JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

 

SETETES HIDAYAH 2

 

35 KISAH-KISAH KEHIDUPAN NYATA DAN PELAJARAN HIDUP, UNTUK KITA SEMUA MENJADI AKHLAK YANG MULIA.

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Pembaca yang budiman setetes hidayah, merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Kebanyakan orang menemukan setetes hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidak peduliannya terhadap Allah dan syari’at-Nya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayang-Nya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah. Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.

Terkadang Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah, setelah ia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kadangkala Allah memberi setetes hidayah kepada seseorang, setelah orang itu terjerat dalam kasus korupsi; setelah ia merasakan sempitnya penjara, dan pedihnya kehilangan jabatan. Maka ia tinggalkan dunia, dan ia kembali kepada Allah. Atau terkadang Allah menimpakan penyakit kepadanya, sehingga menyebabkan dirinya terbaring lemas. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ia tetap tergolek di atas kasur, setelah puluhan tahun dengan kesehatan yang dimilikinya ia melawan Allah, dengan selalu berbuat maksiat. Dia menyangka, seakan ia memiliki kekuatan. Mereka itu adalah orang-orang beruntung. Mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.

Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar SETETES HIDAYAH 2 ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan SETETES HIDAYAH 2 ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.

 

Penulis

 

Jamaludin Rifai, S.Pd.I

DAFTAR ISI

 

BUKU PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

  1. PERJALANAN AKHIR PEMUDA BERTATO…………………………………….. 1
  2. KUCING-KUCING MENGANTAR JENAZAH SANG NENEK……………. 5
  3. DHUHA TERAKHIR LELAKI SHALEH………………………………………………. 10
  4. MENINGGAL SETELAH SUJUD DUA KALI………………………………………. 15
  5. DIPUKUL ORANG ASING SAAT HAJI……………………………………………….. 19
  6. TERTIPU SEMILYAR, TERGANTI SEPENUHNYA……………………………. 23
  7. SAKARATUL MAUT TRAGIS SANG PEMUDA…………………………………. 28
  8. KISAH PILU PENYANYI RONGGENG……………………………………………….. 33
  9. JENAZAH TERIKAT RANTAI BESI……………………………………………………. 38
  10. ANUGERAH SELAPAS MENINGGALKAN MAKSIAT………………………. 42
  11. SHALAT TAHAJUD MENGANTARKANNYA KE BAITULLAH……….. 47
  12. BUTA MATA BUTA HATI……………………………………………………………………. 52
  13. DUBUR JENAZAH MENGUCURKAN DARAH…………………………………… 62
  14. KULIT JENAZAH MENGERAS……………………………………………………………. 68
  15. JENAZAH PEMAKAI JIMAT, TANAH KUBUR LONGSOR……………….. 74
  16. TIGA LUBANG DIPENUHI TULANG………………………………………………….. 80
  17. AMARAH SANG IBU DAN MENINGGALNYA SANG PUTRI……………. 84
  18. MENINGGAL DALAM KONDISI TELANJANG…………………………………. 90
  19. PENYESALAN SANG MARBOT

MASJID DAN MIMPI RASULULLAH………………………………………………….. 95

  1. JENAZAH MELEKAT DI KERANDA………………………………………………….. 100
  2. LUKISAN MASJID DI LANGIT DAN HAJI UNTUK SANG ISTRI……… 107
  3. KISAH USTADZ YANG MENDAPAT TRANSFERS GAIB 25 JUTA…… 110
  4. MENYEDEKAHKAN TABUNGAN HAJI,

MENDAPAT HADIAH ONH PLUS……………………………………………………….. 115

  1. BISA NAIK HAJI DAN KAYA RAYA

SETELAH RAJIN MENGAMALKAN SHALAT DHUHA DAN SEDEKAH  117

  1. BISA BERHAJI KARENA RUTIN SHALAT TAHAJUD………………………. 119
  2. IKHLAS BERSEDEKAH MENGANTARKAN

TUKANG BECAK KE TANAH SUCI BERSAMA KELUARGANYA….. 120

  1. TUKANG REPARASI MESIN KETIK KESAMPAIAN

 NAIK HAJI BERKAT SHALAT DHUHA……………………………………………… 124

  1. HADIAH ISTIMEWA UNTUK KEDUA ORANG TUA…………………………. 128
  2. IKHLASLAH DENGAN BERSEDEKAH………………………………………………. 130
  3. SEDEKAHKAN HONOR MAIN

