Kamu sebenarnya cuma menghargai perasaan kita aja. Menghargai perasaan kamu. Menghargai perasaan aku. Kamu menghargai kenangan kamu waktu kecil. Kamu cuma menghargai usaha kamu. Pencarian kamu. Segalanya. Kamu cuma mau menghargai dan enggak mencintai.”

Aku sedang melepaskan tempelan kertas sketsaku di permukaan pintu lemari kaca ketika menyadari seseorang baru saja masuk dengan gerutuan kesal dari mulutnya. Langkahnya sangat terburu-buru. Ekspresinya tampak aneh, karena orang itu sepertinya sedang menahan marah, yang mungkin bila tak bisa ditahan, ia akan kebablasan berbicara kotor. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dan kembali tenggelam dalam kesibukanku delapan menitan yang lalu. Bersenandung dengan nada rendah, aku pura-pura tidak mendengar gerutuannya yang semakin bertambah jumlahnya. Namun usahaku sepertinya tak membuahkan hasil apapun. Ia tiba-tiba menghentikan gerutuannya, sekaligus berhasil menghentikan senandungku yang tidak jelas terdengar itu.

“Kok kamu bisa-bisanya masih nyanyi kayak gitu?” dia bertanya dengan nada tinggi dan aku hanya terdiam.

“Lakuin sesuatu dong, Mel. Kamu gak bisa kayak gini terus, karena aku yang stress jadinya.” Ia kembali melanjutkan ucapannya dengan sekali helaan napas. Terakhir kudengar, napasnya terengah-engah. Ia sedang menahan semuanya. Marahnya. Kesalnya. Juga kemungkinan ucapan kotornya.

Aku tahu apa yang sedang dia maksudkan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semuanya sudah final. Tak akan ada lagi kelanjutan seperti sinetron yang terus menerus menambah jumlah episode, walau ceritanya berbobot rendah.

“Makasih atas rasa simpati kamu, Nal.” Aku berbalik, merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan alasanku, tapi tak ada lagi waktu terbaik untukku. Senyum diwajahku terkembang. Aku tak peduli jika senyum itu terlihat aneh dimata Kinal. “Aku cuma gak bisa terima tujuan dia memperlakukan aku kayak gitu. Semuanya udah selesai dan gak akan ada yang perlu dijelasin lagi. Lagipula semuanya udah clear. Aku tau dia dan dia juga tau aku. Kami berdua sama-sama tau. Tapi itu cuma samar-samar, cuma sekedar tau aja.”

“Jadi, kamu mau biarin dia menyerah gitu aja, setelah perjuangannya untuk akhirnya bisa ketemu dengan seorang anak perempuan yang jadi cinta monyetnya?” Kinal jelas tak terima. Aku tahu bagaimana susahnya melepaskan seseorang yang ia sukai diam-diam kepada sahabatnya sendiri. Aku tahu perasaan itu. Aku pun dapat memahaminya. Tapi yang tidak aku pahami adalah kenapa Kinal seolah sedang menyalahkan aku atas semua yang terjadi.

Aku menatap matanya sangat dalam, berharap cara itu bisa melunturkan ke-keraskepala-annya selama ini. “Cuma cinta monyet. Cinta sebenarnya itu adalah kamu.”

Jari telunjukku bergetar begitu aku mengucapkan namanya. Ada kehampaan dalam diriku yang tak bisa terobati, ketika diriku sendirilah yang telah mengakui semuanya. Mengakui bahwa aku hanya akan berada dalam garis luar lingkaran yang didalamnya hanya ada mereka berdua. Sekeras apapun aku mencobanya, itu tak akan merubah apapun.

***

                Aku tidak tahu kapan aku memiliki perasaan seperti ini. Dia adalah anak laki-laki pertama yang dengan senang hati mau menerimaku sebagai anak buahnya dalam mencari kotak berlambang ‘tambah’ dengan warna merah, yang sekarang aku baru tahu bahwa yang kami cari waktu itu adalah kotak obat sumbangan dari PMI. Aku dipilih diantara tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan yang tidak bisa diam di tempat duduk panjang didepan loket puskesmas desa. Waktu itu, dua gigi depanku resmi dicabut oleh dokter gigi cantik dan karena itu dia memilihku. Karena gigiku ompong, sementara anak yang lain memiliki susunan gigi yang masih sempurna.

                Aku tak begitu ingat lagi setelahnya. Tak lebih dari enam bulan, aku tinggal di desa. Setelahnya karena tuntutan pekerjaan ayahku sebagai TNI, keluarga kami berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lainnya, tetangga baru datang silih berganti dan teman baru berubah menjadi teman lama. Begitu seterusnya, hingga ayahku tak lagi dipindahtugaskan sesering dulu dan aku benar-benar bisa menikmati kehidupanku di Bandung dengan tetangga yang tak berubah-ubah lagi wajah dan namanya, juga dengan teman yang tak lagi mendapat julukan lama ataupun baru.

