<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fiksi Archives &#8902; Penulispro.net</title>
	<atom:link href="https://penulispro.net/category/fiksi-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://penulispro.net/category/fiksi-2/</link>
	<description>100% Atlet Senam Jari Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2015 06:47:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Batu Ajaib, Dimuat di Majalah Bobo :)</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Niradea]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2015 06:45:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cernak]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Batu AjaibOleh: Nina Rahayu Nadea Hari ini Lilo, Lola dan Loli seperti biasa bermain di Sungai Cijoho. Airnya yang jernih dan segar membuat anak-anak tak bosan untuk bermain di sungai ini. Mereka asyik berenang dan bermain air. Lola yang asalnya tidak mau berenang, akhirnya bermain juga ketika dengan sengaja Loli mencipratkan air ke baju Lola ... <a title="Batu Ajaib, Dimuat di Majalah Bobo :)" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/" aria-label="Read more about Batu Ajaib, Dimuat di Majalah Bobo :)">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/">Batu Ajaib, Dimuat di Majalah Bobo :)</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Batu Ajaib<br />Oleh: Nina Rahayu Nadea</p>
<p> Hari ini Lilo, Lola dan Loli seperti biasa bermain di Sungai Cijoho. Airnya yang jernih dan segar membuat anak-anak tak bosan untuk bermain di sungai ini. Mereka asyik berenang dan bermain air. Lola yang asalnya tidak mau berenang, akhirnya bermain juga ketika dengan sengaja Loli mencipratkan air ke baju Lola hingga menjadi basah.<br /> “Huh, tuh kan menjadi basah,” Lola merenggut, memerhatikan bajunya yang basah.<br /> “Haha. Ayo sudah berenang saja dengan bajumu.” Loli yang sudah menceburkan diri di air tertawa melihat Lola.<br /> “Ngak ah, kemarin Ibu marah karena bajuku menjadi basah.”<br /> “Tak akan marah sekarang. Ibu tak akan tahu kita berenang. Lihatlah mentari sedang bersinar terang dan pastinya baju kita akan cepat kering.”<br /> Dan kini mereka bertiga berada dalam sungai. Mereka lupa akan pesan Ibu agar tidak berenang. Pun Lola yang asalnya tidak mau berenang, kini malah lebih heboh. Sesekali tenggelam, mengambil beberapa batu dan menyimpannya di bibir sungai. Begitu terus berulang hingga batu itu berjejer.<br /> “Kita lomba nyari batu sebanyak-banyaknya, yu.” Usul Lilo tiba-tiba.<br /> “Ah, ketinggalan. Lihat tuh batu yang kucari sudah banyak.”<br /> “Iya, ayo. Kita cari batu lebih banyak, untuk akuarium di rumah.” Loli menimpali.<br /> Kini ketiganya sibuk mencari batu-batu. Tidak hanya masuk ke sungai mereka pun mencarinya di daratan.<br /> “Hey lihat. Sini aku melihat batu ajaib.” Seru Lola dari seberang sungai. Ia sengaja berpisah dari temannya agar mendapat batu yang banyak.<br /> “Batu ajaib?”<br /> “Iya. Sini.” Lola melambaikan tangan ke arah teman-temannya. “Lihat batu ini membesar.”<br /> “Membesar? Darimana kau tahu. Buktinya tetap saja.”<br /> “Kemarin waktu kita main ke sini. Aku melihatnya dan tingginya tidak melebihi dari pohon kecil ini. Sekarang malah meninggi dan lebar. Aneh sekali?”<br /> “Ah, kamu salah lihat kali.” Tanya Lilo. Matanya tak lepas memandang batu.<br /> “Semoga demikian. Untuk membuktikannya kita lihat saja besok. Bagaimana?” Usul Lola.<br /> “OK.”<br />*<br /> Keesokan harinya mereka sudah berkumpul di tepi sungai mengamati batu ajaib tersebut.<br /> “Iya, benar koq batunya membesar yah?” Ucap Loli tak berkedip.<br /> “Jangan-jangan benar kata Ado, sungai ini ada penunggunya yang terletak di batu ajaib.”<br /> “Iyy. Aku jadi takut.” Ketiga anak itu pun segera berlari ke rumah. Segera malaporkan penemuannya. <br /> “Ada batu ajaib?” Ibu Lola mengernyitkan kening. Benarkah? “Ah, Ibu tidak percaya.” <br />“Jangan percaya hantu, “ ucap Pak Guru ketika mendapat laporan dari anak-anak.<br />“Kalau Bapak tak percaya, mendingan sekarang kita ke sungai, Pak!”<br /> Karena penasaran Pak Guru segera datang ke sungai. Dan ternyata di tepi sungai telah banyak kerumunan orang. Berita tentang batu ajaib menyebar dengan cepat.<br /> “Ini yang kalian sebut batu yah?” Pak guru menunjuk batu ajaib.<br /> “Iya, Pak. Kemarin ukurannya kecil dan sekarang membesar.”<br /> “Ini bukan batu tetapi jamur?”<br /> “Jamur?”<br /> “Iya. Ngak percaya? Kita angkat batunya yah.” Dengan seksama Pak Guru mencongkel dan membawa batu itu. “Benar kan? Lihat di bawahnya ada batang.”<br /> “Oh pantasan membesar. Jamur apa ini Pak? Bentuknya bagus sekali, bulat dan coklat kehitaman menyerupai batu.”<br /> “Ini namanya Jamur shiitake atau dikenal juga dengan sebutan chinese black mushroom, karena memang warnanya yang hitam.”<br /> “Haha. Ternyata batu ajaib itu tidak ada di sungai. Ayo berenang lagi!” Anak-anak mulai menceburkan diri di sungai. Sungai pun kembali ramai. ***</p>
<p>Profil Penulis</p>
<p>Nina Rahayu Nadea, lahir di Garut 28 Agustus. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Karyanya dimuat di: Pikiran Rakyat, Galamedia, Kabar Priangan, Majalah Kartini, Analisa Medan, Radar Bojonegoro, Majalah Potret Banda Aceh, Majalah Baca Banda Aceh, Suara Karya, Suara Daerah, Majalah Kandaga, Majalah Mangle, SundaMidang, Galura, Tabloid Ganesha, Tribun Jabar, Majalah Loka, Koran Merapi Yogyakarta, Majalah HAI.<br /> Telah menghasilkan kurang lebih 60 buah buku antologi. Tahun 2011 memenangkan lomba Soulmate Writing Battle Leutika Prio-Yogyakarta. Tahun 2012 Juara naskah terbaik cerpen anak Hasfa Publisher, dengan judulcerpen ‘Si Jalu Kesayanganku’. “Memilikimu di Sisa Hidupku” adalah novel yang baru di tahun 2014. Tulisannya bisa dilihat diwww.ninarahayunadea.blogspot.com.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/">Batu Ajaib, Dimuat di Majalah Bobo :)</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/08/batu-ajaib-dimuat-di-majalah-bobo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komik Lucu yang Lagi in di Social Media</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dyar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2015 13:23:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita lucu]]></category>
		<category><![CDATA[komik lucu]]></category>
		<category><![CDATA[komik moral]]></category>
		<category><![CDATA[komik penuh hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan mulyono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dunia politik pasti sedang dikisruhkan oleh Ahok perihal kata-kata toilet yang dianggap tidak baik dipublikasikan. Sementara itu, dunia media sosial juga masih heboh dengan berbagai kisah, dari mulai yang sering kita jalani sampai sesuatu yang sama sekali baru. Jika kamu bosan dengan berita yang sedang in dan sedang tidak mau berhubungan dengan dunia politik, saatnya ... <a title="Komik Lucu yang Lagi in di Social Media" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/" aria-label="Read more about Komik Lucu yang Lagi in di Social Media">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/">Komik Lucu yang Lagi in di Social Media</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia politik pasti sedang dikisruhkan oleh Ahok perihal kata-kata toilet yang dianggap tidak baik dipublikasikan. Sementara itu, dunia media sosial juga masih heboh dengan berbagai kisah, dari mulai yang sering kita jalani sampai sesuatu yang sama sekali baru.</p>
<p>Jika kamu bosan dengan berita yang sedang <em>in </em>dan sedang tidak mau berhubungan dengan dunia politik, saatnya kamu membuka-buka halaman media sosial yang cukup unik. Misalnya saja, melihat beberapa komunitas fotografi, melihat komunitas menggambar, atau bahkan melihat komik buatan temanmu sendiri.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal komik, ada satu komik yang sedang <em>in </em>di media sosial, nih. Kamu bisa menengok ke laman berikut ini: Komik Lucu. Komik tersebut berjudul <em>Pertobatan Mulyono </em>yang dalam satu pekan terakhir tiba-tiba menjadi <em>in </em>kembali. Padahal, komik tersebut sudah di-<em>posting </em>tiga bulan yang lalu.</p>
<p>Dalam waktu beberapa hari ke belakang, para netizen banyak yang membicarakan karya unik buatan Fajar Sahrul ini. Komik tersebut di-<em>share </em>di Facebook, Twitter, dan Path. Jika kamu melihat sepintas, mungkin kamu tidak tertarik sama sekali dengan komik yang satu ini karena kualitas gambarnya memang tidak sebagus gambar buatan komikus yang memang biasa membuat komik.</p>
<h2><strong>Gambar Penyok kok Fenomenal?</strong></h2>
<p>Mungkin ini yang ditanyakan oleh beberapa orang di antara kamu. Bahkan tidak sedikit netizen yang mengomentari komik tersebut “lucu” hanya karena gambarnya yang memang mirip gambar anak TK atau anak SD.</p>
<p>Namun, gambar yang buruk atau yang tidak memuaskan tidak selalu tidak bermakna, kan? Ada juga gambar yang bagus namun ternyata tidak punya nilai moral sama sekali. Nah, komik inilah yang kemudian mampu mmebuat netizen merasa diri mereka mendapatkan sesuatu setelah membaca komik karya Fajar tersebut.</p>
<p>Gambar komik <em>Pertobatan Mulyono </em>sendiri terdiri atas 17 gambar yang disebut sebagai halaman dengan teks yang hanya bisa dibaca jika kamu sudah mengklik gambarnya.</p>
<h2><strong>Sinopsis Komik Pertobatan Mulyono</strong></h2>
<p>Cerita komik ini berawal dari preman bernama Mulyono yang melakukan tindakan yang kasar dan kejam terhadap istrinya yang bernama Laksmi. Mulyono sendiri merupakan sosok laki-laki yang digambarkan sebagai lelaki berwajah seram, brewokan, dengan titik berjumlah enam di dahinya. Mulyono ini sering memukuli Laksmi sampai istrinya itu babak belur.</p>
<p>Sampai pada suatu hari, penyiksaan yang dilakukan oleh Mulyono akibat Laksmi menolak membuatkan kopi membawa bahaya terhadap istrinya itu. Laksmi mengalami patah leher dan kelumpuhan.</p>
<p>Sayangnya, Mulyono masih juga enggan merasa bersalah dan sadar atas kekeliruannya. Lelaki tersebut tetap berbuat onar hingga datanglah seorang santri yang kemudian dipalak dan dipukuli. Santri tersebut masih sangat muda, terbilang remaja. Namun, apa yang terjadi?</p>
<p>Santri tersebut tidak melawan Mulyono, melainkan berdoa. Mendengar doa tersebut, Mulyono pun kemudian meluluh dan bertobat. Sekembalinya ke rumah, Mulyono melihat istrinya telah tiada. Setelah kejadian nahas itu, Mulyono kemudian belajar agama dan menjadi ahli ibadah. Hingga akhirnya Mulyono memutuskan untuk menjalankan sekolah kepolisian dan menempuh hidup baru yang lebih baik.</p>
<p>Cerita tersebut sepertinya tampak sederhana, namun mampu memberikan makna yang cukup baik untuk mengingatkan kita akan dosa yang telah dilakukan dan waktu yang mungkin kita miliki untuk bertaubat.</p>
<p>Kalau kamu, punya komik lain yang juga menarik enggak?</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/">Komik Lucu yang Lagi in di Social Media</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/03/komik-lucu-yang-lagi-in-di-social-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rindu ayah :&#039;(</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[RaniAlkad]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2015 08:23:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/</guid>

					<description><![CDATA[<p>AYAH   AYAH&#8230; AKU MERINDUKAN DIRI MU AKU MERINDUKAN BELAI KASIH SAYANG MU AKU MERINDUKAN MASA-MASA BERSAMA MU   AYAH&#8230; MUNGKIN INILAH SAATNYA KITA BERPISAH AIR MATA DUKA YANG MENYELIMUTI HATI KU SUNGGUH TAKKAN BISA LENYAP   AYAH&#8230; HATIKU TELAH MENGIKHLAS KAN KEPERGIAN MU UNTUK KEMBALI KEPADA-NYA DAN ITULAH JALAN YANG TERBAIK UNTUK KITA   ... <a title="Rindu ayah :&#039;(" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/" aria-label="Read more about Rindu ayah :&#039;(">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/">Rindu ayah :&#039;(</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em><span style="text-decoration: underline">AYAH</span></em></p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">AYAH&#8230;</p>
<p style="text-align: center">AKU MERINDUKAN DIRI MU</p>
<p style="text-align: center">AKU MERINDUKAN BELAI KASIH SAYANG MU</p>
<p style="text-align: center">AKU MERINDUKAN MASA-MASA BERSAMA MU</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">AYAH&#8230;</p>
<p style="text-align: center">MUNGKIN INILAH SAATNYA KITA BERPISAH</p>
<p style="text-align: center">AIR MATA DUKA YANG MENYELIMUTI HATI KU</p>
<p style="text-align: center">SUNGGUH TAKKAN BISA LENYAP</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">AYAH&#8230;</p>
<p style="text-align: center">HATIKU TELAH MENGIKHLAS KAN KEPERGIAN MU</p>
<p style="text-align: center">UNTUK KEMBALI KEPADA-NYA</p>
<p style="text-align: center">DAN ITULAH JALAN YANG TERBAIK UNTUK KITA</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">PERJUANGAN MU MELAWAN PENYAKIT ITU</p>
<p style="text-align: center">SUNGGUH SANGATLAH SULIT</p>
<p style="text-align: center">RASA SAKIT YANG KAU RASAKAN</p>
<p style="text-align: center">TAK PERNAH INGIN KAU UNGKAPKAN</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">KARENA, AKU YAKIN</p>
<p style="text-align: center">KAU TAK INGIN MEMBUAT MEREKA BERSEDIH</p>
<p style="text-align: center">KAU TAK INGIN MEMBUAT MEREKA KHAWATIR</p>
<p style="text-align: center">AKAN KEADAAN MU</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">AYAH&#8230;</p>
<p style="text-align: center">PENGORABANAN MU SUNGGUH SANGATLAH BERARTI</p>
<p style="text-align: center">TAPI MAAFKAN AKU AYAH</p>
<p style="text-align: center">SAMPAI SAAT INI AKU BELUM BISA MEMBALASNYA</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">AYAH&#8230;</p>
<p style="text-align: center">SUATU SAAT AKU AKAN MEMBALAS SEMUANYA</p>
<p style="text-align: center">WALAUPUN, KINI KAU TELAH TIADA</p>
