Aku Aldi, sekarang aku duduk dikelas 11 salah satu smk di Lembang.

Kelas 11 adalah masa paling sibuk berorganisasi, dan aku menjabat sebagai ketua logistik di OSIS.

Tinggal beberapa hari lagi akan ada acara Pentas Seni di aula sekolah, dengan demikian aku dan tim logistik begitu sibuk mempersiapkan dekorasi dan perlengkapan alat untuk acara Pentas Seni.

 

Di aula sekolah lah acara puncak digelar, aula ini sangat besar dan mempunyai hawa yang dingin.

Hari ini aku sedang memasang lampion di aula, jam menunjukan pukul 3 sore, cuaca di luar hujan gerimis.

Saat sedang mendekor aula, aku dihampiri oleh Pak Asep, beliau adalah petugas kebersihan di sekolahku, beliau bertanya kepadaku, sedang apa aku dan anak anak yang lain di aula.

Setelah menjelaskan, Pa asep hanya ngangguk-ngangguk dan memberi himbauan agar tidak lebih dari jam 5 sore berada di aula ini.

“loh.. kenapa gak boleh pa?” aku bertanya heran, namun Pak Asep tidak menjawab dan malah berlalu bergitu saja.

Ah.. ngawur, mungkin itu hanya candaan, aku tidak terlalu memikirkan tentang himbauan tadi dan langsung melanjutkan pekerjaanku.

Waktu terus berlalu, saat dirasa cukup dan karena waktu sudah mau mendekati adzan magrib juga, akhirnya aku bubarkan teman-teman dan menunda pekerjaan untuk dilanjutkan besok.

“eh. Semuanya udahan yu, kita pulang, lanjut besok aja” begitu kataku.

Akhirnya kami keluar dari aula, saat sedang dijalan menuju parkiran, temanku Yuda terpikir seperti ada yang tertinggal di aula,

“yah.. charger kamera milik sekolah ketinggalan di aula” Kata Yuda

“ya udah biar gue aja yang ambil “ begitu kataku.

Aku segera kembali ke aula, membuka kembali pintu aula yang tadi dikunci, begitu masuk aula aku langsung mencari charger itu, yang kata Yuda ada di bawah speaker kanan.

“nah.. ini chargernya” akhirnya aku menemukan charger kamera itu, tapi seketika aku dibingungkan dengan apa yang aku cium, yah… ini seperti bau melati sangat menyengat sekali.

Perasaanku mulai tidak enak dan jadi teringat kata kata Pak Asep tadi yang menghimbau tidak boleh berada di aula lebih dari jam 5 sore.

Aku bergegas mengambil charger itu dan langsung melangkah keluar, lalu…

“hay ka hihihi….” hah!!! Aku tersentak dan agak kaget, samar samar aku mendengar seperti suara anak kecil memanggil disusul oleh suara dia tertawa.

Perasaanku mulai benar benar kacau,  aku langsung berlari dan keluar dari aula itu.

Sampai di parkiran, aku menceritakan apa yang aku alami, dan teman-temanku hanya berpendapat mungkin itu halusinasi aku saja karena kecapean, tapi aku merasa yakin bahwa apa yang aku alami ini bukan halusinasi.

Esok pun tiba, aku masih teringat kejadian di aula itu, dan hari ini aku dan teman-temanku kembali ke aula untuk dekorasi akhir, ditambah hari ini aku harus setting soundsystem band untuk Pentas Seni yang diadakan besok.

Mungkin hari ini aku akan berada di aula lebih lama.

Hari ini aula ramai sekali, anak-anak OSIS ikut serta membantu mendekor aula, hari semakin sore dan jujur aku mulai merasa tenang-tenang saja dan lupa akan kejadian kemarin.

Waktu magrib tiba, aku dan teman-teman yang lain bergegas pulang ke asrama, dan nanti akan kembali ke aula setelah sholat isya, karena akan setting soundsystem untuk band di acara puncak esok hari.

Setelah isya aku dan beberapa temanku kembali ke aula, tidak seramai tadi sore, karena memang hanya beberapa teman yang aku tunjuk saja yang datang.

Aku dan teman-temanku sedang setting alat band, sambil memainkan alat musiknya juga untuk menghilangkan penat, ditengah kegiatan ada Pak Dani, beliau adalah staf sarana sekolah, Pak Dani datang ke aula bersama anaknya yang masih kecil.

Pak Dani hanya melihat-lihat keadaan dan menanyakan tentang persiapan besok.

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, aku dan teman-temanku memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah untuk sekedar minum kopi, begitupun dengan Pak Dani yang langsung pulang.

