JAMALUDIN RIFAI, S.Pd.I

 

SETETES HIDAYAH

36  KISAH-KISAH KEHIDUPAN NYATA DAN PELAJARAN HIDUP UNTUK KITA SEMUA MENJADI AKHLAK YANG MULIA

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Kita bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Pembaca yang budiman, setetes hidayah merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Ia merupakan salah satu nikmat yang agung dari sekian banyak nikmat. Dan nikmat hidayah, adalah nikmat yang bernilai istimewa. Hidayah merupakan sentuhan lembut Ilahi, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pantai kebahagiaan. Ia merupakan wujud kasih-sayang Ilahi, sehingga seorang hamba tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan. Ia menuntun seorang hamba yang dikuasai hawa nafsu, sehingga menjadi terbimbing kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa. Maknanya, Allah tidak membiarkan seorang hamba berada dalam kesendirian ketika mencari kebenaran. Akan tetapi, tanganNya menuntunnya ke arah yang Dia ridhai.

Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya terhadap Allah dan syari’atNya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayang-Nya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah. Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.

Terkadang Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah, setelah ia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kadangkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, setelah orang itu terjerat dalam kasus korupsi; setelah ia merasakan sempitnya penjara, dan pedihnya kehilangan jabatan. Maka ia tinggalkan dunia, dan ia kembali kepada Allah. Atau terkadang Allah menimpakan penyakit kepadanya, sehingga menyebabkan dirinya terbaring lemas. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ia tetap tergolek di atas kasur, setelah puluhan tahun dengan kesehatan yang dimilikinya ia melawan Allah, dengan selalu berbuat maksiat. Dia menyangka, seakan ia memiliki kekuatan. Mereka itu adalah orang-orang beruntung. Mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.

Penulis menyajikan buku dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan suguhan cerita yang menarik tentu akan menambah semangat anda. Penulis sadar SETETES HIDAYAH ini masih jauh dari apa yang disebut dengan kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Walau demikian penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan SETETES HIDAYAH ini dengan semua kemampuan yang penulis miliki.

 

 

Penulis

 

Jamaludin Rifai, S.Pd.I

 

DAFTAR ISI

 

BUKU PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

  1. MATI SURI……………………………………………………………………………………………. 1
  2. JENAZAH DIRUBUNGI BELATUNG…………………………………………………… 4
  3. JASAD TIDAK HANGUS TERBAKAR………………………………………………… 9
  4. AZAB MELEMPAR AL-QUR’AN…………………………………………………………. 14
  5. TENGGELAM KARENA MENDUSTAI ORANG TUA………………………… 18
  6. SEJUK NAN INDAH DI RAUDHAH……………………………………………………… 26
  7. KEKUATAN SEDEKAH……………………………………………………………………….. 31
  8. MAMAT DAN KOTAK AMAL……………………………………………………………… 35
  9. KEAJAIBAN SHALAT HAJAT…………………………………………………………….. 39
  10. AKIBAT MERAMPAS HARTA SAUDARANYA SENDIRI………………….. 43
  11. DI MEKKAH GILA MASUK RUMAH SAKIT JIWA……………………………. 48
  12. MUKJIZAT SEDEKAH SETELAH IJAB QABUL………………………………… 51
  13. AZAB DAN TAUBAT…………………………………………………………………………….. 54
  14. AZAB LELAKI DURHAKA…………………………………………………………………… 59
  15. TRAGIS DI MALAM IDUL ADHA……………………………………………………….. 63
  16. GEMAR BERAMAL SHALEH………………………………………………………………. 68
  17. TERLEMPAR SAAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI………………………….. 75
  18. SEDEKAH MENGHILANGKAN SAKIT GINJALNYA……………………….. 76
  19. MENJEMPUT MAUT DENGAN TANGAN MENCAKAR……………………. 81
  20. AZAB SANG LINTAH DARAT……………………………………………………………… 85
  21. AZAB SANG PELACUR PENUH BOROK……………………………………………. 88
  22. PERUT MELEPUH MENJELANG AJAL……………………………………………… 93
  23. KISAH SEORANG SUPIR YANG DUA KALI UMRAH……………………….. 100
  24. SEDEKAH KECIL BERBUAH BESAR DI TANAH HARAM……………….. 104
  25. HIKAYAT KUBURAN AMBLAS………………………………………………………….. 107
  26. BAGAIKAN KACANG YANG LUPA PADA KULIT……………………………. 110
  27. AKHIR HAYAT SI TAJAM LIDAH………………………………………………………. 114
  28. EMPAT KALI HADAPI SIKSA SAKARATUL MAUT…………………………. 119
  29. HIKAYAT HAJI KIKIR DI TANAH SUCI…………………………………………….. 124
  30. SEDEKAH MENYELAMATKANNYA DARI MEJA HIJAU………………… 127
  31. MENAMPAR BUNDA MENUAI BUTA………………………………………………… 131
  32. WASIAT ISTRI DURHAKA………………………………………………………………….. 135
  33. HIKAYAT IBU YANG TAK AKUR DENGAN TETANGGANYA……….. 141
  34. DUA KAKINYA PUTUS AKIBAT MENENDANG IBU………………………… 145
  35. BERKAT TAHAJUD SANG GURU MENGAJI NAIK HAJI…………………. 149
  36. SEDEKAH BERBUAH HAJI…………………………………………………………………. 153