BAND MENGANTARKANNYA NAIK HAJI……………………………………….. 136

  1. RUTIN TAHAJUD MENDAPATKAN JODOH

YANG LEBIH BAIK DAN BISA BERHAJI…………………………………………… 139

  1. SEDEKAH JAM TANGAN BULGARY

BISA NAIK HAJI DAN SEMUA HUTANGNYA LUNAS………………………. 141

  1. RUTIN SEDEKAH RP. 100.000 RIBU SETIAP BULAN,

DIANGKAT DARI KESULITAN DAN BERHAJI SEKELUARGA………. 143

  1. SHALAT DHUHA DAN SEDEKAH,

KARIR SUKSES DAN BISA BERHAJI…………………………………………………. 146

  1. SEDEKAH RP. 1 JUTA, ALLAH MENJAWAB DOANYA……………………. 148

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………… 151

TENTANG PENULIS…………………………………………………………………………………….. 152

 

PERJALANAN AKHIR PEMUDA BERTATO

Dari hari yang terik, seorang pemuda datang tergopoh-gopoh mendekati mushala. Dengan satu keyakinan yang kuat, ia melangkahkan kakinya menuju mushala itu. Sang pemuda hanya mengenakan kaos oblong. Tato menghiasi sekujur lengan dan tubuhnya. Ia mengenakan celana jeans yang sudah robek di lututnya. Setibanya di pintu mushala, ia tatapi dinding-dinding atap luar bangunan mushala. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Kosong, tanpa pandangan yang jelas. Ia lihat beberapa orang sedang shalat Zuhur berjamaah. “Astaghfirullah, sudah lama aku meninggalkan shalat itu.” Gumamnya, pelan.

Perlahan-lahan ia memasuki mushala kecil itu. Dan “Bruk!”. Tiba-tiba saja dia terjatuh dan tersungkur ke lantai mushala. Tidak ada orang yang menghiraukannya, sebab orang-orang tengah shalat berjamaah. Untuk beberapa menit lamanya, pemuda itu tidak dihiraukan. Tidak ada yang memperhatikan. Setelah shalat berjamaah usai, salah satu diantara jamaah menghampiri tubuh yang tersungkur. “Bangun! Ayo bangun.” Teriaknya,sambil menepak-nepakkan tangannya ke wajah pemuda itu.

“Mabuk, kali.” Sahut jamaah yang lain.

“Iya, dia biasanya mabuk.” Sambung yang lainnya.

“Wah, kalau begitu, angkat dan keluarkan dia dari mushala ini. Orang mabuk jangan masuk ke mushala.”

Kemudian dua orang mencoba membangunkan pemuda itu, bahkan ada yang mencoba menarik kakinya keluar. Tapi, karena tubuh pemuda itu besar, dua orang itu tidak sanggup menariknya.

“Ya sudah, biarkan saja, kalau susah ditarik. Kita tunggu sadarnya saja.” Kata satu di antara mereka.

Cukup lama pemuda itu dibiarkan tidak sadarkan diri. Beberapa jamaah pun pulang. Namun, diantara mereka ada yang tetap menunggu sambil mengobrol di mushala. Setelah 30 menit tidak sadarkan diri, salah seorang jamaah kemudian berinisiatif untuk kembali membangunkannya. Namun, tiba-tiba, ia sangat kaget. Pemuda itu, ternyata masih warganya dan nampak seperti orang yang sudah meninggal dunia.

“Kok aneh. Tidak ada napasnya. Denyut nadinya juga berhenti.” Kontan saja mereka merubungi lelaki itu dan memastikan apakah pemuda itu sudah tidak bernyawa atau masih hidup. Tanpa pikir panjang, tubuh pemuda itu diangkat secara bersama-sama keluar. Warga hendak membawanya ke rumah sakit untuk memastikan apa yang telah terjadi dan yang menimpa pemuda itu.

