannya.

            Setelah ia menata alat-alat yang akan dipergunakan untuk melukis tubuhku, ia pun duduk tepat di hadapanku, lagi-lagi sambil tersenyum. Hari ini ia tampak berbeda dari hari biasanya. Raut wajahnya terlihat begitu bersahabat.

“Mau buat apa dan di mana?” ujarnya penuh keramahan. Aku langsung menunjuk punggung sebelah kiriku dan tubuhku segera ku balikan kearahnya.

“Aku mau ukurannya lebih besar dari ukuran gambar yang pernah ku buat di tubuhku”

“Terus?” ungkapnya, sedikit penasaran dengan gambar apa yang akan kubuat lagi. Tak lama aku langlsung merogoh saku celana belakangku dan ku keluarkan foto ayah yang baru saja ku ambil dari rumah sebelum aku pulang tadi.

“He’s your father?”

“Yes.” sambil menganggukan kepalanya

            Tiba-tiba lelaki ini memutar tubuhku dan kini wajahku berada tepat di hadapan wajahnya. Kali ini aku benar-benar merasa terkejut dengan sikapnya,  seketika aku merasa gugup di hadapannya. Baru kali ini aku merasa sedekat ini pada seorang lelaki. Ia memandang wajahku dengan seriusnya, terbaca jelas olehku kalau lelaki ini memiliki ribuan pertanyaan tentang aku di otaknya.

“Kenapa loe memandang gue seperti ini?”

Ia masih terdiam dan terus memandangku. Wajahnya tampak serius, rambutnya yang sedikit berantakan tetap tidak mengurangi nilai keseriusannya. Aku semakin gugup dibuatnya, perasaan yang tidak-tidak mulai mengganggu fikiranku. Perlahan aku menjauh dan melepaskan cengkraman kuat tangannya di kedua lenganku dan sepertinya lelaki itu mulai merasa kalau akau sudah mulai risih dengan tatapannya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, suasana hening mulai mendominasi ruangan kamarku dan lelaki ini tetap mentapku meski tak seserius tatapan sebelumnya.

Ia mulai membuka mulutnya. “Sudah ratusan tubuh wanita gue sentuh tubuhnya untuk gue buatkan beberapa lukisan indah yang begitu mereka banggakan. Semua memilki arti yang penting untuk mereka. Semuanya indah setelah gambar itu melekat di tubuhnya. tetapi ada yang berbeda dari setiap gambar yang loe inginkan meski pada dasarnya semua itu sama. Rasanya ada arti lain yang gue tangkap”

“Mawar, kamu adalah sebuah keindahan. Tubuhmu molek menurut pandanganku. Bersih seperti langit biru, menyejukan seperti hembusan angin di atas bebukitan, menawan seperti bibir yang dilukis oleh gincu merah yang membara, dan cantik seperti arti dari sebuah bunga mawar yang sesungguhnya.”

“Maksudnya?” aku mulai merasa bingung dari kata-kata yang ia ucapkan tadi. Tidak seperti biasanya ia seperti ini. Aku menangkap maksud lain dari ucapannya meski aku belum tau betul apa maksudnya. Ia hanya tersenyum kearahku dan setelah itu mulai melukis punggungku.

Hampir sejam ia membuat wajah ayah di punggungku dan selama itu pula tak keluar sepata kata pun dari mulutnya. Aku mulai mengerti kata-katanya tadi terhadapku.

“Kamu tau ?” ucapku membuka keheningan kami. Ia tetap tak menjawab pertanyaanku. Ia tetap fokus melukis tubuhku dengan mesin-mesin yang terasa begitu membuatku merasa nyinyir kesakitan.

