JERITAN HATI  ANAK  YANG TEGAR

Inilah kisah inspirasional yang sungguh mengharukan dan menggetarkan jiwa dan hati. Betapa polosnya dan lugu hati seorang bocah yang bisa menerima semuanya apa adanya. Tak ada keluh kesah dan kerendahan dirinya. Yang ada hanyalah ketabahan, keserderhanaan, dan kenaifan yang terbungkus dalam kepolosan hatinya.

Aku menatap bocah tujuh tahun yang berdiri di depanku. Tubuhnya penuh dengan daki. Aroma tak sedak merasuki penciumanku. Entah sudah berapa lama tubuhnya yang mungil kecil tak bersentuhan dengan air dan sabun mandi itu.

Bola matanya yang begitu indah memancarkan sebuah semangat. Astaga! senyumannya begitu manis sekali ketika dia tersenyum padaku. sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya. laksana pelangi yang menghiasi wajahnya dan menghiasi langit biru.

“Nama kamu siapa Dik?” Tanyaku sambil membalas senyuman sambil memberi menjabat tangan.

“Namaku Andre.” Jawabnya sambil tangannya memainkan ujung bajunya yang memiliki banyak tampalan.

“Andre, datang sendirian ya?” Tanyaku sambil sambil menggenggam tangannya yang dingin dan aku belai kepalanya.

“Kak aku mau tanyak nih? Emang kalau nggak ada mama sama papa nggak boleh  sekolah di sini ya, Kak? Jawabnya pelan sekali.

Jawaban Andre menusuk hatiku.

“Siapa bilang nggak boleh? Siapa pun bisa kok belajar di sini Andre. Termasuk Kamu.” Jawabku lalu mengelus-ngelus kepalanya dengan begitu lembut.

“Aku nggak punya papa dan mama lagi Kak. papa dan mama aku sudah lama meninggal. Aku hanya tinggal dengan nenek.” Ucap Andre.

Aku begitu terkejut dan merasa iba mendengar ucapannya dari seorang anak yang berumur tujuh tahun itu yang ternyata sudah menjadi anak yatim piatu. Aku memperhatikan kantong plastik tua yang di bawanya. Merasa, aku penasaran dengan isi kantong plastik tersebut. Andre langsung mengeluarkan isinya.

Ya Allah! Aku mencoba membendung air mataku untuk tidak jatuh, karena ucapannya begitu menusuk di hatiku. Miris, sesak, terharu, menyatu dalam dadaku melihat isi kantong plastik yang di bawanya. dengan bangganya dia memperhatikanku, beberapa lembar kalender yang telah usang yang telah dipotong empat lalu di lobangi dan diikat dengan tali dijadikan buku. Sebuah pensil yang sepertinya sudah di serut dengan pisau.

“Buku Andre Jelek ya kak?” Aku langsung memeluknya.

Suaraku sepertinya tertahan di tenggorokanku. Aku tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Air mataku pun berhasil jatuh. Aku mengagumi semangatnya yang ingin belajar. Sebuah semangat yang luar biasa di antara keterbatasan yang dimilikinya.

Sewaktu aku kecil, aku sering merobek bukukku hanya untuk membuat pesawat kertas atau perahu. Ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA, bukuku sering penuh dengan coretan yang tidak jelas.

Selesai kelas dan anak-anak lainnya sudah pulang semua. Aku mengantar Andre pulang. Bukan karena dia tidak bisa pulang sendiri. Tapi aku ingin melihat di mana dia tinggal.

“Kakak, ini rumah Andre!” Ucapannya dengan penuh bangga. Tak ada sedikit pun rasa malu.

Ini bukan rumah apa lagi gubuk.

Aku memperhatikan hamparan tikar tua yang menjadi alas. Sekat setinggi lutut orang dewasa mengelilingi rumah Andre. Tidak ada dinding sama sekali apa lagi atap. Jalan tol megah menjadi atapnya. Tumpukan kardus menjadi perabot rumah tersebut. Halamannya penuh dengan tumpukan gelas dan botol bekas air mineral.

“Masuk, Kak! Nenek lagi nggak ada. Masih mulung!”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya. Aku masuk lalu menghempaskan tubuhku ke lantai.

“Kak, ini airnya di minum ya!” Ucap Andre lalu menyerahkan segelas air putih.

Aku meraih gelas yang penuh dengan air putih tersebut lalu meminumnya. Terasa aneh di lidahku. Sepertinya itu air sumur yang telah di rebus.

Dalam kurun dua minggu Andre sudah bisa mengenal semua abjad dan angka. Prestasi yang tidak dapat diikuti oleh teman-teman sekelasnya yang lain.

“Wow! Andre hebat! Sudah bisa mengenal semua huruf.” Aku memberikan pujian setelah kelas selesai.

Dengan malu-malu dia tersenyum padaku. Detik berikutnya, dia mencari sesuatu di dalam tas yang pernah aku berikan padanya.

