Dia, adalah seorang lelaki yang selalu datang untukku, lelaki yang berjanji selalu ada untukku, lelaki yang tak pernah habis memberiku cintanya,dan lelaki yang selalu ku abaikan keberadaannya.

Dia tampak bahagia sekarang, aku bisa melihat senyumnya yang begitu cerah. Garis bibir tipisnya tersungging hingga membuat lesung di pipinya terlihat jelas. Kenapa aku tak pernah menyadarinya? Betapa tampan wajahnya saat dia tersenyum. Apa dia tak pernah tersenyum saat dia masih menyukai ku? Iya, aku tak pernah membuatnya tersenyum sebahagia itu. Karena selama ini aku hanya mengacuhkannya.

Bangku panjang yang dulu ku gunakan untuk duduk membaca buku sembari minum segelas cappuccino, bangku yang dulu menjadi saksi kebahagiaan ku menunggu kedatangannya, kini berubah menjadi bangku yang menjadi tempat ku menatapnya dari kejauhan sedang bersama wanita lain. Apa aku terlalu lama membuatnya menunggu ku?

Aku, adalah wanita yang selalu menunggunya, tapi tak pernah benar-benar ada saat dia membutuhkanku. Aku adalah wanita egois yang selalu menerima cintanya tanpa pernah membalasnya. Hingga akhirnya aku tersadar sekarang, aku sudah membuatnya muak menanti, dan dia berpaling ke lain hati.

Sekarang, aku hanyalah wanita yang terus menunggunya dalam diam. Berharap dia kembali, tapi tak punya alasan membuatnya kembali. Aku hanya bisa mencintainya dalam sesalku. Kenapa aku membuatnya pergi? Kenapa aku tak bisa membuatnya berada tetap di sampingku? Kenapa? dan kenapa? ribuan pertanyaan menghiasi kepala ku saat ini.

Aku lelah memandangnya, aku memalingkan wajahku pada bangku panjang ini. Dulu dia selalu duduk disisi ini. 20 centimeter tepat di sebelah ku. Aku membuat kilan dari tanganku sembari mengingat bagaimana dia dulu duduk disampingku. Dan sekarang bangku ini terasa semakin panjang karena aku duduk sendirian. Aku begitu menyedihkan, mengusap bangku kusam penuh kenangan ini, sampai mataku menyadari sesuatu.

“Aku akan mencintaimu saat ini, esok dan seterusnya Eun Gee. Jeong Eun Gee”

Tulisan yang telah memudar dan sebagian sudah tertindih tulisan orang lain. Aku mengenal tulisan ini. Tulisan dari laki-laki yang seharusnya duduk disini saat ini. Sekali lagi aku menyadari kesalahkan ku. Karena telah mengabaikannya ketulusannya mencintaiku selama ini.

“Bangku ini, tak lagi menjadi saksi kebahagianku, melainkan bangku penyesalan ku, bisakah aku berharap kau kembali?”

Tulisku, aku menaruh harapan besar saat menulis. Berharap aku akan menemukan jawaban yang aku inginkan. Tapi apa itu mungkin? Mungkinkah dia akan merelakan senyumannya itu untukku lagi, wanita yang telah mengacuhkannya selama bertahun-tahun?

***

Aku kembali ke bangku itu, tanpa mendapatkan kabar baik. Tak ada tulisan lain yang membalas pertanyaan ku. Berhari-hari sudah. Dan kurasa sudah saatnya aku menyerah. Aku tertunduk sekali lagi menatap bangku itu sebelum pergi. Bahu ku lunglai, aku tak punya lagi kepercayaan diri untuk menegakkannya.

“Siapa aku masih mengharapkannya?” Aku menegaskan hal ini sekali lagi dalam hati. “Oke, mari kita akhiri ini semua sampai disini. Aku harus belajar mengikhlaskannya sekarang, toh dia sudah bahagia, apalagi yang aku inginkan?”

Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya kemudian setelah rongga dadaku penuh dengan oksigen. Otak ku sudah teraliri cukup oksigen dan aku sudah seharusnya berfikir jernih. Aku mencoba tegar, membuka mata ku lebar-lebar, sekali lagi aku melihat kenyataan tidak ada balasan atas pertanyaan ku di bangku itu.

“Apakah secepat itu kau akan menyerah untuk menunggu ku?”

Aku terperanjat mendengar suara itu. Suara yang tak bertuan dan entah darimana berasal. Meskipun aku tahu siapa pemilik suara itu, tapi dia tak ada di sisiku. Sedikit menyeramkan, aku menoleh kekanan dan ke kiri, tapi dia tetap tidak ada. Akhirnya aku tahu. Sudara itu berasal dari benakku sendiri. Benakku yang belum mengizikanku untuk menyerah memperjuangkannya.

Kalau aku bisa membuatnya menunggu selama bertahun-bertahun, aku yakin aku juga bisa bertahan menunggunya bertahun-tahun.

“Aku akan menunggu mu, seperti kau menunggu ku selama ini, Tae Shin”

***