13788339672045988411_300x223.84615384615

Tuyul, bagi masyarakat Indonesia, bukanlah suatu hal yang aneh, ia telah menjadi bagian dari kehidupan, sama seperti mahluk-mahluk ghaib/halus lainnya. masyarakat mempercayainya, jika tuyul berbentuk seperti balita (anak yang berusia 2-4 tahun) dan berkepala gundul.

Dalam penyebutan namanya tuyul dapat disamakan dengan gundul, dan kecit. Tuyul distigmakan sebagai “pencuri uang” dan memberikannya pada tuannya (pemilik tuyul). Selain tuyul, ada beberapa kepercayaan lain yang berhubungan dengan kekayaan. Akan tetapi kekayaan yang dimaksudkan didapatkan dengan cara yang tidak wajar, immoral, dan haram (melakukan kontrak dengan Setan).

Secara umum disebut “nyupang”. Metode/cara dalam nyupang ada berbagai bentuk, seperti memilihara tuyul (gundul dan kecit), ngepet/ngipri (dengan menjadi babi dan anjing), bersetubuh dengan mahluk halus tersebut seperti dengan Nyi Blorong dan Nyai Loro Kidul, dan juga bank ghaib (batize money). Dalam bank ghaib terdapat kepercayaan uang yang telah di rajah (diberikan kekuatan dengan memberikan simbol tertentu, bisa huruf arab atau jawa, ataupun dengan simbol lainnya) dapat kembali kepada pemiliknya, setelah uang tersebut dibelanjakan atau digunakan untuk membayar transaksi lainnya dan juga pelipat-gandaan uang.

Sebagai sebuah pekerjaan yang bersifaat immoral, maka terdapat konsekuensi-konsekuensi yang akan diterima oleh pelakunya, seperti pengorbanan jiwa dan raga. Menurut pandangan budaya  dan religi, pengorbanan tersebut tidak hanya dilakukan pada masa pelaku masih hidup akan tetapi setelah kematiannya, pelaku menjadi pengikut (hamba) dari mahluk-mahluk ghaib tersebut.

Konstruksi budaya

Masyarakat jawa adalah salah satu etnis di Indonesia yang memiliki kebudayaan yang besar dan lumayan kompleks dibandingkan etnis yang lain. Pulau jawa lebih dahulu berkembang dibandingkan daerah lain. Sebagai pemilik kiebudayaan yang besar, etnis jawa memiliki kepercayaan terhadap mitos-mitos mistik yang berhubungan dengan kemakmuran dan kekayaan masyarakatnya.

Etnis jawa yang berpikiran tradisional rata-rata percaya dengan hal gaib tersebut dan meyakini bahwa makhluk gaib tersebut dapat mereka manfaatkan untuk mencari kekayaan dengan cara yang tidak halal. Tuyul contohnya. Orang Eropa mengenal tuyul yang menurut kepercayaan local mereka menyerupai goblin. Tuyul berguna untuk mengambil uang dari orang lain untuk digunakan/diberikan kepada sang pemilik tuyul. Oleh sang pemilik, tuyul dibawa ketempat ramai yang dimaksudkan agar tuyul tersebut bisa mencuri uang dari orang lain. Tuyul bersifat gaib sehingga tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Sehingga pemilik bisa mendapatkan harta yang berlimbah secara instan.

Akan tetapi, pada umumnya orang yang memiliki tuyul berlatarbelakang orang yang tidak miskin atau orang yang cukup “berada”. Karena, memiliki tuyul bukanlan hal yang murah dan mudah. Untuk memilikinya saja harus memiliki modal yang lumayan besar belum lagi biaya pemeliharaannya. Menurut kepercayaan setempat, tuyul diberi air susu manusia tau di susui oleh seorang perempuan. Menurut kepercayaan setempat, pemilik tuyul identik dengan seorang janda, rumah yang memiliki kolam dan tanaman kacang kacang hijau. Karena hal-hal tersebut digemari oleh tuyul. Bila hal tersebut tidak dilaksanakan maka tuyul tersebut menjadi marah dan pergi bersama harta-harta yang pernah diberikannya pada sang pemilik.

Dalam proses untuk mendapatkan tuyul, calon pemilik biasa memberikan suatu pengorbanan yang biasa disebut “tumbal” yang bisa berupa harta benda atau jiwa dan raga seseorang, jiwa calon pemilik dan jiwa dari keturunan calon pemilik. Bila dilihat dari sudut pandang mentalitas, orang yang tega untuk melakukan hal-hal seperti ini layak disebut orang yang berpikiran pendek dan mudah putus asa. Dalam segi agama, agama apapun itu, hal ini sangatlah dilarang keras. Dalam Islam, ini disebut Syirik atau menduakan Allah. Hukumannya adalah neraka abadi yang kelak didapatkannya setelah dia mati. Dari sini saya dapat ambil kesimpulan tinggi rendahnya mental seseorang/suatu etnis dilihat dari kepercayaan seperti ini. Semakin percaya mereka, semakin rendahlah mentalnya.

Perbedan yang mencolok adalah kedua tradisi tersebut adalah mengenai penyebutan nama untuk mahluk-mahluk ghaib/halus, sebab apa yang ada dalam khasanah jawa tidaklah ditemukan dalam tradisi Islam dalam bentuk verbal, akan tetapi dapat bertemu dalam bentuk pemaknaan. Jin adalah mahluk yang mempunyai sifat seperti manusia, ia dapat berbuat baik dan juga dapat berbuat buruk, ia dapat berinteraksi dengan manusia. Hal inilah yang menjadi landasan dari pertemuan tersebut. Mahluk ghaib/halus yang diperkenalkan oleh tradisi jawa seperti memedi, lelembut, dedemit, danyang, tuyul dan sebagainya adalah manifestasi dari Jin.

