oleh JiGress_01 Januari 2017

“Sungguh aneh…kau yakin kau melihatnya?” Dara menatapku dengan membuat kerutan kecil di dahinya, menyiratkan ketidakpercayaannya atas apa yang baru saja kukatakan.

“Ini beneran Dara…aku sungguh melihatnya.  Memang hanya sekilas, karena katak itu sudah melompat jauh saat aku mau mendekat tapi kepala katak itu sungguh berwarna pink, bercorak merah muda…sungguh aneh bukan?” ulangku.

Seekor katak, kepalanya bercorak merah muda…Baiklah, mari berhenti sejenak kalau-kalau kalian bingung mengapa topik yang kami bahas adalah seekor katak.  Saat ini Dara and aku (by the way, namaku Marta dan Dara adalah teman kecilku) sedang berada di tengah-tengah sawah dan bersantai di bawah naungan saung, menikmati angin sepoi-sepoi sore.  Dan aku memecahkan keheningan dengan menceritakan katak yang kulihat di perjalanan kami ke saung.  Lalu Dara yang selain memiliki kharisma seorang model, diapun adalah seorang wanita yang realistis merespon dengan memberikan tatapan ketidakpercayaannya, kemudian dia pun tertawa… tertawa keras sekali, yang akan membuat para fansnya akan tercengang-cengang bila melihatnya.

“Hahahahahahaha….katak pink…..kau pandai sekali mengkhayal, Marta… Hahahahahaha…..kita ini di desa, bukannya  di wonderland….” Begitulah Dara, sikapnya lepas bila hanya bersamaku.  Tapi tawanya membuatku agak kesal karena aku sungguh melihatnya, katak bercorak pink itu…yang entah kenapa membuatku tertarik.

“Sudahlah…tertawa saja kau terus… katak itu beneran ada dan aku akan menunjukkannya padamu..” dan aku pun bangkit, mulai mengingat-ingat arah di mana terakhir aku melihat katak itu. Rasanya sih, di sebelah situ…atau di sana…?

Dara mengerutkan matanya lagi, “Mencarinya? Sekarang? Hmm…baiklah, kau mulai membuatku tertarik…tunjukkan jalannya, teman…mari berpetualang mencari katak berkepala pink itu…”   Satu hal yang kusuka dari Dara, meski realistis tapi dia pun seorang yang open-minded, mungkin inilah yang membuat pertemanan kami awet karena dari segala hal, aku sungguh berlawanan dengan Dara.  Tubuhku yang tidak proposional dan mukaku yang berjerawat, ditambah mata empatku ini memberikan kesan bahwa aku seorang gadis kutu buku yang penuh dengan khayalan.  Namun Dara selalu mau meladeni khayalan liarku, yang tak jarang membawa kami ke petualangan-petualangan kecil yang tak terduga.

Jadi, mulailah kami berdua mencari di tengah-tengah hamparan padi yang mulai menguning.  Sesekali Dara memanggil dengan nada canda “Ayo keluarlah, katak berkepala pink…ada gadis yang ingin menciummu supaya kau menjadi pangeran yang tampan…”

Aku hanya tersenyum pahit, “Kurasa selera katak itu pastilah wanita yang cantik, jadi aku akan menjadi saksi kalian berdua berciuman nanti…tapi bicara tentang ciuman, bagaimana kabarnya?” tanyaku.  Meski aku tidak menyebut nama, Dara langsung tahu siapa yang kumaksud.  “Oh…dia, sudah ‘out’!  Bagaimana bisa aku menerimanya lagi setelah dia tertangkap basah olehku…aahh, kali ini aku sungguh patah hati, Marta… mungkin lebih baik kita cepat menemukan katak itu dan kucium, agar mendapatkan pangeran yang bisa mengobati patah hatiku ini…”

Aku tertawa kecil, mengingat Dara sudah mengalami patah hati yang tak terhitung lagi. Kali ini dengan Aldo, model tampan seagensi dengan Dara, yang menduakan Dara dengan model lain.  Sebenarnya alasan patah hati inilah yang membuat Dara mau menemaniku hingga ke desa terpencil ini, kampung halaman nenekku.   Namun Aku mulai menyesali pertanyaanku tadi karena Dara mulai mengeluarkan uneg-unegnya tentang mantannya itu dan biasanya Dara akan mengoceh berjam- jam hingga puas, akupun berusaha mendengarnya sambil lalu…

“….jadi dia pikir aku ini mudah dibohongi.  Mungkin dia bisa lolos kalau saja aku tidak melihat bercak di lehernya itu, bekas lipstik pelacur itu…” ujar Dara dengan penuh emosi dan aku tetap berusaha mendengarnya sambil mengiyakan sekali-kali…

Lalu tiba-tiba saja terlintas di pikiranku.  Aku menyetop ocehan Dara…” Warna pink itu hanya ada di bagian kepalanya saja… kalau kuingat lagi, itu tidak seperti corak, melainkan bercak…bercak kemerahan…” aku memandang Dara.  Sekilas Dara tampak bingung tapi akhirnya dia menangkap maksudku.

“Maksudmu…bercak darah?…” Kami terdiam sesaat, dan Dara melanjutkan “Jadi…kali ini bukan dongeng, tapi kau ingin mengubah temanya menjadi thriller hah, Marta? Wah aku jadi merinding…kau benar-benar berbakat menjadi penulis cerpen, Marta… lihat, hari sudah mulai gelap…bukan sebaiknya kita kembali sebelum benar-benar menjadi tokoh utama dalam cerita thriller mu itu?”

Aku memandang langit, kemerahan senja mulai meredup dan anginpun seolah berbisik ‘pulanglah’.  Jadi keinginanku untuk terus mencari katak berkepala pink itu pun kalah dengan bisikan angin.  “Baiklah, tapi bagaimana kalau besok kita cari lagi?Mungkin saja katak itu masih berkeliaran di sekitar sini…aku sungguh penasaran, Dara..” dan aku menatap Dara seperti sedang menatap ibuku dan merengek meminta dibelikan jajanan.  Dara pun menghela napas, ‘Ok, toh aku tidak punya rencana apa-apa besok dan lusa…lebih baik disibukkan dengan mencari katak daripada bengong… tapi please, ayo, kita balik sekarang….”

“Yeah…kau memang sahabatku yang paling baik, cantik dan manis…”Rayuku sambil menggandeng Dara dan berjalan pulang. Tapi tak lama setelah beberapa langkah, aku menengok ke belakang dan terdiam.  Dara menegurku,”Ada apa, Marta?”

“Tidak…tidak apa-apa, ayo pergi” sahutku.  Aku tidak ingin memberitahu Marta karena aku tidak yakin apa yang kudengar itu sungguh nyata atau hanya imajinasi, tapi sekilas rasanya aku mendengar suara katak di belakang kami…

‘kweok…kweok…”.

2 COMMENTS