CHAPTER 3

War

 

Di malam kedua itu, Dave melamun di atas kasurnya di rumah kontrakan itu. Ia berpikir, apa benar tugas menjemput Sang Penguasa Lubang Hitam ini sesuai untuknya, apa sanggup ia menghadapi sifat keras kepala anak itu.

            Malam semakin larut, selarut Dave dalam lamunannya. Ia teringat akan planet asalnya, planet Sanivia.Planet yang luar biasa jauhnya dari jangkauan Bumi. Planet yang jauh dari penerangan mataharimaupun benda penerang lain. Terdapat di dalam gelap, namun tidak tenggelam oleh kegelapan itu. Permukaan tanah berkilau berwarna biru keunguan menyelimuti bentuknya yang bundar, menjadikannya terlihat bagaikan sebutir anggur segar yang tumbuh ditaman surga jika diamati dari jauh. Planet yang mengandalkan sejumlah energi buatan berbentuk bola terang yang terletak di berbagai tempat sebagai sumber cahaya, membuatnya berkilau indah di tengah kegelapan yang mengitarinya.

Planet Sanivia berpenghuni cukup banyak.Tiga kali lebih banyak daripada penghuni Bumi. Namun hal itu tak jadi soal, sebab Sanivia adalah planet yang cukup besar untuk menampung para makhluknya.Bahkan masih cukup banyak menyisakan spasi sehingga tak terasa sesak untuk ditinggali. Para penghuni planet Sanivia hidup rukun dan bahagia dalam perpaduan antara perkotaan megah dengan gedung-gedung megah nan futuristik dan keindahan serta kesegaran alam. Tumbuh-tumbuhan subur dan gedung-gedung besar berdiri berdampingan. Perbedaan status sosial juga tidak terlalu mencolok. Mereka hidup makmur. Sehingga jarang sekali terjadi keributan dan ketidakadilan. Peradabannya paling canggih seantero jagad raya dengan teknologi dan kendaraan yang ramah lingkungan. Sumber makanan dan minuman untuk bertahan hidup juga melimpah ruah.

            Kemewahan tak ternilai itutentulah menggiurkan penghuni planet lain.Beberapadi antaranya malah nekat untuk menguasai Sanivia secara paksa. Untungnya, berkat ilmu beladiri yang tinggi dan tenaga yang dahsyat, para penghuni planet Sanivia berhasil mempertahankan ‘rumah’ mereka dari serangan-serangan para penghuni planet lain tersebut.

            Hingga akhirnya, pada suatu hari, datanglah segerombol tentara-tentara kuat dari sebuah planet liar bernama Vigard, dengan hasrat besar untuk menguasai planet Sanivia. Dan sebagaimana biasanya, para penghuni planet Sanivia tidak tinggal diam. Mereka tetap berusaha sekuat mungkin mempertahankan tempat tinggal mereka. Hingga perang terbesar antar planet pun tak terelakkan lagi.

            Pasukan Vigard tak henti-henti menyerbu Sanivia meski terus-terusan mereka mengalami kegagalan. Mereka benar-benar tidak kenal ampun. Kehancuran yang telah ditimbulkan pun sudah melewati batas toleransi.

            Para pemimpin Sanivia mulai jenuh dan putus asa akan kondisi ini. Korban sudah terlalu banyak berjatuhan. Makhluk barbar dari planet Vigard merupakan lawan yang cukup tangguh bagi mereka. Paling tangguh di antara lawan-lawan yang pernah mereka hadapi selama ini.

            Adalah Raja Wirden Dleir, kepala dari keluarga Dleir, pemimpin tertinggi planet Sanivia, penguasa dari seluruh penguasa di ranah Sanivia, yang kemudian mengadakan rapat di gedung pertemuan dengan melibatkan para petinggi sertaprajurit-prajurit elit Sanivia. Ekspresi gundah, gelisah, dan lelah mewarnai wajahnya yang kianmenua dan berhiaskan kumis tebal kecokelatan yang tumbuh bersambung dengan janggutnya yang panjang. Aura bijaksana terpancar jelas dari sorot mata lelahnya. Wirden berdiri di mimbarmenghadap para hadirin.

            “Terimakasih kuucapkan pada kalian yang sudahdatang ke pertemuan ini,” kata Wirden membuka acara. Tanpa basa-basi, ia langsung ke inti pembicaraan. “Planet kita sudah memasuki tahap kritis sejak perang besar melawan bangsa Vigard dimulai. Korban berjatuhan dimana-mana. Rakyat kelaparan. Rumah-rumah serta bangunan hancur sehingga banyak dari kita yang kehilangan tempat tinggal. Sudah saatnya perang ini kita sudahi.”

            “Dengan cara apa?” potong salah seorang petinggi. “Berbagai macam perlawanan telah kita kerahkan untuk menghadapi bangsa Vigard yang liar dan sadis itu. Tapi itu hanya cukup untuk mengusir mereka saja, tidak cukup untuk memusnahkan. Kau tahu sendiri bangsa Vigard ialah bangsa yang takkan berhenti sampai tujuannya tercapai. Mengusir saja takkan cukup. Merekaakan kembali lagi. Para Kesatria Yad yang tangguh saja masih belum cukup kuat untuk melumpuhkan mereka sepenuhnya, termasuk dirimu, Wirden. Jadi, upaya apa lagi yang hendak kaujalankan untuk menyudahi peperangan ini?”

            “Will benar, Wirden,” sahut petinggi yang lain. “Sudah saatnya kita menyusun strategi baru. Kalau begini terus, planet kita akan dikuasai oleh mereka secara perlahan. Pasukan-pasukan Vigard itu terus saja datang seperti tak ada habisnya. Dan seperti yang dikatakan oleh Will, bahkan kau dan anggotamu,” ia mengacu pada lima orang berjubah hitam yang berdiri berjejer tak jauh darinya.“… paraKesatria Yad yang kuat masih belum cukup untuk melenyapkan mereka secara keseluruhan. Kita harus bertindak cepat dalam masalah ini.”