<p style="text-align: center">DOA KU AKAN SELALU MENYERTAI MU</p>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4sdfsdfruh7fewui_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__hggasdgjhsagd_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<div id="__if72ru4rkjahiuyi_once" style="text-align: center"> </div>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/">Rindu ayah :&#039;(</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/01/rindu-ayah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumput yang Bergoyang Episode 1</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dimas Pettigrew]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2014 13:48:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sinetron Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada masa tertentu dari karir saya sebagai novelis dan produser yang menyebabkan saya membuat keputusan yang mungkin melanggar batas kebiasaan. Saya Maswendo Hardwick, saya adalah penulis novel Rumput yang Bergoyang. Novel tersebut berhasil menjadi sensasi di pasaran yang membuatnya masuk dalam daftar buku-buku best seller. Prestasi tersebut berhasil menarik hati IBS Television Studios dan The ... <a title="Rumput yang Bergoyang Episode 1" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/" aria-label="Read more about Rumput yang Bergoyang Episode 1">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/">Rumput yang Bergoyang Episode 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ada masa tertentu dari karir saya sebagai novelis dan produser yang menyebabkan</em><em> saya membuat keputusan yang mungkin melanggar batas kebiasaan. Saya Maswendo Hardwick, saya adalah penulis</em><em> novel</em> Rumput yang Bergoyang. <em>Novel tersebut berhasil menjadi sensasi di pasaran yang membuatnya masuk dalam daftar buku-buku </em>best seller. <em>Prestasi tersebut berhasil menarik hati IBS Television Studios dan The IW untuk membuat adaptasi novel </em>Rumput yang Bergoyang <em>menjadi sebuah drama seri yang seharusnya tayang mingguan di The IW. </em>Rumput yang Bergoyang <em>mulai syuting Agustus 2013, namun sayangnya, terpaksa berakhir pada September 2013. Itu karena The IW, selaku saluran televisi yang seharusnya menayangkan drama </em>Rumput yang Bergoyang<em>, ingin menjadikan drama ini sebagai sinetron kejar tayang yang terdiri dari 23 episode dan</em><em> mengudara setiap hari pada waktu </em>prime time<em>. Hal itu menyebabkan</em><em> perdebatan seru antara saya, IBS Television Studios, dan The IW. Menurut saya seharusnya</em> Rumput yang Bergoyang<em> tayang secara mingguan, yang berarti saya harus memotong semua episode tersebut menjadi enam episode saja. Dengan memotong 23 episode menjadi enam episode, maka adegan yang menurut saya tidak penting yang telah direkam bisa saya </em>cut. <em>Namun, The IW tidak ingin menerima saran saya yang menyebabkan pembatalan penayangan </em>Rumput yang Bergoyang <em>Meskipun drama ini tidak tayang sama sekali di The IW, novel </em>Rumput yang Bergoyang <em>tetap laris di pasaran. Setidaknya, IBS Home Entertainment</em><em> bersedia merilis drama yang terdiri dari enam episode ini dalam bentuk DVD. Berikut adalah episode pertama dari </em>Rumput yang Bergoyang. <em>Selamat menikmati!</em></p>
<p><em><br /> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center"><strong>IBS</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>TELEVISION STUDIOS</strong></p>
<p style="text-align: center">Mempersembahkan</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>SEBUAH MAHAKARYA TERBESAR DALAM SEJARAH TELEVISI INDONESIA</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Disajikan dengan Dolby Surround Sound 7.1</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center">THE IW ORIGINAL PRODUCTION</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>LEMBAGA SENSOR FILM MENYATAKAN</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>RUMPUT YANG BERGOYANG</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>TELAH LULUS SENSOR</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>NO.3226/DVD/R./PH.IBSTVS/11.2018/2013</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>TANGGAL: 9 NOVEMBER 2013</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>REMAJA</strong></p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p> </p>
<p>Cerita dimulai di sebuah rumah yang sangat mewah, di mana sebuah keluarga yang kaya raya menguasai rumah tersebut dengan sombongnya, mereka adalah keluarga terkaya di seluruh komplek, harta mereka milyaran, maka mereka menyombongkan diri di depan seluruh keluarga sekomplek.</p>
<p>Keluarga tersebut terdiri dari sang kepala keluarga yang bernama Erlanda, pria yang memiliki rambut coklat kehitaman dengan kumis dan jenggot tipis; beserta istrinya yang bernama Malena, gadis agak gendut berambut merah panjang yang sangat materialistik dengan memakai perhiasan yang berlebihan; dan anaknya Aira, gadis berambut pirang kehitaman panjang dengan eyeliner hitam di sekitar kedua matanya yang juga memiliki sifat yang kurang lebih sama dngan ibunya; terakhir, Nurhaliza, gadis rambut hitam panjang yang malang yang ternyata menjadi pembantu keluarga Erlanda, namun keluarganya sering menyiksa dirinya karena hanya satu kesalahan kecil dan hal sepele bagaikan yang diderita oleh TKW.</p>
<p>Misalnya, saat Nurhaliza disuruh membersihkan setiap sisi rumah oleh Malena saking kejamnya, ia mendapat ancaman bahwa ia tidak boleh ikut pergi berbelanja di mall bersama seluruh keluarga. Meskipun Nurhaliza berhasil membereskan seisi rumah, Malena menemukan pecahan kaca tepat di ruang makan yang saking mewahnya tidak boleh kotor sekalipun. Pecahan kaca tersebut berada tepat di atas lantai dekat meja makan.</p>
<p>Nurhaliza pun protes saat musik menegangkan diputar “Tidak! Tidak! Tidak! Aku sudah membersihkan segalanya! Aku sudah membersihkan setiap ruangan di ruangan ini, Mama! Pecahan itu hanya hal sepele saja, Mama!”</p>
<p>Malena yang berdiri tepat dihadapan Nurhaliza langsung mendorong Nurhaliza hingga terjatuh dengan keras. Bukan hanya itu, tetapi Malena juga menyiksa Nurhaliza dengan menusukkan tangan kirinya dengan pecahan kaca tersebut hingga berdarah, siksaan tersebut bagaikan majikan yang sedang menyiksa TKW.</p>
<p>Malena pun berteriak “Itu akibatnya kalau kamu kerjanya tidak becus, gadis bodoh! Mulai sekarang, kamu lakukan segala hal yang saya suruh!”</p>
<p>“Tapi, ma…”</p>
<p>Malena langsung memotong “Tidak ada tapi-tapian!” Ia sengaja menampar wajah Nurhaliza yang sudah buruk rupa itu sebelum pergi, ia berkata lagi “Kau tidak boleh pergi untuk selamanya! Mama, Papa, dan kakakmu mau pergi, selamat tinggal.” Malena pun berlalu dari ruang makan begitu saja yang sudah bersih dengan susah payah oleh Nurhaliza.</p>
<p>Saat mendengar suara mobil berangkat dari rumah tersebut, Nurhaliza meratapi dan memandang ke bawah lantai, ia pun menangis tersedu-sedu akibat sering tersiksa oleh Erlanda, Malena, dan Aira, karena hanya beberapa kesalahan sepele pun.</p>
<p>Gadis malang tersebut segera berdiri ke ruangan paling belakang, di mana ia melihat sebuah pintu terbuka. Ia segera berjalan menuju pintu tersebut, tentunya ruangan paling belakang itu bersebelahan dengan dapur.</p>
<p>Nurhaliza berjalan keluar melewati pintu tersebut. Ia pun melihat solokan di tengah-tengah jalan yang berbau amat sangat tidak sedap. Ia pun berbelok kanan melewati jalanan tersebut, di mana ia bisa melihat bagian belakang dari masing-masing rumah dekat kediaman Erlanda.</p>
<p>Setelah beberapa meter, Nurhaliza akhirnya keluar dari jalanan yang terdiri dari selokan menjijikan itu. Nurhaliza melihat sebuah jalan raya yang penuh dengan mobil dan motor berjalan ke sana kemari.</p>
<p>Saat ia melihat bus malam berwarna hitam, ia mengacungkan tangannya ke arah bus tersebut. Jadi… Kesimpulannya, Nurhaliza tengah melarikan diri dari keluarganya sendiri! Maka, ia menaiki bus malam tersebut untuk melarikan diri.</p>
<p>***</p>
[Musik instrumental perlahan-lahan masuk]
<p> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Maswendo Hardwick’s</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>RUMPUT YANG BERGOYANG</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>© IBS Television Studios</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center">[Musik semacam jazz masuk]
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>TAHNEE WARE sebagai Nurhaliza</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Nurhaliza yang berada di sebuah sekolah bergengsi di Bandung.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Sudah jelas apa yang terjadi telah kuketahui </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>GREGORY ALAN HERLAMBANG sebagai Alan</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Alan yang memandang Nurhaliza dengan manis.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Bagaikan orang asing yang menjadi TKW, aku pun telah menderita</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MARISSA ASHWORTH sebagai Fitri</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Fitri yang berpenampilan sebagai gadis kampungan.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Selamat tinggal, kehidupan suramku </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MATTHEW PETERSEN sebagai Farel</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Farel yang menarik tangan Fitri saat berdansa.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Aku telah melarikan diri demi kejujuran </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>GUSTAV SMITH sebagai Prabu</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Gustav yang berlari mencari Fitri, anaknya.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Aku ingin mencari yang sebenarnya </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>ASHLEY MARIN sebagai Aira</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Aira yang sedang bersolek di depan cermin.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Demi kejujuran bagaikan rumput yang bergoyang</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">[Suara terompet jazz masuk]
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>CHRIS HAMMER sebagai Erlanda</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Erlanda yang menarik Nurhaliza dengan keras</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Apakah kejujuran benar-benar menyakitkan? </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>SNOOKIE HOWARD sebagai Malena</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Malena yang menampar wajah Nurhaliza</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Apakah kebohongan tidak bisa terhindari? </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>PHILLIP SMITH sebagai Erik</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip gambar Erik yang berhadapan dengan Farel</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Kejujuran memang obat terampuh</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Lagu Tema:</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>“RUMPUT YANG BERGOYANG”</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Penyanyi: SHAWN RODAY</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Pencipta: SHAWN RODAY</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Label: BALBOA HEIGHTS RECORDS</strong></p>
<p style="text-align: center">Klip Fitri dan Farel akan berciuman, namun batal.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Demi cinta dan kebenaran, ini bagaikan… rumput yang bergoyang…</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">[Suara terompet jazz masuk lagi]
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">Klip Nurhaliza dan Alan berdansa di pesta dansa.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Penulis Skenario:</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MASWENDO HARDWICK</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center">Klip Fitri berteriak.</p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Diadaptasi dari novel</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>RUMPUT YANG BERGOYANG</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Karya</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MASWENDO HARWICK</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Kehidupan lamaku sudah tiada </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Produser Eksekutif</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MASWENDO HARDWICK</strong></p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">Klip close-up Malena dan Aira</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Aku ingin melarikan diri </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Sutradara</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MASWENDO HARDWICK</strong></p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Aku ingin mencari yang sebenarnya </p>
<p style="text-align: center">Klip Nurhaliza dan Alan berduaan di taman lalu berciuman.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>MUSIK</strong></p>
<p style="text-align: center">Demi kejujuran… Bagaikan rumput yang bergoyang</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center">Klip semua karakter berkumpul menghadap kamera.</p>
<p style="text-align: center"> </p>
<p style="text-align: center"><strong>CUE TITLE</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Maswendo Hardwick’s</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>RUMPUT YANG BERGOYANG</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>© IBS Television Studios</strong></p>
<p>***</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center"><strong>Episode 1: Putri yang Ditukar</strong></p>
<p> </p>
<p>16 tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit yang bergengsi di Jakarta, pokoknya kelihatannya sudah jelas-jelas tidak menggambarkan rumah sakit. Banyak suster yang berjalan kesana kemari, papan tanda yang jelas-jelas palsu dan menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah rumah sakit.</p>
<p>Di ruangan bayi, di mana banyak ranjang bayi yang terkumpul di ruangan tersebut. Seorang suster telah selesai mengurusi bayi-bayi tersebut sebelum akhirnya pergi keluar dari ruangan tersebut.</p>
<p>Tanpa sepengetahuan suster tersebut, Erlanda dan Malena diam-diam memasuki ruangan bayi tersebut. Tanpa berkata apapun lagi, mereka segera menukarkan bayi mereka yang terlihat tidak cantik dengan bayi yang terlihat paling cantik sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Atau lebih tepatnya, bayi bernama Nurhaliza ditukar dengan bayi yang bernama Fitri.</p>
<p>***</p>
<p>Empat hari setelah melarikan diri dari keluarganya sendiri, Nurhaliza tengah duduk sambil mengemis di alun-alun Bandung pada jam 10 malam, ia hanya duduk di depan lingkungan Mesjid Raya Bandung yang sudah sangat sepi itu, meskipun di jalan alun-alun masih ada beberapa mobil dan motor yang berjalan kesana kemari.</p>
<p>Nurhaliza tidak punya uang sama sekali sejak ia kabur dari rumahnya sendiri di Jakarta, maka ia sama sekali belum makan, ia merasa kelaparan dan butuh makanan, meskipun ia memakan makanan dari tempat sampah.</p>
<p>Tidak ada yang memperhatian Nurhaliza sama sekali, bahkan tidak ada satu orangpun yang berbelas kasihan pada gadis malang itu. Tetapi ada seorang gadis dengan rambut pirang yang melihat Nurhaliza dengan merasa kasihan.</p>
<p>Gadis rambut pirang itu menunjuk Nurhaliza kepada ayahnya “Lihat, ayah, kasihan sekali gadis itu.” Ia menatap bekas luka pada tubuh Nurhaliza “Dia pasti disiksa habis-habisan,”</p>
<p>Pria yang merupakan seorang ayah dari gadis rambut pirang itu berkata “Masya Allah, kasihan sekali gadis itu.”</p>
<p>“Sebaiknya kita temui dia.” ucap gadis rambut pirang itu lagi sebelum mereka berdua menemui Nurhaliza yang sedang duduk menangis.</p>
<p>Pria tersebut bertanya “Kamu tidak apa-apa? Kamu kenapa?” Nurhaliza pun tidak menjawab.</p>
<p>Gadis rambut pirang itu berpikir, <em>Wah, dia pasti telah menderita, masya Allah. Pasti dia diusir dari rumahnya sendiri. Atau mungkin dia kabur dari rumah setelah disiksa. </em>Gadis tersebut berkata pada Nurhaliza “Kau tidak perlu takut, kami berdua adalah orang baik-baik.” Ia memperkenalkan diri “Namaku Fitri, aku hanya ingin membantumu. Siapa namamu?”</p>
<p>Priaitu berkata “Sudahlah, Fitri,” Ia berkata pada Nurhaliza “Hai, kau bisa pulang bersama kami. Sesampai di rumah, mungkin kau bisa menjelaskan apa yang terjadi. Saya Prabu, ayah Fitri. Ayo, kau bisa pulang bersama kami. Mungkin mulai sekarang kau bisa tinggal bersama kami.” Pria tersebut membantu Nurhaliza berdiri sebelum mereka bertiga pergi meninggalkan alun-alun dengan menaiki bus malam.</p>
<p>***</p>
<p>Sesampai di rumah Prabu yang ternyata kontrakan, Nurhaliza menceritakan segalanya sambil memakan sepiring nasi, tahu, tempe, dengan lalap, di depan Prabu dan Fitri di ruang makan tanpa meja dan kursi, melainkan hanya karpet sebagai alas duduk.</p>