“…aku ini wanita kesepian. Aku hidup dari setiap rangkaian kata yang kubuat. Aku penulis. aku tak pandai bercerita melalui lisan, aku tak pandai berdendang, dan aku pun tak pandai bersosialisasi dengan orang banyak. Bahkan aku tak pandai mengungkapkan kecintaanku pada mereka, seperti yang engkau ketahui dari beberapa lukisan tubuhku yang kau buatkan. Setelah menemuimu aku seperti menemukan partner untuk mewujudkan keinginanku. Aku menyukai tattoo dan aku tau Tuhan melarangnya tapi aku yakin Tuhan memakluminya. Aku memiliki beberapa cinta seperti yang kau ketahui dari beberapa tattoku. Seperti tattoo pertamaku, tattoo sederhana bertuliskan Ibu dengan bidadari kecil di sekelilingnya ia terletak di antara buah dadaku. Aku mengartikannya Ibu seperti detak jantungku, aku hidup karena Ibu hidup dalam setiap detakanku dan setiap hembusan nafasku, Ia seperti bidadari untuk hidupku. Meski kami tampak tidak dekat tapi hatiku dekat dengan Ibu. Itu yang kurasakan. (terdiam sejenak dan lelaki itu mulai perlah menghentikan kegiatannya menatto tubuhku)

Tattoo keduaku, yang sempat kau perotes kalau aku  melecehkanNya. Kaligrafi Allah yang berada tepat di bawah payudarah kiriku. Kau tau alasannya? Tuhan itu hatiku, Tuhan adalah sumber kecintaanku, Ia pemilik rohku, Ia hak dari segala hak untuk hidupku. Ia berada di hatiku maka aku letakkan keindahan itu tepat di hatiku yang ku ketahui hati itu terletak di sebelah kiri di bawah payudarah. Aku ingin Tuhan tau ia juga berarti untukku, Ia alasanku untuk beribadah karena Tuhan adalah tujuan akhir hidupku, aku ingin bersanding dengannya di surga nanti meski aku belum benar-benar paham keberadaan surga yang sebenarnya.

Dan sekarang ayahku, ia sedang sakit stroke dan aku baru saja menemuinya kemarin. Sudah cukup lama ia tak lagi bisa berdiri, berjalan, dan bebicara. Hidupnya tergantung pada kami dan kursi roda kebanggaannya. Beberapa hari kemarin ia sempat melarangku untuk kembali ke tempat ini, dengan susah paya ia menulis beberapa kata untuk melarangku kembali.

“Terus kenapa kamu kembali?” tiba-tiba suara lantangnya menghardik pembicaraanku. Aku hanya terdiam dan menunduk.

Lagi-lagi suasana hening mendominasi ruangan kecilku, dengan perbincangan panas ini aku merasa begitu dekat dengannya. Dia lah satu-satunya orang yang mengetahui tattoo di tubuhku dan arti dari setiap tattoo yang tergambar dalam tubuhku. Aku tak pernah seterbuka ini pada manusia apalagi lelaki. Sekali lagi dia memang indah di mataku.

Tak ada lagi perbincangan panas ini, tangannya terus bergerak untuk mengukir tubuhku sesuai dengan gambar yang ku inginkan. Kebisuan menjadi teman perbincangan saya dan dia. Dia tak lagi bertanya, dia tak lagi beragumentasi. Dua jam kemudian gambar ayah telah melekat di punggungku. Setalah ku bayar karyanya sesuai dengan tarif yang ia kenakan dan ia pergi dengan senyum yang tak berarti.

*****

            Azan subuh baru saja berkumandang tetapi sebelum azan memanggil aku telah bersila di atas sejadaku bukan karena aku sedang menunggu panggilan azan tetapi dari pukul dua pagi tadi ibu telah menelponku dan mengambari tentang sebuah berita duka, ayah sedang diambang kematian. Ayah lagi berusaha melepas nyawanya dengan kesakitan. Zikir tak pernah berhenti sejak kabar itu kudengar, aku menangis sejadinya minta Tuhan segera memudahkan jalannya. Aku tau penyakit ayah begitu parah, aku tak  ingin ia tersiksa, aku tak ingin ia kesakitan. Aku elus punggungku bergambarkan wajah ayah aku merasa ia ada di dekatku.

