Tarian Senja…

Kata mengakar dan terbakar

Disulut pendar api yang menangis 

Kala kau beranjak dari persinggahan tarianmu 

Hati ini terasa tercekat namun masih dapat menatapmu 

Tergambar dalam benakku hanya satu 

Ku ingin kau kembali menari dengan lembut 

Berlenggok dan mengibaskan lembut tanganmu 

Ku terbayang jua kala jari jemarimu melikuk 

Kupikir semua itu tinggal angan belaka 

Telah kau tanggalkan selendang merahmu 

Diriku disini menantikanmu dan tarianmu di bawah jingganya senja

Siluet cahaya semburat kuning mengenai permukaan sebuah kaca sepeda motor yang kemudian memantul dan mengenai mataku. Ku berjalan menyusuri trotoar menuju arah rumah. Meskipun awan sudah berubah warna menjadi ketinggian, suara penjual koran masih saja terngiang-ngiang di telingaku. “Koran…koran, 3000. Dapatkan berita ter up-date hari ini, koran!!”. Kali ini aku berjalan hanyalah sendirian dengan membawa buku novel hasil buruanku hari ini, menyusuri keramaian disaat sapuan kuning kelabu mulai tergantikan dengan hitamnya awan. Namaku, Kemuning Jingga Arumdani, orang-orang seringkali memanggilku Jingga. Segera kupercepat langkahku  sebelum senja kali ini tergantikan oleh malam, semburat jingga di awan semakin bertambah begitu pula hiruk pikuk yang ada di sekitarku. Gang-gang kecil ku lalui, hingga sampai disebuah rumah sederhana bercatkan warna oranye. Ketika kubuka pintu, aku sudah dikagetkan dengan suara cempreng anak perempuan, “Jingga kamu nggak lupa novel sejarah yogyakarta yang  pesan kan? Awas kau sampai lupa!”. “Iya aku nggak lupa kok, aku beliin juga novel selayang pandang budaya betawi sebagai hadiah karena kamu kemarin menemukan selendangku.” Anak perempuan itu seusiaku, namanya Senjani Purnama Sari biasa dipanggil Senja. Senja bukanlah saudaraku, keponakanku, ataupun sepupuku, tetapi ia adalah anak angkat orang tua ku. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika kecelakaan, lalu orang tuaku mengasuh senja dan hingga saat ini ia tinggal bersamaku dan sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Menurutku aku dan senja mempunyai banyak kesamaan, mulai suka membaca novel kebudayaan dan sejarah, menari tari tradisional, hingga suka menantikan waktu terbenamnya matahari. Terbenamnya matahari menurutku membuat aku dan jingga bersatu, matahari terbenam ketika senja dan langit telah berganti menjadi jingga. Senja lebih muda daripada aku. Aku dan Senja bergabung disebuah sanggar tari “puntodewa”, disana aku belajar berbagai macam tari begitu pula Senja. Penantian yang hingga kini ditunggu senja adalah ia sangat ingin memperoleh juara dalam suatu ajang perlombaan seni tari terutama pada lomba tarian tradisional. Aku akan selalu melakukan segala sesuatu asalkan membuat hati Senja terasa bahagia, karena bagiku Senja tidak boleh sampai berpisah dengan Jingga. Apa kata orang apabila datangnya senja tak disertai jingganya langit senja. 

Suatu ketika disaat aku terdiam dibelokan jalan aku melihat kejadian yang menyayat hatiku, mata ini tak mampu untuk melihat si korban kecelakaan yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kuberinjak. Panggilan hati telah membuatku untuk berjalan mendekat ke arah kerumunan warga. Kujumpai gadis remaja yang kakinya berlumurkan darah. Aku terbelak setelah mengetahui wajah gadis itu, “Senja..Senja.. Bangun, apa yang terjadi padamu! Senja, buka matamu!” Tepukan pipi yang kulakukanpun tak menyadarkannya. “Tolong pak! Antarkan teman saya ke rumah sakit, dia butuh pertolongan.” “Baiklah, mari bawa ke dalam mobil saya”. Ketika dokter selesai membersihkan lukanya, dokter itu memanggilku ke ruangannya. “Dek saya ingin mengatakan bahwa kaki teman anda saat ini terjadi keretakan. Jadi usahakan jangan gunakan untuk beraktivitas dulu. Saya minta kerjasamanya untuk memulihkan keretakan itu.” Dengan kaget aku menjawab, “Apa dok?! Kaki teman saya retak? Bagaimana dengan aktivitas menarinya. Pasti dia akan terpuruk dalam kesedihan, baiklah saya akan menjaganya. Terimakasih pak dokter.” 