<p>Nurhaliza bercerita sambil bersedih “Aku sebenarnya kabur dari keluargaku sendiri yang kerap kali menyiksaku. Mereka memperlakukanku bagaikan pembantu yang berperan sebagai TKW di luar negeri. Aku seringkali bolos sekolah akibat aku menderita dari siksaan seluruh keluargaku. Makanya aku kabur ke kota ini,” Nurhaliza selesai memakan makan malamnya “Aku sudah kenyang.”</p>
<p>Fitri melihat masih ada banyak sisa di piring makan malam Nurhaliza, ia bertutur “Itu belum habis, Nurhaliza. Makanlah, kau lapar sekali. Kau selama beberapa hari…”</p>
<p>Nurhaliza tidak nafsu makan “Aku tidak lapar.”</p>
<p>Prabu menambah “Sudahlah, jika kau tidak mau menghabiskan makan malammu, kau harus beristirahat beberapa hari. Kau bisa tinggal bersama kami selama yang kau mau.”</p>
<p>Fitri berkata “Katanya tadi dia bisa tinggal bersama kita untuk selamanya, Ayah,”</p>
<p>“Kita sedang dilanda musibah, Fitri! Rumah kita sudah disita untuk selamanya sejak Ayah di-PHK. Uang kita habis, Fitri. Bagaimana kita mau menampung seorang tamu jika kita masih tidak punya uang?!” Prabu pun mendesah “Sudahlah, kau harus tidur sekamar dengan gadis itu, Fitri. Besok kau harus berangkat ke sekolah.”</p>
<p>“Baik, Ayah.” Ucap Fitri “Ayo,” Ia mengajak Nurhaliza berjalan menuju kamarnya.</p>
<p>Saat mereka berdua memasuki kamar Fitri, mereka melihat cat dinding warna kuning yang sudah mengelupas, lantai kotor dan hanya beralaskan tikar hitam. Jangan harap ada kasur sungguhan di kamar tersebut.</p>
<p>Fitri bertanya pada Nurhaliza setelah mereka berdua duduk di atas tikar “Omong-omong, siapa namamu?”</p>
<p>“Nurhaliza,”</p>
<p>“Kau bisa menjadi saudariku, Nurhaliza, jika keluargamu benar-benar menyiksamu. Atau aku anggap kau saudariku sekarang, Nurhaliza.”</p>
<p>“Apa maksudnya?”</p>
<p>Fitri pun mengganti topik pembicaraan “Besok kau sebaiknya pergi ke sekolah bersamaku,”</p>
<p>Nurhaliza menjawab dengan ragu “Ta… Tapi, aku tidak masuk sekolah yang sama denganmu.”</p>
<p>“Tidak apa-apa, kita ‘kan harus selalu bersama sebagai saudari,”</p>
<p>“Kau bahkan bukan saudariku,”</p>
<p>“Makanya kuanggap kau saudariku sekarang. Kau butuh teman selain diriku juga, Nurhaliza. Aku masih punya banyak teman, kok, meskipun ayahku di-PHK dan kami jatuh miskin.”</p>
<p>“Aku hanya ingin istirahat,” Nurhaliza segera berbaring.</p>
<p>“Ya, kau harus istirahat, besok kau harus pergi ke sekolah bersamaku,”</p>
<p>“Aku bukan murid yang belajar di sekolahmu,”</p>
<p>“Memang bukan, tapi akan kuperkenalkan teman-temanku pada dirimu,” Fitri berbaring di samping Nurhaliza “Omong-omong, maaf ini kelihatannya bukan kamar yang layak untukmu,”</p>
<p>“Aku tinggal di kamar yang lebih buruk,” Nurhaliza mengungkapkan sebelum akhirnya tertidur.</p>
<p>***</p>
<p>Pukul 09:20 pagi, semua siswa berseragam putih abu-abu berlari atau berjalan keluar dari kelas masing-masing menuju kantin atau pedagang kaki lima di depan lingkungan sekolah untuk menikmati waktu istirahat.</p>
<p>Jangan bayangkan sekolah negeri tersebut seperti SMA 3 ataupun SMA 5 Bandung, lingkungan sekolah tersebut sangat kumuh, banyak debu di setiap sudut sekolah tersebut, bahkan tembok, kursi taman, dan bahkan terlihat sudah kuno dan tidak modern lagi.</p>
<p>Fitri, tidak seperti siswa-siswi yang lain, ia menemui Nurhaliza yang hanya memandang setiap siswa yang mengantre untuk membeli makanan dari beberapa pedagang kaki lima yang berjualan itu.</p>
<p>Fitri pun menyapa Nurhaliza “Nurhaliza, kau sudah dapat teman?”</p>
<p>Nurhaliza menggeleng “Tidak ada yang ingin berkenalan denganku hanya dengan melihat wajah mereka saja, sekarang aku hanya ingin pulang.”</p>
<p>“Ayolah, Nurhaliza, kau butuh teman yang banyak,”</p>
<p>Lalu seorang lelaki yang berwajah seperti orang Kanada dengan rambut hitam pendek menemui Fitri “Hai, Fitri,”</p>
<p>“Hai, Farel,” Fitri mencium pipi Farel “Oh, ini teman gue, Nurhaliza, dia… baru-baru saja pindah rumah, maksudku…” Fitri mencoba untuk berbohong agar pandangan Farel terhadap Nurhaliza tidak buruk “Dia adalah siswa yang sedang menjalani pertukaran pelajar kok. Dia sementara ini tinggal di rumah gue.”</p>
<p>Farel pun heran, padahal ia baru-baru ini mengetahui bahwa ayah Fitri, Prabu, telah di-PHK dan jatuh miskin. Ia juga memandangi seragam Fitri yang cukup kotor dan kampungan.</p>
<p>Farel hanya berkata “Um… Hebat sekali ada siswa pertukaran pelajar yang tinggal di rumah lo, Fit,”</p>
<p>“Ah, biasa saja,”</p>
<p>Farel pun berpikir, <em>Kenapa tiba-tiba saja Fitri menerima siswi pertukaran pelajar sih? Padahal dia akhir-akhir ini banyak menghadapi kesulitan</em>.</p>
<p>Sementara Fitri berpikir, <em>Gue harus merahasiakan identitas Nurhaliza yang sebenarnya dari siapapun di sekolah ini. Jika ada orang yang mengetahui yang sebenarnya, gimana Nurhaliza bisa… Sudahlah, meski aku sudah bagaikan gadis kampungan, pokoknya semuanya tidak boleh tahu apapun yang berkaitan dengan Nurhaliza.</em></p>
<p>Sementara Nurhaliza yang hanya memandang Fitri dan Farel mengobrol merasa tidak ingin menganggu kedekatan mereka, maka ia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua berbicara dengan satu sama lain. Ia berjalan melewati beberapa siswa yang sedang duduk di pinggir pagar sekolah menikmati jajanan mereka mulai dari mie bakso, batagor, cireng, bubur ayam, sate ayam, hingga cakue.</p>
<p>Beberapa gadis sekolah tersebut yang tengah berkumpul memandang Nurhaliza yang memiliki beberapa luka bekas siksaan keluarganya sendiri. Mereka mulai bergosip buruk tentang Nurhaliza, ada yang berkata bahwa Nurhaliza merupakan gadis yang tidak pantas apapun, pokoknya hal tersebut tidak terdengar oleh Nurhaliza.</p>
<p>Nurhaliza sangat tersinggung saat menganggap gadis-gadis sekolah tersebut membicarakan hal buruk tentang dirinya. Gadis malang itu berjalan keluar dari lingkungan sekolah tersebut. Namun, saat ia akan berjalan meninggalkan lingkungan sekolah tersebut, ia memandang dua orang siswa laki-laki berseragam sekolah.</p>
<p>Salah satu siswa yang memiliki kepala gundul berbicara pada siswa yang memiliki rambut pendek rapi dengan wajah blasteran Inggris “Ayolah, Alan, pasti ada cewek yang lo sukai di sekolah ini! Pasti ada!”</p>
<p>“Erik, lihat, gua ga minat dengan cewek-cewek yang ada di sekolah. Mereka cantik? Emang, Rik. Tapi mereka bukan tipe gua, Rik. Gue sebenernya butuh istri yang baik, taat, setia, lembut…”</p>
<p>“Stop,” Erik segera memotong kalimat Alan “Terus lo mau cewek macam mana, Alan?! Bilang aja cewek cantik kek! Cewek cantik kayak Fitri lah!” Erik pun menunjuk Fitri, namun ia melihat Fitri sedang berbicara dengan Farel. Hal tersebut membuat dirinya cemburu, sangat cemburu saat kamera <em>close-up </em>ke wajahnya.</p>
<p>“Rik? Rik?” Alan memanggil Erik.</p>
<p>“Ngapain si cowok brengsek itu deket-deket sama Fitri, cewek cantik sedunia?!”</p>
<p>“Bung, dia udah ada yang punya. Farel udah punya Fitri,”</p>
<p>“Tetep aja! Gue ga setuju! Seharusnya gue punya Fitri! Gue cinta mati sama Fitri! Gue cinta mati!” Erik pun berjalan meninggalkan Alan.</p>
<p>Sementara Alan tidak mengikuti Erik, melainkan melihat Nurhaliza yang terlihat sangat malang sekali. Alan pun berpikir, <em>Kasihan sekali gadis itu, dia… dia… mengemis di sekolah ini. Tapi… Dia benar-benar gadis yang… dia… Gue ga bisa berkata apa-apa, dia…</em></p>
<p>Alan pun berjalan menemui Nurhaliza yang meratapi dirinya. Nurhaliza menatap beberapa gadis yang sedang bergosip tentang dirinya. Laki-laki tampan itu menemui Nurhaliza “Kau tidak apa-apa?” Nurhaliza terkejut ada seorang cowok berseragam sekolah seperti Alan menemuinya. Alan pun melihat bekas luka pada lengan Nurhaliza “Kau kenapa luka-luka begitu? Apa mereka menyiksamu saat kau mengemis?”</p>
<p>Nurhaliza pun berpikir, <em>Astaga, kenapa cowok ini ke sini sih? Ya Tuhan, kenapa cowok setampan ini datang kepadaku? Padahal ‘kan aku luka-luka begini dan berpenampilan seperti pembantu murahan.</em></p>
<p>Alan pun berkata “Ayolah, jangan sembunyikan. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Sebaiknya kau jawab secara halus dan pelan-pelan saja. Aku takkan bilang siapapun,”</p>
<p>Nurhaliza hanya menjawab “Tidak, tidak, tidak. Kau adalah cowok yang baik mau menemuiku meski aku dekil kayak gini, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku tidak bisa…”</p>
<p>Alan pun mengambil secarik kertas dan pulpen dari saku celana abu-abunya, ia menulis sesuatu “Ini,” Ia memberi secarik kertas tersebut kepada Nurhaliza “Jika kau butuh curhat, telepon atau SMS saja aku. Kau tidak perlu menjadi tertutup.”</p>
<p>Nurhaliza bertanya “Um… Kenapa… Kenapa kau menemuiku? Padahal aku ini terlihat buruk,”</p>
<p>Alan hanya menjawab “Aku… aku sepertinya… ingin berteman dengan gadis sederhana seperti dirimu,” Ia menyentuh pipi kanan Nurhaliza bersamaan dengan lagu “Dilema” yang dipopulerkan oleh Cherrybelle terdengar bersamaan dengan beberapa <em>backup dancer </em>siswa-siswi mulai menari meniru koreografi Cherrybelle seperti dalam video klip lagu tersebut di sekitar mereka,</p>
<p>Koreografi siswa-siswi terhadap lagu “Dilema” itu bahkan tidak mirip dengan yang aslinya, sebaliknya, justru terlihat kaku dan robotik, lebih buruknya, tarian tersebut sepertinya terlihat tidak perlu.</p>
<p>“Nurhaliza,” panggil Fitri menemui Alan dan Nurhaliza saat musik berhenti.</p>
<p>Alan pun terkejut dengan kedatangan Fitri “Fitri?” Ia juga menatap Nurhaliza “Fitri, lo kenal gadis ini?”</p>
<p>Fitri pun menjawab “Ya…” Ia pun berbohong lagi “Dia adalah siswa pertukaran pelajar yang numpang di rumah gue.”</p>
<p>Alan pun memperhatikan bekas luka pada Nurhaliza, ia heran “Benarkah? Dia siswa pertukaran pelajar? Dia belajar di sini nanti?”</p>
<p>“Um… Tidak, dia akan belajar di… SMA 3, ya SMA 3.”</p>
<p>Alan terlihat tidak yakin “Ya, oke, bagus untuk dia,” katanya sebelum bel masuk berdering.</p>
<p>“Nah, Nurhaliza, aku masuk kelas dulu ya, kita nanti pulang bareng, oke?” Fitri berkata pada Nurhaliza “Ayo, Alan, kita masuk.” Ia kembali memasuki gedung sekolah bersama Alan.</p>
<p>Nurhaliza pun berpikir, <em>Mereka tampak baik banget, apalagi si Alan, dia cakep banget…</em></p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke kediaman keluarga Nurhaliza sendiri, setelah lima hari meninggalkan rumah tersebut, Malena, Aira, dan Erlanda kembali memasuki rumah tersebut pukul 19:15. Mereka melihat rumah tersebut kembali dipenuhi oleh debu-debu pada setiap sudut rumah tersebut. Padahal, hanya ada sedikit debu di rumah tersebut.</p>
<p>Aira berkata “Ah, mama, gue capek banget, gue lapar! Gue mau makan malam yang enak banget! Pokoknya yang super duper enak. Eh, si Nurhaliza bisa bikinin kita makan malam yang istimewa banget, tapi dia ga bisa makan sama sekali, masakannya sendiri,”</p>
<p>Malena pun menjawab “Ya, jika lagi-lagi si Nurhaliza menyajikan makanan mentah, tidak enak, dan hambar, akan Mama siksa habis-habisan biar dia tahu rasa bagaimana dia…”</p>
<p>Erlanda memotong “Sudah, Ma, biar Papa saja,”</p>
<p>“Pa, Mama ‘kan biasa menghukum dia, jadi Mama ‘kan bisa menghukum lebih dia secara keras,”</p>
<p>Erlanda pun berkata dengan nada jahat “Papa bisa menghukum dia habis-habisan, biar dia kapok membuat kesalahan yang sama, dia sering mengecewakan kita, dia bahkan sering ingin menjatuhkan kita!” Ia pun mulai menyebar fitnah “Dia bahkan pernah mencoba untuk membunuh kita,”</p>
<p>“Astaganaga,” Aira berteriak dengan nada berlebihan, kamera pun <em>close-up </em>pada wajahnya “Ah, gue udah lapar banget, Ma!! Nurhaliza!!”</p>
<p>“Nurhaliza!!” teriak Malena saat mereka bertiga sudah duduk di depan meja makan yang mewah terlapisi dengan taplak meja putih bersih.</p>
<p>Erlanda berteriak dengan nada tinggi “Nurhaliza! Kamu lama banget sih! Gimana sih kamu! Cepat ke sini!! Ke sini!! Cepat!!”</p>
<p>Aira pun berkata dengan santai “Cepat buatkan makanan,”</p>
<p>“Nurhaliza, cepat buatin makan malam! Cepat!!” teriak Malena.</p>
<p>Meskipun mereka berteriak, tidak ada tanda-tanda dari Nurhaliza. Nurhaliza tidak muncul ke ruang makan sama sekali, mereka pun sangat tidak suka menunggu kedatangannya. Bagi mereka, Nurhaliza itu bagaikan TKW yang terjebak di Arab Saudi dan terpaksa bekerja untuk mereka, majikan yang kejam dan stereotipikal serta sering dilaporkan di berbagai media.</p>
<p>“Di mana sih itu anak?!” Erlanda pun berdiri sebelum berjalan menuju lantai bawah tanah untuk mencari Nurhaliza.</p>
<p>Malena pun berkata “Dia kerjaannya tidur melulu! Tidur melulu!”</p>
<p>Erlanda pun berteriak “AAAAAAAAAAAAARRRRGH!!!”</p>
<p>“Ada apa, Pa?”</p>
<p>“Nurhaliza!! Nurhaliza!! Anak badung itu menghilang! Dia hilang!!!”</p>
<p>Kamera pun <em>close up </em>ke arah wajah Malena yang berteriak seiring musik dramatis diputar “APA?!”</p>
<p>***</p>
<p>“Kita harus makan seadanya, wajar, kita sedang kesulitan, apalagi kita berdua memiliki tamu yang sama-sama menderita dengan kita,” ucap Prabu pada Fitri sambil memakan sepiring nasi, usus goreng, dan lalap dengan sambal dan duduk di atas tikar. Kalimat tersebut selalu diulang setiap makan malam bersama Fitri sejak Prabu kena PHK dan jatuh miskin.</p>
<p>Nurhaliza pun berkata “Ya, aku tidak pernah merasakan masakan enak seperti kue <em>red velvet</em>, spageti, pizza, dan makanan mahal. Tapi setidaknya aku masih bisa makan,”</p>
<p>“Fitri,” Farel memanggil di depan pintu yang kebetulan terbuka “Gue bisa ngomong sama lo ga?”</p>
<p>Fitri pun bangkit dari atas tikar “Ya,” Ia pun berjalan menemui Farel “Lo ingat gue cium pipi lu di depan rumah kontrakan lu pas pertama kali pindah, ‘kan?”</p>
<p>“Gue ingat kok,” Fitri mencium pipi Farel.</p>
<p>“Fitri, gue pengen membantumu, tapi…”</p>
<p>“Ga, ga usah, lu ga usah repot-repot, Farel.”</p>
<p>“Ayolah, gue pengen ngebantu lo.”</p>
<p>“Ga usah, dibilangin ga usah, gue yakin Allah pasti akan ngebantu keluarga gua.” Fitri berkata.</p>
<p>“Ya, gue setuju,” Farel pun ingin berciuman dengan Fitri.</p>
<p>“Farel, lu ngapain?” Fitri menyadari tingkah laku Farel.</p>
<p>“Gue pengen cium lo,”</p>
<p>“Cium pipi gue aja,”</p>
<p>“Ga, gue pengen cium bibir lo, gue pengen <em>first kiss </em>yang sebenernya,”</p>
<p>“Tapi Farel…”</p>
<p>“Sudahlah,” Farel pun berupaya untuk berciuman dengan Fitri, namun hal itu terhenti.</p>
<p>“Stop! Stop! Stop! Stop!! Stop!!!” Seorang wanita berambut merah panjang muncul dari entah dari mana menemui Farel.</p>
<p>“Mama?!” Farel memandang wanita tersebut.</p>
<p>“Ngapain kamu di sini, Farel?! Siapa dia?!”</p>
<p>“Dia pacar gue, Ma. Dia Fitri,”</p>
<p>Fitri pun memperkenalkan dirinya “Saya Fitri, Bu…”</p>
<p>Wanita tersebut langsung menolak “Ga, ga, ga, ga! Farel, Mama ga sudi kamu pacaran dengan gadis yang dekil kayak dia!!” kamera pun segera <em>close-up </em>ke arah wajah wanita itu dengan musik dramatis yang dimainkan berulang-ulang. Ia segera menarik Farel meninggalkan Fitri “Ayo kita pulang!!”</p>
<p>“Tapi, Ma!!” Farel berteriak.</p>
<p>“Farel!” Fitri pun berlutut saat Farel meninggalkan dirinya.</p>
<p>Nurhaliza menghampiri Fitri “Fitri, kau kenapa?”</p>
<p>Musik dramatis menghiasi Fitri yang berteriak dengan nada sumbang dan amat sangat panjang “Farel, tidak! Farel! Farel, cintakuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!”</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p style="text-align: center"><strong>Bersambung</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>IBS</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>TELEVISION STUDIOS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/">Rumput yang Bergoyang Episode 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/12/rumput-yang-bergoyang-episode-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Kesuksesan</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alizzamurtadho]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2014 17:05:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[jalan menuju kesuksesan.]]></category>