                Kembali, aku bertemu dengan laki-laki yang memilihku untuk menjadi anak buahnya. Sebuah déjà vu kukira. Tapi lebih baik menyebutnya takdir. Aku dan dia kembali dipertemukan takdir. Jika waktu itu dia memilihku karena aku ompong, sekarang dia memilihku karena aku yang paling pendek dibanding semua anggota. Menyebalkan!

                “Kenapa kamu menilai orang dari fisiknya aja? Itu sama sekali gak fair.” Waktu itu, saking kesalnya aku padanya karena dipilih dengan alasan paling pendek, aku langsung protes. Dengan nada sinis, aku kembali berujar. “Pemimpin buruk hanya akan memilih anak buahnya berdasarkan keadaan fisik mereka. Itu sih yang pernah aku dengar sebelumnya.”

                Mulutnya mengerucut dramatis ditambah dengan ekspresi wajahnya yang berlagak sedang memikirkan sesuatu, ekspresi menyebalkan! Lantas dia melangkah dan berhenti tepat dengan kedua mata yang mengarah padaku. Ia berbisik, dengan suara yang tidak bisa disebut berbisik. Wajahnya mendekat dan aku bisa merasakan napas teratur yang keluar dari hidungnya. Semua itu sangat menyebalkan bagiku. Tapi entah kenapa, dia berhasil membuatku diam dan merasakan gelenyar panas dipipiku ketika ia berkata.

                “Gimana kalau pemimpin itu suka sama dia, makanya dia dipilih jadi anak buah.”

                Aku menghentikan protesku seketika dan berjalan secepat mungkin untuk meninggalkan laki-laki itu. Mungkin akunya saja yang terlalu percaya diri bahwa dia menyukaiku dan bahwa satu fakta sejarah bisa saja menjadi titik awal dari semuanya. Fakta sejarah itu adalah aku yang merupakan cinta monyetnya ternyata sudah ia cari-cari selama hampir enam tahun.

                Sekarang aku tahu kapan aku memiliki perasaan seperti ini padanya. Perasaan seperti ini : gelenyar panas yang kurasakan dipipiku, detak jantung yang memburu, napas yang sering kutahan, pandangan yang tak ingin mengarah padanya dan tiba-tiba saja berbicara gagap jika ia berhasil menggodaku dengan candaannya.

                Saat itu tepat ketika aku mengetahui rahasia lain, bahwa Kinal sahabatku sendiri ternyata menyukainya diam-diam. Tanpa laki-laki itu tahu, bahkan aku yang nyaris tidak tahu. Saat pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta pada seorang laki-laki, disaat itu juga aku merasa tak punya cukup daya dan nyali untuk melanjutkan perasaanku lagi padanya. Semua ini, karena Kinal.

***

                Aku tak pernah bisa menyembunyikan rahasia dengan baik pada orang-orang disekitarku, termasuk pada Kinal. Kinal tahu dengan baik apa saja ekspresi wajah yang terlihat oleh matanya tentang perasaanku saat itu juga. Aku sedang dilanda demam tinggi, tapi bukan karena aku benar-benar sakit. Hanya saja aku kelimpungan. Memikirkan ucapan yang terakhir kali kudengar sebelum aku tidak masuk sekolah. Ucapan tersirat bahwa laki-laki itu memang sungguh menyukaiku, dan sepertinya aku pun bisa membalas rasa sukanya. Ekspresi senang sekaligus bingung inilah yang disadari oleh Kinal.

                “Kamu bohong. Kamu sakit bukan karena sistem imun kamu lagi engga kuat kan?” saat dia bertanya seperti itu, dengan nada menyelidik padaku, aku hanya tersenyum lantas mengangguk kecil malu-malu.

                Ia merangkak mendekatiku dan bersandar di bed-head kasurku. Kedua lengannya memeluk lutut yang ditekuk, lalu ia kembali berkata. “Ceritain ke aku tentang apa yang jadi penyebab kamu demam kayak gini.”

                Aku berusaha setenang mungkin saat aku mulai bercerita. Tapi sepertinya tidak seperti itu. Aku mendengar suaraku mengeras seiring dengan berlanjutnya ceritaku. Seperti jalan menanjak, maka kau akan kesusahan mengayuh sepedamu. Seperti itulah aku, selain karena aku senang tak karuan. Saat itu aku hanya memikirkan bagaimana perasaanku pada laki-laki itu, lalu bagaimana aku mengira-ngira dengan tepat perasaan laki-laki itu padaku. Hatiku sudah keburu senang. Padahal mungkin disaat yang sama, Kinal juga memikirkan perasaannya sendiri. Mungkin ia merasa sakit dan ingin menghentikanku bicara panjang lebar tentang laki-laki itu. Tapi yang kusadari Kinal hanya diam, terkadang ia merespon ucapanku dengan senyum kecil, dengan anggukan, dengan ekspresi pura-pura berfikir, lalu selanjutnya ia akan kembali diam dengan pandangan ke bawah, menatap seprai kasurku sambil memainkan jemarinya dan aku tidak mau tahu bagaimana ekspresi wajahnya. Aku tidak mau peduli tentang perasaannya. Yang aku mau adalah dia mendengarkanku bicara, walau mungkin hatinya sakit karena dengan sengaja aku menusukkan anak panah bertubi-tubi tepat di ulu hatinya.