            Kesatria Yad, merupakan petarung unggulan planet Sanivia. Terdiri dari enam prajurit terkuat. Masing-masing dari mereka diberi kepercayaan untuk mengendalikan sebuah teknologi tercanggih di Sanivia, yakni yadbot, robot setinggi enam puluh sentimeter yang diciptakan dengan komponen-komponenrahasia dari para ilmuwan terdahulupada generasi-generasi sebelum ini. Hanya ada tujuh unit yadbot, dan cara penciptaannya tidak diketahui sampai detik ini.

            Para yadbot memiliki berbagai kemampuan.Salah satunya adalah mengubah bentuk dan fungsi.Seperti senjata, kendaraan, bahkan tempat tinggal jika diperlukan.

            Nama-nama dari ketujuh yadbot itu adalah: Yadnom, yang merupakan yadbot paling mutakhir dan canggih, laluYadseut, Yadsendew, Yadsruht, Yadirf, Yadrutas, dan yang terakhir Yadnus. Semakin kuat seorang Kesatria Yad, maka semakin canggih yadbot yang diperoleh. Yadbot dapat berpindah tangan jika telah ditemukan seseorang yang lebih layak atau pengendali yadbot tersebut mati.

Yadseut, yadbot paling canggih setelah Yadnom, dikendalikan oleh Wirden sang raja, sekaligus pemimpin dari kawanan kesatria tersebut. Sedangkan Dave, putra Wirden satu-satunya, diberi kepercayaan untuk mengendalikan Yadsendew.Hal itu bukan atas bantuandari kewenangan sang ayah, melainkan karena bakat dan kekuatan Dave sendiri. Lalu Yadsruht, Yadirf, Yadrutas, dan Yadnus dikendalikan oleh orang-orang unggulan lainnya. Sedangkan Yadnom yang terhebat….

            “Benar. Kurasa sudah saatnya kita menentukan siapa yang pantas mengendalikan Yadnom!”  timpal petinggi lainnya.

            “Aku menolak!” Sesosok robot menyerupai manusia melompat keluar dari tabung penyimpanannya, lalu berdiri angkuh di atas sebuah meja bundar kecil yang terletak tak jauh dari hadapan Wirden. Robot itu adalah Yadnom. Tak sedikitpun ia tunjukkan rasa hormat pada seorang raja yang ia belakangi.

            “Kau?” Wirden heran melihatnya tiba-tiba keluar.

            “Aku menolak jika adapenghuni planet ini yang mencoba untuk mengendalikanku!” ujar Yadnom.

            “Kenapa? Tidakkah kau lihat kondisi planet kita saat ini? Kita membutuhkan orang yang piawai dalam mengendalikanmu untuk menyudahi perang besar ini. Kami semua butuh kekuatanmu sebagai yadbot terhebat. Kami akan segera carikan orang terkuat yang pantas untukmu.”

            “Orang terkuat? Jangan konyol, Will. Kita semua tahu bahwa Wirdenlah orang terkuat di Sanivia ini. Bahkan DIApun tidak kuizinkan untuk mengendalikanku!”

            “Lantas apa maumu, besi tua sial?!” Willkehilangan kesabaran.

            “Will!” tegur Wirden.

            “Jaga bicaramu, Bocah!” Yadnom membalas hardikan Will.“Aku ini sudah hidup ratusan tahun lebih lama darimu! Biarpun besi tua, pengalamandan pengetahuanku tentang hidup lebih banyak darimu!”

            “Kalau begitu mengapa tak kau tunjukkan pada kami pengalaman-pengalamanmu itu?”sahut petinggi yang lain.

            “Aku memiliki kriteria khusus untuk menjadikan seseorang sebagai pengendaliku! Jangan salahkan aku untuk itu! Salahkan leluhur kalian yangmenciptakanku begitu!”

            “Apakah orang terkuat tidak cukup untuk memenuhi kriteriamu itu?” tanya Wirden.

            “Tidak!” jawab Yadnom tegas. “Ada yang jauh lebih penting dari sekadar kuat!”

            “Apa itu? Katakan pada kami!” desak Will tak sabar.

            “Jawaban itu haruslah kalian cari sendiri! Terus terang saja, orang dengan kriteria yang kumaksud tidak lagi dapat kutemukan di planet ini sudah sejak lama. Karena itulah mentah-mentah aku menolak.”

            “Kau!” kesabaran Will sudah benar-benar habis.

            “CUKUP!!” teriak Wirden menengahi. “Kalian ini…. Bikin malu! Bayangkan apa yang akan timbul dipikiran rakyat jika melihat kalian emosi tak menentu seperti ini?!”

            Ruangan menjadi sunyi seketika. Amarah Wirden menggema mengisi ruangan.

            “Sekarang kalian dengarkan aku!” katanya.“Sebenarnya, maksudku mengadakan pertemuan ini adalah ingin meminta pendapat kalian mengenai gagasanku untuk menghadapi bangsa Vigard. Aku sudah memikirkan gagasan ini matang-matang.”

            Akan tetapi, belum selesai Wirden berbicara, tiba-tiba terdengar suara ledakanbesar.Tidak jauh, kedengarannya. Getaran sesaat namun kuatmenyertai ledakan itu.

            “Apa itu barusan?” tanya Will panik lantaran terkejut.

            “Vigard,” jawab Dave.

            “Jangan ada yang panik! Para prajurit, atur formasi!” perintah Wirden.

            “Siap!”

            “Tentara Vigard kembali menyerang. Saat ini, mungkin masih mustahil bagi kita untuk benar-benar mengalahkan mereka. Tapi setidaknya, kita masih bisa mempertahankan planet kita seperti biasa,” kata Wirden dengan suara lantang.

            “Dengarkan, semuanya!” lanjutnya.“Sekarang kita keluar dari gedung ini! Aku dan para Kesatria Yad memimpin didepan. Diikuti oleh kalian, enam prajurit pilihan! Kita akan berperang menghadapi mereka. Lalu enam prajurit lainnya, lindungi para petinggi dan Yadnom. Bawa mereka ke tempat yang paling aman, lalu lindungi mereka disana. Keselamatan mereka berada di tangan kalian! Ada pertanyaan?”