		<category><![CDATA[menulis puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi nasehat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jalan Menuju Kesuksesan   Perjalanan menuju bahagia tak selalu lurus Begitu juga arah kesuksesan yang sering tak terurus Ada tikungan bernama kegagalan Ada bundaran bernama kegalauan Bahkan&#8230; Lampu merah bernama musuh!   Dalam perjalanan&#8230; kita akan mengalami ban kempes dan pecah bernama sakit hati&#8230; Itulah realita hidup.   Tetapi&#8230; Ketika kita membawa ban serep berwujud ... <a title="Jalan Menuju Kesuksesan" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/" aria-label="Read more about Jalan Menuju Kesuksesan">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/">Jalan Menuju Kesuksesan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Jalan Menuju Kesuksesan</strong></em></p>
<p> </p>
<p>Perjalanan menuju bahagia tak selalu lurus</p>
<p>Begitu juga arah kesuksesan yang sering tak terurus</p>
<p>Ada tikungan bernama kegagalan</p>
<p>Ada bundaran bernama kegalauan</p>
<p>Bahkan&#8230;</p>
<p>Lampu merah bernama musuh!</p>
<p> </p>
<p>Dalam perjalanan&#8230;</p>
<p>kita akan mengalami ban kempes dan pecah</p>
<p>bernama sakit hati&#8230;</p>
<p>Itulah realita hidup.</p>
<p> </p>
<p>Tetapi&#8230;</p>
<p>Ketika kita membawa ban serep berwujud tekad</p>
<p>Menyediakan mesin bernama ketekunan</p>
<p>Asuransi berupa iman</p>
<p>Pengemudi bernama Allah!</p>
<p> </p>
<p>Disitulah&#8230;</p>
<p>Disitulah kita akan sampai ke daerah tujuan!</p>
<p>yaitu tempat yang disebut kesuksesan</p>
<p>cinta dan kebahagiaan.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/">Jalan Menuju Kesuksesan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/11/jalan-menuju-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 2</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[YoniEfendi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2014 07:03:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Yoni Efendi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA 2009 September kelabu, mendung menyelimuti langit Jakarta, gerimis turun pelan diiringi angin yang bertiup kencang, sementara matahari diam di balik awan hitam. Gelap disetiap sudut kota tak terkecuali di ruang kamar kost di kawasan pemukiman daerah kemang Jakarta Selatan. Hanya suara pembaca berita di televisi yang terdengar samar sedang mengiklankan indahnya objek wisata daerah ... <a title="Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 2" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/" aria-label="Read more about Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 2">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/">Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 2</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>JAKARTA 2009</strong></p>
<p style="text-align: justify">September kelabu, mendung menyelimuti langit Jakarta, gerimis turun pelan diiringi angin yang bertiup kencang, sementara matahari diam di balik awan hitam. Gelap disetiap sudut kota tak terkecuali di ruang kamar kost di kawasan pemukiman daerah kemang Jakarta Selatan.</p>
<p style="text-align: justify">Hanya suara pembaca berita di televisi yang terdengar samar sedang mengiklankan indahnya objek wisata daerah Lombok.</p>
<p style="text-align: justify">Sejenak lelaki berusia sekitar 26 tahun yang dari tadi menonton dengan seksama mulai browsing dengan laptop kecil di depannya, beberapa keywords tentang objek wisata Lombok dituliskannya di kolom searching Google. Matanya yang dari tadi seperti menyimpan kegelisahan mulai berbinar, entah apa yang ditemukannya pada mesin pencari serba ada tersebut yang sekarang memaparkan beberapa gambar pantai indah di hadapannya. Tak sampai di situ, penelusuran dilanjutkannya pada situs yang lain, situs info harga dan pemesanan tiket pesawat.</p>
<p style="text-align: justify">Bagas merenung, sebatang rokok yang tergeletak di pinggir asbak dihisapnya perlahan, dan hembusan nafas panjang yang kemudian dilepaskannya membentuk gumpalan asap yang menambah kusam ruang kamar kostnya yang gelap, karena hanya diterangi cahaya monitor televisi dan cahaya monitor laptopnya. Diluar kamar hujan terdengar semakin deras mengguyur.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Maaf Raysha, kamu pantas untuk yang lebih baik!”</em> Gumamnya dalam hati, sambil memandangi gambar seorang gadis cantik yang tersusun dalam beberapa gambar dengan beberapa pose manis yang menjadi wallpaper di layar laptop.</p>
<p style="text-align: justify">Teringat oleh Bagas pertengkarannya dengan Raysha tadi siang.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Bagas, kamu serius mau mengakhiri hubungan ini?”</em> Suara serak Raysha sambil menahan isak tangisnya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Iya, karena percuma! Kamu pantas untuk yang lebih baik! Sementara, aku juga mau pergi!”</em> Jawab Bagas sedikit angkuh namun berusaha menahan gejolak berat di dadanya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Kamu mau pergi kemana?”</em> Timpal Raysha, sambil menghapus air matanya yang sudah tidak kuasa ditahannya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Kelangit! Tempat dimana kamu tidak bisa ikut!”</em> Bagas menghentak, rasa cintanya pada Raysha, dan bencinya pada keadaan yang tidak mendukung hubungannya membuat sisi temperamentalnya sedikit keluar. Dan pertengkaran itu hanya berakhir begitu saja, Bagas melaju pergi dengan sepeda motornya, meski kemudian berbalik dan melihat dari jauh Raysha menaiki mobil yang sudah menunggu tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah supir pribadi Raysha terlihat membantu Raysha menaiki mobil tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Bagas mematikan televisi dengan remote, untuk kesekian kali asap rokok mengepul memenuhi kamar kostnya yang tidak terlalu luas, beberapa puntung rokok berserakan di dalam asbak. Jari-jarinya bermain di keyboard Laptop, sebuah konfirmasi pemesanan tiket Jakarta Lombok untuk dua hari kedepan tertera dilayarnya. Tanda panah bergerak-gerak di layar laptop tersebut dan tepat di kolom <em>“Yes”</em> Jari Bagas menekan touchpad dengan pelan.</p>
<p style="text-align: justify">Hujan semakin deras di luar kamar, suara petir sesekali menggetarkan jantung. Beberapa laju mobil dan motor terdengar meraung-raung di jalanan. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Hati Bagas membeku seiring matanya yang terpejam.</p>
<p style="text-align: justify">***</p>
<p style="text-align: justify">Raysha berlari-lari kecil, matanya mencari-cari papan petunjuk di sepanjang koridor Bandara. Orang-orang yang ramai di sepanjang koridor dilewatinya sambil berlari zigzag. Sebuah papan billboard bertuliskan “<strong>Skywalk Airways</strong>” menghentikan langkahnya. Ditemani Rindu, sahabat sejati yang dari tadi berusaha mengikuti langkahnya, Raysha bergegas masuk ke dalam dan berdesakan dengan puluhan orang lainnya yang sepertinya punya tujuan yang sama dengannya.</p>
<p style="text-align: justify">Dijaga oleh beberapa petugas Bandara, Raysha dan beberapa orang lainnya dipersilahkan masuk secara bergantian, karena kapasitas ruangan yang sangat kecil. Wajah-wajah tersebut seperti halnya Raysha menyiratkan tanda tanya dan kecemasan.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>14.Bagas Brahmana Putra.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Badan Raysha lemas, nama Bagas tertera dalam papan pengumuman penumpang pesawat Skywalk Airways yang dilaporkan hilang dan belum terdeteksi keberadaannya. Rindu sahabatnya berusaha menopang tubuh Raysha yang seketika hampir terjatuh dan menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi di ruang tunggu.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Pesawat hilang dari pantauan radar sekitar pukul 14:00 wib, sebelum hilang sempat terjadi komunikasi antara Pilot dengan petugas Bandara, tetapi tidak lama pesawat yang sebelumnya berada di ketinggian 35.000 kaki tiba-tiba menghilang.”</em> Suara pembaca berita di televisi menyampaikan berita yang membuat seisi ruangan tempat Raysha duduk saling bersahutan isak tangis dan suara panik.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Bagas benar-benar pergi ke langit!”</em> ujar Raysha pelan setengah berbisik pada Rindu di sampingnya. Tangis Raysha pecah seketika.</p>
<p style="text-align: justify">***</p>
<p style="text-align: justify"><em>Short Message Service</em> yang tertera di layar ponsel dibaca lagi pelan-pelan oleh Raysha, pesan yang sudah dibacanya puluhan kali sejak 6 hari yang lalu, sebuah pesan pendek dari Bagas yang menyampaikan bahwa dia akan berhenti kuliah, menjual motornya dan akan pergi ke Lombok. Seorang teman lama mengajaknya untuk berbisnis di sana. Skill Photography yang dimilikinya secara otodidak dan dijadikan hobby sekian tahun akan menghasilkan uang di Lombok.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Tim SAR masih melakukan pencarian Pesawat Skywalk Airways KH 674. Berbagai pihak memprediksi pesawat jenis Boeing 737-400 yang naas tersebut mengalami kerusakan mesin saat dalam penerbangan dari Jakarta menuju Lombok dan diprediksi terjatuh di daerah perairan sekitar samudrea hindia.”</em> Pembaca berita televisi masih terus memberitakan kecelakan pesawat yang ditumpangi Bagas.</p>
<p style="text-align: justify">Raysha membanting HP di sofa, dan remote yang dari tadi tergeletak diambilnya untuk kemudian memainkan jari di tombol-tombol remote tersebut.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Perkiraan pembajakan bisa saja terjadi pada pesawat Skywalk Airways KH 674, karena jika terjatuh seharusnya bangkai pesawat sudah bisa ditemukan, tetapi hingga pencarian hari ke-6 belum ada tanda-tanda keberadaan pesawat naas tersebut beserta penumpangnya.”</em> Sebuah televisi lain memberikan analisa yang berbeda mengenai pesawat yang ditumpangi kekasihnya itu.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Kriing”</em></p>
<p style="text-align: justify">Suara telpon terdengar dari ruang depan, dan tak lama Mbok Painem, pembantu di rumah Raysha mengetuk dari balik pintu kamar.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Non Raysha, ada telpon dari Ibu Mas Bagas!”</em>Sahut pembantunya itu pelan.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Baik Mbok, saya segera keluar!”S</em>ahut Raysha sambil menyeka air matanya dengan tissue.</p>
<p style="text-align: justify">Perlahan Raysha membuka pintu kamar dan bergegas ke ruang depan. Di ruang tamu tersebut terlihat Ibunya yang langsung menatapnya dengan sorot tajam. Raysha berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab. Di samping Ibunya terlihat Bapaknya yang sedang asyik bercengkrama dengan koleganya. Raysha sangat kenal dengan kolega Bapaknya tersebut. Lelaki yang sudah berumur sekitar 60 tahunan tetapi tetap terlihat energik itu adalah Om Setyono Diningrat. Seorang konglomerat, pengusaha property yang sudah membangun beberapa perumahan elit, Mall dan gedung perkantoran di daerah Jakarta. Bapak Raysha yang seorang petinggi di instansi Pemda kerap membantu perizinan untuk Om Setyono. Hasilnya Raysha bisa tinggal di perumahan yang cukup mewah juga dengan segala kecukupan yang nilainya sebenarnya melebihi pendapatan Bapaknya. Disamping Om Setyono duduk seorang pemuda berbadan tegap yang juga langsung memandang Raysha sambil melempar senyuman.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah sedikit berbasa-basi Raysha melintas di ruang depan dan langsung menuju meja telpon di sudut ruangan.</p>
<p style="text-align: justify">Baru saja gagang telepon menempel di kupingnya, dari seberang terdengar sapaan seorang perempuan dengan suara serak dan terputus-putus yang diselingi sesekali isak tangis.</p>
<p style="text-align: justify">***Bersambung</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/">Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 2</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/08/pelangi-hitam-putih-part-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 1</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[YoniEfendi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2014 04:15:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Romantic]]></category>
		<category><![CDATA[Yoni Efendi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Kamu mau pergi kemana?” “Kelangit! Tempat dimana kamu tidak bisa ikut!” Sepenggal percakapan itu masih kuat membekas dalam ingatan Raysha. Lima tahun yang lalu kata-kata itu mengalir dalam serangkaian kalimat penuh emosi. Bukan karena benci, tapi karena harga diri yang tercabik. Dua tahun menjadi kekasih Raysha tidak cukup bagi Bagas bisa mengambil rasa simpatik kedua ... <a title="Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 1" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/" aria-label="Read more about Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 1">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/">Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kamu mau pergi kemana?”</em></p>
<p><em>“Kelangit! Tempat dimana kamu tidak bisa ikut!”</em></p>
<p style="text-align: justify">Sepenggal percakapan itu masih kuat membekas dalam ingatan Raysha. Lima tahun yang lalu kata-kata itu mengalir dalam serangkaian kalimat penuh emosi. Bukan karena benci, tapi karena harga diri yang tercabik. Dua tahun menjadi kekasih Raysha tidak cukup bagi Bagas bisa mengambil rasa simpatik kedua orang tuanya, hanya karena bapak Raysha seorang pejabat publik yang cukup dikenal masyarakat luas, Bagas seperti layaknya pungguk merindukan bulan. Sorotan mata ketidaksukaan hingga ucapan yang menyakitkan hati menjadi menu rutin setiap kali dia harus berhadapan dengan orang tua Raysha. Hingga akhirnya restu yang tidak kunjung didapat membuat Bagas membentur jalan buntu dan mengambil sikap “<em>mencampakkan Raysha</em>”.</p>
<p style="text-align: justify"> </p>
<p style="text-align: justify">***</p>
<p style="text-align: justify">Jam dinding membunyikan dentang dua belas kali, jarum panjang dan jarum pendek berpagut dalam satu peraduan di puncak lingkaran kehidupan. Hanya sesaat, karena pada detik berikutnya jarum panjang kembali melaju pergi. Cinta memang tidak abadi, datang dan pergi, tapi seringkali ada pertemuan berikutnya dan mungkin di peraduan yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify">Raysha menghela nafas panjang, dipandangnya wajah Bara yang tertidur pulas disampingnya. Wajah bocah berusia 2 tahun itu seperti obat mujarab yang mengobati kegelisahannya setiap kali mengenang kehidupannya yang rumit, tapi seringkali juga Bara adalah pengingat kepiluan-kepiluan yang pernah di alaminya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Kalau kita punya anak nanti, namanya siapa?”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“Siapa ya?Bagas Raysha, berarti Bara, cinta yang membara!”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“hahaha&#8230;tapi itukan nama anak laki-laki, kalau anak perempuan?”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“kalau anak perempuan, akan kuberi nama Raysha!”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“Loh kok namaku?”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“Anak perempuanku akan kuberi nama Raysha, karena mungkin bukan kamu yang akan menjadi ibunya!”</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>“teeett”.</em></p>