“Aku pingin bisa membaca kitab suci seperti ini kayak mama dan papa dulu. Makanya Andre mau dan pingin sekali belajar Kak.” Ucap Andre kepadaku.

Wajahku rasanya seperti tertampar. “Maafkan aku Ya Allah. Pagi ini aku telah melupakanmu. Aku tidan membaca sabda sucimu.” Ucapku dalam hati.

Wajahku memancarkan kegelisahan. Entah kenapa, aku merasa khawatir ketika Andre belum juga datang. Tidak seperti biasanya. Jam segini dia sudah datang. Selalu dia menjadi murid yang pertama kali hadir tepat waktu di dalam kelas. Lima menit lagi kelas akan di mulai.

Hingga waktu jam proses belajar mengajar, Andre belum kunjung datang ke sekolah.

“Sakitkah dia?” Tanyaku dalam hati.

Tak satu pun yang tahu alasan Andre tidak hadir hari ini di dalam kelas. Selesai kelas, aku langsung bergegas menuju ke tempat tinggalnya. Sebelum sampai ke rumah Andre, seorang ibu menyapaku.

“Cari Andre ya Kak?”

Aku menganggukan  kelpala sambil menjawab. “Iya, Bu!”

“Andre di rumah sakit! kak! semalam Andre….”

Sungguh, aku tak mampu mendengar penjelasan ibu tersebut. Seragam dan perlengkapan sekolah yang aku pegang untuk Andre rasanya ingin lepas dari tanganku.

Rasanya langit seperti runtuh dan menimpaku ketika melihat keadaan Andre. Tangan kanannya penuh dengan perban. Andre kecelakaan ketika membantu neneknya memulung dan tangan kanannya tertindas ban truk sehingga dia harus diamputasi. Dengan bekal pinjaman sana sini dan bantuan tetangga serta pengguna jalan raya yang menyaksikan peristiwa tersebut, akhirnya Andre di bawa ke rumah sakit.

Kantong plastik yang berisi seragam sekolah, tas dan perlengkapan sekolah terlepas dari tanganku. Masih terngiang dikapalaku percakapan kami kemarin.

“Kak, aku mau masuk SD tapi kata nenek, uangnya belum cukup. Katanya baju seragam sekolah mahal.

Tapi Andre percaya kalau Allah pasti akan kasih nenek duit biar Andre bisa sekolah.” Ucap Andre.

“Andre, pasti kamu bisa sekolah,Percayalah!” Ucapku kepada Andre.

Tangan kanannya yang buntung dibalut perban. Betapa mirisnya hatiku melihat perban itu. Aku melihat tubuhnya yang begitu pucat dan menahan rasa sakit diantara selang infus yang masih terpasang ditubuhnya.

Aku mengumpulkan semua kekuatanku hanya untuk menyapanya.

“Assalamualaiku warah matu lahi wabarakatu Andre, gimana kabarmu hari ini?” Aku memberi salam dan menyapanya.

“Waalaikum sallam warahmatulallhi mawarakatu kak. Syukur Alhamdulillah kak Allah masih ngasih aku kenikmatan bernapas” Ucap Andre.

Aku duduk di sisinya. Aku membelai rambutnya.

“Kak, tangan aku sakit sekali. Tangan aku kenapa dipotong? Kan aku mau nulis?” Tanya Andre kepadaku.

Aku mencoba untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh membasahi pipiku. Aku tidak boleh menangis didepan Andre.

“Andre pasti sembuh kok!” Jawabku mencoba menghiburnya.

“Kalau Aku sembuh itu artinya tangan Aku tumbuh lagi kan ya Kak?” Tanya Andre kepadaku.

Nenek Andre yang berdiri dibelakangku memegang erat pundakku. Hanya Allah yang tau betapa perihnya hati ini melihat keadaan Andre.

“Iya, aku lupa. Aku bisa menulis pakai tangan kiri. Kalau Allah nggak ngasih mukjizat untuk numbuhin tangan kanan aku, Allah pasti kasih mukjizat buat aku untuk menulis dengan tangan kiri.”  Ucap Andre dengan senyuman.

Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku juga merasakan tetesan air mata nenek Andre jatuh membasahi tubuhku. Aku nggak bisa membayangkan kalau aku berada di posisi seperti Andre , aku mungkin bisa gila! Tapi berbeda dengan Andre. Dia tetap tegar dan optimis meski dia sendiri tidak tahu arti optimis itu apa.

Beginilah akhir cerita seru si Andre anak yatim piatu yang begitu tegarnya menghadapi musibah yang dia alami. Di balik serba kekurangan Andre anaknya cerdas, sabar, tegar. Andre anaknya berbeda dengan anak-anak yang seusinya yang sudah berpikiran dewasa. Terima Kasih Ya Allah Engkau telah memberikanku pelajaran yang begitu berarti.