            “Tidak, Yang Mulia!” jawab semua serempak.

            “Bubar!” Wirden memberikan aba-aba. Ia berlari memimpin sebelas orang yang ikut bersamanya: lima orang Kesatria Yad dan enam orang prajurit pilihan. Mereka berlari menyusuri koridor gedung pertemuan. Sedangkan para petinggi dan prajurit lain berlari menuju arah berlawanan menuju pintu rahasia yang sengaja dibuat untuk situasi darurat seperti ini.

            “Maafkan atas ketidaknyamanan pertemuan tadi, kawan-kawan,” Wirden berkata sambil terus berlari.

            “Jangan hiraukan kami, Ayah. Kita lupakan sejenak masalah tadi. Sekarang kita fokus pada pertempuran ini dulu!” jawab Dave tegas.

            “Kau benar, anakku,” sahut Wirden. Hatinya merasa sangat tidak enak pada anak yang dibanggakannya serta pada bawahan yang sudah ia anggap saudara.

            Suasana kembali senyap. Yang terdengar hanya derap langkah kaki yang menderu serta suara peperangan sengit yang sayup-sayup terdengar sampai kedalam gedung.

            “Tapi… kalau aku boleh katakan,” kata Dave tiba-tiba, “Ayah keren sekali ketika berdiri di mimbar tadi. Seharusnya tadi aku ajak Ibu.”

            Wajah Wirden memerah.

            “Hei! Barusan aku juga ingin mengatakan itu!” sahut Hiram Senreiv, pengendali Yadirf, berkepala pelontos, berbadan kekar, namunbersifat jenaka.

            Semua tertawa. Rasa gundah dalam hati sedikit terhapuskan oleh gurauanitu. Timbul semangat membara yang datang entah darimana dalam diri mereka.

            Pintu keluar semakin dekat.

            “Kesatria Yad! Lepaskan jubah kalian!” perintah Wirden. Jubah hitam itu adalah simbol kehormatan sebagai orang terkuat seantero Sanivia. Namun, tentu saja bukan tipe yang bisa digunakan saat bertempur.

            Secara serempak,para Kesatria Yad menanggalkan jubah mereka dan menghempaskannya ke lantai hingga tampaklah pakaian tempur ketat berwarna biru. Lekuk-lekuk tubuh mereka terlihat jelas. Terbuat dari kain khusus yang elastis hingga pemakainya dapat bergerak dengan bebasdan tidak gampang sobek. Dibagian dada hingga lengan, terdapat logam unik anti tusukan, sehingga keamanan sang pemakai lebih terjamin. Dibagian pinggang sebelah kiri hingga enam puluh sentimeter ke bawah, mereka meletakkan yadbot di tempat khusus yang mudah dijangkau.

            Mereka mengambil yadbot masing-masing, lalu menekan tombol yang terletak di bagian punggung. Yadbot-yadbot itu kemudian menjelma menjadi pedang besar yang konon bisa membelah gunung karena ketajamannya. Sedangkan para prajurit lain memakai baju zirah yang cenderung lebih berat, lengkap dari bagian kepala sampai kaki. Mereka pun turut menarik pedang mereka dari sarungnya.

            Pintu keluar sudah di depan mata, dan mereka sudah siap. Wirden menendang dengan kuat pintu yang terbuat dari baja keras itu hingga terlepas dari engselnya. Angin peperangan meniup-niup wajah mereka. Terlihat beberapa prajurit pilihan sudah lebih dulu berjuang melawan bangsa Vigard di luar sana. Suara tembakan, teriakan, pedang yang beradu, seolah menyatu membentuk atmosfer yang mencekam. Jasad-jasad tak bernyawa penuh luka membanjiri tanah Sanivia. Begitu banyak korban berjatuhan dari kedua kubu dalam waktu yang begitu singkat. Para wanita dan anak-anak dilarikan oleh beberapa prajurit ke tempat yang aman. Tangis pilu penuh kesedihan mewarnai wajah tak berdosa mereka. Inilah peristiwa dimana semuanya dipertaruhkan. Inilah peperangan.

            Pintu yang ditendang oleh Wirden tadi terhempas cukup jauh hingga mengenai kepala salah seorang tentara Vigard hingga pecah.Keseimbangan tentara itu pun goyah dan nyaris kehilangan kesadaran karenanya. Pada detik berikutnya, Wirden telah berdiri di hadapannya. Yadseut yang telah menjelma menjadi pedang pun ia ayunkan keleher tentara itu hingga terlepas dari badannya. Darah segar mengucur dengan begitu deras hingga menodai pakaian Wirden. Lalu dengan sangat cepat, Wirden menekan tombol yang terletak di bagian bawah pedang Yadseut. Yadseut kemudian berubah menjadi pistol aneh besar berlaras panjang. Pistol itu diarahkan ke sejumlah tentara Vigard yang berlari menyerbu Wirden dari belakang. Wirden menarik pelatuk senjatanya dan keluarlah laser besar berdaya hancur tinggi yang kemudian menghanguskan tentara tersebut dan dalam sekejap mengubah mereka menjadi debu.

            “Nyaris saja mereka menikammu dari belakang!” kata Yadseut.

            “Aku tahu.”

            Sementara itu, Dave memimpin yang lain ke arah yang berbeda. Duatentara Vigard hendak menyerangnya dari sisi kanan dan kiri. Dave pun mengambil ancang-ancang.Tapi kedua tentara itu tertembak oleh dua laser besar yang datang dari belakang.

            “Maaf.Itu jatah kami, Pangeran!” kata Marshall Odabas, pengendali Yadrutas yang memiliki rautwajah paling tampan di antara mereka.

            “Tenang, Dave. Masih banyak stok kok!” sahut Kyle Gonomid, pengendali Yadnus yang memiliki rambut pirang dan agak panjang, serta memiliki kulit berwarna kecokelatan.