Setelah diperiksa pegawai medis, diketahui bahwa pemuda itu sudah tidak bernyawa lagi. Dia sudah menghembuskan napasnya yang terakhir, bersamaan dengan ia terjatuh dan tersungkur di lantai mushala itu. Dokter menyebut bahwa laki-laki itu terkena serangan jantung mendadak. Penyakit yang diderita pemuda itu mungkin sudah lama, tapi jarang atau bahkan tidak pernah diperiksa ke dokter. Pihak keluarga juga mengiyakan bahwa pemuda itu memang belakangan mengaku sering mengalami rasa sakit di sekitar dadanya.

Pemuda itu adalah warga di kampung. Letaknya tak jauh dari kampungnya. Pemuda itu sendiri bernama Reihan (Nama samaran 30 tahun). Meski sudah kepala tiga, pemuda itu belum menikah. Dan ia anak ketiga dari pasangan Pak Lubis (Nama samaran) dan Ibu Lusi (Nama samaran). Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang toko sembako di pasar. Sehari-hari, Reihan beraktivitas sebagai tukang bengkel. Bengkelnya tak jauh dari pasar. Ia punya satu anak buah. Biasanya ia berganti menjaga bengkelnya dengan anak buahnya itu.

Reihan dikenal warga sebagai pemuda yang urakan. Suka minum-minuman beralkohol, berjudi, bertato, dan sering balapan motor liar. Orangtuanya sudah membebaskannya. Mereka sudah tidak sanggup lagi. Mengingatkan dan menasehatinya. Reihan pun bebas melakukan apa saja, karena hal itu adalah kehidupannya.reihan pernah masuk sel selama sebulan, lantaran terlibat balap liar. Dia juga pernah terlibat balapan liar. Dia juga pernah terlibat tawuran dengan kampung pemuda lain. Hanya karena rebutan wanita. Ia sampai masuk rumah sakit karena mengalami luka-luka yang sangat serius. Meski tergolong pemuda urakan, solidaritas Reihan tinggi dan sangat menghargai kawan-kawannya.

Pernah suatu hari, kawananya bertaubat dan tidak mau minum-minuman keras. Keputusan kawannya itu ia dukung, meskipun ia tidak mau meninggalkan kebiasaannya itu. Sebagai bentuk dukungan kepada keputusan kawannya itu, ia marah bila ada kawan lain yang tetap mengajaknya untuk minum-minuman. Menurutnya, orang yang sudah bertaubat hendaknya tetap didukung. Pada suatu hari, temannya itu namanya Aldi (Nama samaran) berkunjung ke rumahnya. Tujuannya tak lain adalah untuk mengajaknya bertaubat dan meninggalkan kebiasaan minum-minuman dan berjudi. Apa kata Reihan kala itu “Kalau kamu sudah menemukan jalan hidup yang benar, jalani saja. Saya belum bisa mengikuti jejekmu. Saya hanya akan bertaubat bila saya menemukan sesuatu yang luar biasa dalam hidupku.”

“Apa yang luar biasa itu Reihan?” Tanya Aldi.

“Saya anggap sesuatu itu luar biasa bila merasa nyaman dan tenang melangkahkan kakiku menuju tempat ibadah. Bila Saya sudah menemukan itu, saya rela mati.” Tutur Reihan kepada rekannya itu. Perkataan itulah yang kemudian Aldi ingat tatkala ia mendengar Reihan sudah meninggal dunia. Ia mencoba dengan kabar meninggalnya Reihan di dalam mushala dalam keadaan tidak untuk shalat. Meninggalnya Reihan di dalam mushala membuat spekulasi dan multitafsir banyak orang. Ada yang menganggap bahwa Reihan meninggal karena kebetulan saja. Bisa jadi karena dia ingin buang air kecil di mushala, karena tidak mungkin dia mau shalat sedangkan dia mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek-robek. Ada pula yang menilai bahwa Reihan meninggal tidak secara kebetulan, tapi memang ia diistimewakan oleh Allah. Ia hendak bertaubat sehingga masuk ke dalam mushala.