Hubungan antara mahluk ghaib dengan manusia dalam kedua tradisi tersebut pada akhirnya akan menimbulkan sebuah persepsi yang berbeda, akan tetapi dalam kasus ini maka dihubungkan dengan nilai (baik dan buruk), hal ini berkenaan dengan fungsi dan tujuannya yang tidak terlepas dari kedigdayaan, kejayaan dan kekayaan. Hal tersebut pada akhirnya melahirkan istilah-istilah lain, seperti mahar/tumbal, sebuah konsekuensi/harga yang harus bayar/ditanggung oleh pelakunya; sarat, ritual yang harus dilakukan oleh pelakunya; dan juga  dukun/Kyai, orang yang mempunyai kekuatan supranatural yang berfungsi sebagai pengantar pelakunya dalam melakukan konstrak dengan mahluk gahaib/halus.

Tuyul dalam budaya popular

Tradisi lisan yang tetap terus terjaga antar generasi membuatnya turut serta dalam arus urbanisasi. Mereka tidak lagi menempati daerah pedesaan, melainkan telah meramba di kota-kota. Di sisi lain juga terdapat pergeseran fungsi dari kepemilikan mahluk ghaib/halus tersebut dalam masyarakat kota.

Dalam masyarakat industri, kebutuhan akan mahluk halus lebih massif dari pada pada masyarakat feodal, begitu juga dengan fungsinya. Pada masyarakat feodal mahluk halus diposisikan sebagai mitos, sebagai representasi atas sebuah kelompok masyarakat dan sebagi pelegitimasian, begitu juga dengan masyarakat urban. Akan tetapi dalam masyarakat urban mempunyai sebuah fungsi lain, yakni sebagai gaya hidup, terlebih masyarakat urban identik dengan masyarakat konsumeris.

Mahluk halus/ghaib dan kepercayaan atas kekayaan yang dapat datang dengan cepat dapat dikatakan sebagai mesin pemintal uang (alat produksi). Hal ini dikarenakan oleh ambisi yang kuat atas kekayaan. Dengan demikian alat produksi tersebut menjadi produk dan komoditi pasar yang pada akhirnya memproduksi hasrat.

Sesungguhnya dalam masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kestabilan politik otoriter sebelum 1998 telah muncul samar-samar pesaing tuyul. Namun, ia tidak datang dari kalangan bawah tetapi gentayangan di kalangan elit penguasa ekonomi dan politik negeri ini. Surat kabar kadang-kadang menyebutnya dengan hati-hati “korupsi”. Korupsi itu juga menghasilkan kekayaan mendadak bagi tuannya. Ia juga tak dapat dilihat dengan panca indera oleh siapapun sampai-sampai sang tuan juga tak bisa melihatnya.

Korupsi bukanlah sekedar makhluk halus atau roh yang tak nampak oleh mata. Ia adalah makhluk yang bisa saling berwujud ke dalam berbagai bentuk modern lembaga formal dan kelihatan normal-normal saja. Perbankan, pemerintah, perusahaan, pengadilan, Dewan Perwakilan Rakyat, sekolah, rumah sakit dan lain-lain. Korupsi bisa disebut sebagai tuyul modern yang memiliki kekuatan hebat memindahkan dana-dana rakyat banyak ke kantong-kantong privat. Hebatnya lagi, rakyat yang jutaan orang merasa mau tak mau harus berhubungan intim dengan tuyul modern ini kalau urusannya dalam hidup sehari-hari ingin lancar.

Sering dikatakan tuyul modern bernama korupsi ini telah menjadi bagian hidup sehari-hari orang Indonesia dan karena itu dianggap telah membudaya. Artinya, telah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Harus diakui tuyul yang satu ini jauh lebih digdaya dibanding dengan tuyul gundul. Korupsi tuyul modern tetap marak, menyebar, populer di mana-mana meskipun dituding dan dihujat sebagai biang kehancuran ekonomi nasional dan kesengsaraan mayoritas rakyat.

Walaupun demikian tuyul modern tetap bisa lenyap asal semua pihak berupaya secara sadar untuk memberantasnya. Artinya, kemusnahan tuyul modern tak akan terjadi akibat guncangan-guncangan dari luar melainkan harus diupayakan secara sadar oleh masyarakat. Karena karakter dasar tuyul adalah memberi imbalan kekayaan kepada tuan yang tak mau kerja keras, maka pemberantasan tuyul modern akan berlangsung efektif bila sistem ekonomi direkayasa untuk mendistribusikan kekayaan nasional secara adil kepada mereka yang bekerja. Terkait langsung dengan ini adalah tugas negara yang harus menjamin terjadinya distribusi kekayaan secara adil bagi warga negara. Sedangkan tugas pemerintah yang terpenting dalam pemberantasan tuyul ini adalah memberi kerja bagi rakyatnya.

Daftar bacaan

Cliiford Greetz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarat Jawa (pentj. Aswab Mahasin), (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 1981)

Herman Achmad Ma’rup, Premis-Premis Pembacaan Khasanah Budaya Jawa dan Nuswantara, (Yogyakarta: KPK Tjap Orang Djadzab. 2006)

Leonard Blusse, Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC, (Jakarta: Pustaka Azet. 1988)

Denis Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya; Bagian 1: batas-batas Pembaratan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2008)

Denis Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya; Bagian 3: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2008)

  1. Thomas Lindbland (editor), Sejarah Ekonomi Moern Indonesia : Berbaga Tantangan Baru (Jakarta : LP3ES. 1998)

J.S. Furnivall, Hindia-Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk, (Jakarta: Freedom Institute. 2009)