            “Hei, kalian! Serius sedikit!” tegur MariusJuvees, pengendali Yadsruht yang berpostur tubuh paling tinggi dari semua.

            “Jangan terlalu serius, Kawan. Santai! Kita pasti menang lagi kok!” kata Kyle.

            “Kau ini seperti Will saja, Marius. Terlalu merumitkan hal yang sudah rumit,” timpal Hiram.

            “Aku benar-benar tidak suka dengan si Will itu! Kerjanya cuma protes tapi tak bisa apa-apa!” umpat Marshall kesal.

            “Semuanya, bersiap!” perintah Dave begitu melihat puluhan tentara Vigard menyerbu mereka dari depan.

            Barisan musuh paling depan mengeluarkan pistol laser dan menembak para Kesatria Yad. Dengan lihai, Dave dan kawan-kawan menghindari tembakan-tembakan itu. Formasi pun pecah. Dave mempercepat larinya,kemudian melompat tinggi ke arah kawanan Vigard itu. Kontan, sebagian tentara tersebut menembak Dave yang berada di atas, sementara sisanya tetap waspada dengan Kesatria Yad lain. Dave menangkis tembakan-tembakan itu dengan pedang Yadsendew dan membalikannya ke arah mereka. Beberapa kepala tentara itu pun hangus terpanggang karenanya. Dave lalumendarat sempurna ke tanah dan menyusup di tengah-tengah mereka. Pedang Yadsendew ia putar dengan kencang hingga menyayat dan membelah dua tubuh tentara Vigard yang berdiri di sekitarnya.

            Marius mengambil alih memimpin para Kesatria Yad melawan tentara Vigard barisan depan. Tentara-tentara kelas bawah itu bukan tandingan mereka. Dengan cepat,mereka pun musnah.

            “Serang Kesatria Yad!” seru para tentara Vigard lainnya. Ratusan dari mereka menyerbu Dave dan kawan-kawan.

            “Wah! Banyak sekali!” keluh Kyle.

            “Kau takut?” ledek Marshall.

            “Bagaimana kalau kita taruhan? Yang membantai paling sedikit harus mentraktir minum begitu perang ini usai!” usul Hiram.

            “Setuju!” sahut semua berbarengan.

            Sebuah laser berdiameter sangat besar keluar dari Yadsendew yang telah berubah menjadi bazooka besar danlangsung melenyapkan setengah dari ratusan tentara Vigard tersebut.

            “Curang!” bentak Marshall.

            “Maaf.Tapi itu jatahku,” ucap Dave santai. “Sebaiknya kalian bergerak cepat sebelum kalah dalam taruhan. Khususnya yang kondisi keuangannya sedang parah,” ledek Dave yang kemudian bergerak pergi ke arah datangnya kembali tentara Vigard.

            Para Kesatria Yad yang lain pun buru-buru menyusul Dave. Mereka mulai menghitung satu persatu musuh yang mereka bunuh.

            Tiba-tiba, Dave merasakan aura yang tak biasa. Ia merasakan kehadiran orang yang paling ia benci, namun juga yang paling ia tunggu. Dave memalingkan matanya ke tempat ia merasakan aura itu. Aura pembunuh sadis dan mengerikan. Entah sudah berapa juta makhluk yang berakhir di tangannya. Naluri Dave benar. Akhirnya orang itu muncul juga. Petarung nomor satu tentara Vigard, Drake Raebenet.

            Sebagaimana tentara Vigard lainnya, Drake adalah sosok berkulit gelap, berambut merah, tinggi, kekar, penuh tato, dan hanya mengenakan celana kain putih yang lusuh. Semenjak pertarungan pertamanya denganDave, Drake sudah menganggap Dave lawan seimbang.Demikian pula dengan Dave. Selama mereka bertarung, belum pernah ada yang menang. Pertarunganselalu terhenti dikarenakan tentara Vigard yang memutuskan untuk mundur di tengah peperangan.

            Drake bersenjatakan sebilah pedang besar berlumuran darah yang selalu ia genggam erat dan pistol besar yang selalu bergantung di pinggangnya. Mata Dave dan Drake bertemu. Mereka tersenyum, terbakar semangat tempur. Mereka pun berlari berhadapan dan siap mengayunkan pedang. Jarak pun semakin dekat dan pedang mereka berhantaman dengan sangat keras. “TRANGGG!!!”

            “Ayunan pedangmu semakin dahsyat saja, Dave!” puji Drake senang tanpa melepas pedangnya yang beradu kuat dengan pedang Dave.

            “Kau juga. Kau pasti berlatih keras di sana.”

            Pedang terlepas. Keduanya lalu kembali saling menyerang dengan liar.

            Di lain tempat, Marius dan kawan-kawan masih berhadapan dan membantai satu persatu para tentara Vigard. Lalu laser besar datang dari atas dan mengenai salah seorang prajurit Sanivia. Prajurit itu lalu terhempas dan terpental cukup jauh. Baju zirahnya hancur.

            “Hei! Kau tak apa-apa, Kawan?” Kyle merangkul prajurit berbaju zirah itu, namun tak ada respon.

            “Keparat!! Apa itu barusan?” tanya Hiram gusar sambil melihat keatas.

            “Angkatan udara Vigard!” sahut Marshall panik begitu melihat beberapa jet tempur tak bersahabat beterbangan dengan begitu liarnya sambil menembakkan laser berdiameter besar dan panas.

            Marius pun mulai emosi. “Ke mana angkatan udara kita!?”

            “Sia-sia saja kau menanti kedatangan mereka, Marius. Apa kau lupa pesawat-pesawat tempur kita mengalami kerusakan cukup parah di pertarungan sebelumnya?” ujar Hiram mengingatkan.

            “Kalau begitu serahkan pada aku dan Marshall yang lebih unggul di udara!” usul Kyle sembari menyombongkan diri.

            “Baiklah, kawan-kawan. Kami mengandalkan kalian,” ujar Marius.

            Kedua yadbot milik Marshall dan Kyle pun dengan cepat berubah menjadi jet tempur yang terlihat sangat canggih, megah, dan mewah.