Satu bulan telah berlalu, namun hingga kini Senja belum juga membaik. Senja menjadi sangat stress akibat kejadian tersebut. Dia sekarang lebih menjadi anak yang pemarah dan seringkali kepalanya terasa pening jika terlalu banyak melakukan aktivitas. Pergi  menggunakan tongkat dan selalu membawa obat merupakan kejadian yang sangat memalukan baginya. Senja menjadi putus asa dengan semua ini dan dibuangnya jauh-jauh harapan yang dia inginkan selama ini. Ia berfikir tanpa kaki normalnya ia tak akan pernah bisa lagi menari. “Kenapa Tuhan tak adil! Kenapa semua ini di berikan padaku. Kenapa!!”, ego senja tak dapat lagi terbendung. Aku berusaha mendekatinya, “Tuhan sesalu adil senja, hanya saja untuk waktu ini dia mau menguji kekuatanmu. Tuhan sayang denganmu Senja, sehingga dia memberikan semua ini sebagai bukti rasa sayangnya. Sabar Senja, waktu pasti akan mengubah semua ini.”. Bukannya merasa diberi kasih sayang, namun Senja mengartikan lain semua itu. “Tuhan sayang sama aku, kalau tuhan sayang sama aku, dia nggak mungkin menghancurkan masa depanku. Itukah kasih sayang Tuhan kepadaku. Semua ini tak adil.” Akibat melihat kelakuan senja yang begitu terpuruk aku merasa sedih, harapan hidupnya seperti begitusaja lenyap dan kini hanya menjadi sebuah angan angan di otak yang tak tahu arah tujuannya lagi. Aku berusaha melakukan berbagai macam cara untuk membangkitkan semangat senja agar ia mau menari kembali. “Aku harus berjuang, bagaimanapun caranya aku harus bisa membangkitkan semangat senja. Senja tidak boleh berpisah dengan jingga, senja akan selalu bersama jingga dan akan menciptakan kebahagiaan disetiap momentum waktu.”, batinku sembari menyemangati diriku sendiri. Suatu ketika, disaat hujan turun rintik rintik aku melihat senja sedang melamun di teras rumah, mulai kelangkahan kakiku menuju kursinya. “Senja taukah kau andai kini kau kembali seperti dirimu yang dulu sudah ku tarik dirimu dari persinggahanmu, kemudian kan ku bawa kau terbang membelah langit menerjang awan.” Dengan lirih senja menyahut sekaligus menitihkan air matanya, “Bawalah aku meluncur diatas indahnya pelangi jingga” “Maafkan aku Senja, kini aku belum bisa melakukannya karena indahnya pelangi hanya akan datang sesaat. Namun perjuangannya untuk dia ada harus dengan hujan deras dan badai yang mungkin akan panjang. Aku tak kuasa mewujudkannya karena kalaupun itu berhasil, semua itu hanya akan sebentar.” Kali ini senja tak menanggapi balasanku, aku termenung untuk memberanikan bibir ini mengucapkan suatu hal. “Senja, bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu, kumohon kau mau kembali menari seperti dulu. Siapa lagi kalau bukan kita yang akan melestarikan budaya Indonesia kalau bukan kita. Aku yakin kamu bisa melakukannya, banyak tarian tradisional yang tidak harus berdiri dan kau pasti bisa melakukannya. Aku sadar, semenjak kecelakaan itu kamu kini sudah putis harapan untuk menari, tapi bukan ini yang diinginkan tuhan darimu senja. Tuhan ingin kau tetap menari namun dengan teknik lain, supaya kau lebih berusaha keras dan lebih semangat dalam menggapai mimpi besarmu.” “Tapi kau tak mengerti perasaanku Jingga…” “Tunggu jangan potong pembicaraanku Senja, kau tahu kini tarian tradisional mulai tergantikan oleh dance moderen dan itu menurutku tidak mendukung akan kepribadian bangsa indonesia. Bangsa indonesia seharusnya mencetak remaja berintegritas moral yang baik dan yang cinta akan kekayaan budayanya. Siapa lagi kalau bukan kita yang memulainya, siapa senja! Apa kau mau semua tarian itu lenyap begitu saja, apa kau terima. Seharusnya ketika kamu jatuh jangan bisrkan dirimu selalu dibawah Senja….karena disaat itu, kamu butuh bangkit dan disitulah dirimu sebenarnya diuji. Menurutku hidup ini seperti kita naik sepeda tekadang kita menemukan jalan yang terjal, sehingga semua akan berjalan lancar sesuai harapan kita… Akan tetapi kita juga ngak bisa menghindari jalan yang menanjak, nah disitulah sebenarnya kita sedang diuji. Kalau kita mau meyelesaikan perjalanan itu mau tak mau kita harus berusaha sekuat tenaga biar sampai puncak tanjakan itu. Jadi apabila kita hubungkan dengan permasalahan kita…kita kadang kadang ada di atas dan di bawah, ketika kau di atas jangan sekali kali merasa banga dengan semua pencapaianmu, namun ketika kau dibawah seperti saat ini kamu jangan menyerah…nah ketika kita ada dibawah kita harus berusaha sekuat tenaga supaya bisa naik ke atas. Jadi, kalau kita pengen sukses, kita harus mau menjalani semua prosesnya….jangan pernah berfikir kalau kita tak bisa mengapai, sebenarnya kita bisa menggapai hanya saja usaha kita masih kurang. Ingat itu Senja”. Senja tak menanggapiku, ia pergi begitu saja meninggalkanku. 