Pada dua penilaian dan asumsi ini, Aldi sendiri punya pandangan lain. Ia menilai bahwa Reihan memang diistimewakan oleh Allah. Keistimewaan itu tentu saja tidak datang secara tiba-tiba. Kedatangannya ke mushala dan hendak bertaubat adalah perjalanan panjang batinnya. Pertama, menurut Aldi, meskipun Reihan masih tetap suka mabuk dan judi, tapi dia sangat mendukung upaya taubat yang dia jalani. Reihan berharap bahwa dirinya dapat bertaubat dengan sungguh-sungguh. Kedua, Reihan pernah bercerita bahwa dia akan bertaubat bila menemukan ketenangan dan kesejukan hati saat menuju tempat ibadah. Nah, bisa jadi Reihan merasakan kondisi itu pada saat dia masuk ke mushala. Ketiga, apa yang dialami Reihan ini hampir mirip dengan kisah dalam kitab Nashaih Al-Ibad, seorang pemuda yang berjalan menuju pintu taubat, namun ia meninggal dunia saat berada di dalam perjalanan.

Pada saat itu, malaikat bingung untuk menentukan apakah laki-laki itu layak dimasukan ke dalam surga atau neraka. Karena, sepanjang hayatnya pemuda itu meninggal dalam perjalanan menuju taubat kepada Allah. Artinya, niat taubatnya itu dihitung sebagai kebaikan yang luar biasa. Allah kemudian menyuruh malaikat untuk memasukan laki-laki itu ke dalam surga, karena laki-laki itu sudah berniat dengan tulus untuk bertaubat dan jarak perjalanan menuju pintu taubat lebih dekat dari jarak dia biasa bermaksiat. Dari tiga hal yang dikemukakan Aldi tersebut semoga saja salah satunya adalah benar-benar dilakukan Reihan. Jika memang ia sudah punya niatan untuk bertaubat dari dulu, maka secara hati dia sudah punya itikad baik. Oleh karenanya Allah kemudian membukakan pintu taubatnya dengan cara menggerakan hati Reihan untuk mendatangi mushala, tempat ibadah; simbol bangunan ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a’lam bilshawab.

(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)

 

KUCING-KUCING MENGANTAR

 JENAZAH SANG NENEK

Perempuan dengan rambut putih itu duduk seorang diri di sebuah gubuk. Tidak ada seorang pun yang menemaninya. Tidak ada suami. Tak ada pula sanak saudara. Sehari semalam, ia hanya bertemankan kucing-kucing yang sangat disayanginya. Miris sekali nasibnya! Di usianya yang sudah renta, seharusnya ia hidup bahagia bersama anak dan cucunya. Tapi, semua itu tak ada disisinya. Kemana anak-anaknya? Kemana pula cucu-cucunya? Dimana juga suaminya? Setiap hari, nenek itu menghabiskan waktunya di gubuk itu. Tidak makan sehari sudah biasa baginya. Kini, baginya, makanan apapun terasa sangat berharga. Tidak perlu makan pakai telur dadar atau ayam goreng, apalagi seafood. Makan dengan oreg (tempe) dan ikan asin pun sudah cukup baginya. Bahkan, kalau hanya pakai nasi dan sambal pun sudah cukup baginya dan tetap dimakannya.

Cukup satu kata menggambarkan nenek itu di usia senjanya. Sebatang kara, tidak ada pekerjaan yang bisa ia kais untuk mendapatkan rezeki, kecuali hanya mengumpulkan sampah-sampah yang ditemuinya tak jauh dari gubuknya. Tenaganya sudah tak kuat lagi untuk berjalan jauh. Sampah-sampah itu dikumpulkan dan dijualnya hingga mendapatkan uang cukup untuk sebungkus nasi. Satu kilo sampah senilai tak lebih dari 10 ribu rupiah. Bayangkan nenek itu harus mengumpulkan plastik bekas minuman ringan, kaleng, kardus dan apa saja yang bisa dikumpulkan dan dijual kembali. Dengan tubuh nenek yang ringkih dan tak bertenaga lagi, beberapa hari ia bisa mengumpulkan sampah sekilo. Tidak lagi hitungan hari, bahkan sebulan pun kadang tak bisa ia lakukan. Lalu, bagaimana ia bisa makan dan minum untuk bertahan hidup?