                Berhari-hari setelahnya, aku selalu datang ke kelasnya hanya untuk menceritakan bagaimana perkembangan kisahku dengan laki-laki itu. Awalnya aku dan laki-laki itu sering mengobrol, menceritakan ini-itu yang kami anggap lucu, lalu kami tertawa pada kejadian tak lucu dan memalukan yang pernah terjadi. Alur berjalan sempurna. Aku dan laki-laki itu sudah sangat dekat dan aku juga mengenalkannya pada Kinal, walau Kinal sudah pasti tahu tentang dia di OSIS. Kami bertiga mulai sering bersama, mengobrol bersama dan mengerjakan tugas bersama walaupun berbeda kelas. Semuanya baik-baik saja hingga ada satu hal yang berusaha merusaknya. Satu hal itu adalah rahasia mutlak Kinal yang tak seorang pun tahu, bahkan aku sebagai sahabatnya sendiri. Kenyataan yang membuatku berfikir ulang tentang perasaan dia, laki-laki itu dan aku.

***

                Kinal terdiam seketika, sementara tanganku masih melayang di udara, menunjuk ke arahnya dengan sedikit bergetar. Waktu itu aku tak tahu mesti berbuat apa saat mengetahui Kinal sudah menyukainya lebih dulu. Kinal sudah bertemu dengannya lebih dulu. Kinal sudah mengenalnya lebih dulu. Bahkan mereka pernah duduk di kelas yang sama saat SMP, pernah berkelompok bersama. Apakah aku yang menjadi pihak perusak hubungan mereka dan menyakiti Kinal lebih dulu, dibanding Kinal yang menyakitiku sekarang? Aku sempat ingin menyalahkan Kinal.

                Semuanya terjadi karena Kinal. Jika saja Kinal tidak bertemu lebih dulu dengannya lalu memiliki perasaan khusus pada laki-laki itu. Jika saja aku tidak melihat beberapa status di facebook-nya tentang laki-laki itu yang ditulis secara tersirat. Bahkan, jika saja Kinal bukan sahabatku, aku pasti akan terus memperjuangkan perasaanku pada laki-laki itu. Walaupun harus bersaing dengan Kinal sekalipun.

                “Rizal suka sama kamu, Kinal. Dan aku juga yakin kalau kamu suka sama dia.”

                Kinal menatapku tak percaya. Ia menggeleng cepat. “Gimana bisa dia suka sama aku. Selama ini aku dan dia engga dekat. Bahkan kamu yang lebih dekat dengan dia.”

                Kinal tahu tentang kedekatan aku dengan laki-laki itu. Tapi kenapa dia masih berusaha menyimpan dan memilih untuk memendam perasaannya sendiri? Sementara disisi lain, aku tahu bahwa ia tak seharusnya memendam perasaannya. Karena sudah ada tempat yang bisa menerima perasaannya itu. Tempat itu tak lain adalah hati Rizal.

                Satu keputusan menyakitkan bagiku, ketika aku tahu bahwa Rizal hanya berusaha mencariku. Setelah bertemu, dia menemukan kelegaan dihatinya. Dia hanya ingin bertemu kembali denganku untuk mendapatkan kelegaan. Tanpa berusaha mencinta lagi denganku. Saat kelegaan itu ia dapatkan, sesuatu yang baru datang menghampirinya, membuatnya merasa tenang sekaligus gelisah. Perasaan yang juga pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan itu adalah cinta.

“Seseorang engga harus dekat secara fisik untuk bisa merasakan cinta. Karena cinta bisa mendekatkan hati dua orang.” Jawabku. Aku melangkah maju mendekati Kinal. Dari jarak sedekat ini, aku dapat melihat jelas ekspresi di wajahnya. Ekspresi itu tidak menunjukkan rasa senang, puas dan lega. Namun sebaliknya – sesak, sedih, tak percaya, tak menyangka dan merasa bersalah – lah yang terlihat oleh kedua mataku. Kini aku mengerti alasan Kinal menjaga jarak dengan Rizal, menutup-nutupi kebenaran tentang perasaannya sendiri, hanya agar ia tak menyakitiku lebih banyak lagi.

 

Jika Kinal bisa melakukannya untukku, mengapa aku tidak bisa. Maka, keputusanku sudah bulat. Yaitu mengakhiri ceritaku dengan Rizal, supaya aku tidak menyakiti hati Kinal lebih lama lagi.