Dua bulan setelah kejadian itu, aku mendengar bahwa pemerintah kabupaten akan mengadakan perlombaan gebyar budaya, salah satunya tari tradisional. Betapa bahagianya hatiku ketika mendengar berita itu. Aku sangat berharap semoga cara ini adalah pemberian dari tuhan untuk mengembalikan semangat Senja kembali. Aku segera ingin memberi tahukan kabar gembira ini kepada senja dan berharap dapat menjadi kejutan yang sangat istimewa untuk senja.Senja telah datang, namun hiruk pikuk kota masi sekali terasa. Kususuri gang gang kecicil dengan sedikit cepat, rasa bahagiaku telah membuatku begitu tak sabar untuk segera sampai rumah dan memberitahu senja tentang lomba itu. Sesampainya di rumah, segera ku langkahkan kakiku ke kamar Senja dan berharap Senja ada di kamarnya. Melihat aku berdiri dihadapannya, senja segera menggerakan tubuhnya kesamping. Aku segera duduk disampingnya. “Mau ngapain kamu kesini? Mau merayuku? ” tanya senja dengan galak dan ekspresi muka yang marah. Tetapi,  aku berusaha menjawabnya dengan disertai senyuman manis, “Kau tahu? Aku punya kabar gembira untukmu”. Dengan galak lagi senja menjawabnya disertai menrteskan air mata, “ Tak ada yang lebih menembirakan lagi selain aku bisa kembali normal seperti dahulu, kau tahu itu kan?”. Aku mencoba   mengelus-elus pungung senja dan bertanya kembali sebelum beranjak dari tempat tidur, “Dimana Senja yang dulu? Senja yang lincah, semangat dan tak pernah putus asa? Aku sangat merindukannya ’’. Keadaan berubah menjadi sunyi. Dengan menangis senja kembali menjawab, “Dia telah pergi entah kemana dan tak akan pernah kembali lagi. Tak usah kau rindukan dia lagi, tak ada gunanya kau merindukannya.”.ku letakkan jariku di pelipisnya dan berusaha menghapus air mata Senja dan menenangkannya,” aku tak memaksamu, jangan kau menangis lagi. Aku hanya ingin menyampaikan kabar yang sebenarnya kau tunggu-tunggu dari dulu. Kau ingat kau ingin mengikuti perlombaan menari bukan? Kau ingat ketika kita selalu menari bersama, kau ingat ketika kita, menari di dekat danau saat langit berwarna jingga dan siang telah berganti senja. Aku berharap kau kembali bangkit menjadi senja yang dulu supaya kita bisa selalu menari bersama di bawah langit jingga di waktu senja.” Setelah mengungkapan itu aku memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.Aku berjalan menuju ruang keluarga dan menghidupkan kaset yang berisi rekaman video saat senja pentas menari di hadapan pak bupati. Rekaman itu sengaja aku ambil 5 bulan yang lalu sebagai kenang-kenangan sekaligus kehebatan tarian senja. Nampaknya senja mendengar suara rekaman tersebut. Segera ia raih tongkat coklatnya yang berada didekat meja belajar. Setelah diambilnya tongkat tersebut ia berjalan menuju ruang keluarga untuk mematikan kaset berisi rekaman tersebut. Beberapa menit kemudian senja ingat dengan selendang merah hadiah ulang tahun dariku yang ke-18, yang digantungnya diatas rak buku diruang keluarga. Sesaat ia pandangi selendang  tersebut dan akhirnya diraihnya dan ia mulai menalikannya di pinggangnya