Belas kasih orang lain. Ya, nenek itu hanya berharap pada belas kasih tetangganya yang punya hati nurani. Kok bisa? Sebab, banyak pula tetangganya yang berduit tapi tak punya hati nurani. Hidupnya hanya untuk keluarganya sendiri. Hidupnya hanya untuk memenuhi perut dan kepentingan sendiri. Ada seorang nenek yang sangat membutuhkan tak jauh darinya yang tak pernah dihiraukannya. Demikian kebanyakan hidup di daerah perkotaan yang ganas itu. Jika tak ada tetangga yang memberinya makan dan minum, otomatis ia pun tak makan. Bayangkan saja, sudah ringkih, kurus, dan lemah, tak makan lagi. Apa yang akan terjadi dengan tubuhnya? Pasti sakit. Ya, tentu saja. Nenek itu seringkali sakit dan sembuh juga dengan sendirinya, tanpa diobati. Dalam sebulan, pasti saja nenek itu pernah sakit. Terkadang, yang jadi pertanyaan, kenapa tidak seorang pun yang berusaha menariknya ke dalam rumah dan menjadikannya sebagai bagian dari keluarganya? Dengan begitu, ia akan bisa makan dan minum sehari-hari dan tidak usah repot lagi mengais-ngais sampah untuk mendapat keping-keping receh.

Ah, zaman sekarang sulit sekali mencari orang yang benar-benar berempati terhadap orang lain, apalagi terhadap nenek-nenek. Yang dipikirkan mereka selalu uang dan uang. Mengurus nenek-nenek yang bukan keluarganya hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Uang keluar dan waktu tersita banyak untuk memperhatikannya. Dengan kata lain, mereka akan berkata, “Seharusnya negara dong yang mengurus nenek itu, bukan saya.” Betul jika negara tidak mau mengambil alih, kenapa bukan kita. Bukankah membantu nenek yang hidupnya sebatang kara adalah sedekah. Dan sedekah, kata agama, pahalanya sangat besar dan tidak pernah rugi bagi yang melakukannya. Uang yang kita sumbangkan atau salurkan untuk membantu orang lain tampaknya akan mengurangi tabungan kita, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Uang yang kita keluarkan untuk sedekah itu akan diganti oleh Allah dalam keadaan yang jauh lebih banyak.

Faktanya tidaklah seperti itu. Banyak orang yang mengabaikan kebenaran agama ini. Dan nenek yang diketahui bernama Hadijah (Nama samaran) itu menjadi salah satu korbannya. Sebuah korban dari arogansi seseorang yang berduit dan mampu, tapi tak punya empati. Jika punya kekuatan untuk berteriak, sudah lama nenek itu pasti ingin berteriak memperjuangkan keadilan dirinya. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya. Kalaupun ia bisa melakukannya, percuma juga. Pasti tak ada orang yang memperhatikannya. Nenek itu memang terkadang masih bisa makan. Tapi, sekali lagi, itu pun hanya berharap pada bantuan orang lain atau tetangganya. Dan kita tahu sendiri, kalau membatu pasti sifatnya tidaklah permanen. Terkadang ia membantu dan terkadang tidak, tidak setiap hari. Sedangkan untuk makan dan minum harus setiap hari, dan tak cukup sekali saja. Idealnya, dalam sehari seseorang harus makan dua kali, pagi dan sore atau siang dan agak malam.

Orang tidak makan dalam sehari pasti akan terkena penyakit dan itulah yang sering dialami oleh sang nenek. Hebatnya, di tengah kelaparan yang melandanya, nenek itu masih punya jiwa welas asih kepada kucing-kucing yang hidup bersamanya. Saat ia mendapatkan makanan dari orang lain, tak sungkan-sungkan ia berbagi kepada kucing-kucing yang jumlahnya sekitar lima ekor itu. Bayangkan, nasi sebungkus dibagi antara dirinya dan lima ekor kucing. Berapa sendok makan jatah untuk dirinya sendiri. Dalam sebungkus nasi, tak lebih ia bisa menikmati 7-8 sendok makan. Sedikit sekali. Itu pun tak rutin ia lakukan. Ah, sungguh sedih sekali mendengarnya. Suatu ketika, seorang tetangga menghampiri rumahnya, hendak memberi makan dan minum.