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………… 156

TENTANG PENULIS…………………………………………………………………………………….. 157

 

MATI SURI

Fenomena mati suri adalah salah satu fenomena yang hingga kini masih belum terungkap oleh ilmu pengetahuan. Bukan hanya di dalam negeri, fenomena ini rupanya terjadi juga di luar negeri. Tak sedikit orang yang mengalami fenomena langka ini. Anak-anak, orang dewasa, tua, muda, wanita maupun pria, semuanya bisa mengalami mati suri, tentunya atas kehendak dan izin Alloh. Nah, pada kesempatan kali ini saya menyampaikan satu kisah nyata mati suri yang pernah dialami oleh tetangga. Seorang kakek tua yang kini hidup kembali dan menjalani harinya seperti biasa. Silakan disimak untuk pelajaran untuk kita semua.

Kisah Nyata Mati Suri Mbah Rino, seorang kakek tua berusia 67 tahun tetangga desa saya, tak pernah membayangkan sebelumnya untuk bisa mengalami sesuatu yang tak bisa dirasakan semua orang. Dia terpilih di antara sekian juta orang untuk mengalami fenomena mati suri dalam hidupnya. Kisah nyata mati suri yang ia alami itu terjadi sekitar 2 tahun lalu, saat saya masih duduk di kelas 3 SMK. Pagi itu, seperti pagi yang biasa bagi mbah Rino. Setelah bangun tidur dan minum kopi, ia mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya yang sudah renta itu. Ia kini memang tengah menikmati masa pensiun setelah usia mudanya dihabiskan menjadi seorang guru sekolah dasar di kampung saya. Mbah Rino hidup di rumah kecil bersama anak perempuannya yang masih gadis. Si sulung dari 8 bersaudara itu memang ditugasi untuk mengurusi bapaknya, sementara kakak-kakaknya bekerja mencari nafkah. Selepas ba’da dzuhur, tak diduga sebelumnya, Mbah Rino tiba-tiba ditemukan sudah tidak bernafas lagi. Di ruang tengah tempat ia biasa menghabiskan waktu sehari-hari, ia diketahui sudah meninggal dunia. Mbak Ratih, anak gadisnya itulah yang menemukannya.

Singkat cerita, rumah Mbah Rino telah ramai dikunjungi para pelayat. Mbah Rino memang orang yang ramah dan supel. Semua orang menyukainya. Ia juga dikenal sangat murah hati dan sering menolong orang yang kesusahan. Semua orang merasa kehilangannya, sehingga wajar jika isak tangis menyertai prosesi pemandian jenazahnya. Semua orang yang hadir melayat mbah Rino tak pernah mengira sebelumnya jika pada hari itu, mereka akan menjadi saksi kebesaran Alloh. Menjadi saksi dari kisah nyata mati suri yang tak semua orang bisa mengalaminya. Jenazah Mbah Rino usai dikafani dan disholat. Anak-anaknya dari kota pun sudah kumpul semua. Kini tiba waktunya untuk mengantarkan beliau ke rumah terakhirnya. Liang kubur yang sunyi dan gelap. Iring-iringan pelayat yang tak henti mengumandangkan tahlil mengantar kepergian Mbah Rino. Perjalanan dari rumah duka ke areal pemakaman sekitar 20 menit. Pemanggul jenazah berganti-gantian.

