Suara kicauan burung di pagi yang cerah ini membuat ku terbangun. Kubuka pintu jendela kamar dan terciumlah harum semerbak bunga mawar bu Kos. Lima menit gue masih belum beranjak dari kamar tidur. Badan terasa remuk akibat nglembur Akuntansi Biaya semalaman. Malas rasanya pergi ke kampus pagi ini. Trong..Trong..Trong.. suara handpone gue berbunyi. Ternyata dari Alvin, temen sejurusan.

Oh My God, udah jam setengah tujuh aja nih”.

Akhirnya gue hanya close up dan langsung capcus ke kampus. Sampainya di kelas, suasana kelas masih tampak sepi. Beberapa anak asyik memainkan gadget mereka.Wakakakaka, suara anak yang duduk di bangku pojok belakang sana. Peduli amat dengan anak itu.

“Bob, gue mau ke kantin dulu, elo mau ikut enggak?”.

“Enggak ah cyin, gue udah nyabu tadi pagi”.

Suasana di kantin yang sepi, membuatku betah lama-lama nongkrong disana. Alhasil, gue telat masuk kelas dan kenak semprot dari dosen sukill (super killer). Setengah jam terasa lama ditambah suasana kelas yang panas dan berisik.

            “Mi, elo kok enggak bales pesan gue. Tadi gue nge WA, Line, nginbox elo. Tapi enggak ada balesan satu pun. Elo baik-baik aja kan?”. Tanya Alvin cemas sambil memandangiku.

            “Eh mau kemana? Jawab dulu pertanyaan gue”.

Gue berjalan ke pengajaran. Di tempat yang ramai ini hatiku terasa sepi. Entah apa yang membuatku seperti ini.

Oh ini pesan Alvin tadi pagi. Dan jari gue males buat mijitin keypad HP.

            “Hai Mi? Lagi nungguin siapa?” Suara Aldo mengagetkanku.

            “Hai Do, oh enggak gue hanya duduk aja disini. Elo mau kemana?”.

            “Mau ke taman nih. Oh iya Mi, gue boleh minta tolong enggak?”

            “Iya boleh”.

“Mi, tolong yaa dua kelas di fakultas teknik elo yang megang. Entar gue smsin jadwal tempat dan kelasnya”.

Aldo harus pulang ke Medan menjenguk ibunya yang sedang sakit. Tugasnya sebagai ketua asdos dipercayakan ke gue untuk sementara waktu ini.

SSSsstt “Genk Nyum-nyum”

Entah kenapa gue suntuk banget lihat orang, apalagi kalo ketemu dengan geng nyum-nyum. Enggak heran kalau mereka dijuluki sebagai geng nenek sihir. Suaranya cetar dan pakainya yang ngejreng bikin enggak nahan.

            “Heh Mi, ngapain elo kayak sapi ompong sendirian disini?” celetuk salah satu membernya.

            “EEE dasar tengil, diajak ngomong malah pergi. Huuuuuuu”. teriak geng Nyum-nyum dari belakang gue.

Pulang ke kos, gue capcus tempat favorit gue. Yah, disana gue bisa merefresh otak dan hati gue yang lagi kalut . Hanya burung merpati yang menemaniku saat ini. Sembari menikmati indahnya pemandangan, gue buka-buka email dan ada satu pesan yang masuk ke inbox.

Dear Mia,

Sampai kapan aku akan mengalami kegalauan seperti ini? capek rasanya mengalami hal seperti ini namun, aku tak mampu mengakhirinya. Andai aja aku adalah computer maka, akan ku refresh otak ini. Sudah kucoba berulang-ulang untuk melupakanmu tetapi aku tak bisa. Mungkin kalau distadiumkan penyakit galau ku ini sudah mencapai tahap akhir. Aku ingin bertemu lagi dan ngeteh dengan mu di caffe “Sedikit senyum” dekat kos mu.

                                                                                    Ilham

Tersentak dan…, hatiku berdegup kencang dan aliran darah mengalir dengan kecepatan tak normal. Tangan ku masih gemetar dan kaki ku terasa kaku membaca tulisan ini.

            “Miii…. Elo ngapain ngelamun kayak gitu?”.

“Ohh enggak Shint, gue balik ke kamar dulu ya”. Buru-buru sambil beresin buku.

Gue enggak mau mikirin pesan email itu. Besok gue ada kelas di teknik sipil. Oke, Now, persiapin materi buat ngajar besok.

Pagi harinya tampak ibu-ibu asyik ngobrol sambil pilih-pilih sayuran di gerobak sayur. Entah ada gossip apa hari ini yang bikin mereka seramai itu. Gue sengaja berangkat pagi, meskipun kos dan letak FT (Fakultas Teknik) yang enggak jauh dari kosan. Pengajaran pun masih tutup, gue sms ke Aldo tapi enggak ada balesan. Karena buru-buru gue nabrak seorang cowo.

