Suasana asrama malam ini masih sama seperti biasanya. Dan karena skrg adalah bulan puasa suaara suara lantunan ayat suci lebih sering terdengar dari pada suara ribut tidak jelas yg biasanya dihasilkan dari bercandaan santri2 yg jail. Setelah selesai melaksanakan shalat traweh kami biasanya menunggu waktu untuk memulai ngaji kitab atau yg sering kami sebut ngalogat itu dengan jajan jajan sambil ngobrol2, atau mereka santri yg rajin biasanya memanfaatkan waktu itu dgn membuka al quran, tadarus tentunya. Memangnya apalagi? Sayang jika waktu senggang tersebut hanya di habiskan untuk mengobrol tdk jelas, ahh itu hanya pemikiran orang2 rajin saja, tdk dengan aku dan jarrel. Haha jangan di tiru ya teman teman. Sopi, hikmah , bety dan dija juga tidak berbeda dgn aku dan jarrel, mereka memilih untuk menunggu lonceng berbunyi dgn jajan. “Ke warung yuk, jajan ” sopi memecah keheningan. “Ayok pi tapi aku nitip ya ” hikmah menyahuti ajakan sopi. ” nitip juga pi ” tambah dija dan bety berbarengan membuat mata sopi membelalak. Sudah menjadi kebiasaan memang, pengen jajan tapi malas kebawah. Dan akhirnya nitip. “Kebiasaan ah nitip nitip, turun lu pada” sopi menolak dengan judesnya. “Kali kali pi kita nitip lagian ga banyak ko, cuma es 5 baso nya 5 sama jajannya 5” tambah jarrel yg diikuti oleh tawa kami yg membuat sopi makin geram. “Gua tunggu di bawaah hahaha” sopi malah menutup pintu tanpa menghiraukan permintaan kami. Kami hanya melongo dengan sedikit kekecewaan karna akhirnya mau tdk mau harus turun ke bawah. “Telpon aja bi titin nyaa bet, suruh bawain makanan biar kaya kfc delivery delivery gitu hahah” bisik ku pd bety. bi titin adalah nama si pemilik warung asrama. Bety hanya tertawa dan menyenggol lengan ku. ” ide bagus tuh” hikmah antusis dengan ide bercanda ku. “Iya hallo bi titin? Ini dijaa aku mau pesen makanan boleh ya, baso 4 sama essnya 4 ya bi di tunggu di lantai 2” dengan modal sisir kepunyaan bety, dija memperagakan seperti sedang memegang handphone dan berdialog beneran ala ala konsumen kfc yg di akhiri dengan tawa dan lemparan buntelan kertas dari hikmah. “Gorengan angetnya juga jangan lupa di bungkus yaa bi, tapi itu tolong kenangannya dipisahin jangan sampe campur whahah” ” susah emg kalo ngomong sama anak gagal moveon, kenangan melulu bahasnya” jarrel ikut melemparkan anduk yg dipegangnya ke arah dija. Dija hanya melengos dan terbahak. ” jangan kebanyakan drma lu pada , yaudah yaudah turun semua ayok no nitip nitip klub” bety berdiri yg di ikuti dija dan hikmah. “Bentar bety, bentar lagi juga bi titin ke atas bawa basonya tunggu aja depan pintu hahaha kan uda gua telpon ” dija meyakinkan seakan2 telponnya tadi beneran. “Aduh kaki gua lemes banget ini” jarrel mengelus2 kakinya seakan2 dia memang sedang merasakan sakit. ” gabisa jalan bety, gua nitip yaah” jarrel mengedip2kan mata sok cantik dan so imut yg demi apapun membuatku mengucapkan kata amit2. “Yang mana yg sakit rel? Sini gua pijitin Hahaha” kataku sambil mengelus2 kaki jarrel “Gua nemenin jarrel aja ya kasian dia kalo sendirian takut tiba2 struk kan repot entar” aku menyengir sambil memberikan uang duaribuan kepada dija yg di sambut dengan tidak asik oleh dija. “Naaah ini nih” hikmah menggelengkan kepala ” alesan melulu huh aku benci kamu “. “Ah dasar ” bety menutup pintu di ikuti dija dan hikmah sambil mengoceh apalah itu karena suaranya mulai menjauh. Aku dan jarrel hanya terbahak. Merasa berhasil memenangkan perseteruan tak penting ini. “Mi hujan deh kayanya” jarrel mengintip ke jendela kamar kami memastikan. “Masa sih?” Aku kurang yakin karna semenjak tadi pulang traweh langit masib bagus2 saja dan sekarang hujan. “Eh ko iyaa sih?” Aku ikut mengintip ke jendela mengikuti jarrel. “Masa hujan lagi, skrg gua yg baper nih rel haha” kataku sambil kembali duduk, jarrel mengikuti. “Emang lo punya kenangan apa pas hujan? Palingan juga pas lo ujananan dimarahin nyokap trs skrg baper gitu?” Tebak jarrel. “Gua baper bermutu kali rel, ga kalah sweet sama cerita lo kemaren  

aku tak mau kalah.