Sawuran beras dan uang logam juga terus berulang, seperti layaknya prosesi pemakaman pada umumnya. Tiba-tiba, pelayat terhenyak. Dari dalam keranda terdengar suara dan kain penutup keranda itu seperti ada yang menarik dari dalam. Mbah Rino bangun dan hidup kembali. Semua orang terhenyak lari tunggang langgang ketakutan melihat mayat hidup di atas keranda. “Aa….a.a…..aaaa..a!” Jenazah Mbah Rino terbangun. Semua pelayat berhamburan. Kabur ketakutan karena melihat mayat hidup di dalam keranda. Mayat Mbah Rino hidup kembali. Ya… Hidup kembali. Pak Ustadz desa yang ada di barisan depan pun tercengang. Ditanyanya mbah Rino yang masih mengenakan busana pocong itu dengan penuh kegaguan. “Assalammualaikum Mbah?” Tanya Pak Ustadz. “Wa alaikumsalam Pak Ustadz. Kenapa saya ada disini dan menggunakan pakaian semacam ini?” Jawab Mbah Rino dengan rasa heran yang jelas tergambar dari raut wajahnya. “Siapa namamu?” Sergah pak Ustadz ingin memastikan bahwa yang berbicara itu benar-benar Mbah Rino, bukan jin atau sebangsanya. “Pak Ustadz, ini Si Mbah, Mbah Rino. Kenapa bertanya begitu?” Jawab Mbah Rino. “Subhanalloh!! Saudara-saudara, inilah bukti kekuasaan Alloh. Kita telah menyaksikan fenomena yang luar biasa. Mbah Rino telah mengalami mati suri.” Pak Ustadz melantangkan suaranya. Seketika itu, para pelayat yang tadi lari terbirit-birit kembali berkumpul ke dekat keranda, menyaksikan Mbah Rino yang mengalami kisah nyata mati suri. Semua orang berdecak kagum seraya mengucap tasbih. Subhanalloh. Sungguh Engkau Maha Kuasa Ya Rabb. Mbah Rino kemudian kembali ke rumah dibonceng motor. Sementara itu, para pelayat yang masih penasaran, menyusulnya kembali ke rumah duka.

Mereka ingin mengetahui apa yang dialami oleh Mbah Rino selama 4 jam terakhir mengalami mati suri. Mbah Rino melepaskan 3 lapis kain kafan ditubuhnya dan kembali mengenakan pakaiannya seperti biasa. Orang-orang berkumpul dan saat itu juga Mbah Rino menceritakan apa yang dia alami. “Mbah tadi tidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu, mbah bertemu dengan seorang pria tinggi besar. Ia mengaku bernama Rozaq. Ia mengajak simbah ke Makkah untuk melaksanakan sholat Dzuhur bersama. Kemudian mbah diajak ke sebuah lembah di padang pasir yang luas oleh dia. Mbah bingung dan laki-laki tadi juga tampak kebingungan. Tiba-tiba mbah disuruh pulang lagi, katanya ini masih belum waktunya. Mbah sempat heran dengan kata-kata yang dia ucapkan, sebelum akhirnya mbah terbangun dan sudah ada di dalam keranda.” Papar Mbah Rino sambil terbata-bata. “Ini adalah fenomena mati suri Mbah. Mbah telah mengalami sebuah fenomena yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Kemungkinan, laki-laki yang mengajak simbah tadi adalah malaikat maut mbah. Saya kira Alloh masih memberi kesempatan untuk Simbah melakukan sesuatu yang diingin simbah di dunia ini.” Seru pak ustadz. “Entahlah, yang jelas, mbah merasa ini hanya mimpi. Mbah tadi seperti hanya tidur dan tak tahu jika jantung simbah sudah tidak berdetak lagi seperti tanda-tanda kematian yang diceritakan oleh orang-orang.

Mbah memang selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan akad nikah Si Ratih setiap habis sholat tahajud dan sholat fardlu. Mbah merasa senang sekali, Alloh telah mengabulkan doa simbah.” Tutur Mbah Rino seraya menitikan air mata. Para pelayat hening, tertunduk, dan merasa malu atas apa yang dialami Mbah Rino. Doa seorang laki-laki tua renta itu telah diijabah oleh-Nya. Mereka bubar, dan semenjak saat itupun masjid yang biasanya sepi, hingga sekarang selalu penuh sesak terutama saat sholat Maghrib dan Subuh. Nah, itulah kisah nyata mati suri yang terjadi di kampung saya. Mbah Rino hidup kembali untuk mengajarkan banyak hal kepada semua masyarakat di kampung saya. Sangat menakjubkan. Semoga kisah nyata mati suri ini bisa memberikan efek bagi kita semua, sehingga kita bisa mengambil pelajaran yang baik darinya. Semoga bermanfaat.