<p style="text-align: justify">Obrolan telphon sekitar enam tahun yang lalu itu terhenti. Raysha memencet tombol gagang telphon dan membiarkannya tergelantung kebawah. Disaat segala hal baik mengenai Bagas berusaha disampaikan ke Bapaknya agar mendapat restu, mestinya bukan kalimat itu yang bisa didengarnya dari kekasihnya itu.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah mengusap kening Bara, Raysha beranjak ke kursi yang ada disebelah tempat tidur. Di depannya di atas meja masih menyala laptop dengan secangkir teh hangat disampingnya, lengkap dengan biskuit coklat kegemarannya, cukup untuk menemani penyakit insomnianya sambil mengikuti fikirannya jauh ke masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify">Sudah lima tahun Bagas pergi dari kehidupannya, ke langit! Tempat dimana dia memang tidak bisa ikut. Bahkan kepergian Bagas sudah dilewatinya dengan pernikahan yang berakhir perceraian. Pernikahan dengan mantan suaminya Dodi yang hanya berumur satu tahun. Ketika Bara baru berusia lima bulan dalam kandungan, Dodi meninggalkannya, lantaran orang tua Dodi merasa cukup untuk memiliki besan seorang tahanan korupsi. Pernikahan yang awalnya sangat megah, dihadiri oleh orang-orang hebat dan ternama, dengan resepsi yang digelar disebuah hotel mewah. Hasil perjodohan seorang pejabat eselon satu di instansi pemerintahan dengan relasinya seorang pengusaha property kenamaan. Raysha Alyaa binti Darmawan dengan Dodi Faisal bin Setyono Diningrat, dan Bara lahir empat bulan setelah perceraian itu.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Mestinya tidak ada pernikahan dengan Dodi!</em>” gumam Raysha membathin. Dicengkramnya rambutnya dari dua sisi kepalanya, ditutup kedua matanya berusaha menepis bayangan yang tiba-tiba muncul, ditariknya nafas dalam-dalam. Secangkir teh hangat yang dari tadi didiamkan dinikmatinya perlahan, dilanjutkan dengan sepotong biskuit coklat yang langsung dikunyahnya dengan geram, hingga kenikmatan menjalar di sepanjang lidahnya. Raysha menarik mouse dari laptop yang dari tadi dalam posisi standby. Mulai dipilahnya lagu-lagu pilihan kesukaannya untuk di mainkan oleh winamp player, dan tak lama lantunan “ <em>Someone like you</em>” yang tersaji dalam suara indah Adelle mengalun pelan mengisi keheningan ruang 6&#215;4 meter tersebut. Kursor mouse berputar-putar di layar laptop yang dimainkan Raysha, tidak jelas file yang ingin dibukanya. Tetapi kegalauan Raysha menggerakkan kursor mouse membuka folder bertajuk “<strong>Memory</strong>”, dan dengan dua kali klik wajah-wajah masa lalu terpampang di hadapannya. Photo bagas bersama dirinya dalam posisi saling berangkulan dengan senyuman yang sumringah. Photo bersama teman-teman kuliahnya. Lalu di folder yang lain bertajuk “<strong>My Wedding</strong>”, beberapa photo yang menggambarkan sebuah pesta mewah menyegarkan lukanya yang lain, di situ terlihat dirinya menggunakan pakaian pengantin wanita adat jawa berdampingan dengan seorang lelaki berbadan tegap yang juga mengenakan pakaian pengantin pria adat jawa. Raysha terus memainkan kursor mouse membuka file photo satu demi satu, photo-photo saat bersama Bagas. Photo-photo pernikahannya dengan Dodi. Photo-photo bersama ibunya yang meninggal dua tahun yang lalu. Photo Bapaknya yang saat ini masih menjalani proses hukuman di penjara. Photo Bara ketika baru lahir, hingga berumur dua tahun. Photo-photo masa kecilnya. Semuanya seperti mengalirkan sebuah cerita yang sangat komplek. Kisah yang belum bisa di tebaknya, apakah semua ini akan <em>happy ending</em> ataukah <em>sad ending</em>?</p>
<p style="text-align: justify"> </p>
<p style="text-align: justify">***Bersambung</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/">Pelangi Hitam Putih &#8211; Part 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/07/pelangi-hitam-putih-part-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>9 Tips Mencintai Tanpa Alasan</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[IndahFebriany]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2014 02:45:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/</guid>

					<description><![CDATA[<p>            “Eh.. cowok yang duduk di pojokan kantin itu, si anak Jurusan Teknik Elektro yang fenomenal itu kan?”             “Siapa Ra? Cowok yang mana?”             “Itu yang pakai baju Kotak-kotak biru.”             “Ooo… si Genta maksudnya?”             “Lho, koq kamu tahu nama cowok misterius itu?” Rara melihat menyelidik ke arah Windy.             “Dia itu mantan ... <a title="9 Tips Mencintai Tanpa Alasan" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/" aria-label="Read more about 9 Tips Mencintai Tanpa Alasan">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/">9 Tips Mencintai Tanpa Alasan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>            “Eh.. cowok yang duduk di pojokan kantin itu, si anak Jurusan Teknik Elektro yang fenomenal itu kan?”</p>
<p>            “Siapa Ra? Cowok yang mana?”</p>
<p>            “Itu yang pakai baju Kotak-kotak biru.”</p>
<p>            “Ooo… si Genta maksudnya?”</p>
<p>            “Lho, koq kamu tahu nama cowok misterius itu?” Rara melihat menyelidik ke arah Windy.</p>
<p>            “Dia itu mantan pacar teman SMA-ku Ra yang kebetulan tinggal pas depan rumah, kenal dekat sih tidak. Sebatas tahu nama dan hanya basa-basi biasa,”</p>
<p>            “Oooo.. kirain kamu dekat, mau dong dikenalin sama Genta, ya kan Dis?” Rara tangan mencolek Disa yang sedari tadi Cuma diam membisu.</p>
<p>            “Dis… koq kamu diam terus sih. Kamu mau kan dikenalkan sama Genta?”</p>
<p>            “Ahhh… maaf tadi bilang apa?”</p>
<p>            “Disaaaa…. Kamu melamun lagi ya?”</p>
<p>            “Maaf, saya lagi tidak enak badan. Kalau gitu saya masuk ke kelas duluan ya,”</p>
<p>            “Ooo.. ternyata cowok itu namanya Genta,” Disa membatin sambil beranjak meninggalkan kantin kampus.</p>
<p>            Hai, nama saya Disa, tepatnya Disa Prasasti Kuncoro. Kalian bisa memanggil saya, Disa. Saya anak pertama dari tiga orang bersaudara. Rara dan Windy, dua sahabat karib yang selalu setia mengisi hari-hariku, baik di kampus maupun di luar kampus.</p>
<p>            Kehidupan percintaanku tidak pernah berjalan mulus. Selaaalu saja ada hambatan. Mungkin karena saya selalu memimpikan percintaan ala Romeo dan Juliet. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya saya menyerah untuk bisa jatuh cinta lagi. Tetapi, sejak beberapa bulan lalu, saya menemukan satu sosok yang selalu bisa membuat desir-desir aneh di dalam rongga dada ini. Awalnya ku pikir terkena penyakit yang mematikan, karena setiap melihat dan mendengar suara cowok itu saja, tiba-tiba oksigen seketika menghilang dan meninggalkan jejak sesak nafas, keluar keringat dingin, bahkan kadang-kadang detak jantung lebih kuat terasa dari ubun-ubun hingga telapak kaki.</p>
<p>            Dan, baru hari ini, saya mengetahui nama cowok itu, tidak sengaja dari perbincangan di kantin kampus. Genta. Nama yang menarik.</p>
<p>            “Disaaaa… astaga, kita cariin dari tadi, tujuh kali kita berdua kelilingin kampus, sudah kayak tawaf deh. Eehhh malah nyempil di taman samping. Apa yang menarik sih duduk-duduk di taman ini?” Rara terus saja nyerocos tanpa jedah.</p>
<p>            Taman, terutama taman kampus menjadi tempat terfavoritku sejak menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Memang tidak ada yang menarik sih dari taman ini, hanya ada pohon bunga plastik yang ditanam sesuka hati, tanpa mementingkan estetika sebuah taman. Meja dan tempat duduk yang terbuat dari batu. Hanya itu saja, tidak ada yang lain yang bisa dilihat, jika duduk di taman ini.</p>
<p>            Dan, satu lagi. Dari taman inilah saya bisa leluasa memandangi sosok cowok pujaan hatiku yang kebetulan, jurusannya berada tepat di depan taman ini. Tapi, ini rahasia. Tidak ada yang boleh tahu, apalagi kedua cewek ini.</p>
<p>            “Hehehe… maaf. Lagian kenapa harus keliling kampus sih, kan kalian bisa telepon ke hpku,”</p>
<p>            “Astaga Dy, bego banget sih kita berdua. Kan ada Hp,” Rara jadinya nimbuk Windy pakai buku.</p>
<p>            “Laahhh, tadi yang maksa siapa sih?” Windy masang muka manyun, tanda merajuk karena ditimbuk buku.</p>
<p>            Disa hanya bisa senyum geli melihat tingkah kedua sahabatnya. Tiba-tiba mata Disa tertuju pada sosok pujaan hati yang hari ini kebetulan tubuh jangkungnya dibalut jeans dan kemeja hitam.</p>
<p>            “Mengagumkan,” celetuk Disa tiba-tiba.</p>
<p>            “Aaahhhhh…. Apa yang mengagumkan Dis?” Tanya Rara menyelidik.</p>
<p>            “Ehhh…hmmm, tidak apa-apa,” Disa gelabakan pura-pura mencari kesibukan dengan membuka-buka buku catatan kuliah.</p>
<p>            “Ta… Gentaaaa,” teriak windy yang sontak membuat Disa melotot ke arah Windy.</p>
<p>            Rara yang melihat ada yang aneh, Cuma menyenggol lengan Disa dan berbisik,”Dis, kamu sakit ya?” Disa hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Darah yang dipompa ke seluruh penjuru tubuh oleh jantung Disa, seakan saling dorong dan membuat pembuluh darah membesar seketika. Nafas jadi tidak bisa lagi dikontrol.</p>
<p>            “Jangan balik…jangan balik, please. Pura-pura saja tidak dengar,” Disa membatin.</p>
<p>            Di luar dugaan, Genta menengok dan membalas tegur sapa Windy. “Eh, Dy. Lama tidak ketemu?” ujar Genta sambil berjalan mendekat.</p>
<p>            Disa berharap ini hanya mimpi, bukan nyata yang harus dilaluinya hari ini.</p>
<p>            “Hai… Sombong banget sih?” Windy menyapa lebih akrab sambil berjabat tangan.</p>
<p>            Genta tanpa dikomando, langsung mengambil posisi duduk pas di depan Disa. Membuat Disa jadi terserang malaria tiba-tiba.</p>
<p>            “O iya Ta, ini sahabat-sahabatku. Ini Rara dan yang di depan kamu itu Disa,”         “Genta…. Genta” Genta menyodorkan tangan ke arah Disa, tapi Disa hanya terdiam dan tak bergeming. Rara spontan menginjak kaki Disa.</p>
<p>            “Eh.. iya, Disa” jawabnya sambil tertunduk.</p>
<p>            “Disa sakit ya?” Genta terlihat khawatir menanyakan keadaan sahabat Windy yang selalu terlihat menyendiri di taman ini.</p>
<p>            Spontan Rara dan Windy memegang jidat Disa dan menjawab,”Tidak panas koq!”</p>
<p>            “Hmmm.. Saya Sehat koq, maaf saya harus masuk ke kelas sekarang,” Disa membereskan bukunya dan berlalu meninggalkan seribu tanya dibenak Rara dan Windy, terlebih lagi Genta.</p>
<p>            “Teman kamu kenapa Dy?”</p>
<p>            “Tahu..” Windy menjawab dengan wajah bingung.</p>
<p>            “O iya, kabar Lena gimana?” Windy memecahkan suasana yang janggung di antara mereka.</p>
<p>            “Sudah lama kali, saya dan Lena bubaran,” Jawab Genta cuek sambil mengeluarkan Kamera-nya.</p>
<p>            “Ooo pantes sudah lama ga pernah lihat lo di depan rumah. Masih hobi motret-kah?”</p>
<p>            “Motret tuh, ibarat nyawa buat seorang Genta Dy. Jadi kalau tidak motret ibarat tubuh tanpa ruh. Hampa,” Ujar Genta sambil tersenyum.</p>
<p>            “Ya Allah, manis banget ya nih cowok. Kirain Cuma dari jauh dia manis, semakin dekat malah semakin ga kuat,” Rara membatin sambil senyam-senyum tidak jelas.</p>
<p>            “Woiiii… ayo kita masuk ke kelas. Raaaa, kamu kenapa sih? Ke sambet hantu taman nih. Kayak si Disa tadi. Raaaaa….!!”</p>
<p>            “Ga usah teriak-teriak kenapa? Kuping masih mau dipakai bu, belum diobral,”</p>
<p>            “Lagian diajak ngomong malah senyam-senyum aneh gitu, yuk ke kelas. Nanti kita tidak bisa masuk lagi karena telat. Ta, saya duluan ya, nantilah kita ngobrol lagi,” Windy menyeret paksa Rara yang masih bertingkah aneh menjauh dari Genta.</p>
<p>            “Cewek memang aneh,” Batin Genta.</p>
<p>            Siang tadi merupakan kejadian yang paling memalukan. Kenapa juga si Windy bisa kenal sama Genta. Aduuuhhhh, pasti tadi tampangku terlihat bego banget deh. Kenapa harus hari ini sih ketemunya? Kenapa tidak besok atau kapan kek, yang penting jangan hari ini.</p>
<p>            <strong>Tips pertama dari saya dalam persoalan cinta.</strong> Kalian harus selalu siap bertemu dan berkenalan sama orang yang kalian suka. Tidak ada alasan, siap ataupun tidak kalian harus siap mental, jasmani dan rohani. Jangan sampai peristiwa memalukan yang saya alami, terulang dan menimpa kalian. Cukup saya saja yang bertingkah aneh.</p>
<p>            Seminggu berlalu begitu saja, tanpa ada lagi peristiswa yang membuat jantung bekerja lebih keras. Hati juga tidak semerbak berbunga seperti biasanya, ini lantaran, seminggu ini sedang berlangsung ujian pertengahan semester. Meskipun masih sering melihat Genta melintas di depan taman, tapi Disa tidak bisa terlalu intens memandangnya dan memujanya dalam hati seperti biasanya.</p>
<p>            “Eh Dy, Memangnya si Genta pacaran sama Lena lama ya?” Rara memecah suasana yang membeku sejak tadi di antara mereka.</p>
<p>            “Lumayan-lah, kalau hitungannya cowok yang se-ok Genta, pacaran lama itu hebat bangetlah. Kan biasanya cowok yang nyadar mukanya di atas rata-rata kadang-kadang ganjen ga jelas gitu deh,” jawab Windy cuek.</p>
<p>            “Waahhh…Ok juga tuh cowok,” Rara nyerocos asal.</p>
<p>            “Si Wawan mau dikemanakan Ra? Mending Genta buat Disa saja. Sudah lama tuh, menjomblo. Iyakan, Dis?”</p>
<p>            “Ahhhh…” Disa hanya asal menjawab, padahal dari tadi Disa menyimak dengan sangat seksama. Apapun tentang Genta, antena penerima informasi Disa berfungsi secara otomatis.</p>
<p>            “Koq .. jawabnya ahhh sih?” Rara manyun mendengar Disa menjawab dengan acuh.</p>
<p>            “Dy, Genta tipekal cowoknya gimana sih?”</p>
<p>            “Kalau menurut cerita-cerita Lena sih, Genta tipe cowok protektif,”</p>
<p>            “Cowok protetif-kan itu tandanya cowok itu sayang sama ceweknya,”</p>
<p>            “Hmmm..tergantung si ceweknya sih, suka diatur atau tidak,”</p>
<p>            Informasi tambahan yang saya dapatkan di Perpustakaan tadi siang, membuat saya lebih mengenal sosoknya tanpa harus sering bertegur sapa atau bertemu. Tetapi, apakah saya siap untuk dekat dan menjatuhkan sama pilihan dengan cowok yang bertipe protektif?</p>
<p>            <strong>Tips Kedua dari saya</strong>. Kalau bisa yakinkan diri kalian sebelum betul-betul menjatuhkan pilihan ke orang yang kalian suka. Sekedar suka atau kagum sepertinya bukan hal yang bisa dijadikan patokan untuk memilih seseorang. Biarkan hati kalian yang memilih, karena terkadang insting lebih kuat dibandingkan hanya sekedar rasa suka. Mau dia protektif atau tidak, itu bukan alasan untuk tidak menerima seseorang untuk mengisi hari-hari kalian.</p>
<p>            Mengisi waktu liburan pasca ujian Mid, Disa memutuskan untuk berjalan-jalan ke Mal dekat rumahnya. Sendiri bukanlah masalah buat Disa, karena biasanya juga kemana-mana sendiri, sama dengan hari ini.</p>
<p>            “Hai, Disa kan?” Genta menyapa Disa yang sedang memilih kemeja.</p>