” hahaha coba ceritain”

Aku mulai menceritakan dengan rinci.

Sore itu memang sedikit mendung saat aku dan zidan memasuki daerah dimana warung2 pinggir jalan mendominasi tempat ini. 

Tidak lama kemudian gerimis mulai turun membentuk bintik2 kecil pada kaca helm ku.

” gerimis dan” aku mulai panik, aku memang tidak biasa berada di luar rumah saat gerimis atupun hujan.

“Bentar lagi juga berenti ko, gausa panik aku gabakal biarin kamu keujanan my Queen” suara lembut zidan menenangkanku.

Aku hanya tersipu malu di belakang punggung zidan dan mempererat tangan ku yg melingkar di pinggang lelaki yg sedang mengemudikan motor antiknya didepan ku ini. 

Rasanya tenang saat bersama zidan, bahkan saat hal yg aku takutkan terjadipun aku tetap merasa aman selama itu bersama zidan.

Perlahan gerimis berganti hujan, aku semakin panik.

zidan hanya menenangkan aku dengan banyak kata2 yg membuat aku malah semakin panik.

“Aku gamau keujanan dan, aku takut ujan” aku memukul2 punggung zidan seperti anak kecil yg meminta permen pd ibunya.

“Tenang aja kan ada aku, my king nya kamu hehe” zidan hanya terkekeh dengan candaannya yg hanya membuatku merasa lebih panik.

“Kenapa ga neduh aja sih dan, nanti kita bisa sakit” aku terus mengoceh sedangkan zidan terus melajukan motornya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku menyapukan pandanganku, kita sudah berada di atas bukit, tidak ada pepohonan apapun disini selain pohon besar itu. Disini penjuru kota terlihat muram, karna kabut dan air hujan memperpendek jarak pandang. Tapi bisa aku pastikan jika tidak hujan tempat ini pasti sangat indah.

“Hujan ga bakal nyakitin kamu ko mi, dia turun buat banyak alasan” tiba tiba zidan memberhentikan motornya tepat di bawah pohon yg aku sebutkan tadi, hujan semakin besar dan dia malah berhenti, dibawah pohon pula.

“Turun yuk ujannya uda mulai deres” zidan menuntun ku untuk turun dari motornya, sdngkan dia sudah turun terlebih dahulu.

“Kamu mau neduh di bawah pohon ini? Please dan ini percuma kita uda basah dari tadi” aku mengernyitkan dahi tak mengerti.

“Ayok, turun aja dulu”

Aku berdiri di samping zidan tepat di bawah pohon besar. Baju kami sudah basah kuyup sekarang.

aku hanya menutup wajahku dengan tangan kecilku.

Zidan membuka helm dari kepalaku, dan menyimpannya di kaca spion motornya.

“Apasih yg kamu takutin dari hujan?” Zidan membuka tanganku yg masih menutupi wajahku.

Aku hanya menghindar, aku takut sekali pda hujan, entah kenapa.

“Gapapa dia gabakal nyakitin kamu, ada aku disini, kalo dia pukul kamu aku bakal pukul dia hhahaha” zidan memperagakan gerakan kuda2 seolah dia sedang menantang seseorang untuk bertanding. Zidan berhasil membuatku tertawa dan tanpa sadar aku melepskan tangan dari wajahku.

” gapapa kan?” Zidan memegang kedua bahu ku meyakinkan. Zidan melepaskan bahuku membiarkan aku menikmati dinginnya tetesan bening milik awan ini.

Not Bad, ini tdk seburuk yg aku bayangkan dulu. 

Tidak sedingin yg aku pikirkan. 

Aku memejamkan mataku merasakan air mengalir dari shower tanpa pipa ini. Hujan seakan membawa rasa takutku ikut mengalir dengannya, aku merasa nyaman sekarang.