            “Maaf Kak”. Ujarnya.

Gue enggak ngeh dengan apa yang dia katakan. Setelah muter-muter dan tanya lima kali, alhasil gue nemuin kelasnya.

            “Oh God, gue lupa bawa absensi lagi”.

Seseorang cowo lari-lari dari luar dan bawain absensi. What? Ini kan tadi cowo yang gue tabrak, Jadi itu tadi Ilham??. Haduh, malu banget nih sama dia. Enggak nunda-nunda waktu, gue mulai pelajarannya. Sekitar satu setengah jam kelas udah gue akhiri. Giliran absensi, gue lihat dan bacain satu per satu, shock banget lihat angkatan diatas gue ditambah kakak sekosan juga ada di kelas itu. Lengkap lah sudah penderitaan gue, tapi gue bersyukur tidak ada yang bikin ulah, deelel. Tiba di nomor absen 10, tertera nama Ilham Rahmandya. Dada gue terasa nyesek dan kaki gue gemetar enggak karuaan.

            “Oke temen-temen, cukup sekian untuk pertemuan kelas hari ini. Saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa”.

            “Kak, maaf ada yang ingin saya tanyakan ke kakak terkait soal tadi”.

Setelah berdiskusi yang cukup alot, akhirnya Ilham, eh kak Ilham mau nerima penjelasan dan argumen gue.

            “Mi”. Pandangannya sama seperti ketika aku bertatapan dengan Aldo. Ah hanya perasaanku gue aja.

            “Iya, Kenapa kak?”. Tanya ku sedikit gugup. Gue bisa ngerasain ada yang enggak biasa dari tatapannya. Tapi gue enggak mau nafsirin sampai jauh.

            “Kamu ada acara enggak nanti sore? Aku ingin ngajak kamu keluar. Sekalian mau ngajak ngopi ke caffe “Sedikit Senyum”.

            Gue hanya bergeleng dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

            “Oke nanti aku jemput jam 3 sore ya Mi. Sampai ketemu nanti sore Mi”.

What?I am not understand,and what should I do?

Konflik batin yang gue alamin sekarang seakan enggak ada putus-putusnya. Dari konflik dengan ibu kos yang super cerewet, Alvin dan ditambah dengan Ilham. Gue ingin kabur dan mengakhiri ini semua. Di dalam musholla kecil ini, gue bersimpuh dan menangisi kondisi gue sekarang. Gue enggak kuat jalaninin ini sendiri. Gue butuh orang ya Allah.

Di sebelah tempat sholat gue, ada para akhwat yang sedang berdiskusi tentang hikmah dari sebuah masalah. Gue dengerin dan gue renungin dari diskusi mereka. Selama ini, gue enggak pernah peduli dan care ke orang lain. Selain itu, gue enggak pernah bersyukur atas apa yang gue terima. Gue selalu mandang ke atas. Di tengah-tengah sujud gue, seperti ada yang energi yang mendorog gue dan terlempar kedalamnya. Ada satu kilatan yang enggak pernah gue lihat sebelumnya. Di kilatan itu, keluar seoarang kakek berjubah putih dan berkata. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, Tinggal bagaimana kita mampu memanfaatkannya sebaik-baiknya untuk diri sendiri dan orang lain. Tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah. Bersyukur adalah salah satu cara untuk menentramkan hati. Hati yang resah adalah hati yang tidak pandai bersyukur atas apa yang dimilikinya.

            “Mbak, Mbak, bangun mbak” Panggil seseorang memakai jilbab panjang.

            “Mbak Mia baik-baik aja kan? Tadi mbak Mia pingsan sewaktu sholat”.

            “Haa?” gue kaget dan ….. “Terima kasih yaa mbak”.

Jam di depan musholla sudah menunjukkan pukul 02.30.

sesampainya di kosan. (Tok…tok…tok… )

            “Shint, ini Mia”.

            “Buka aja Mi, enggak gue kunci”.

            “Shint, boleh pinjem kerudung elo enggak? mulai saat ini Gue mau berkerudung”.

            “Sumpah elo Mi??” Nada suara Shinta mengagetkan anak kos yang lain.

Shinta memeluk gue dan berlinang air mata. Gue berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada gue barusan. Gue belum pernah ngerasain hati yang setenang seperti sekarang ini.

            Di luar kos, Ilham sudah menunggu. Enggak lama-lama gue dandan, gue langsung nyamperinnya. Sepertinya, Ilham kaget melihat gue seperti ini. Dia hanya tersenyum dan bilang Alhamdulillah kepadaku.

Cafe “Sedikit Senyum”

            “Ayo Mi masuk”.

Tempat duduk nomer 10, adalah tempat favorit gue. Selama ini, gue enggak pernah cerita ke siapapun termasuk ke Ilham akan tempat favorit gue ini, tapi kenapa bisa kebetulan seperti ini? Gue mencoba menghilangkan perasaan yang belum tentu ini.