(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)

JASAD TIDAK HANGUS TERBAKAR

Satu malam kebakaran hebat terjadi disebuah pemukiman padat penduduk. Kebakaran itu menghanguskan empat rumah sekaligus. Dalam kebakaran tersebut, harta benda ludes dimakan si jago merah. Hanya tinggal puing-puing saja. Kebakaran itu juga merenggut empat nyawa. Kesemuanya tidak bisa diselamatkan. Api melahap keempat jasad manusia tersebut. Peristiwa itu terjadi di pertengahan malam, sehingga penghuninya tidak sempat melarikan diri dan akhirnya terjebak di dalam rumah yang sudah terkepung oleh ganasnya kobaran api. Sekitar 30 menit, api menjalar begitu cepatnya, karena kala itu angin begitu kencang.

Disamping itu, pemukiman warga yang padat mengakibatkan api mudah menjalar dengan cepat. Ditambah lagi bangunan rumah yang 70% tersebut dari bahan kayu, hingga mempermudah api menjalar. Petugas pemadam kebakaran juga mengalami kesulitan untuk menembus lokasi karena sempitnya gang-gang yang mengintari lokasi. Hingga kemudian pemadam kebakaran dapat menaklukkan apai sekitar 40 mneit lamanya. Itu pun sebelumnya dibantu oleh warga sekitar yang terbangun dari tidur mereka karena suara gaduh yang ditimbulkan dari teriakan warga akibat adanya korban api dan asap yang ditimbulkan.

Setelah api dapat ditaklukan, petugas pemadam kebakaran kemudian menyisiri rumah yang sudah hangus terbakar. Salah seseorang anggota keluarga penghuni rumah tersebut menjerit histeris karena rumahnya sudah hangus terbakar. Lebih dari itu, sebab jeritannya lantaran suaminya bisa dipastikan terjebak di dalam rumah ketika api itu menyerang rumah mereka. Pasalnya suaminya berada di dalam kamar, sementara dirinya tidur di ruang tamu, sehingga tidak sempat membangunkan suaminya. Suaminya sudah tiga hari sedang sakit, sehingga fisiknya begitu lemah. Maka, bisa dipastikan pula, karena sakitnya itu, suaminya tidak bisa menyelamatkan diri. Tak hanya dirinya yang menangisi kejadian itu. Tetangganya pun menangis begitu kencangnya. Karena kedua anak kecilnya terjebak di dalam rumah. Begitu juga dengan tetangga dekatnya. Ada satu orang yang terjebak di dalam rumah, dan bisa dipastikan ia pun tidak lolos dari kobaran api. Maka ada empat orang yang terjebak di dalam rumah yang berderet itu.

Benar saja, keempat orang yang dikhawatirkan itu memang sudah tidak tertolong lagi. Keempatnya sudah terbakar. Badannya hangus. Namun, dari empat jasad itu, anehnya ada satu jasad yang masih utuh dari kobaran api, meski ia termasuk yang terjebak di dalam rumah. Jasadnya mulus dibanding ketiga korban lainnya. Warga pun merasa kaget, karena tidak mungkin jasad itu tidak hangus, padahal tempat tidurnya pun sudah hangus. Jasad pria itu masih bersih kulitnya. Hanya baju dan celananya yang terbakar. Warga merasa keheranan. Antara percaya dan tidak percaya. Tidak mungkin, secara nalar manusiawi kulit jasad pria itu bisa tidak hangus dari kobaran api yang sangat dahsyat itu. Karena kulit manusia sangat tipis, dan besar kemungkinan kulit manusia akan meleleh bila terkena kobaran api yang sangat besar.

Pria yang menjadi objek ketakjuban itu memang sudah tidak bernyawa lagi. Ia tergeletak dengan baju yang sudah hangus. Nyawanya tidak tertolong, bersama tiga orang tetangganya itu. Keesokan harinya, setelah jasadnya dibawa ke rumah sakit, dan dipulangkan kembali di kampung tersebut, jelaslah bahwa jasad pria itu memang masih utuh dan tidak terlihat adanya luka bakar. Mulus dan putih. Tidak ada luka sama sekali.