            “Kami pergi dulu!” ujar Kyle.

            “Hati-hati!” sahut Hiram sambil menembakkan laser ke arah tentara Vigard yang mendekat.

            Marshall, Kyle, dan para yadbot pun terbang menjauh.

 

* * *

 

Wirden terus menebas mereka yang menghalangi sambil terus berlari dengan dikawal sejumlah prajurit menuju arah datangnya musuh.

            “Brengsek! Mereka banyak sekali!!” geramnya.

            Wirden telah berlari cukup jauh. Akhirnya, di kejauhan, ia melihat sesosok pria hitam besar berambut merah panjang yang diikat, duduk di atas sebuah singgasana dengan dilindungi enam pengawalnya. “Ketemu kau, Reinbach!!” gumam Wirden.

            Reinbach Xaides adalah pemimpin sekaligus raja kaum Vigard yang berkemampuanhebat. Ia mengenakan pakaian lengkap dan mewah, tidak seperti bala tentaranya yang berpenampilan lusuh bak budak. Ia terlihat lebih tua beberapa tahun daripada Wirden. Namun tidak seperti Wirden, Reinbach lebih memilih mengandalkan para tentaranya untuk maju lebih dulu ke medan pertempuran, sementara ia duduk santai sambil tetap waspada.

            Wirden menembakkan bola energi besar dari telapak tangan kirinya ke arah Reinbach, namun ditepis oleh salah seorang pengawalnya.

            “Akhirnya kau datang juga, Raja Sanivia,” sambut Reinbach yang telah menyadari kehadiran Wirden.

            Wirden memerintahkan para prajuritnya untuk menyerang para pengawal Reinbach, sementara ia berhadapan dengan Reinbach sendiri. Mereka pun mengatur formasi. Wirden berlari di belakang para prajurit. Pengawal-pengawal Reinbach siap memberi perlawanan.Pertarungan sengit di antara para prajurit pun terjadi, sementara Wirden melompat melangkahi mereka dan bersiap dengan Yadseut-nya.

            Reinbach yang sepertinya telah memperhitungkan semua itu, mengambil pedangpanjangnya dan menangkis serangan Wirden. Wirden kemudian menendang Reinbach hingga terguling dari singgasananya. Reinbach pun cepat-cepat bangun dan menangkis serangan liar Wirden berikutnya yang datang secepat kilat.Sedikit saja Reinbach terlambat, maka itu adalah akhir hidupnya. Wirden lalu memainkan pedang Yadseut-nya dan menyerang Reinbach dengan liar.

            “Kali ini kau takkan kubiarkan lolos!” ancam Wirden.

            “Kita lihat saja, Raja Wirden yang bijak. Aku tak semudah itu dikalahkan!”

            “Mengapa kalian belumjuga menyerah? Padahal sudah berkali-kali kalian mengalami kekalahan! Kalian bisa saja mencari planet lain untuk kalian kuasai!”

            “Kau ini dungu juga ternyata ya, Raja,” ledek Reinbach. “Asal kau tahu! Planetini adalah planet yang paling diinginkan di seluruh jagat raya. Kalian memiliki sumber alam tak terbatas. Kalian memiliki kecanggihan teknologi luar biasa. Kalian memiliki alam yang indah dan luas. Bahkan kalian tak butuh bintang penerang untuk dapat melihat. Bangsa planet mana yang tak tergiur dengan itu semua?” Reinbach menjelaskan secara blak-blakan sembari menahan serangan-serangan Wirden.

            “Tapi yang membuat aku kagum,” ia melanjutkan,“kemewahan tidak membutakan kalian.Apalagi membuat kalian terlena. Kalian tetap terus meningkatkan kemampuan bertarung agar tidak mudah bagi planet lain untuk menaklukkan kalian. Itulah yang membuat kami selalu kalah belakangan ini.Aku akui itu. Tapi….”

            “Tapi apa?”

            “Tapi planetku memiliki populasi yang bisa kami jadikan senjata untuk mengalahkan kalian. Apa kau tidak sadar, para kaummu terus berguguran dan berkurang sementara kaumku terus bermunculan seperti tak ada habisnya?”

            “Kau!!? Sudah kuduga!! Sebenarnya seberapa banyak populasi planetmu!?” tanya Wirden terheran-heran.

            “Berkali-kali lipat daripada populasi planetmu, tentunya. Oleh karena itu, meski selama ini kami terus-menerus mengalami kekalahan, kami akan terus bermunculan sampai kalian benar-benar habis. Sampai kami berhasil menguasai planet ketiga untuk menampung populasi kami yang sudah benar-benar membludak. Planet ketiga itu adalah Sanivia-mu yang agung! Kalah untuk menang, itulah rencana kami.Dan kalian telah terjebak didalamnya!”

            “Planet ketiga? Sebanyak itukah?!” Wirden tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

            “Oleh karena itu, bijaklah, Raja Wirden. Mengalahlah dan kami akan membiarkan kalian semua tetap hidup. Semua ini akan segera berakhir.”

            “Hidup bersama bangsamu yang tamak dan liar? Aku tak sudi.”

“Begitu rupanya jawaban seorang penguasa yang bijak. Maka lihatlah, Raja Wirden, bangsamuakan berakhir sebagaimana bangsa-bangsa lain yang pernah kami jajah dan kami bantai!”

            Reinbach menyerang balik dengan cepat hingga membuat Wirden terdesak. Wirden yang selalu berkepala dingin tak gentar dengan serangan-serangan itu dan dengan lihai mengayunkan pedangnya di saat yang tepat hingga berhasil melucuti pedang Reinbach. Melihat kesempatan itu, Wirdensegera menhunjamkan pedangnya menuju jantung Reinbach.

            Namun Reinbach yang cerdik dapat membaca gerakan itu dan segera mengelak mengindari cedera di bagian yang fatal.Pedang Wirden akhirnya menancapdi lengan kirinya. Dalam, namun kelihatannya tidak terlalu berpengaruh.