Kami mengosongkan aula, dan pintunya tidak dikunci, karena memang aku dan teman-temanku mungkin hanya sebentar pergi ke kantinnya.

Katika sedang di kantin, dan obrolan sedang berlangsung, aku merasa ingin buang air kecil, aku segera pamit ke toilet kepada teman temanku.

Aku pergi ke toilet yang memang letaknya dekat dengan aula.

Ketika aku sedang buang air kecil…

“hmmm suara gamelan?” yah… aku mendengar seseorang sedang bermain gamelan di dalam aula.

Setelah buang air, segera aku menuju aula karena penasaran siapa yang memainkan gamelan itu, mungkin karena pintu tidak dikunci jadi ada orang yang masuk.

Setelah masuk ke aula dan melihat yang ke arah gamelan, ternyata itu adalah anak Pak Dani, anak itu sedang asik memukul gamelan dengan posisi membelakangiku.

Huft… aku pikir siapa.

 “ade kenapa sendirian? Ayah mana?” begitu tanyaku sambil menghampiri anak pak Dani yang aku sendiri belum tau namanya.

“de, ayah mana? Kok kamu sendirian? Katanya tadi mau pulang?” aku kembali bertanya, tapi anak itu tidak menjawab.. sampai…

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA” tiba tiba  anak itu berteriak sambil membalikan mukanya 180° kepadaku, jeritannya seperti anak perempuan.

Mukanya hancur pucat dan mulutnya terus berteriak.

Aku kaget bukan main, dan lemas sekali, anak itu berdiri dengan tangan kedepan seakan ingin menggenggamku…

Aku lekas berlari sambil berteriak minta tolong, walaupun aku tau di aula ini tidak ada siapa siapa, aku segera menuju pintu keluar yang terbuka itu..

Sambil berlari, suara anak itu menjerit dan tertawa terus terdengar, aku hampir sampai pintu keluar tiba tiba….

“BRAAAK!!!”  astaga… pintu itu tiba tiba tertutup seperti ada orang yang menutup dengan keras.

Aku bingung, aku membuka pintu tidak bisa seperti dikunci, anak itu terus berlari ke arahku sambil menjerit dan tertawa.

Aku panik dan membaca doa doa yang aku harap bisa mengusir anak itu,

Anak Pak Dani yang tadi kulihat, kini wujudnya perlahan berubah menjadi sosok anak kecil berbaju Merah, darah lusuh dengan rambut sebahu, matanya yang semuanya putih dengan muka yang agak pucat hancur.

“kaka sini….” suara anak itu terus terdengar sambil terus berjalan mendekatiku..

Aku bingung, aku hanya berteriak dan terus berteriak, sampai tiba tiba….

“BRAAK!!” pintu yang tadi tertutup tiba tiba dibuka oleh Yuda dan beberapa temanku yang lain.

Aku lihat anak itu sudah hilang, Yuda dan temanku yang lain segera menghampiriku.

Nafasku masih tersenggal senggal seperti orang yang lari berkilo kilo meter.

Mataku masih menatap kosong kedepan.

Lalu aku dibantu berdiri dan dibawa keruangan kurikulum yang letaknya tidak jauh dari aula, disana aku mulai tenang.

Aku duduk istirahat ditemani Yuda, sedangkan beberapa temanku yang lain pergi ke aula untuk mematikan lampu dan mengunci pintu.

Setelah semuanya beres, kami pergi ke teras masjid sekolah, disana aku ceritakan apa yang aku alami, teman-temanku juga terlihat seperti ketakutan, mereka tidak bisa memberi penjelasan apapun tentang apa yang aku alami, yang teman-temanku katakan adalah mereka hanya melihat aku berteriak-teriak sendiri di aula.

Karena ketakutanku, dan apa yang aku alami, acara Pentas Seni besok terpaksa dipercepat waktunya, agar tidak lebih dari jam 5.

Keesokan harinya, aku dipanggil Bu Ida, beliau adalah wakil kepala bagian kesiswaan di sekolahku, beliau ingin mendengar apa yang aku alami, karena teman-temanku bercerita tentang hal yang kemarin kepada Bu Ida.

Setelah menceritakan semuanya, Bu Ida memberi penjelasan dan jawaban.

Sosok anak kecil itu memang ada, dulu sekali.. dibelakang aula itu ada pohon besar dan disana ada anak yang gantung diri, anak itu adalah warga sekitar sekolahku.

Kini sosok itu diam di dalam aula, dia suka duduk dibawah speaker kanan aula sekolah.

Dan itulah penyebab mengapa setiap ada acara di aula apalagi malam hari pasti ada orang yang kesurupan.