Setelah beberapa jam kemudian, ia merasa kepalanya mulai pening. Senja segera menuju ruang tidur untuk membaringkan tubuhnya sambil mempertimbangkan keputusannya. Pagi ini sekitar pukul 06.00 aku mulai membuka gorden jendela membiarkan sinar mentari seolah olah menembus kaca dan nerangin ruangan ini. Saat itu pula senja  keluar dari kamar tidur dan mulai menghampiriku, “Jingga aku ingin mengatakan sesuatu denganmu, setelah aku pikir pikir memang semua ini diujikan ke padaku karena tuhan sayang denganku. Mungkin ini juga yang membuatku sadar bahwa kita hidup didunia ini ada pasang surutnya. Aku ingat nasihat yang kamu kasih dulu “Ketika kamu jatuh janganlah selalu dibawah….karena disaat itu, kamu butuh bangkit dan disitulah dirimu sebenarnya diuji. Menurutku hidup ini seperti kita naik sepeda tekadang kita menemukan jalan yang terjal, sehingga semua akan berjalan lancar sesuai harapan kita… Akan tetapi kita juga ngak bisa menghindari jalan yang menanjak, nah disitulah sebenarnya kita sedang diuji. Kalau kita mau meyelesaikan perjalanan itu mau tak mau kita harus berusaha sekuat tenaga biar sampai puncak tanjakan itu. Jadi apabila kita hubungkan dengan permasalahan kita…kita kadang kadang ada di atas dan di bawah, ketika kau di atas jangan sekali kali merasa banga dengan semua pencapaianmu, namun ketika kau dibawah seperti saat ini kamu jangan menyerah…nah ketika kita ada dibawah kita harus berusaha sekuat tenaga supaya bisa naik ke atas. Jadi, kalau kita ingin sukses, kita harus mau menjalani semua prosesnya….jangan pernah berfikir kalau kita tak bisa mengapai, sebenarnya kita bisa menggapai hanya saja usaha kita masih kurang. Jingga merasa Bahwa Senja akin keninggungan untuk menampilkan spa ketika perlombaan. Keadaannya kini belum kembali secara total. Kakinya mash belum terlalu kuat untuk menopang tubuhnya. Pagi itu Jingga teringat bahwa Senja pasti belum mendapat ide untuk tarian yang akan ia tempilkan saat perlombaan nanti karena kondisinya yang belum membaik seratus persen. Ia teringat bahwa dulu ia pernah belatih tarian dengan semua gelakannya dalam posisi duduk, setelah ia temukan kaset itu Jingga menyelipkannya di buku catatan Senja yang selalu digunakannya. Senja membuka buku yang telah diselipkan kaset itu  tepat 5 hari sebelum perlombaan tersebut dilaksanakan ia menemukan kaset itu. “Mengapa bisa ada kaset tarian bukan milikku dibuku ini?” Tanyanya dalam hati. Sejenak ia berfikir bahwa kaset tersebut adalah pemberian dari Tuhan. Senja berjalan menuju kamarnya dan memutas kaset itu di laptopnya, Ia terkesima dengan gerakan yang ada ditarian itu dan mulai berlatik mengikuti gerakannya. Senja yakin akan menampilkan tari tersebut dalam perlombaan nanti.

Lima hari telah berlalu, hari ini adalah hari perlombaan tersebut. Keadaan di tempat perlombaan begitu memukau, perlombaan itu diadakan di pantai saat sore hari. Disaat giliran Senja menari cahaya mentari telah berwarna jingga dan itulah momen senja terindah yang ada dihidup Senja karena ia kembali menari tepat sibawah jingganya senja. Senja berlenggok dan memainkan jari jarinya dengan begitu memukau sehingga semua penonton bersorak sorai untuknya. Dan tak diduga bahwa keinginannya selama ini terpenuhi. Dengan bangga ia membawa piala hasil kerja kerasnya selama ini. Diakhir perlombaan  salah satu temannya yang juga mengikuti perlombaan tersebut berkata, “Selamat ya atas kemenangan yang kamu raih, aku pernah salah satu  temanku yaitu Jingga membawakan tarian itu sewaktu sambutan di kampus”. Akhirnya Senja mengetahui yang telah memberikan kaset tersebut secara sembunyi-sembunyi. Senja menghampiri Jingga yang tengah duduk di pinggir pantai. “Jingga lihat ini aku bawa piala dan aku sudah kembali menari kembali. Maafkan atas semua kesalahanku selama ini Jingga. Terima kasih kamu sedah mengembalikanku menjadi Senja yang dulu dan ini merupakan momen terindah yang pernah kumiliki. Aku kembali menari tepaat diwaktu senja dan langit berwarna jingga, kini senja dan jingga akan selalu bersama selamanya.” Lihatlah tarian Senja di bawah jingganya senja itu. 

Biodata Penulis 

Nama: Isti Rahayu

Tanggal lahir:18 November 2000

Alamat: Ngemplak,Caturharjo,Sleman,Yogyakarta

No Hp:087839027607/087839277601

Email: [email protected]

Pekerjaan: Pelajar SMAN 9 Yogyakarta

Hobby


: Membaca