            Wirden segera mencabut pedangnya. Melihat adanya kesempatan, pedang itu kembali ia ayunkan dan diarahkan ke titik yang sama. Dengan cedera di bagian lengan itu, Reinbach mustahil menghindari serangan Wirden kali ini.

            “Mati kau!” teriak Wirden di detik-detik kemenangannya.

            Tiba-tiba Reinbach terselamatkan oleh salah seorang pengawalnya yang berdiri membelakangi dirinya untuk menggantikan tempatnya menerima serangan maut Wirden. Wirden pun tak dapat menarik kembali serangannya dan pedang itu menancap telak mengenai jantung sang pengawal setia hingga tembus ke bagian punggung. Darah segar mengucur deras dari tubuh pengawal itu. Reinbach cepat-cepat bangkit dari duduknya selagi sempat.

            “Kita mundur!” perintah Reinbach. Mendengar itu, salah seorang pengawalnya cepat-cepat meniupkan sesuatu menyerupai terompet kecil hingga menimbulkan suara nyaring. Suara itu hampir terdengar oleh semua orang. Mereka yang sibuk bertarung pun, mengakhiri pertarungannya.

            “Suara itu,” ujar Hiram.

            “Mereka menyerah lagi,” sahut Marius.

            Marshall dan Kyle yang juga mendengar suara itu pun langsung turun ke darat di dekat Hiram dan Marius berdiri.

            Tak jauh dari situ, Dave dan Drake menikmati sisa-sisa pertarungan mereka.

            “Sayang sekali, Drake. Kalian kalah lagi,” ujar Dave yang masih saja mengayunkan pedangnya dengan lihai menghadapi Drake.

            “Sial!” keluh Drake. “Tapi bukan itu yang aku sayangkan, melainkan pertarungan kita yang lagi-lagi terhenti. Lihat saja, bahkan belum ada seorangpun dari kita yang terluka.”

            “Kita memang belum pernah saling melukai satu sama lain semenjak duel pertama kita. Serangan-seranganku begitu mudah kau tepis, begitu juga serangan-seranganmu kepadaku. Kekuatan kita terlalu seimbang. Aku juga sangat menyayangkannya.”

            Beberapa detik kemudian, sejumlah sinar hijau menyelimuti Reinbach dan sisa tentaranya. Seketika, mereka lalu menghilang bersama sinar itu.

            “Aku akan membunuhmu di pertarungan berikutnya,” ucap Drake sebelum menghilang.

            Jasad-jasad Vigard yang gugur dalam perang ditinggalkan begitu saja seperti sampah. Selalu seperti ini keadaannya ketika bangsa Vigard lari dari kekalahan mereka. Mereka kabur, lalu menghilang.

            “Kita berhasil lagi, teman-teman!” sorak Kyle.

            “Tidak, Kyle,” sahut Dave menghampiri. “Ini adalah kegagalan kita yang kesekian kalinya. Karena lagi-lagi, kita yang dijuluki yang terkuat ini,tidak bisamelindungi mereka yang ikut berjuang mati-matian.”

            Marius mengepalkan tangannya dengan geram. “Mereka terlalu banyak. Lama-lama kita bisa habis!”

            “Benar katamu, Marius.” Wirden menghampiri mereka.

            “Maksud Ayah?” tanya Dave.

            “Kita akan membicarakannya dalam rapat nanti. Sekarang,kita kubur para pejuang-pejuang kita.Lalu para Vigard biadab yang mati, kita bakar mereka!”

 

* * *

 

Duka mendalam kembali menyelimuti Sanivia.Air mata dan isak tangis dari mereka yang kehilangan suami, rekan, sanak saudara, serta anak-anak merekamenambah suasana duka pemakaman sakral itu.

            Tumpukan tebal pasir biru menjadi pemisah antara keberadaan jasad-jasad berjasa yang mati dan mereka yang menangisi jasad-jasad itu. Tangis mereka kian pecah saatWirden mengumandangkan pidato perpisahan pada pejuang-pejuang berjasa yang mau tak mau, harus dikubur secara massal karena jumlahnya yang tak terhitung serta kemustahilan menyambungkan kembali anggota-anggota tubuh mereka yang terputus akibat pertempuran. Tiap kata yang keluar dari mulut Wirden adalah kata-kata penuh kehormatan dan sesuai bagi mereka yang mati berjuang demi ranah Sanivia. Tiap kata yang keluar dari mulutnya adalah pujian mulia setinggi langit yang memang pantas disematkankepada mereka yang telah mati dalam pertempuran yang begitu keras. Air mata mengucur deras dari pelupuk mata sang raja yang dengan tulus mencintai rakyatnya.

            Dengan disaksikan oleh jutaan penduduk Sanivia, Wirden mengakhiri pidatonya dengan kalimat: “Tetaplah berani kalian dalam membela harga diri di alam sana! Tetaplah terpuji akhlak kalian dalam menempuh hidup sebagaimana kalian menempuh hidup di tanah Sanivia ini! Tetaplah berkobar semangat kalian sebagaimana kobaran semangat itu dalam perang yang menyiksa ini! Dan tetaplah tinggi dan mulia martabat dan kehormatan kalian, sebagaimana tinggi dan mulianya martabat dan kehormatan itu ketika kalian masih hidup, sebagai prajurit kebanggaan Sanivia!” Wirden memberikan penekanan-penekanan khusus dalam pidatonya sehingga membuat mereka yang mendengar merinding dan merasakan kepiluan yang mendalam.

            Sementara di tempat yang lain, di suatu tempat terasing yang tak begitu jauh dari pemakaman itu, terdapat pula ritual serupa. Hanya saja, ritual yang ini tidak disaksikan dan disesali oleh orang-orang, dimana jasad-jasad tentara Vigarddibakar hingga menjadi debu.

            Seorang prajurit memandang heran sosok tinggi semampai yang berdiri membatu memandangi api yang tengah melahap mangsanya itu. “Kenapa Anda tidak hadir ke acara pemakaman saja, Tuan Marius?Padahal semua orang hadir ke sana.”

