Chapter 4

 

***

 

Hembusan angin menerpa-nerpa jendela, hingga masuk dan mengisi larutnya keheningan, di ruangan yang cukup luas.

 

Tiba-tiba terdengar suara deringan telvon, Kira langsung membuyarkan lamunannya. Mengambil Handphone-nya.

 

“Debby is calling….”

 

Memencet tanda hijau di Hp-nya lalu menscrollnya ke kiri.

 

“Hallo…” suara Kira yang melemah

 

“Kira… Kenapa lo?” jawabnya. Karna fikirnya, Kira tidak biasanya suaranya melemah saat di telvon, biasanya ngerocos gak jelas.

 

“Nggak… Gak papa” mencoba menormalkan dirinya, 

 

“Pasti lagi mikirin cowok gletser itu ya?” timpalnya langsung tanpa berfikir apa-apa

 

“Siapa?” tanya Kira memang benar gak tau

 

“Gaven lah, siapa lagi” sewotnya

 

“Ada-ada aja kamu, nama orang di ubah-ubah, tau nggak emaknya dia buat selametan namanya, lah kamu malah ngatain ini-itu, emanknya tau, habis lu.” nyerocosnya tanpa ada titik koma 

 

“Emang benar kan?” 

 

“Terserah lo aja,” pasrahnya. 

“Tapi di sisi lain dia, dia baik” lanjutnya

 

“Baik karna nolongin lo?” 

 

“Besok pagi gue harus bilang makasih lagi sama dia…” tanpa menjawab respond dari Debby. Dan langsung menekan tombol “Akhiri”.

 

Tutt.. Tutt. Tut

 

“Ra.. Kira.., kebiasaan nih anak.” dengusnya agak kesal dengan  sahabatnya, Kira. Menutup tevonnya.

 

***

 

Bel pulang berdering sangat kencang sekali, kedengarannya membuat seluruh penghuni sekolah kegelian di masing-masing telinga, akan tetapi di balik bunyi bel bak halilintar, ada sebuah secercah kesenangan bagi pemilik hati siswa manapun.

 

“Yeeee…” teriaknya seluruh siswa 11 ipa 2

 

Seluruh siswa berhamburan keluar, yang awalnya dari arah yang berlawanan, hingga berkumpul di salah satu koridor sekolah yang tempatnya memang strategis untuk perjalanan masuk maupun keluar sekolah. Setelah itu, menuju tempat parkiran, dimana kendaraan mereka-mereka terparkir rapi disana.

 

***

 

14:05…

 

Di kelas 11ipa2, masih ada seseorang tertidur di sana, ya sebut saja Gaven. Cowok cuek, penampilan ambruk bin ancur, putih bersih, tinggi, bahunya yang bidang, membuat siapapun klepek klepek meski hanya melihat. Tanpa sadar di kelas masih ada lagi siswa yang belum pulang, berada di depan cowok yang tertidur pulas itu, memandangi orang di belakangnya, perlahan memandanginya dalam-dalam, hingga ia memperhatikan wajahnya lekat-lekat, rahang yang kuat, alis hitam pekat yang tebal, rambut yang acak-acakan tetep menjadi ciri khasnya.

 

He is perfect, gumamnya.

 

Orang yang di pandanginya tengah bangun, mengucek mata sebelah kanannya dengan tangan jemarinya yang bersih, melihat dengan keheranan orang di depannya, Kira. 

 

Kira, sontak kaget melihat orang yang ia pandang bangun dari tidurnya. Ia memutar matanya, mengedip-ngedip mencari arah lain yang ia lihat, garuk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, Kira malu bertingkah yang tak ia wajar.

 

“Ngapain lo disini?” Gaven suara datar

 

“Hm.. Udah bangun” tidak menjawab pertanyaan dari Gaven, malah Kira balik nanya.

 

“Ngapain disini?” tegasnya Gaven, nada suara hampir meninggi.

 

“Gue.. Gue nungguin lo” Kira bicaranya gelagapan.

 

Tanpa menunggu jawaban dari Kira, Gaven langsung mengambil tasnya, menggendong nya.

 

“Mau kemana. ?” Kira tanyanya gugup

 

Tidak menyahut pertanyaan dari perempuan di depannya, Gaven langsung pergi. Kira mengejar.

 

Langkah Kira bisa beriringan dengan dengan Gaven, di sepanjang perjalanan koridor sekolah tidak ada secuil kata apapun terdengar antara Gaven maupun Kira. Kira terus saja mengimbangi langkahnya, karena langkah Gaven super duper cepat, meski itu melelahkan sangat sekali.

 

***

 

Setelah Gaven mengambil mobilnya yang telah ia parkir. Gaven melajukan mobilnya perlahan. Kira mengetuk-ngetuk kaca mobil milik Gaven, Gaven mengabaikan. Kira tak henti-hentinya mengetuk, Gaven yang kesal akan perlakuan orang di luar mobilnya, ia pun menyerah membuka pintu mobil, untuk Kira. Kira bergegas masuk ke mobil lamborghini gallardo milik seseorang yang memiliki nama lengkap Gaven Reynand Hardiansyah.

 

“Ada air nggak?” Kira pintanya

 

“Gak ada” Gaven jawabnya

 

“Airrrrr.. Tanggung jawab. Aku haus gara-gara ngejar kamu Gaven” menarik-narik lengan kiri Gaven, memanja

 

“Cih” Gaven menepiskan tangan Kira

 

“Gaven… Aku haus” pintanya manja

 

Gaven tetap fokus menyetir, tidak menanggapi Kira bicara, dan tiba-tiba mobil lamborghini gallardo hitam tersontak berhenti, membuat Kira yang ngeyel-ngeyel terhadap seseorang di sebelahnya, berusaha untuk Gaven memberikan air untuknya, merasakan kaget hingga tubuhnya terdorong ke depan.

 

“Gaven.. Kaget tau” mengelus-elus dahinya karena kesakitan

 

Tidak menanggapi Kira bicara, Gaven keluar mobil tanpa mengajak sebelahnya ikut dengannya. Kira berdengus kesal. 

 

“Gaven.. Ihh.. Gue di tinggal” Kira keluar mobil sambil lari-lari ngejar Gaven.

 

Kebiasaan, gumamnya 

 

***

 

“Pulang” pintanya Gaven nada datar, lalu pergi

 

“Eh.. Tunggu” Kira yang masih menikmati minumannya, terpaksa mengikuti langkah Gaven

 

***

 

“Keep reading, guys” ^jangan lupa vommentnya^ wait next chapter…