Jalanan ini dipenuhi jajanan disetiap pinggirnya, begitu ramai. Seolah-olah orang akan memenuhi jajanan untuk dinikmati, tetapi tidak. Mereka hanya lewat, hanya meramaikan jalanan, Bukan jajanan.

 

Sederhana sekali pikirku, lewat secangkir kopi aku beradu hidup, lewat itu juga aku berlelah-lelah menguji diri menguji mental Serta menghargai waktu. 

 

Dalam cerita hidupku ini, aku berperan sebagai pemuda yg memperjuangkan hidupnya, studinya dan yang terpenting adalah mimpi-mimpinya. 

 

Bermimpi menjadi penulis misalkan, atau seorang design grafis atau bahkan bergabung di Dunia entertainment, semua itu ada dalam skenarionya, berat memang lakon ini.

 

Pertanyaanya sekarang, kenapa Harus “jajanan kopi” yg diperjuangkan. Hampir tak Masuk akal memang, Tapi sekali lagi inilah perannya. 

 

Bagiku menjual kopi dipinggir jalan sampai tengah malam Bukan masalah apa yg aku Jual, atau seberapa Banyak hasil yg aku dapat dr jualan Itu. Tapi ini tentang “seorang perjuangan pemuda”, tentang “pencarian makna” dan tentang aku yg sudah seharusnya merdeka, Bukan lagi masih menyusu ke ibu.

 

Berkat “jajanan kopi”, aku tak lagi minta sepuluh ribu tiap pagi. 😉