“Ga seburuk itu kan?ini indah mi ” zidan menggerak2an kedua tangannya yg terlentang, seperti ingin menangkap tetesan ini dengan genggaman tangannya. Bodoh. Haha aku mengikuti gerakan zidan melentangkan tangan ku di samping dan memutar2kan badan.

“Ini hujan pertama ku, terima kasih zidaaaaaan my king is idiot aaaaaahahaha” aku berteriak kencang dengan tawa lepas.

“Queennya juga ga kalah bodooooooh hahaha” zidan berteriak dan tertawa.

Iya diatas bukit yg berkabut, dibawah pohon besar dilengkapi hujan deras. Kami seperti org gila. 

Saat org lain mencari tempat berteduh kami malah membiarkan tubuh menggigil.

Tawa kami mulai mereda. Zidan memelukku dengan lembut.

“Hujan akan turun buat banyak alasan, tapi mencintai kamu itu gak perlu alasan sedikitpun , Aku mencintaimu” bisik zidan. 

“Aku mencintai hujan” bisik ku pada zidan.

“Loh ko hujan jadi PHO sih” bisikan zidan membuatku terbahak 

Aku tidak lagi takut hujan, bisa jadi aku menyukainya sekarang.

Air hujan yg turun dari ranting ranting pohon besar ini turun tepat di kepalaku membuatku membalas pelukan zidan.

Aku mulai sedikit terbiasa dengan dinginnya air hujan, kaki ku yg terrendam oleh genangan air pada rumput rumput disini ku biarkan saja dia mendinginkan kaki kecilku.

Zidan melepaskan pelukannya, menatapku. 

“Jadi, nanti kamu boleh kok inget aku pas lagi ujan” zidan tersenyum manis, sangat manis.

“Sekarang aku tau alasannya kenapa kamu suka hujan” aku duduk di atas rumput yg ku injak tadi.

“Aku cuma suka sama hujan yang dilengkapin kamu, bukan hujan yg di lengkapi petir2 haha” zidan duduk disamping ku. 

Aku hanya ikut tertawa mendengar kata kata zidan.

Kami terdiam, sama2 menikmati dinginnya air yg membasahi tubuh.

Zidan mendekatkan wajahnya pda ku.

“Ini hujan ku yang paling indah, kamu menjadi pelengkap disetiap tetesnya, stay with me, please” suara zidan nyaris berbisik.

Aku melihat wajah zidan yg sedikit pucat, dia menatap lurus pada kabut2 yg menutupi pemandangan bukit ini.

“I’am stay here for you zidan, as always”

“Aku ga takut lagi hujan, yg aku takut adalah hujan yg turun tanpa kamu disisi aku”

aku menyandarkan kepalaku pada bahu zidan, menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh di wajahku melalui ranting dan dedaunan pohon ini.

Off.

” nih basonya, gak kepedesan ko” dija menyodorkan dua mangkuk baso milik ku dan jarrel.

diikuti dengan teman yg lain yg juga sedang menenteng mangkuk baso milik mereka.

Baru saja bety akan menyuapkan baso kedalam mulutnya, dan bunyi bel pun terdengar. 

Menandakan ngalogat akan segera di mulai.

“Mati mati mati” hikmah mulai panik menelan baso yg baru saja selesai di kunyahnya.

“Ah kelamaan sih kalian, jadi keburu ngalogat kan” jarrel buru2 menyuap kan baso ke mulutnyaa, karna ini mubadzir, kalau di makan nanti rasanya pasti berubah.

“Elu tuh ya uda nitip, komen komen lagi ” sopi nyerocos.

Aku hanya terbahak sambil sesekali meniup basoku dan menyuapnya.

“Ayok buruan ah tinggalin aja dari pda pintu majlisnyaa keburu di kunci kan” dija beranjak dari duduk nya mengambil kitab dan berlalu.

” eh tunggu dong sayang ini baso kalo dingin ga enak” teriak ku pada dijaa yg sudah di luar kamar.

Baso sudah setengah mangkuk, kami berniat untuk segera ke majlis, karna kami bisa kena hukuman kalau telat

Saat kami tiba di depan asrama, kami kebingungan, ini hujan. Bagai mana ini?

Tiba2 bety pergi ke arah belakang dan kembali dengn membawa payung yg berukuran cukup besar.

“Payung siapa itu bet?” Sopi tdk kalah heran dengan kami.

“Punya bi titin, pake aja dah dia galiat gua yg ngambil hahaha” tawa bety meledak 

Payung ini tdk muat untuk 6 orang….