<p>            Bagai petir di siang bolong, Disa menjadi korban yang kesambar petirnya. Hangus dan berasap.</p>
<p>            “Hai…,”</p>
<p>            “Harus lebih santai. Jangan gugup, santai. Ayo dong Tung (Jantung) kompromi dikit, detaknya tidak perlu kayak mau berperang gitu,” Batin Disa menenangkan.</p>
<p>            “Kamu sendiri? Teman-teman kamu dimana?”</p>
<p>            “Eh… hmmm, mereka kalau libur memang suka ngacir ga jelas kemana sih,” jawab Disa sudah mulai santai dan terkendali, meski masih ada beberapa halangan.</p>
<p>            “Ooo, gitu. By the way, kemeja yang tadi kamu pilih bagus tuh, saya suka warnanya. Paduan biru dan hitam,” Genta memberi saran sambil tersenyum.</p>
<p>            “Ampuuunnnn…. Senyumnya, kenapa bisa manis bangeeeet? Mamanya waktu hamil ngidam apa sih,” Disa senyam-senyum aneh tidak menentu.</p>
<p>            “Disa.. kamu baik-baik saja kan?”</p>
<p>            “Eh.. iya.. saya juga suka koq baju ini. Rencananya juga tadi sudah mau saya ambil. Kalau gitu saya coba dulu ya,” Disa berlalu menuju kamar ganti.</p>
<p>            Astaga .. kenapa jadi aneh gini sih? Sejak kapan saya suka biru dan hitam? Hmmm… tapi, kalau dilihat-lihat dan diperhatikan, warna biru dan hitam boleh juga sih.        </p>
<p>            <strong>Tips ketiga.</strong> Cinta akan membuat kalian belajar menyukai apapun yang awalnya tidak kalian sukai, menjadi hal yang akan kalian sukai. Bukan dibuat-buat lho, tapi sukanya dari dalam hati. Datangnya dari rongga dada sebelah kiri, dan membuat otak segera menyimpannya menjadi data tambahan di dalam tempat penyimpanan terlengkapnya.  </p>
<p>            “Gimana, baguskan?”</p>
<p>            Untuk kedua kalinya, Disa dikagetkan oleh suara Genta. “Kirain sudah balik, ampun deh. Tapi, senang banget ternyata dia nungguin. Asyyiikkk,” Disa kembali tersenyum.</p>
<p>            “Iya, bagus koq,”</p>
<p>            “Yuk, makan siang dulu. Lapar nih. Kamu juga laparkan?”</p>
<p>            Tidak berpikir dua kali, Disa langsung menjawab dengan anggukan mantap. “Kesempatan nih, bisa berduaan dengan Genta,”pikirnya.</p>
<p>            Genta dan Disa memilih resto yang berada di lantai 3 Mall. Ini juga pilihan Genta, karena menurutnya makanan di tempat ini, terkenal paling enak dan harganya terjangkau. Mereka memilih tempat duduk yang di pojok, di dekat kaca. Jadi bisa melihat, ke arah jalanan yang siang ini dipadati kendaraan.</p>
<p>            “O iya, ngomong-ngomong Genta ke Mall mau ngapain ya?”</p>
<p>            “Tadinya sih mau foto-foto di main hall, tapi acaranya molor. Males deh,”</p>
<p>            “Oooo,”</p>
<p>            “Mau pesan apa?”</p>
<p>            “Apa saja deh, saya ikut,”</p>
<p>            “Baiklah, saya akan memilihkan buat kamu,” Genta menjawab dengan kembali tersenyum.</p>
<p>            “Ya Allah, manisssss banget makhluk ciptaanMu ini,”Batin Disa.</p>
<p>            Setelah peristiwa di Mall, Genta dan Disa sering bertemu di Taman Kampus. Hanya untuk sekedar cerita atau membicarakan beberapa foto hasil jepretan Genta. Seperti siang ini, mereka kembali bertemu di Taman Kampus.</p>
<p>            “Sudah lama Ta?”</p>
<p>            “Baru saja koq. Kuliah lagi jam berapa?”</p>
<p>            “Sejam dari sekarang,”</p>
<p>            “Ooo okay,”</p>
<p>            “Ehh Ta, dari tadi saya cariin, ternyata disini,”</p>
<p>            “Eh..Rud. Memangnya ada yang penting ya?”</p>
<p>            “Tidak, hanya mau membicarakan rencana kita untuk minggu ini <em>hunting</em> foto. Eh sama siapa tuh,” Rudi memberi isyarat menggunakan alisnya ke Genta.</p>
<p>            “Ooo ini Disa, anak jurusan Sastra. Disa ini Rudi teman jurusan saya,” Genta memperkenalkan Disa dengan Rudi.</p>
<p>            “Rudi..”</p>
<p>            “Disa…”</p>
<p>            “Saya sering melihatmu duduk di sini, sejak beberapa bulan lalu,” Rudi mencoba membuka pembicaraan.</p>
<p>            “Eh..Ahh…” Disa jadi bingung mau jawab apa. “Mampus, kenapa juga ada orang yang masih iseng mau memperhatikan orang duduk di taman ini,” batin Disa.</p>
<p>            “Iya, malah Taman Kampus serasa sepi kalau sehari saja kamu tidak ada,”</p>
<p>            Disa hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan Rudi barusan. “Cowok alay darimana sih nih?” Disa mendongkol.</p>
<p>            “Ta.. saya kembali ke kelas dulu ya. Rud, saya duluan,” Akhirnya Disa memutuskan untuk meninggalkan pembicaraan yang akan membuatnya terjebak di situasi yang mengharuskannya mengakui bahwa taman ini hanya sebagai tempat untuk melihat Genta lebih lama.</p>
<p>            Hai, kabar gembiranya seseorang yang sedang jatuh cinta yakni dikaruniai dengan kemampuan dalam bidang aksara yang membuatnya mampu menulis puisi hingga berlembar-lembar. Jika keadaan ini terjadi, otomatis kalian benar-benar sedang jatuh cinta.</p>
<p>            <strong>Tips ke empat.</strong> Jatuh cinta ternyata ampuh untuk menyelamatkan dunia dari hilangnya peradaban. Ini lantaran, aksara membantu manusia dari generasi ke generasi untuk saling memberi kabar dan mempelajari satu sama lain. Dan, puisi bentuk dimana cinta akan abadi selamanya. Dan, kalian normal jika mengalami hal ini. Seperti diriku malam ini sedang menulis puisi dan membayangkan Cowok manis dengan gaya cueknya.</p>
<p>            “Jika malam menyimpan seribu bintang,</p>
<p>            Jika siang hanya menerima satu matahari untuk menghiasinya,</p>
<p>            Maka akupun ingin menjadi siangmu,</p>
<p>            Dan juga ingin menjadi malammu.</p>
<p> </p>
<p>            Siang yang akan memberi secercah cahaya di gelap jalanmu,</p>
<p>            Malam yang akan memberikan keindahannya dikala kabut tebal takdir menyapa.</p>
<p>            Jika cinta ini menyiksamu,</p>
<p>            Mungkin Aku rela pergi dan hanya melihatmu dari tempat diamku.</p>
<p> </p>
<p>            Semua tentangmu selalu dapat membuatku tahu akan satu hal,</p>
<p>            Kau diciptakan betapa sempurna,</p>
<p>            Kau hadir diwaktu yang tepat,</p>
<p>            Dan, Kau tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang selalu merindu.</p>
<p> </p>
<p>            Merindu, hingga tidak pernah tahu kapan akan menggapaimu.</p>
<p>            Merindu, hingga mengerti bagaimana rasanya pantai setia untuk ombak,</p>
<p>            Seperti, dermaga selalu memiliki waktu untuk menunggu datangnya kapal,</p>
<p>            Meski kapal yang merapat hanya untuk sesaat.</p>
<p> </p>
<p>            Itulah Cinta…</p>
<p>            Cinta yang tidak mengharuskan setiap orang menyadari datangnya,</p>
<p>            Dan, mencari jawaban atas hadirnya.”</p>
<p>            Tetapi, kisah cinta yang semula sudah mulai terjalin, akhirnya menjadi renggang kembali. Penyebabnya, tidak lain tidak bukan, yaa karena hadirnya Rudi. Entah kenapa, Disa lebih bisa leluasa bercerita di depan Rudi. dan, selalu masih canggung jika bersama Genta. Bukan karena Disa menyukai Rudi, tapi detak jantung yang semakin tidak bersahabat yang membuat Disa membisu, jika disamping Genta.</p>
<p>            Situasi ini, membuat Genta yang merasa ditolak akhirnya ambil sikap dan mundur. Siapa yang harus disalahkan dalam situasi ini? Genta yang tidak pahamkah? Atau Disa yang tidak memberi isyarat. Atau Rudi yang terlalu PD akan posisinya?</p>
<p>            <strong>Tips ke lima.</strong> Jika kalian jatuh cinta, disarankan untuk memberi isyarat bahwa kalian juga tertarik. Jangan hanya diam, dan memperparah keadaan dengan berpura-pura dekat sama teman akrabnya, hanya untuk dapat memandangnya lebih lama. Itu salah besar, ini menyebabkan kalian tidak akan menerima hasil yang diharapkan, percayalah. Karena situasi inipun, saat ini sedang ku alami.</p>
<p>            Memperbaiki kesalahpahaman yang keliru, memang jauh lebih sulit. Tetapi, jika diam saja. Cinta sejati tidak akan pernah kalian dapatkan.</p>
<p>            Disa bertekad untuk menjauh dari Rudi dan mulai memberi isyarat bahwa dia juga ada rasa dengan Genta. Tetapi, semuanya terlambat. Genta sudah terlanjur menghindar duluan, karena tidak ingin menyakiti Rudi. Begitulah laki-laki, mereka sangat menghargai dan menghormati privasi satu sama lain, apalagi jika itu menyangkut tentang cinta.</p>
<p>            <strong>Tips ke enam.</strong> Jangan pernah memberikan pengharapan palsu kepada seseorang. Katakan tidak, jika yang ada dihati kalian bukan nama orang itu. Yakinlah, kejujuran akan jauh lebih baik, dibandingkan hanya diam dan mencoba menyenangkan orang lain. Itu hasilnya akan membuat kalian benar-benar yakin tentang apa yang kalian pilih.</p>
<p>            “Dis, koq jarang bareng Genta lagi?” Tanya Windy ketika usai kuliah.</p>
<p>            “Windy….,” Disa mulai terisak menahan rasanya kepada Genta. Tetapi, Genta sudah mulai menghindar, bahkan tidak lagi pernah melintas di dekat taman kampus. meski Disa juga sudah tidak lagi dekat dengan Rudi, Genta tetap menghindar.</p>
<p>            “Iya, nanti saya akan tanyakan ke Genta ya. Jangan nangis dong, baru juga jatuh cinta, eh belum ditolak tapi sudah menangis. Gimana kalau betulan Genta tidak ada perasaan sama lo, Dis,”</p>
<p>            Tangis Disa bukannya berhenti, malah tambah pecah mendengar candaan Windy tadi.</p>
<p>            Rara dan Windy melihat keadaan ini, malah tertawa lepas melihat tingkah sahabatnya yang kekanak-kanakan.</p>
<p>            <strong>Tips ke tujuh.</strong> Cinta akan menjatuhkan dinding pertahanan paling kokoh yang kalian punya. Jadi, biarkan air mata mengalir untuk melepas beban yang ditanggung oleh hati karena merindu. Air mata akan membantu untuk membuat kalian tetap berpikir jernih meski hati sedang galau. Cinta akan membiasakan kalian dengan asinnya air mata, tetapi sekaligus membuat kalian tetap kuat menunggu hari esok. Karena percayalah, setelah hujan deras, akan ada pelangi yang indah di langit.</p>
<p>            “Ta, Genta…tungguin dong,”</p>
<p>            “Eh Dy,”</p>
<p>            “Kenapa sih, menghindar dari Disa terus?”</p>
<p>            “Hmmm… sebaiknya kita bicara di kantin saja ya,” Windy mengikuti jejak Genta dari belakang.</p>
<p>            “Dy, saya tidak tahu. Apa yang membuat saya juga menghindari Disa? Apa karena saya cemburu dengan kedekatan Rudi dan Disa? Saya juga tidak tahu.” Genta menunduk.</p>
<p>            “Yakinlah, Disa sukanya sama kamu Ta. Jika dia terlihat lebih dekat dengan Rudi, karena dia tidak punya beban apa-apa,”</p>
<p>            “Maksudnya beban?”</p>
<p>            “Genta, buka mata kamu. Disa selalu terlihat gugup hanya kalau kamu ada di dekatnya. Itu tandanya apa?”</p>
<p>            “Memangnya itu tanda apa?”</p>
<p>            “Katanya cowok protektif, koq malah masalah dasar tentang cinta saja kamu masih bertanya. Kemana pengalaman kamu selama ini mencintai seseorang?”</p>
<p>            “Saya tidak pernah menyadari cinta itu hadir Dy, cinta itu bagaikan penyusup yang tidak pernah saya sadari kehadirannya. Sampai membuat mata saya buta, tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan Disa. Dy, makasih ya,”</p>
<p>            Windy Cuma tersenyum melihat kedua temannya sedang bertingkah ibarat anak-anak, karena satu hal, yakni cinta.</p>
<p>            <strong>Tips ke delapan.</strong> Cinta hanya akan terwujud jika kedua belah pihak saling menyadari bahwa mereka sedang jatuh cinta. Bukannya menghindar dari keadaan dan kondisi yang akan membuat dada semakin sesak. Jika cinta, ya akui saja. Karena, cinta adalah anugerah. Anugerah yang hanya diberikan Tuhan untuk makhlukNya yang bernama manusia.         </p>
<p>            “Disa, maaf jika saya tidak pernah melihat isyarat yang kamu berikan selama ini. Saya hanya percaya satu hal, bahwa cinta tidak membutuhkan satu alasan apapun. Karena cinta hadir dan ada untuk membuat alasan-alasan yang akan memanusiakan manusia, dengan saling berbagi, menyayangi dan menekan semua rasa ego kita masing-masing. Bolehkah diriku menjagamu?”</p>
<p>            Air mata mengalir membentuk anak sungai di pipi Disa mendengar ungkapan Genta barusan. Anggukan menjadi jawaban atas permintaan Genta.</p>
<p><strong>            Tips Ke Sembilan.</strong> Biarkan cinta yang akan membawamu pergi mengelana jauh meninggalkan tempatmu saat ini. Tetapi, satu yang pasti. Cinta akan membuat kalian jauh lebih jujur tentang apa yang kalian rasa. Jika tidak mengalami hal ini, apa yang kalian rasakan bukan cinta. Karena cinta itu indah, seindah mentari pagi, selembut awan di angkasa, tetapi setegar rembulan di kesunyian malam. Itulah cinta.</p>
<p> </p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/">9 Tips Mencintai Tanpa Alasan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/07/9-tips-mencintai-tanpa-alasan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 2</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jufan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2014 16:07:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/</guid>

					<description><![CDATA[<p>CHAPTER 2 Second Day   Jadi begitu lah. Nama asli pemuda itu adalah Dave, yang tengah mengemban sebuah misi besar yang wajib ia selesaikan. Dave membawa sebuah robot aneh bersamanya, yang tentu saja harus ia sembunyikan. Robot itu menyebut dirinya Yadsendew. Hari kedua. Hari di mana Dave akan kembali dalam penyamarannya sebagai staf pengajar di SMU ... <a title="THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 2" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/" aria-label="Read more about THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 2">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/">THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 2</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>CHAPTER </strong><strong>2</strong></p>
<p style="text-align: center">Second Day</p>
<p> </p>
<p>Jadi begitu lah. Nama asli pemuda itu adalah Dave, yang tengah mengemban sebuah misi besar yang wajib ia selesaikan. Dave membawa sebuah robot aneh bersamanya, yang tentu saja harus ia sembunyikan. Robot itu menyebut dirinya Yadsendew.</p>
<p>Hari kedua. Hari di mana Dave akan kembali dalam penyamarannya sebagai staf pengajar di SMU Soekarno-Hatta. SMU megah yang memiliki berbagai penilaian di mata masyarakat.</p>
<p>Sekolah ini sudah dikenal betul kebaikan fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya. Baik itu staf pengajaryang berkualitas, maupun kelengkapan berbagai kebutuhan siswa sehingga menghasilkan banyak lulusan-lulusan yang kompeten.</p>
<p>Akan tetapi, di balik citra baiktersebut, sekolah itu juga dipandang buruk oleh sebagian masyarakat lantaran sering terdengarnya rumor tidak sedapmengenai beberapa siswa nakal dan meresahkan yang tidak pernah diadili lantaran mereka anak orang kaya. Hal tersebut kian diperkuat dengan kenyataan bahwa tidak sedikit guru yang mengundurkan diri dari sekolah itu.</p>
<p>Dave tahu, siswa mana yang paling bertanggung jawab atas rumortersebut.</p>
<p>Di hari kedua ini, sebagaimana seharusnya, Dave datang tepat waktu. Baru saja ia menginjakkan kaki di pekarangan sekolah, Dave sudah disambut dengan tatapan kagum para siswi yang tentu saja membuatnya semakin percaya diri. Para siswi itu berbisik satu sama lain sambil tertawa genit. Sementara para siswa, hanya bisa gigit jari melihat itu.</p>
<p>Tiba-tiba, salah seorang siswi yang kemarin pingsan mendadak, Maya, menghampiri Dave.</p>
<p>“Pagi, Pak,” sapanya.</p>