Pria yang jasadnya tak terbakar itu bernama Hendrik (Sebut saja begitu namanya) Hendrik setiap harinya berprofesi sebagai tenaga keamanan di salah satu kantor swasta. Ia sudah lama menjadi satpam. Kurang lebih 15 tahun ia jalani profesi itu. Ia memiliki satu istri dan dua anak. Kedua anaknya beserta mertuanya di lain kampung. Sementara istrinya tertidur di ruang tamu usai menonton televisi. Setelah ditelusuri, kebakaran itu berasal dari korsleting listrik dari rumah tetangganya. Karena rumah mereka berdekatan, dan sebagian besar bangunan rumah tetangga dan rumahnya terbuat dari bahan kayu, maka api sangat mudah terbakar. Siang hari sebelum kejadian kebakaran itu, Hendrik memang tidak terlihat keluar rumah. Ia sedang mengalami sakit demam.

Sudah tiga hari ia tidak masuk kerja. Pulasnya ia tertidur malam itu bisa jadi karena efek samping dari obat yang ia konsumsi sebelum tidur. Ketika api mulai menjalar ke kamarnya, istrinya hanya mampu berteriak dan tidak bisa membangunkan apalagi menyelamatkan suaminya. Istrinya langsung keluar dan meminta bantuan warga sekitar untuk menyelamatkan suaminya. Namun, ajal berkata lain. Allah sudah menentukan ajalnya. Ia meninggal dunia bersamaan dengan peristiwa itu. Meski demikian, jasad Hendrik ternyata tidak tersayat oleh tajamnya kobaran api. Warga sangat terkejut dan merasa keheranan. Karena, peristiwa itu sungguh sangat luar biasa dan tidak bisa dipahami oleh nalar manusia.

Yang pasti, warga mulai menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada Hendrik. Pria yang dikenal sangat ramah dan baik hati itu akhirnya meninggal dunia. Hendrik dikenal sebagai sosok pria yang rajin beribadah, manakala berada di rumah, ia tidak ketinggalan untuk shalat berjamaah di mushala. Hendrik juga termasuk warga yang senang bergaul dan tidak pernah membuat masalah dengan tetangganya. Salah seorang yang merasa kehilangan dengan sosok Hendrik adalah Ust. Aripin (Nama samaran) mengenal dekat almarhum Hendrik lantaran ia adalah Ketua Mushala di lingkungan tersebut. Hampir setiap hari ia bertemu Hendrik di mushala; setiap waktu shalat tiba, terutama untuk waktu shalat Magrib, Isya dan Shubuh. Sementara Dzuhur dan Ashar, Hendrik memang jarang terlihat di mushala, karena ia berada di tempat kerja.

“Hendrik orangnya rajin ibadah. Ia sangat menyesal manakala tidak bisa shalat berjamaah. Ia sedapat mungkin bisa shalat dengan berjamaah. Selain itu, salah satu karakter yang saya sukai dari Hendrik adalah ia sangat rajin bersedekah. Meski ia tergolong orang yang sederhana secara ekonomi, namun saat masuk mushola, ia tak lupa menyisihkan uang di kotak amal,” Tutur Ust. Aripin mengenangnya.

“Hal ini membuat saya kagum. Bagaimana tidak? Dia orangnya baik. Suka menolong dan rajin shalat berjamaah.” Tegas Ust. Aripin.

Ust Aripin pun menceritakan bahwa almarhum Aripin sering menjalankan atau mendawamkan doa-doa Nabi Ibrahim. Hal ini ia ketahui kala ia sedang berbincang santai dengan Hendrik. “Dia itu tidak pernah lupa untuk membaca doa Nabi Ibrahim. Ada dua doa yang diajarkan Nabi Ibrahim seperti dikutip dalam Al-Qur’an, yang diamalkan oleh Hendrik. Kedua doa itu terdapat dalam Qs. Ibrahim dan QS. Ash-Shaaffaat.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat),” (Qs Ibrahim: 40-41)

Kemudian doa yang lainnya adalah “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (Seorang Anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh,” (QS. Ash-Shaaffaat: 100) kedua doa itu diamalkan Hendrik setiap usai menjalankan shalat lima waktu.

Meski pernah bergaul dengan Hendrik, Ust. Aripin tidak tahu secara pasti persis berapa kali doa itu diwiridkan oleh Hendrik. Ia juga tidak tahu amalan apalagi yang diamalkan oleh Hendrik. Namun demikian, Ust Aripin menyimpulkan satu hikmah dari peristiwa yang menimpa Hendrik. Menurutnya, bisa jadi apa yang menimpa Hendrik ada hubungannya dengan doa-doa yang dia amalkan, terutama doa-doa Nabi Ibrahim. Tapi, bisa pula hal ini tidak ada hubungannya. Hanya Allah yang tahu. Ia menegaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah Rasul yang sangat taat kepada Allah, dan tidak pantang mundur dalam berdakwah. Salah satu peristiwa yang mudah diketahui oleh masyarakat umum adalah peristiwa dibakarnya Nabi Ibrahim oleh raja Namrud, karena murkanya yang luar biasa pada Nabi Ibrahim, maka Raja Zalim itu memerintahkan prajuritnya untuk membakar Nabi Ibrahim secara hidup-hidup.