            Ketika usiaku masih di bawah 10 tahun, ayah selalu menggendongku di punggungnya kita kerap mengelilingi kebun teh yang berada persis di depan rumah kami. Ayah adalah tulang punggung untuk kami sekeluarga, tubuhnya besar dan kuat, segala pekerjaan pernah ia jajal sampai akhirnya ia berhasil mengelola  kebun teh kami dengan sukses.  Dalam kesehariannya Ayah tidak banyak bicara, ia selalu membuktikan kecintaan pada keluarga dengan segala sikap manisnya. Hubunganku dengan ayah dulu sangat baik, ayah selalu menjadi pembelaku setiap aku bertengkar dengan abang dan ibuku namu suatu hari kedekatan kami renggang karena keputusanku yang ingin merantau ke Jakarta. Kini ayah sedang berjuang untuk akhir hidupnya mungkin tanpa aku di sisinya. Aku tak bisa ke cianjur pada tengah malam seperti ini karena tak ada bus yang beroperasi. Aku terpaksa harus menunggu bus pukul 06 karena itu bus pertama yang beroprasi di terminal dekat kosanku.

            Aku masih menangis, meraung pada Tuhan agar Tuhan memberikan kemudahan pada Ayah. Aku tak sanggup membayangkan wajah ayah. Pasti ia kesakitan, pasti sudah tak tahan lagi, aku berharap ayah tak menungguku sampai datang karena aku tak mau ia semakin tersiksa oleh sakitnya.

“Ayahhhhhhhhhhhhhhhh, aku di sini mengikhlaskanmu”

Tiba-tiba ponselku berdering, aku pikir itu telpon dari abang atau ibuku tapi ternyata bukan  melainkan dari lelaki yang begitu indah di mataku.

“Hallo…” ia menyapaku dengan lembut. Tetapi aku hanya menangis, tak ada suatu suarapun yang ku ucapkan selain tangisanku.

“Kenapa Mawar?” ia terdengar begitu khawatir dan tak lama aku matikan telponnya. Aku tak sanggup berkata apa pun yang aku bisa aku hanya menangis karena aku ingin segera bertemu ayah.

            Setengah jam kemudian aku sudah siap untuk menemui ayah. Dengan pakaian seadanya aku segera meluncur ke terminal yang berjarak tidak terlalu jauh dari kosanku. Namun, ketika aku hendak mengunci pintu lelaki yang indah di mataku datang menemuiku. Dia heran bukan main, melihatku menangis sambil segera ingin pergi. Ia langsung memelukku dan membiarkan aku menangis meraung-raung. Dia tak langsung memaksaku untuk cerita, sampai akhirnya aku terasa begitu tenang dan melepaskan pelukannya.

“Ayahku sakit dan kini sedang berjuang untuk menemui Tuhan.” Aku tertunduk lesu dan ia tetap menatapku dengan syahdunya.

“Aku mau ke Cianjur. Tapi bus pertama baru jalan satu jam lagi”

“Biar aku antar.” Tatapannya begitu kuat kearahku, aku tak mampu lagi bisa menolak permintaannya.

*****

            Pukul delapan pagi aku sudah sampai di rumah. Ayah sudah menemui Tuhan tadi pukul   tujuh, aku tak lagi menangis seperti tadi, aku lega karena ayah sudah berhasil melepaskan kesakitannya. Sesampainya di rumah ibu dan abangku langsung memelukku dengan tangisan histeris yang tak lagi bisa dibendung. Aku melihat jasad ayahku, tersenyum dan penuh kedamaian. Perlahan aku dekatkan tubuhku ke arah tubuhnya yang berbaring kaku tak bernyawa lagi.

“Ayah, Mawar sangat mencintai ayah” bisikku di telinganya sambil mengelus rambutnya.