            “Mi, are you okay?” Suara halus Ilham terucap bahkan hampir tak kedengaran.

Dari tadi, Ilham hanya memandangi gue dan lama-lama bikin salah tingkah. Gue mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Lama-kelamaan kita jadi asyik. Entah kenapa gue bisa nyaman dengannya.

            “Mi, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi ini agak privasi, boleh?”. Tatapannya tajam dan semakin membuat jantung ku berdegup kencang.

            “Iya boleh kak”.

            “Kamu udah pernah pacaran Mi?”

Pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh Aldo sebelumnya.

            “Belum kak, kenapa?”.

            Dia hanya tersenyum dan enggak berkata apa-apa. Please, jangan bikin gue tambah bingung.

            “Mi, kalo kamu ada sesuatu yang ingin kamu tanyain ke aku mungkin tentang diriku. Tanyain aja enggak apa-apa. hehe”.

Hah, Dia tahu kalo gue lagi mikirin dia.

            “Maaf Mas, Mbak ini pesanannya. Ada yang lain?” tanya waitress.

            “Cukup mbak, terima kasih yaa”.

Lama-lama gue melted dengan Ilham. Sikapnya begitu kharismatik, dan bersahaja kepada siapapun. Oke lah, tampangnya juga lumayan. Dengan perawakannya yang tinggi, tegap, Kulit putih, bersih dan cara berpenampilannya stylish versi muslim. Enggak heran kalo teman sekosku naksir abis sama Ilham.

Percakapan kita cukup panjang dan enggak terasa sudah satu setengah jam, ngobrol dengannya. Gue dilarang beranjak dulu sama waitress tadi.

“Ada seseoarang yang ingin membawakan sebauh lagu “CINTA”. katanya.

“Selamat sore semuanya. Saya ingin menyanyikan lagu ini untuk seorang yang spesial di hati gue. Selamat Sore Mia”.

“Aldo??” Gue speechless, enggak bisa berkata apa-apa. ketika dia memandangiku begitu dalam. Tidak sedetik pun gue melepaskan pandangan ku ke dia. Gue juga suka dengan lirik lagu ini.

Dari tempat musik dia menyambangiku.

            “Mi, Apa kabar?”

            “Aldoo, bukannya kamu ada di Medan? Kenapa elo bisa ada disini dan….?” Tanya gue geregetan.

            “Ham, thanks ya. Rencana gue berhasil kan?” Canda Aldo cengengesan.

            “Bentar-bentar gue enggak paham ini. Maksudanya apa ini Do? Bisa jelasin ke gue, ada apa sebenarnya?.

            “Mi, ini semuanya ide Aldo. Dari akal-akalannya pulang ke Medan, kamu ngajar di Teknik, nabrak aku, dan makan disini. Semuanya udah dirancang”.

            “Apa??dirancang?”Semakin bersungut-sungut dan ingin menggampar keduanya.

            “Tenang dulu Mi, Mi gue sengaja mempersiapkan ini sejak setahun yang lalu. Kebetulan Ilham kenal elo dan dia juga ingin bantuin gue. Sebenarnya, gue.. gue… gue love in you, sejak kita sekelas. Tapi, gue enggak berani ngungkapin perasaan gue ini ke elo. Gue tahu, elo sangat perfect dalam memilih. Oleh karena itu, gue engak mau gegabah dan asal tembak. Satu setangah tahun ini, cukup bagi gue untuk memantapkan hati hanya untuk elo Mi. Gue harap elo mau menjadi istri gue setelah gue menyelesaikan study ke Harvard University. Sekarang Gue ketrima beasiswa disana. Karena elo lah, hidup gue jadi berubah. Elo adalah semangat hidup gue Mi.

            “Iya Mi, karena elo Aldo jadi seperti ini. Semangat dan motivasi untuk meraih cita-citanya begitu tinggi. Dia berharap suatu saat nanti bisa muwujudin keinginan elo untuk memiliki panti asuhan dan yayasan sosial”.

            “Terima kasih Do tapi, untuk sekarang gue masih belum mau pacaran. Gue ingin fokus kuliah dulu dan tentunya gue ingin nyusul elo ke Harvard tahun depan”.

“Hayooo?” Bentak Ilham

Gerak refleks Aldo ingin memeluk gue tersentak karena kagetan dari temen-temen kos gue. Aldo mengundang mereka semua dan memberi ucapan selamat. Gue enggak tahu apakah ini pacaran atau enggak, yang jelas kita masing-masing belum memiliki ikatan namun, satu sama lain sudah memiliki janji untuk menjadi orang yang sukses. Entah nanti, Ilham atau Aldo yang jadi imam gue, gue akan mensyukurinya dan menerimanya. Dalam hati kecil gue berharap kalo Aldo lah yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga gue nantinya. Selama ini gue juga suka sama dia, but gue masih jaga image sebagai seorang cewe. Hehe.