<p>“Pagi, Maya. Hari ini kamu fit, kan?”</p>
<p>Gadis itu mengangguk. Pipinya memerah. “Maaf ya, Pak. Kemarin saya kurang sopan.”</p>
<p>“Nggak apa-apa. Nyantai aja. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu pegang?”</p>
<p>Dengan malu-malu, Maya memperlihatkan apa yang dipegangnya tersebut:sebuah bingkisan berlapis kertas kado bergambar hati.Ia memberikan itu kepada Dave. Bentuknya persegi. “Ini kue buatan saya. Silakan dinikmati, Pak.”</p>
<p>“Ya ampun! Untuk apa repot-repot segala?”</p>
<p>“Nggak repot kok, Pak. Itung-itung sebagai wujud permintamaafan saya. Tolong diterima ya, Pak.”</p>
<p>Dengan perasaan sungkan, Dave pun menerimanya. “Aduh, terima kasih banyak, ya. Jadi nggak enak.”</p>
<p>“Sama-sama, Pak.” Maya menatap Dave.</p>
<p>“Hm? Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?”</p>
<p>Namun tak ada respon dari gadis itu. Ia memandang mata Dave begitu lurus, dengan mulut menganga.</p>
<p>“May?”</p>
<p>Maya tersentak. “Oh, maaf, Pak,” katanya. Pipinya semakin memerah. Tanpa pamit, ia pun langsung pergi.</p>
<p>“Gadis aneh.”</p>
<p>Terdengar suara dari dalam sakunya. “Kelihatannya gadis itu tertarik sekali padamu.”</p>
<p>“Berisik! Nanti ketahuan!”</p>
<p>Di mejanya di ruang guru, Dave melihat jadwalnya hari ini, dan menemukan jam pelajarannya di kelas 3 IPA 1.</p>
<p>            Tiba-tiba suara nyaring yang kemayu menusuk telinganya. “Anda Pak Karno, yaaaaa?” tanya sesosok pria pendek berperawakan sedang dan berkacamata tebal berusia menjelang 30 tahun itu.</p>
<p>            “Iya,” jawab Dave ramah. Ia mengulurkan tangannya. “Salam kenal ya, Pak&#8230;.”</p>
<p>            “Mahmud Sucipto,” sahutnya sembari menjabat tangan Dave. “Panggil saja Mahmud.”</p>
<p>            Dave mengangguk tersenyum. “Ngajar apa, Pak?”</p>
<p>            “Sejarah. Bapak fisika, kan? Hati-hati dibenci sama anak-anak lho, Pak.” Mahmud nyengir.</p>
<p>            Dave tertawa. “Dibenci kenapa? Karena pelajarannya sulit?”</p>
<p>            Mahmud mengangguk cepat. “Tapi kalo Bapak yang jadi gurunya sih, saya yakin anak-anak nggak bakal nggak suka. Apalagi yang cewek.” Ia kembali nyengir.</p>
<p>            Dave mulai menyukai orang ini. “Nggak juga, Pak. Buktinya kemarin ada anak-anak yang terang-terangan melawan saya.”</p>
<p>            “Bayu dan teman-teman? Kalo mereka sih, saya nggak heran. Anak manja memang begitu kelakuannya. Untung aja saya ngajar di kelas IPS. Jadi nggak harus berhadapan dengan mereka.”</p>
<p>            “Saya sudah dengar tentang mereka. Khususnya si Bayu itu. Sepertinya siswa seperti dia nggak bisa dikeluarin gitu aja biar pun udah bikin kesalahan sebesar apa pun, ya.”</p>
<p>            “Bener banget, Pak!” sahut Mahmud semangat. Ia paling gemar membicarakan orang lain. “Karena itu, anak itu jadi kurang ajar. Guru-guru aja sering dikerjai! Dia juga sering berantem di luar sekolah dengan masih memakai seragam sekolah. Reputasi sekolah ini jadi makin tercemar karena itu. Pokoknya sekolah ini ancur banget semenjak kedatangan dia!”</p>
<p>            “Kalau begitu, kita sebagai gurunya yang harus bertindak. Kita nggak bisa biarin orang-orang seperti Bayu bebas berbuat sesuka hati. Apalagi kita tahu orangtuanya saja begitu, terlalu memanjakan anaknya. Jadi kita yang harus mendidiknya agar dia berubah atas kesadarannya sendiri.”</p>
<p>            “Iya, Pak. Kami tau. Tapi tadi kan sudah saya bilang kalo kami para guru aja sering dikerjai. Gimana mau bertindak.”</p>
<p>            “BRENGSEK!” teriak seorang guru buncit yang baru saja masuk ke ruangan itu. Sekujur tubuhnya berlumur pecahan telur. Sumpah serapah dan isi kebun binatang berhambur keluar dari mulutnya. Seluruh guru yang ada di situ terperangah melihat kondisinya pagi ini.</p>
<p>            “PAGI-PAGI SAYA SUDAH KENA KERJAI OLEH TUYUL-TUYUL SIALAN ITU!!” geramnya. Beberapa dewan guru menutup telinga karena suaranya yang nyaring seperti kapal pecah.</p>
<p>            “Siapa, Pak?” tanya Mahmud.</p>
<p>            “ANDA MASIH BERTANYA LAGI!? BUKANNYA SUDAH JELAS!? SI BAYU DAN ANTEK-ANTEKNYA ITU!!” Tangan berlemak guru itu menghantam meja dengan keras. Ia benar-benar sakit hati. “BUKAN HANYA SAYA! LIHAT SAJA DI LUAR! BERAPA ORANG SISWI YANG MENANGIS KARENA MEREKA KERJAI!!”</p>
<p>            Mahmud berbisik pada Dave, “Anda liat sendiri kan, Pak?”</p>
<p>            “Rupanya belum jera juga mereka itu,” ujar Dave. Matanya berkilat seolah mendapat tantangan menarik. “Biar nanti saya beri mereka pelajaran.”</p>
<p>            “Jangan macam-macam, Pak. Nanti malah Anda yang repot.”</p>
<p>            “Pak Mahmud tenang saja. Ini urusan saya dan Bayu.”</p>
<p>            Dave menyadari, bahwa secara tak langsung, Bayu menantangnya terang-terangan. Sepertinya, taruhan yang mereka sepakati kemarin benar-benar dimulai.</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Kemarin, usai menghukum Bayu dan kawan-kawan, Dave memanggil mereka ke ruangannya. Mereka datang dengan wajah muram, benar-benar kapok dan malu.</p>
<p>            Kecuali Bayu. Sorot matanya tajam penuh dendam.</p>
<p>            Bergiliran, para dewan guru yang ada di ruangan itu menatap anak-anak itu dan Dave. Beberapa dari mereka merasa iba terhadap Dave, menduga bahwa karir Dave akan tamat karena tindakannya ini.</p>
<p>            Dave menyuruh mereka duduk di kursi yang telah ia sediakan. “Bagaimana? Kalian kapok?”</p>
<p>            Bayu menyeringai. “Lo yang bakalan kapok!”</p>
<p>            Dave sudah menduga Bayu akan berkata begitu. “Kamu mau ngadu ke orangtuamu?”</p>
<p>            Bayu terdiam. Dengan segera ia tahu bahwa Dave telah mengetahui ‘senjata rahasia’-nya.</p>
<p>            “Bagaimana mungkin kamu jadi orang seperti ini, Bayu?” tanya Dave tak percaya, seakan sudah kenal betuldengan Bayu.</p>
<p>            Bayu dengan ketus menjawab, “Nggak usah sok akrab. Nggak penting kenapa gue bisa begini!”</p>
<p>            “Kalau bicara yang sopan.”</p>
<p>            “Diam! Orangtua gue aja nggak pernah nyuruh-nyuruh!”</p>
<p>            “Pantes aja kamu jadi pecundang sekarang.”</p>
<p>            Kata-kata itu tertancap tepat di hati Bayu. “Gue bukan pecundang, ya!” sahut Bayu marah dengan telunjuk mengacung.</p>
<p>            Para dewan guru terperanjat melihat sikap kurang ajar Bayu.</p>
<p>            Dave menggenggam telunjuk itu. “Jangan berani kamu nunjuk-nunjuk saya. Hargai saya dan juga guru-guru yang ada di ruangan ini!”</p>
<p>            Bayu menarik telunjuknya dari genggaman Dave.</p>
<p>            “Beri saya alasan kenapa saya nggak boleh manggil kamu pecundang,” kata Dave.</p>
<p>            Dengan enteng, Bayu menjawab, “Gue bisa buat lo kehilangan pekerjaan hari ini juga. Lo liat guru-guru di sini! Nggak ada satu pun yang berani sama gue. Semua orang termasuk Kepala Sekolah, takut ama gue. Lo masih bisa bilang gue pecundang?”</p>
<p>            “Pikir baik-baik. Mereka takut kepadamu atau ayahmu? Coba bayangkan seandainya ayahmu tidak ada, apa bisa kamu ditakuti seperti ini? Kamu selalu sembunyi di belakang orangtuamu yang kaya itu. Bahkan kamu bersikap congkak karena itu. Dengan begitu, apakah salah saya memanggil kamu dengan sebutan pecundang?”</p>
<p>            Bayu merasa harga dirinya diinjak-injak. “Jaga mulut lo, Karno!” katanya seraya bangkit dari kursi, seakan ingin memukul Dave. Seluruh dewan guru, bahkan teman-teman Bayu sendiri terkejut melihat sikapnya yang kelewatan itu.</p>
<p>            Salah seorang guru hendak bangkit untuk menengahi, namun Dave memberi isyarat bahwa ia bisa menangani ini sendiri.</p>
<p>“Gue bisa jalanin hidup gue tanpa mereka!” lanjut Bayu.</p>
<p>            “Buktikan kepada kami,” kata Dave ikut bangkit. “Saya tantang kamu.”</p>
<p>            Mata mereka saling memandang tajam. Dave tersenyum menantang. Bayu membalas dengan seringai licik.</p>
<p>            “Gue terima tantangan lo.”</p>
<p>            “Sekali lagi orangtua kamu ikut campur dalam urusan sekolah, kamu kalah.”</p>
<p>            Semua terperangah melihat keberanian dan kecerdasan Dave dalam berbicara.</p>
<p>            “Akan gue buat lo nyesal pernah masuk sekolah ini,” kata Bayu sembari melangkah keluar. Keempat orang temannya menyusul dengan kikuk.</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Kendati tahu bahwa Bayu takkan membiarkan ayahnya ikut campur tangan dalam urusannya di sekolah, tetap saja para guru enggan melawan anak itu. Cerita tentang adu mulut Dave dan Bayu dengan segera menjadi buah bibir sekolah. Semua orang berharap Dave, atau yang mereka kenal dengan nama Karno, akan bertahan di sekolah itu. Karena hanya ia lah yang berani bertindak tegas pada Bayu dan kawan-kawannya.</p>
<p>            Namun sayangnya, bukannya berubah, kini Bayu malah bersikap semakin keterlaluan. Penindasan yang dilakukan bersama teman-temannya terhadap siswa-siswa lemah semakin menjadi. Bahkan beberapa orang guru terang-terangan mereka kerjai.</p>
<p>Pagi itu, banyak sekali laporan yang masuk ke ruangan Pak Tanto mengenai ulah Bayu tersebut. Guru-guru Bimbingan Penyuluhan yang bertugas menangani siswa-siswa seperti Bayu bahkan mengaku tidak sanggup lagi menghadapi kasus ini. Terakhir kali Bayu dipanggil ke ruang BP, ia malah meledek guru-guru itu, lalu melangkah keluar dengan kurang ajar, tanpa pamit. Sudah berkali-kali pula mereka memanggil orangtua Bayu. Namun bukannya menasihati anaknya, mereka malah mengumpat.</p>
<p>“Seharusnya kalian lebih meningkatkan kualitas kalian sebagai guru. Bukannya menyalahkan anak saya! Saya sudah bayar sekolah ini mahal-mahal. Saya juga sudah cukup sering memberi sumbangan dan dana untuk sekolah ini! Tapi mengapa ini yang saya dapat!? Saya kecewa! Terus terang saja, dengan koneksi yang saya miliki, kalian para guru yang tidak becus ini bisa saja diberhentikan hari ini juga! Sudahlah, saya sibuk! Saya mohon diri!”</p>
<p>Kalau sudah begini, Pak Tanto pun kewalahan. Memanggil Bayu ke ruangan dan memarahinya pun sia-sia saja. Oleh karena itu, siang ini, ia mengadakan rapat.</p>
<p>            Bayu sengaja bersikap seperti ini. Ia tahu bahwa para guru takkan begitu saja berani menghukumnya. Ia ingin menunjukkan kepada Dave bahwa ia bisa bertindak sesuka hati di sekolah itu. Bayu dan teman-temannya juga telah menyusun siasat agar Dave tak betah mengajar di sana dan segera mengundurkan diri.</p>
<p>            Dave yang menyadari bahwa semua kegaduhan ini adalah permainan dari Bayu, menyambutnya dengan senang hati.</p>
<p>            Yadsendew berbisik padanya, “Kalau begini terus, bisa-bisa waktu yang diberikan kepada kita akan habis. Terlalu lama. Kita takkan bisa membawa pulang Bayu tepat waktu.”</p>
<p>            “Tenang, Dew. Akan kubuat dia tunduk padaku. Kalau sudah begitu, takkan ada kendala lagi. Percaya padaku.”</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Sudah 10 menit sejak jam pelajaran pertama dimulai.</p>
<p>            Hari ini, Dave sudah banyak berkenalan dengan para guru. Dave menyukai mereka, begitu pula sebaliknya. Dengan segera ia pun menjadi akrab dengan guru-guru itu.</p>
<p>            Seorang guru masuk ke ruangan dengan marah-marah. Tepung terigu menodai dirinya dari kepala hingga pinggang.</p>
<p>            “Cukup sudah!” katanya sembari mengemasi barang-barang. “Saya mengundurkan diri dari sekolah ini!”</p>
<p>            Para guru segera mengerti apa yang terjadi. Pria itu adalah Pak Galih, guru biologi yang mengajar di kelas 3 IPA 1 pada jam ini, staf pengajar yang dikenal Dave kemarin.</p>
<p>            Ia dikerjai habis-habisan oleh Bayu dan kawan-kawan. Semua membujuk pria itu agar ia mengurungkan niat untuk keluar.</p>
<p>            “Mana bisa saya bertahan di sekolah yang bahkan kepala sekolahnya pun tak berani mengambil tindakan tegas terhadap siswanya sendiri!!” katanya.</p>
<p>            “Jangan terburu-buru mengambil keputusan, Pak. Setidaknya tunggu hingga rapat nanti siang,” bujuk Dave.</p>
<p>            “Rapat kita selenggarakan sekarang,” kata Pak Tanto yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu masuk. “Situasi semakin gawat. Tolong semua segera menuju ruang rapat.”</p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>“Baru beberapa menit saya memulai pelajaran, mereka sudah melempari saya dengan balon-balon berisi tepung itu!” papar Pak Galih. Ia menceritakan kejadian yang menimpanya tadi di ruang rapat itu. “Kalau Pak Tanto masih saja diam seperti ini, kapan masalah si Bayu ini akan selesai? Sudah tiga tahun anak itu kita biarkan bebas. Masa’ dalam waktu selama itu, Bapak belum menemukan solusi apa pun?”</p>
<p>            “Solusi apa yang Bapak maksud? Mengeluarkan Bayu?” sahut Pak Tanto yang menyadari bahwa wibawa dan kehormatannya sudah hilang di mata para guru semenjak kedatangan Bayu. “Kita semua tahu dia itu anak dari orang yang berpengaruh dalam pembangunan sekolah ini, tidak bisa begitu saja disingkirkan. Lagi pula, untuk itu lah saya mengumpulkan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu berkumpul di ruangan ini.”</p>
<p>            “Apa Bapak sudah menemukan solusi?” tanya seorang guru.</p>
<p>            Pak Tanto menjawab dengan agak ragu. “Bisa dibilang begitu. Jadi begini, saya masih takjub dengan apa yang dilakukan Pak Karno kemarin.”</p>
<p>            “Ah, itu bukan apa-apa, Pak. Justru saya hanya membuat masalah semakin buruk,” ujar Dave.</p>
<p>            “Itu tidak benar. Anda sudah membuat Bayu berjanji untuk tidak melibatkan ayahnya dalam masalah di sekolah. Itu merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi.”</p>
<p>            “Tapi tidak ada jaminan kalau Bayu akan memegang janjinya, Pak,” kata seorang guru. “Dia itu Bayu! Apa benar janjinya bisa dipegang?”</p>
<p>            “Bisa, Bu,” Dave menjawab. “Saya sudah mengatainya habis-habisan kemarin. Tentunya ia akan sangat malu kalau tidak menepati janjinya. Anda lihat sendiri kan reaksinya kemarin ketika saya menekannya?”</p>
<p>            “Tapi Bayu itu masih remaja, Pak. Pikirannya dapat berubah sewaktu-waktu.”</p>
<p>            “Bayu tidak sama dengan remaja lainnya.”</p>
<p>            “Bagaimana Anda bisa seyakin ini? Anda kan guru baru di sini.”</p>
<p>            Dave sadar ia sudah terlalu banyak bicara. Ia pun mencoba tetap tenang dan berpikir jernih. “Pokoknya, saya bisa buktikan.”</p>
<p>            Guru itu tertawa merendahkan.</p>
<p>            “Cukup,” Pak Tanto menengahi. “Benar apa yang dikatakan Bu Ida. Kata-kata Bayu tidak bisa dipegang. Tapi saya tetap percaya Bayu bisa berubah.”</p>
<p>            Semua mendengarkan.</p>
<p>            “Anak seperti Bayu, biasanya bersikap begitu karena kurang perhatian. Itu bisa kita lihat dari kesibukan orangtuanya sehari-hari. Pak Karno tentunya belum tahu hal ini, jadi tak ada salahnya kita bahas lagi.</p>
<p>            “Sebenarnya, Bayu itu anak yang pintar. Bisa dikatakan jenius. Dari SD hingga SMP, berturut-turut Bayu memegang juara umum.”</p>
<p>            Dave tidak heran.</p>
<p>            “Kelakuannya di masa SD dan SMP pun tidak seburuk di sini. Rekan-rekan saya yang mengajar di sana sendiri yang berkata demikian. Lalu semenjak ayahnya naik pangkat dan semakin sibuk, dan ibunya pun sering tidak di rumah, Bayu menjadi semakin terabaikan dan jadi lah ia seperti sekarang ini.”</p>
<p>            “Tapi kalau memang begitu keadaannya,” kata Dave, “bagaimana mungkin ayahnya masih sempat meladeni urusan sekolah Bayu sampai-sampai ada guru yang diberhentikan karenanya?”</p>