Aku terus meletakan kepalaku di sebelah kepalanya, aku ingin merasa sangat dekat dengannya hari ini. Air mataku tak lagi mengalir dengan derasnya seperti tadi, aku terus mengelus rambutnya, dan otakku seakan memutar kembali kenangan indah bersamanya. Aku teringat atas tattoku yang aku buat bergambar wajahnya dan saat itu aku seperti mendapat kekuatan karena aku percaya ayah selalu bersamaku dan kini aku yang menggendongnya di punggungku.

*****

            Sudah tujuh hari ayah menemui Tuhan di tempatnya yang indah, aku telah mengikhlaskan ayah meski hati ini masih suka teramat perih menyayangkan kenapa disisa-sisa umurnya aku masih tetap bertengkar dengannya, aku belum sempat mencium tangannya dan mengucapkan maaf karena sudah memutuskan untuk pergi dari rumah. Di hari ke tujuh itu akhirnya ibu melunakan hatinya untuk melepaskan ku pergi dari rumah dan hidup mandiri di Jakarta sebelum aku kembali ibu berjanji kalau dirinya dan abangku akan menengokku suatu hari nanti.

            Lelaki yang begitu indah di mataku tak tampak lagi di hadapanku setelah ayah di kebumikan bahkan ia tak sempat pamit kepadaku ketika ia mau pergi. Tetapi, aku bahagia karena ia begitu  dekat denganku disaat hati ini sedang berduka. Tiba-tiba keinginan gilaku melintas di kepala, aku ingin segera kembali ke kosan dan setelah itu mengukir satu tattoo terakhir di tubuhku. Dua jam perjalanan aku tempuh dari Cianjur ke Jakarta. Sebelum kembali ke kosan aku sengaja mencari studio pembuatan tattoo yang paling dekat dari kosanku. Aku minta dibuatkan tattoo bertuliskan nama “AMAR” di punggung kananku. Entahlah aku merasa aku mencintai satu lelaki lagi selain ayahku maka aku sandingkan tattonya di dekat ayahku dan sama-sama berada di punggung. Setelah nama itu terukir di punggungku aku berjanji pada diriku ini adalah tattoo terakhir.

            Sesampainya di kosan aku langsung melepas bajuku sehingga setengah badanku terlihat bugil. Aku berdiri di sebuah kaca, aku memutar-mutarkan tubuhku. Ada tattoo Tuhanku, Ibuku, Ayah, dan lelaki yang indah di mataku “AMAR”. Dia lah satu-satunya lelaki yang ku cintai saat ini, semenjak ayah pergi menemui tuhan.

*****

MAWAR kau di tubuhku

Amar membuka sebuah pintu kaca dengan semangatnya, ia datang menemui teman wanitanya dan kemudian berbincang akrab dengannya.

“Tan, please buatin sebuah tattoo cantik di punggung sebelah kanan gue.” Intan kaget mendengarnya karena yang ia tau sahabatnya ini tak pernah memiliki niat untuk mentatto tubuhnya selama 10 tahun sahabatnya ini bekerja sebagai seniman tattoo.

“why?” Intan heran dan menatapnya penuh penasaran

“Jangan Tanya kenapa ya Tan. This is my choice.” Intan tertawa dan kemudian segera mewujudkan keinginan sahabatnya. Tak sampai satu jam Intan berhasil mentatto punggung sebelah kanan sahabatnya dengan sebuah gambar  mawar.

“Tan, terima kasih ya “ ucap Amar dengan bahagianya sambil membolak-balik buku tamu yang berada di dekatnya. Intan hanya tersenyum dan memberi isyarat dengan jempol yang ia acungkan ke arah Amar. Namun, Amar semakin fokus dengan buku tamu yang sedang ia pegang.

“Ada yang salah dengan buku tamu itu ‘Mar?” Amar masih terpaku menatap satu nama yang tertulis di buku tamu, Intan yang penasaran segera mendekati Amar dan kemudian melihat apa yang sedang diperhatikan Amar. Intan langsung paham dengan apa yang dibaca oleh sahabatnya.

