Panasnya. . . .

Huh aku benci agustus.

september jika boleh

Bukan apa

Didaerah pada bulan bulan ini panas sekali!

 

Aku jadi teringat dengan suvenir pernikahan mantan ku

Hahaha

 

Dimana kipas itu?

Setelah dengan sedikit dorongan

Akhirnya otak bebalku mampu mengambil memori dimana kipas itu berada

 

Heeee?

Mungkin dilaci satunya?

Hmmm aneh

Mungkinkah dilemari itu?

 

Mulai saat ini aku mulai meragukan otakku sendiri

Dan ternyata benar

 

Semua orang bilang

Jangan mudah percaya dengan siapapun!

 

Mungkin mulai hari ini otakku masuk kedalam daftar hitam ku

 

Ditengah penasaran dan kesalku (mengapa pula aku kesal karena tak kutemukan suvenir mantanku?)

Ku dengar perdebatan kedua adikku

 

Ha!

Pantas saja

Kipas itu menjadi bahan rebutan mereka

 

Kusuruh si kakak untuk mengalah dengan adikknya

Meski dengan protes awalnya

Akhirnya menurut juga

Yah walaupun sedikit dengan tatapan mata ku

 

Lagi pula

Bukankan cowok cukup buka baju mereka jika panas?

Kalau aku?

Hahaha jangan ngimpi

 

==

 

tempat kami sempit

di ruang 4 x 3 kami harus belajar pentingnya saling menghormati

tapi

ada enaknya juga sih

dengan kondisi ini jika kami berkumpul riuh sekali jadinya

 

terutama jika sang kakak tertawa lepas

suara tawanya sangat keras

saking kerasnya pernah sekali waktu kami mendapat teguran dari penghuni lain

 

yah apa boleh buat

sudah jam tengah malam jika aku tak salah

 

GAWAT!

Sekarang sudah jam segini!

Aku harus mandi dan segera bergegas

Aku harus masuk shift ku

 

==

 

aku bagus pake itu katanya

kulirik apa yang yang ditunjuk oleh telunjuknya yang lentik itu

seketika ku pandangi wajahnya

kupastikan dia tak serius dengan ucapannya

 

ada dua mulut yang harus aku isi

tak mungkin aku harus menngikuti ego ku

mau di isi apa mulut mereka?

Angin?

Batu?

 

Aku tak peduli dengan semua itu

Ada hal yang jauh lebih penting dari hal hal semu seperti itu

Yah setidaknya bagiku

 

Sekalipun kuceritakan rentetan jejak kami

Ku yakin kalian mengangguk setuju

Seolah kalian paham dengan kami

Tapi jauh disana

Tak peduli sehebat apa

Kalian tak tahu

 

Jadi aku berikan jawaban klasikku

“pass” jawabku

 

aku tak mau berdebat dengan mereka lebih jauh

aku ingin segera turun dari bus ini

dan aku harus mampir ke warung bu Nanik

dan aku harus. . .

he?

 

Bentar bentar

Apa ya? Aku yakin aku melewati sesuatu

Tapi apa itu

 

Ayolah otak bebal

Ingat! INGAT!!!

 

Untuk orang yang telah bersama 17 tahun dengan otak sebebal ini

Terkadang habis juga kesabaranku

 

Ah

Percuma

Aku sudah terlalu lelah

 

Mereka sedang apa dikamar?

Mungkin kan si adik sudah tidur?

 

Cerah sekali malam ini

Semua bintang menampakkan sinarnya

Suara suara jangkrik beradu melodi

Seolah memperdengarkan aku akan kehebatan mereka

 

Malam ini sungguh syahdu

Dan malam yang dingin ini menemani jalan pulang ku

 

 

**************************************************

kubaringkan tubuhku

dan aku baru teringat akan sesuatu

 

payah

 

kadang aku tak percaya dengan diriku sendiri

padahal sudah mendekati jadwalku

dan aku lupa membeli perlengkapan bulananku

**************************************************

 

 

XII – end