Peristiwa ini kemudian dikenal masyarakat modern sebagai peristiwa pembunuhan manusia yang keji dan kejam. Dengan begitu mudahnya Nabi Ibrahim dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun, karena Nabi Ibrahim adalah seorang Rasul, Allah menjaga dan menolongnya. Nabi Ibrahim meminta kepada Allah untuk mendinginkan sifat dasar api. Api yang biasanya panas menjadi dingin. Karena dingin dan tidak panas itulah, maka Nabi Ibrahim selamat dan tubuhnya tidak cedera sama sekali. “Hai api, jadilah engkau dingin serta selamatlah Ibrahim!” (QS Al-Anbiya: 69)

Dalam hal ini, tegas Ust Aripin, memang sangat berlebihan apabila peristiwa yang menimpa Hendrik disamakan dengan apa yang menimpa Nabi Ibrahim. Kedua orang itu tentu saja sangat berbeda. Kadar keimanan dan ketakwaannya pun sangat jauh berbeda. Namun, tandas Ust Aripin, apa yang dilakukan Hendrik semasa hidupnya dengan mengamalkan doa-doa Nabi Ibrahim bisa jadi menjadi penghubung dirinya dengan Allah swt. Karena bagaimana pun juga, yang mematikan dan menghidupkan manusia adalah Allah. Yang membuat api menjadi panas maupun dingin adalah Allah swt pun, yang membuat Hendrik dan Nabi Ibrahim tidak cedera oleh ganasnya api neraka, semata-mata karena kehendak Allah. Bukan kehendak siapa-siapa.

Namun begitu, terlepas dari korelasi antara Hendrik dan Nabi Ibrahim itu, Ust Aripin menilai bahwa kita yang masih hidup tentunya dapat membaca ayat-ayat Allah yang tersirat dalam setiap peristiwa. Selain itu, sebagai manusia tentu saja apa yang menimpa Hendrik dapat ditarik hikmahnya. Salah satu hikmah hidup yang biasa diambil dari perilaku Hendrik yang baik adalah kegemarannya dalam bersedekah, rajin shalat berjamaah, dan senang mendawamkan doa-doa Nabi Ibrahim. “Ini yang harus kita ikuti dan teladani. Setiap yang baik wajib kita teladani, dan yang buruk kita tinggalkan,”Tandas Ust Aripin.

“Sebaik-baiknya doa adalah membaca Al-Qur’an. Doa-doa yang diajarkan Nabi Ibrahim, termaktub dalam Al-Qur’an, oleh karena itu, amalkan dan dawamkanlah. Insya Allah itu memberi kebaikan dalam hidup kita, baik untuk saat ini semasa hidup, maupun nanti di akhirat,” Tegas Ust Aripin mengakhiri percakapannya.

(Demi menjaga kerahasiaan dan nama baik, semua nama pelaku/ kecuali nama tempat, yang tercantum dalam kisah iktibar ini telah di samarkan. Selebihnya, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka, dan tidak ada maksud untuk merugikan dan mencemarkan nama baik. Kalau ada kesalahan maka dengan ini permintaan maaf secara ikhlas. Demikian pemberitahuan ini di sampaikan agar dimaklumi)

TENTANG PENULIS

            Penulis bernama Jamaludin Rifai lahir di Gorontalo 27 Juni 1986. Penulis  berasal dari Provinsi Gorontalo. Penulis adalah anak ke 7 dari 7 orang bersaudara. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar penulis mempunyai bakat yaitu menulis dan mengarang. Penulis pernah kuliah di salah satu kampus yang berada di Gorontalo yaitu IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2011, penulis berhasil menjadi alumni Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2015, penulis berhasil menamatkan pendidikannya S1.

Meski masih tergolong pada tahap awal belajar, penulis hobi membaca buku-buku dunia novel Horor, dan suka membaca buku-buku Bahasa Inggris, buku-buku motivasi, Penulis bercita-cita menjadi penulis yang terkenal melalui bukunya: SETETES HIDAYAH

Penulis dapat di hubungi melalui  email : [email protected]  lingkarpenulislimboto-gorontalo.blogspot.com

No HP: 085340008577