“Itu pelanggan baru gue, namanya Mawar dan ….” Tiba-tiba Intan teringat sesuatu

“Dan apa Tan?” Amar penasaran dan segera menghampiri Intan yang kini mulai menjauh dari tubuhnya. Intan seperti teringat sesuatu.

“dan, iya iya gue baru inget. Dia minta dibuatin tattoo di punggung sebelah kanannya bertuliskan nama “AMAR” dan itu kan nama lu. Terus terus dengan tiba-tibanya elo minta dibuatin gambar mawar di punggung sebelah kanan. Iya… iya ada apa antara loe dan si Mawar ini?” ungkap Intan dengan penuh senang dan begitu terheran-heran dengan kesinambungan antar mawar dan amar.

            Amar berlari meninggalkan Intan yang masih penasaran dengan maksud dari tattoo pelanggan barunya dan sahabatnya Amar. 15 menit kemudian Amar sudah sampai di kosan milik Mawar namun sayang Mawar tak berada di tempat. Teman sebelah kamarnya mengatakan kalau Mawar sedang ke percetakan untuk melihat sejauh mana buku novelnya diproses namun temannya memberikan kunci kamar Mawar yang dititipkan kepadanya. Tanpa buang waktu Amar mengambil kunci tersebut dan ia memilih untuk menunggu mawar di dalam.

            Sudah pukul lima sore Mawar tak kunjung datang, hujan turun dengan derasnya bahkan sore itu terasa seperti diselimuti oleh awan mendung dan petir. Amar merasa begitu khawatir dengan keadaan  Mawar di luar sana dan ia semakin yakin untuk menunggu Mawar sampai Mawar tiba. Tak lama azan magrib berkumandang Mawar membuka pintu kamarnya, ia kaget karena pintunya tak terkunci dengan langkah ketakutan ia mencoba menyalakan lampu kamarnya dan ia kaget bukan main ketika melihat sosok Amar berdiri tegak di hadapnya sambil menatapnya dingin.

“mau apa kamu di sini?” Tanya Mawar heran

“aku mau mengawinimu malam ini dan kemudian menikahimu?” Mawar hanya tertawa menanggapi lelucon ini.

Amar mendekat kearah tubuhnya, kemudia ia mulai perlahan membelai rambut indah sang mawar. Ia menatap dalam-dalam wanita yang sangat ia sadari telah membuatnya jatuh cinta luar biasa. Dahulu ia teramat benci dengan wanita yang mendatangi dirinya untuk dibuatkan tattoo namun  tak terkecuali pada Mawar. Ia mulai mendekati Mawar mengelus-elus pinggangnya yang mungil dan mulai mengelupas baju yang Mawar kenakan.

“kamu mau apa?” Mawar begitu kaget dan secara tidak sengaja mendorong Amar. Namun Amar tetap berdiri tegak di hadapnya dan amar hanya tersenyum.

“tenang Mawar aku hanya ingin melihat punggungmu” kali ini Mawar kaget dan ia mulai tak percaya kalau Amar telah mengetahui tatto barunya. Ia malu kalau Amar tau ia sangat mencintainya. Mawar mulai mempasarahkan tubuhnya, ia percaya kalau Amar adalah lelaki baik dan ia biarkan Amar mencopot baju serta memutar tubuhnya ke belakang. Amar langsung memeluk Mawar seketika ketika ia tau tertulis namanya di punggung Mawar.

“tau kah kau Mawar? aku sangat mencintaimu. Hatiku begitu ingin memilikimu dan aku ingin selalu bersamamu”

Mawar membalas kecintaannya dengan sebuah rasa yang luar biasa.  Mawar memeluk erat tubuh Amar melalui pelukan itu mereka bercerita tentang sebuah cinta. Mawar bahagia karena ia kini telah bersanding mesra dengan Amar.


Menulis adalah kegiatan tentang isi hati yang paling jujur.

Leave a Reply