PROLOG

“When I first saw you, I freeze. My heart boom-boom, feeling like I’m fighting the butterflies. And the only problem is…it’s for the first time.” – Arkan Putra Pratama Dirgantara.

***

“Arkan!” Semua keributan terhenti. Kegaduhan yang sebelumnya terdengar ramai pun lenyap. Ini teriak dari Pak Adam. Guru Bimbingan Konseling di sekolah swasta ternama di Jakarta ini. Yakni, SMA Garuda.

 

Beberapa murid-yang menggerubungi Arkan-dan menonton kejadian ini secara langsung-mulai memisahkan diri untuk pergi setelah mendengar ucapan Pak Adam yang gusar karena kejadian ini. Setelah mendapati beberapa murid itu pergi, tatapan tajamnya tertuju kepada Arkan. Pria yang kini tengah merunduk menatapi tajam sang musuh yang sudah jatuh tersungkur-tak berdaya-di tanah  seraya mengusap percikan darah yang mengalir di sudut bibirnya.

 

“Kamu ini, ya! Sudah bertengkar lagi saja! Kamu nggak inget sudah berapa kali saya peringatkan? Ikut saya ke ruangan saya!” Pak Adam murka saat itu juga. “Dan kamu, Johan, kamu ikut saya juga!”

 

Johan yang tengah mengaduh kesakitan akibat pukulan keras yang harus ia terima dari Arkan pun mengangguk kecil. Bangkit dan mengikuti langkah pak Adam. Sementara Arkan sendiri, ia mengambil tas punggungnya yang kosong, tidak terisikan apa-apa. Menyimpangi tas tersebut dibahu kanannya dan melangkah mengikuti langkah pak Adam.

1 COMMENT