            “Iya. Kami jadi tidak enak setiap hari Anda bersama kami, para prajurit biasa, membakar mayat-mayat ini,” sahut prajurit lainnya.

            Marius tak langsung menjawab pertanyaan itu. Sejenak, ia membisu.Bibirnya bergetar.Kemudian, ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya kembali. “Aku lebih suka menyaksikan biadab-biadab ini dibakar daripada menyaksikan pemandangan memilukan ketika teman-teman kita dimakamkan. Aku tak sanggup.”

            Sebuah tangan yang kokoh menepuk pundak Marius dari belakang. “Pemakaman sudah selesai, Kawan. Ayo kita bersihkan diri kita, lalu istirahat. Sebentar lagi pertemuanakan digelar kembali,” ujar Dave.

* * *

 

Dave, Hiram, Marshall, dan Kyle menatap heran Marius yang sedari tadi tenggelam dalam lamunan yang berkepanjangan. Mereka duduk mengelilingi meja bundar di sebuah bar. Aneka hidangan telah habis dilahap para kesatria yang kelelahan itu. Semuanya, kecuali Marius. Piringnya masih dipenuhi makanan yang telah dingin dan kering. Gelasnya masih dipenuhi minuman yang tadinya hangat. Tak sedikitpun hidangan itu ia sentuh. Ia belum kembali dari lamunannya sejak pembakaran Vigard tadi.

            “Marius, apa kau—” Belum habis Kyle bertanya, yang lain segera membungkam mulutnya. Dave dan Marshall menutup rapat-rapat mulut Kyle, sedangkan Hiram dengan geram memberinya jitakan kecil namun menyakitkan. Kyle mengaduh-aduh dalam bungkaman mereka.

            Dave berbisik pada Kyle untuk tidak mengganggu Marius ketika sedang seperti ini.

            Marshall berbisik, “Kau ini seperti baru mengenal Marius saja!”

            Jelas sekali terlihat bahwa Marius sedang dilanda kesedihan yang mendalam. Perang mengingatkannya pada sosok kedua orangtuanya yang tewas ketika berjuang melawan bangsa yang dulu juga pernah mencoba menguasai Sanivia. Ayahnya gugur sebagai seorang Kesatria Yad pemegang Yadsruht seperti dirinya kini, sementara ibunya tewas terbunuh karena melindungi dirinya yang ketika itu baru berusia 8 tahun.Marius yang dulu merupakan bocah kecil yang periang berubah menjadi pribadi penyendiri dan pendiam sejak kejadian itu. Tangisannya meledak-ledak ketika jasad ayah dan ibunya dimakamkan bersama para pejuang lain. Semenjak kejadian itu pula, Marius menjadi sosok yang sangat benci dan takut akan pemakaman. Karena baginya, pemakaman adalah sebuah ritual dimana secara resmi ia kehilangan orang-orang yang ia cintai. Karena itu, setiap digelar acara pemakaman, tak peduli siapapun yang dimakamkan, Marius takkan berkenan menghadirinya. Ia lebih memilih pergi mengasingkan diri ke tempat lain.Kemana saja, asal ingatannya tidak membawanya kembali ke tujuh belas tahun silam dimana ia dan orangtuanya terpisahkan oleh gundukan tanah.

            Namun, semakin Marius mencoba untuk tidak mengenangnya, semakin kuat memori itu kembali padanya. Hanya teman-teman akrabnya sedari kecil: Dave, Hiram, Marshall, dan Kyle yang mampu memahami kesedihan Marius.Karena mereka menyaksikan sendiri betapa terlukanya seorang Marius kecil ketika orangtuanya pergi untuk selama-lamanya.

            Pengalaman pahit itu menciptakan semacam trauma bagi Marius. Sejak saat itu hingga kini, ia tinggal bersama pamannya yang merupakan adik kandung dari ayahnya.

            Waktu pun terus berlalu dan imej buruk pemakaman dimata Marius mulai pudar. Itu disebabkan oleh hadirnya seorang gadis jelita nan anggun. Marius mencintaigadis itu, begitu pula sebaliknya.Merekapun menjalin hubungan.

            Pernah suatu ketika, ia berkata pada Marius yang saat itu memaparkan secara terbuka mengenai dirinya yang benci dengan pemakaman. Namun dengan lembut dan bijak, gadis itu menjawab, “Kenapa harus sebegitu takut dan bencinya dirimu akan pemakaman? Ayahku pernah berkata, makam ialah sebuah pintu ajaib yang sulit di jelaskan. Semacam portal untuk mereka, orang-orang yang kita cintai yang lebih dulu pergi mendahului kita menuju dunia yang penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian, bersih dari peperangan dan perselisihan. Di sanalah kebahagiaan sejati bersemayam. Bayangkan saja seandainya tidak ada pemakaman, mau dikemanakan jasad orang-orang yang kita cintai itu? Mereka akan semakin menderita. Tubuh mereka akan digerogoti hingga membusuk oleh derita karena tak kunjung pergi ke dunia yang seharusnya mereka tempati, dimana mereka menjalani kehidupan yang lain, kehidupan yang lebih indah dari yang pernah mereka alami sebelumnya. Wajar jika kau menangisi dan merindukan orang-orang itu, tapi bukan berarti kau harus terus terpuruk dalam kesedihan yang nantinya akan berbuah kebencian. Pemakaman adalah jalur menuju dunia baru bagi mereka yang telah tiada. Kau harus tahu itu. Dan tak sepantasnya kau membencinya.”

            Perkataan itu merasuk sampai ke dasar hati Marius. Alangkah bodohnya ia selama ini. Selalu terpuruk dalam kesedihan tak berujung. Barulah ia sadari, betapa berartinya makna dari sebuah ritual suci bernama pemakaman bagi mereka yang telah tiada.

Akhirnya, hari-hari bahagia kembali Marius jalani, bersama para sahabat, dan gadis itu. Kesedihan akan kepergian orangtuanya pun mulai sirna. Toh mereka bahagia sekarang di suatu tempat di dunia indah seperti yang diceritakan oleh gadis itu. Marius yang periang pun akhirnya kembali setelah sekian lama ditelan kesedihan.

