Sign In

Remember Me

Payback Takterduga

Siang itu seperti biasa aku langsung capcus menuju ke kursusan bahasa Inggris di bagian kotaku yang lain begitu selesai mengajar di sebuah SMA.  Kalo dari tempat kerjaku,  aku harus naik angkot dulu ke terminal,  turun di terminal,  pindah ke bis kecil atau bis besar yang lewat daerah sebelah timur kotaku.  Seperti biasa,  setelah menunggu cukup ada penumpang naik,  bis pun mulai berjalan.  Lumayan penat rasanya badanku karena dari selesai mengajar sampai jam setengah 2, langsung lanjut kerja lagi. Tapi jadi lebih semangat karena biasanya kubuat corat coret planning untuk kelasku di tempat kursusan sepanjang perjalanan naik bis. Setelah sekitar satu jam,  aku sampai di sebuah perempatan dan aku turun untuk nunggu bis yang akan lewat ke daerah tempat kursusan itu berada.  Sekitar 10 menitan menunggu,  bis pun datang.  Lumayan penuh.  Alhamdulillah aku dapat tempat duduk.  Meskipun berdiri sebenarnya tidak terlalu membuat bete.  Yang bikin bete kalau ada yang merokok.  Sudah siang siamg hawanya panas,  bis sesak, ada yang merokok.  Hmmmm….. memang aku sering merasa jengkel dengan orang orang yang merokok di atas bis.  Tapi aku juga berfikir,  memang aku naik bis umum,  tidak ber AC,  jadi harus terima kalau menemui orang orang yang merokok di dalam bis.  Diantara pikiran yang lagi bete itu,  aku melihat ada seseorang yang sedang ditarik karcis oleh kondektur bisnya.  Orang itu bingung.  Sepertinya dia kekurangan uang. Kondekturnya mau menurunkan dia.  Orang itu memelas minta tidak diturunkan begitu saja.  Dia mohon untuk diturunkan di tempat tujuan dia.  Kondekturnya terlihat marah.  Aku merasa kasihan,  membayangkan bagaimana kalau orang itu betul betul akan diturunkan di pinggir jalan begitu saja, padahal jika dia benar benar kehabisan uang,  bagaimana nanti dia akan pulang ke rumahnya.  Lalu aku beri uang ke kondekturnya untuk membayar karcis orang itu. Setelah beberapa saat,  orang itu turun.  Sekian menit kemudian,  aku sudah mau sampai ke tempat kursusanku. Aku pun berdiri dan berjalan menuju ke sebelah kiri sopir.  Aku serahkan uang karcisku ke kondekturnya.  Tapi kondekturnya bilang, ” Gak usah,  mbak,  sudah dibayar.” Lho,  aku kaget,  aku tanya, “Tapi,  pak,  siapa”. Kondektur itu cums menunjuk ke arah belakang.  Siapa?? Aku tidak merasa bertemu dengan teman atau saudara yang kemungkinan bayari karcisku.  Aku masih bingung,  masih mau berikan uang karcisku,  tapi kondekturnya menolak. Sampai kuturun di depan kursusan tempatku bekerja,  aku masih bingung.  Siapa yang bayari aku ya?  Ya mestinya ALLAH telah menggerakkan hati seseorang untuk begitu saja membayar karcisku padahal tidak kenal aku… Subhanallah… 

 


Leave a Reply