Diketuk-ketuk pintu gubuk rumahnya. Tak ada jawaban. Berkali-kali diketuk sambil dipanggil-panggil namanya. “Nek! Nek!” Tapi, nenek itu tidak menjawab. Merasa curiga, tetangga itu pun memeriksa masuk. Sampai di dalam ia sangat terkejut melihat beberapa ekor kucing berdiri mengelilingi nenek yang terbujur kaku di tempat pembaringannya yang sangat sederhana. Ia pun menghampiri nenek itu dan menggoyang-goyangkannya “Nek! Nek!.” Tetangga itu terus memanggilnya sambil menggoyang-goyang tubuhnya. Tetap tidak bergerak. Apakah ia telah meninggal dunia? Seketika tetangga itu berteriak. “Tolong! Tolong!” ia secepat kilat keluar dari gubuk itu dan memanggil-manggil orang.” Nenek meninggal dunia! Nenek meninggal dunia!”  Tak berapa lama kemudian warga pun datang. Mereka terkejut melihat nenek sudah terbujur kaku di pembaringannya. Mereka pun banyak bertanya, “Penyakit apa yang menimpa nenek itu sehingga membuatnya meninggal dunia?”

Tak ada yang tahu persis tentang penyebab kematiannya. Namun, menurut tetangga yang sering memberinya makan, beberapa hari sebelumnya sang nenek memang mengeluh agak demam. Oleh tetangga, nenek itu hanya diberi obat demam biasa, tidak dibawa ke dokter. Setelah itu, ia pun lepas kontrol dari tetangganya. Warga pun berkesimpulan, bisa jadi penyakit demam itulah yang menyebabkan nenek meninggal dunia. Jenazah nenek pun diurusnya mulai dari dimandikan, dikafani hingga dikuburkan. Yang jelas, tidak ada sanak saudara yang datang menjenguknya. Hidupnya sangat sebatang kara. Pengurus jenazahnya pun merupakan kolekan/ patungan dari tetangga dan warga yang menjenguknya. Namun, yang menjadi pemandangan ganjil adalah sejak meninggal kucing-kucing milik nenek itu tak mau pergi jauh dari pemiliknya. Kucing-kucing itu terus mengelilinginya. Ketika diusir pergi, mereka datang lagi dan seterusnya hingga jenazah nenek diantar ke kuburan.

Tampaknya kucing-kucing itu merasakan duka yang mendalam dengan kepergian sang nenek. Jika mereka bisa berbicara mungkin akan mengatakan, “Nek, setelah kamu pergi, siapa lagi yang akan memberi kami makan. Kamu berhati mulia, Nek! Meski kamu sendiri mendapat makanan dari bantuan orang lain, tapi kamu tidak lupa membagikannya kepada kami. Semoga arwahmu tenang di alam sana Nek.” Jenazah nenek pun akhirnya diantar ke kuburan. Herannya, saat jenazah itu di antar ke kuburan, kucing-kucing itu terus mengikutinya.

Orang-orang pun keheranan. Bahkan, hingga proses penguburan selesai kucing-kucing itu tetap mengintari kuburan nenek hingga malam tiba. Kucing-kucing itu bubar satu-persatu. Entahlah, setelah kepergian nenek, bagaimana nasib kucing-kucing itu? Apakah mereka tetap tinggal di gubuk milik majikannya ataukah mencari majikan baru? Tak ada yang tahu persis. Yang jelas, kisah nenek dan kucing-kucingnya itu bisa menjadi pelajaran binatang kapan saja. Kasih sayang kita yang tulus kepada binatang membuat mereka pun merasa kehilangan ketika kita telah pergi. Jika manusia punya rasa, tampaknya binatang pun demikian.

(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi.)

TENTANG PENULIS

            Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.

Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: SETETES HIDAYAH 2

Penulis dapat di hubungi melalui  email : [email protected]  lingkarpenulislimboto-gorontalo.blogspot.com

No HP: 085340008577