            Hingga pada suatu hari, kejadian serupa terulang kembali. Beberapa waktu yang lalu, kaum Vigard yang waktu itu baru sekali mengalami kekalahan, kembali hadir dengan serangan mendadaknya yang brutal. Para penduduk Sanivia begitu terkejut hingga bingung harus berbuat apa. Pembantaian pun terjadi. Tiba waktunya bagi para petarung termasuk Marius dan kawan-kawan untuk menjalankan aksinya.

            Sebelum pergi, Marius sempat menghampiri kekasihnya itu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ia lalu menyuruh gadis jelita itu pergi mengikuti para prajurit yang bertanggung jawab atas jiwa dan keselamatan wanita dan anak-anak menuju tempat yang aman.

            Di persembunyiannya, tiba-tiba gadis itu merasakan firasat buruk tentang Marius. Ia berfirasat bahwa Marius akan pergi mendahuluinya. Ia tak terima. Lalu dengan nekat, gadis itu mencoba keluar dan menerobos para prajurit penjaga yang menghalangi.

            “Marius akan mati, Marius akan mati!” ujarnya terisak. Para prajurittidak mengizinkannya keluar demi keselamatan gadis itu sendiri. Sampai akhirnya, ia rela memohon-mohon bahkan memeluk kaki para prajurit dan menangis sejadi-jadinya. Dan tentu saja,salah seorang dari prajurit itu akhirnya tergetar hatinya dan memperbolehkan ia keluar asal ditemani olehnya.

            Dengan dilindungi oleh sang prajurit, gadis itu mencari-cari Marius di tengah dahsyatnya peperangan. Ia memanggil-manggil nama kekasihnya itu. Teriakannya menarik perhatian para tentara Vigard yang keji. Para Vigard itupun datang menghampirinya. Aura kejam dan mengerikan terlihat jelas di balik senyum licik mereka.

            Prajurit Sanivia itu dengan gagah berani mencoba bertarung melindungi sang gadis.Namun ia kalah jumlah dan akhirnya terbunuh. Gadis itu lalu berteriak pilu memanggil-manggil Marius.

            Marius mendengar panggilan itu, lalubergegas mengikutinya.

            Ternyata benar firasat Marius. Ia melihat pujaan hatinya berteriak kencang memanggil namanya dengan dikelilingi tentara Vigard yang kejam. Gadis itu tak henti berteriak hingga pita suaranya putus. Marius yang masih berada di kejauhan pun mulai panik. Ia terus berlari sekuat tenaga untuk menolong sang kekasih. Namun Marius terlambat. Pedang yang diayunkan tentara Vigard menyayat leher jenjang dan mulus itu. Darahnya yang merah merekah keluar bercucuran. Lalu sayatan kedua pun menyusul dan berhasil memisahkan kepala gadis itu dari tubuhnya. Para Vigard keji itu tertawa gembira dengan perbuatan mereka, seperti sedang menonton pertunjukan komedi yang benar-benar lucu. Semua itu terjadi di hadapan Marius.

            Amarahnya pun memuncak.

            Ia berlari sekuat tenaga dengan air mata mengucur deras menuju kawanan tentara itu. Dengan gerakan secepat kilat dan nyaris tanpa suara, Marius mengayun-ayunkan pedangnya dengan liar hingga menyayat-nyayat tubuh mereka. Darah mereka menyiprat dan membanjiri tubuhnya. Ia terus bergerak liar dengan dendamnya dan terus membelah-belah para tentara meski mereka tak lagi bernyawa. Ia terus menyerang dengan dendam, amarah, dan kesedihan yang menyatu dalam tiap serangannya hingga tentara-tentara itu terpotong-potong hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Setelah puas, barulah ia berhenti. Napasnya terengah. Tubuh  Marius ternodai sepenuhnya oleh darah.

            Dilihatnya pujaan hatinya yang telah tiada itu. Diam, tak bergerak. Satu lagi cahaya hidupnya meredup, lalu mati tanpa kata.

            Dan tiba waktunya gadis itu dan mereka yang gugur dimakamkan. Tumpukan pasirmulai menutupi mereka. Setelah sekian lama, akhirnya Marius kembali menghadiri acara pemakaman yang sakral, dimana mereka yang telah tiada, memasuki sebuah portal menuju dunia lain yang didambakan setiap umat.Setidaknya begitulah yang pernah dikatakan oleh gadis berhati lembut itu.

            Dipandanginya mata kekasihnya yang mulai tertutupi oleh pasir itu dalam-dalam. Namun wajah bahagia seperti akan memasuki dunia penuh kebebasan sama sekali tak tersirat dari wajahitu. Yang terlukis di wajah gadis itu hanyalah kesedihan dan kehampaan.

            “Seperti itukah raut wajah orang yang akan menempati dunia indah yang kau ceritakan itu? Kau bohong.” Apa yang dikatakan gadis itu mengenai portal ajaib dan dunia penuh kebahagiaan serta kedamaian adalah omong kosong, begitulah pikir Marius hingga detik ini.

            Luka baru tertoreh dalam-dalam di relung hatinya. Dan torehan luka itu turut serta membuka lebar-lebar luka lama yang tadinya telah menutup, yaitu luka akan kehilangan orangtua. Dan luka-luka itu membawa kembali Marius yang pemurung dan pendiam, serta Marius yang membenci pemakaman.

 

* * *

 

Dave menghela napas panjang. Helaan itu membawanya kembali ke kontrakannya di Bumi, ke waktu sekarang. Dan beberapa detik kemudian, ia pun terlelap. Namun sebelum itu, Dave sempat bertekad dalam hati, bahwa apa pun yang terjadi, Vigard harus segera dihentikan. Dan satu-satunya cara mewujudkan hal itu adalah dengan membawa kembali Bayu Pratama pulang ke Sanivia.

            Dave bertekad, sesulit apa pun misi ini, ia harus berhasil. Demi Sanivia.