<p>            “Anda jangan salah, Pak Karno. Ayahnya melakukan itu justru karena ingin masalah anaknya cepat selesai dan bisa segera pergi lagi. Ia bahkan mungkin tak tahu separah apa sikap anaknya di sini. Dan yang paling disayangkan, Bayu yang pintar itu menjadi acuh terhadap pelajaran sehingga nilai-nilainya anjlok sama sekali.”</p>
<p>            “Lalu bagaimana dengan empat orang lainnya? Kenapa mereka tidak dikeluarkan saja? Bukannya kelakukan mereka sama buruknya dengan Bayu? Mungkin dengan mereka dikeluarkan, Bayu tidak akan seliar ini.”</p>
<p>            Pak Tanto menghela napas. “Sudah saya lakukan, Pak. Tapi tak lama setelah itu, ayah Bayu segera memasukkan mereka lagi atas permintaan Bayu.”</p>
<p>            “Karena itu lah nama sekolah kita ini jadi jelek,” kata Pak Galih.</p>
<p>            “Kalau Anda memiliki gagasan yang bagus, katakan, Pak! Jangan bisanya hanya mencela saja!” hardik Pak Tanto.</p>
<p>            “Pak Tanto tidak mengerti apa yang telah kami alami selama ini. Akibat Bapak tidak bertindak tegas dan terlalu takut, kami para staf pengajar yang terkena dampaknya! Lihat apa yang terjadi dengan saya sekarang! Lalu Pak Hamzah&#8230;.” Suaranya tertahan, menahan amarah. “Tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa jantung beliau bisa kumat kemarin!”</p>
<p>            “Jadi guru yang kemarin&#8230;.” Dave tak percaya. “Astaga.”</p>
<p>            Pak Galih mengangguk. “Bukan hanya sebagai guru fisika, Pak Hamzah juga merupakan wali kelas di kelas Bayu. Tentu Anda tidak dapat membayangkan bagaimana kewalahannya beliau mengurus kelas itu. Ditambah lagi, beliau memiliki penyakit jantung. Itu lah yang menyebabkan beliau jatuh kemarin.”</p>
<p>            Pak Tanto terdiam. Ia menyesali dirinya yang benar-benar lemah sebagai seorang pemimpin.</p>
<p>            “Jadi, apa sebenarnya yang ingin Anda sampaikan dalam rapat ini, Pak Tanto?” salah seorang guru akhirnya bertanya.</p>
<p>            Pak Tanto pun segera tersadar dari lamunannya. “Jadi begini, berdasarkan apa yang telah kita ketahui bersama mengenai tindakan yang diambil Pak Karno kemarin, maka saya memutuskan untuk menyerahkan Bayu dan kawan-kawan di bawah bimbingannya.”</p>
<p>            Dave terkejut.</p>
<p>            “Karena bisa kita lihat sendiri, bagaimana Bayu terpancing dengan kata-kata beliau. Saya percaya, Pak Karno bisa membuat Bayu menjadi lebih baik. Bagaimana, Pak?”</p>
<p>            “Tapi Pak Tanto lihat sendiri, kan? Karena berdebat dengan Pak Karno juga lah Bayu menjadi lebih liar dari sebelumnya,” kata seorang guru.</p>
<p>            “Anak-anak seusia Bayu tidak semudah itu ditundukkan, Bu. Kelakuan Bayu hari ini semata-mata karena ia tidak terima dipermalukan seperti kemarin. Ia ingin membuktikan bahwa ia tidak semudah itu ditundukkan. Anak itu memiliki motivasi yang besar. Motivasi itu lah yang harus diarahkan ke jalan yang benar agar ia menjadi manusia yang lebih baik. Saya ingin Pak Karno yang melakukannya. Apalagi usia mereka tidak jauh berbeda. Tentunya itu akan lebih memudahkan. Saya rasa langkah itu yang paling tepat.”</p>
<p>            Tentu saja Dave menerima permintaan itu. Itu akan membuatnya menjadi lebih dekat dengan Bayu sehingga ia bisa segera menuntaskan misi. “Baik, Pak. Akan saya coba.”</p>
<p>            Ada yang ragu, dan ada pula yang yakin dengan keputusan Pak Tanto ini.</p>
<p>            Dan akhirnya, setelah beberapa bujukan, Pak Galih mengurungkan niat untuk mengundurkan diri.</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Sudah tiba waktunya Dave mengajar. Setelah mengambil beberapa referensi yang diperlukan, ia pun meninggalkan ruang guru dan menuju kelas 3 IPA 1. Di jalan, ia berpapasan dengan Mahmud yang baru selesai mengajar.</p>
<p>            “Rapatnya dipercepat ya, Pak?” tanya Mahmud.</p>
<p>            “Iya tuh. Barusan aja kelar. Rada panas juga tadi suasananya.”</p>
<p>            “Emang selalu gitu kali, Pak. Yang jadi bahan rapat juga itu-itu aja.”</p>
<p>            Setelah berbincang sejenak, mereka pun berpisah dan Dave melangkah kembali.Ketika akan berbelok ke tikungan yang ada di hadapannya, seseorang menabrak tubuh Dave hingga terjatuh. Salah seorang siswa.</p>
<p>            “Ma&#8230; maaf, Pak,” katanya. Tubuhnya begitu pendek. Ia berkacamata tebal, memakai alat bantu pendengaran, serta bertingkah seperti cacing kepanasan.</p>
<p>            “Nggak apa-apa,” sahut Dave yang kemudian mengulurkan tangan untuk anak itu. Anak itu pun meraih tangan Dave, kemudian berdiri. Sebentar-sebentar ia betulkan letak kacamatanya yang kelonggaran itu. Bentuk kacamatanya yang besar dan tebal membuat anak itu terlihat lucu. Ia bahkan berkeringat cukup banyak dikarenakan gerakan tubuhnya yang tak karuan itu sendiri.</p>
<p>            Lalu, entah karena takut atau apa, anak itu segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dave menatap bocah itu dengan pandangan heran. Namun karena merasa itu tidak terlalu penting, Dave pun segera melupakannya.</p>
<p>Dan tibalah ia di kelas yang dituju. Kelas itu hening. Sepertinya mereka sudah tahu ketibaan Dave.</p>
<p>Namun ada yang tidak biasa. Pintu itu tidak tertutup sepenuhnya, padahal ruangannya ber-AC. Mengandalkan insting tak biasa dalam dirinya, Dave pun segera mengerti apa yang terjadi.</p>
<p>            Ia mendorong pintu masuk itu tanpa melangkah. Tiba-tiba, ada sesuatu yang jatuh. Dengan kecepatan dan kekuatannya, sebelum benda itu menyentuh lantai, Dave menendang benda itu hingga mengenai sisi lain kelas dengan keras. Air keluar dari benda itu dan tumpah menyiprati lantai dan meja-meja yang ada di dekatnya.</p>
<p>            Benda itu adalah ember besar berisikan air. Semua terjadi begitu cepat. Seisi kelas terperangah melihat Dave. Dave melangkah tak peduli seolah tak terjadi apa-apa. Pandangannya begitu dingin. Ia melihat Rahmadi, si Ketua Kelas. Di sekitar mata anak ituDave melihat adanya bilur halus. Bajunya juga kusut, dan beberapa kancingnya copot. Kemudian, pandangan Dave alihkan ke sudut belakang kelas. Bayu menatapnya tajam. Sementara teman-temannya memandang Dave takut-takut.</p>
<p>            Lalu langkah Dave terhenti. Ia menemukan kursi guru terletak secara kurang wajar. Semua terlihat tegang.</p>
<p>            “Hei!” tunjuk Dave ke salah seorang teman Bayu. “Kemari kau, Bangsat.”</p>
<p>            Anak itu terperanjat. Ia menggeleng ketakutan.</p>
<p>            “Cepat maju atau kuseret,” ancam Dave tenang. Ketenangan sikap Dave justru membawa teror bagi anak itu.</p>
<p>            Dengan ragu, bocah itu bangkit dari kursinya dan melangkah maju. Ia menangis ketakutan.</p>
<p>            “Cukup! Berhenti di situ! Sekarang, kamu lari dari sana sampai ke depan pintu! Tidak boleh melompat atau pun berhenti.”</p>
<p>            “Tapi licin, Pak,” kata bocah itu.</p>
<p>            “Saya tidak peduli. Cepat lakukan.” Dave menepi. “Sekarang!”</p>
<p>            Bocah itu mencoba berlari, namun terpeleset. Ia terjengkal dengan cara yang amat memalukan. Seisi kelas terpingkal karenanya.</p>
<p>            “Waaah, ternyata memang licin, ya,” ujar Dave santai. Lalu pandangannya kembali menajam. “Kalian berdua!” tunjuk Dave ke arah teman Bayu yang lain.</p>
<p>            Yang ditunjuk pun langsung panik. Mereka tergagap saking takutnya.</p>
<p>            “Maju!” kata Dave.</p>
<p>            Dengan gemetar, mereka pun bangkit dan maju.</p>
<p>            “Buka baju kalian!”</p>
<p>            “Hah?”</p>
<p>            “Saya bilang, buka baju kalian!” Dave menegaskan.</p>
<p>            Dengan sangat terpaksa, mereka berdua pun melepas seragam itu dari tubuh mereka yang agak berotot itu. Mereka sama sekali tak paham maksud perintah Dave yang satu ini.</p>
<p>            “Lap lantai itu sampai kering!”</p>
<p>            “Hah?”</p>
<p>            “Apa kata-kata saya kurang jelas?”</p>
<p>            Dengan tidak percaya, salah seorang dari mereka dengan konyol bertanya, “Pakai apa, Pak?”</p>
<p>            “Dasar bodoh. Tentu saja pakai seragam kalian!”</p>
<p>            Sekonyong-konyong tubuh mereka pun lemas mendengarnya. Mereka berkelit putus asa. “Tapi bukan kami yang&#8230;.” Omongan mereka terhenti begitu melihat mata marah Dave yang mengerikan. Mereka segera menyadari bahwa berbohong pun sia-sia. ‘Orang ini tak bisa ditipu,’ begitu lah pendapat mereka terhadap Dave sejak saat itu. Dan akhirnya, sambil menahan tangis penyesalan dan rasa malu yang teramat sangat, mereka segera mengelap lantai yang becek itu dengan seragam mereka. Kelas kembali dipenuhi gelak tawa.</p>
<p>            Setelah lantai cukup kering, Dave menyuruh ketiga orang itu berdiri di depan kelas. Ia lalu memanggil seorang lagi teman Bayu dengan hanya menggerakkan jarinya. Anak itu pun dengan pasrah maju dan tinggal lah Bayu sendiri. Ini adalah saat paling menakutkan sekaligus memalukan dalam hidup mereka. Bahkan Bayu tak mampu berkutik.</p>
<p>            “Sekarang, kamu lari sekencang-kencangnya dari situ sampai ke pintu. Tidak boleh melompat, tidak boleh berhenti!”</p>
<p>            Bocah itu ragu. Ia memohon kepada Dave agar diampuni.</p>
<p>            “Cepat lakukan!”</p>
<p>            Bocah itu tetap bergeming.</p>
<p>            Seperti pisau, mata Dave menusuk bocah itu dengan ketajamannya. Matanya tidak melotot, tidak pula menyipit. Aura mengerikan yang terpancar dari mata Dave adalah murni. Ada tenaga yang hebat di dalam diri pemuda itu.</p>
<p>Matanya kian mengerikan melihat bocah itu tak kunjung lari. “Saya bilang, cepat lakukan,” katanya datar. Jangankan bocah itu, semua yang melihat pun merasakan kengerian ketika Dave mengucapkan kalimat barusan.</p>
<p>Namun harga diri bocah itu terlalu tinggi. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak menuruti apa yang Dave perintahkan. Sampai akhirnya Dave berteriak.</p>
<p>“JANGAN BUAT SAYA MARAH!!”</p>
<p>Akibat terkejut yang membuahkan panik, akhirnya bocah itu berlari kencang secara spontan hingga kakinya tersangkut benang halus memanjang yang diikat di kaki meja salah seorang siswa hingga ke kursi guru sehingga terciptalah perangkap sederhana yang awalnya ditujukan untuk Dave. Ia pun tersandung dan wajahnya mengenai lantai dengan telak. Suasana hening kelas pun segera pecah oleh gelak tawa yang benar-benar menggelegar.</p>
<p>Tidak tahan merasa dipermalukan, Bayu mengambil balon berisi tepung yang tadi digunakan untuk melempar Pak Galih, kemudian melemparnya sekuat tenaga ke arah Dave. Ia marah. Bayu berharap serangan yang satu ini akan mencelakai Dave. Bahkan tak puas dengan satu balon, Bayu mengambil balon lainnya dan melemparnya lagi dengan kuat.</p>
<p>Kejadian terjadi begitu cepat sehingga nyaris tak disadari oleh siapa pun ketika Dave menangkap dua balon yang dilempar Bayu tersebut, kemudian melemparnya kembali.Balon itu pecah mengenai wajah Bayu secara beruntun. Bayu merasakan sakit di wajahnya, dan merasakan sakit yang lebih sakit di hatinya.</p>
<p>Ia tidak terima. Kelas kembali hening karena kejadian itu. Wajah Bayu penuh dengan tepung.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, dengan hanya bermodal harga diri, ia berlari menyerang Dave. Tentu saja tinju Bayu ditepis Dave dengan begitu mudah. Lagi-lagi, tangan Dave mencengkeram lengan Bayu. Bayu mengaduh.</p>
<p>Mata mereka bertemu dalam amarah.</p>
<p>“Kalian berlima! Hormat bendera!!!” seru Dave menjatuhkan vonis. Ia lalu berbisik pada Bayu, “Dua-kosong.”</p>
<p>Untuk kedua kalinya semua orang takjub pada aksi Dave. Terutama Maya. Gadis itu benar-benar terpukau.</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>“Baiklah. Cukup untuk hari ini. Kalian boleh istirahat,” kata Dave mengakhiri pelajaran setelah lonceng berbunyi. Beberapa siswa menghambur keluar, beberapa tetap di kelas.</p>
<p>            Terdengar kehebohan di luar yang sudah pasti dikarenakan lima orang tak terduga yang (lagi-lagi) dihukum hormat bendera.</p>
<p>Rahmadi menghampiri dengan wajahnya yang bonyok. “Maaf, Pak. Tadi saya sudah coba untuk mencegah mereka memaasang perangkap-perangkap itu.”</p>
<p>Dave menyahut dengan ramah, “Bapak tahu kamu udah coba sebisa kamu. Kan kelihatan.” Dave menunjuk mata Rahmadi yang kini semakin jelas bilurnya.</p>
<p>“Mereka keroyokan, Pak,” sahut Rahmadi malu.</p>
<p>“Saya tahu. Ya sudah, istirahat sana.”</p>
<p>Rahmadi pun melangkah keluar. Namun sebelum mencapai pintu, ia berpaling lagi. “Bapak hebat,” katanya tersenyum penuh rasa bangga.</p>
<p>Dave menanggapinya dengan mengacungkan jempol dan membalas senyum Rahmadi.</p>
<p>Belum selesai Dave mengemasi buku-bukunya, datang seorang murid lagi.</p>
<p>“Gimana kuenya, Pak?” tanya Maya dengan pipinya yang merona. “Enak?”</p>
<p>“Oh&#8230; ini saya baru mau makan, May,” jawab Dave.</p>
<p>“Semoga Bapak suka, ya,” ujar gadis itu malu-malu.</p>
<p>“Pasti saya suka. Ya sudah, saya kembali ke ruang guru dulu, ya.” Dave berlalu. Namun Maya memanggilnya lagi.</p>
<p>“Pak!”</p>
<p>“Ya?”</p>
<p>Maya terdiam. Pipinya kian memerah.</p>
<p>“May?” Dave mulai bingung. “Eh? Kenapa kamu?”</p>
<p>“Ups!” Sabrina datang tepat waktu ketika Maya tiba-tiba jatuh pingsan. Ia menahan tubuh gadis pemalu itu.</p>
<p>“Lho? Kenapa lagi dia?” tanya Dave agak panik sekaligus kebingungan.</p>
<p>“Nggak apa-apa, Pak. Udah biasa ini,” jawab Sabrina sambil tersenyum canggung.</p>
<p>“Mari saya antarkan ke UKS.”</p>
<p>“Nggak perlu, Pak. Udah sering begini kok. Ntar juga sadar sendiri.”</p>
<p>Dave menatap dengan heran. “Bener nggak apa-apa?”</p>
<p>“<em>Everything’s under control</em>, <em>Sir</em>!” kata Sabrina sambil memberi hormat.</p>
<p>“Ya sudah kalau begitu.” Lalu Dave pun pergi.</p>
<p>Dengan tergopoh-gopoh, Sabrina membawa Maya ke bangkunya. Wajah Maya benar-benar merah. Tak lama kemudian, ia pun siuman.</p>
<p>“Gue jatuh cinta, Sab. Gue jatuh cinta,” katanya seperti orang mengigau.</p>
<p>“Gue tau!” jawab Sabrina ketus. “Lagian lu jatuh cinta pake pingsan segala. Nyusahin aja.”</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Bayu yang sedang menjalani hukuman yang sama di hari kedua ini, merasakan amarah sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga panas matahari dan pegal tangannya pun sudah tak terasa lagi. Tepung terigu masih menodai wajah dan bajunya. Seragamnya telah basah oleh peluh.</p>
<p>            Ia berkata pada teman-temannya, “Gue nggak terima diginiin.”</p>
<p>            “Udah deh, Bay. Gue udah kapok ama si Karno itu,” sahut bocah yang tadi terpeleset.</p>
<p>            “Iyaaa. Lagian tuh orang pasti punya ilmu hitam. Masa’ jebakan yang udah kita pasang rapi bisa dilewati semua?”</p>
<p>            “Pokoknya gue nggak mau lagi berurusan ama dia,” kata dua orang yang tadi kena hukuman mengelap lantai dengan seragam. Mereka bertelanjang dada. Seragam mereka yang basah dijemur di dekat tiang bendera.</p>
<p>            “Gue juga. Tuh orang bukan orang biasa. Kalian nggak liat matanya waktu marah? Gue aja yang mantan preman sekampung ketakutan setengah mati!” sahut bocah yang tadi tersangkut benang.</p>
<p>            “Dasar banci lo pada!!” hardik Bayu. Seandainya ia tidak sedang menjalani hukuman, tentu saja suaranya akan lebih besar. “Baru segitu aja udah keok! Mana harga diri kalian!?”</p>
<p>            Mereka tak menjawab.</p>
<p>            “Liat tuh orang-orang! Semua pada ngetawain kita! Apa kalian terima!?”</p>
<p>            “Kalo mereka, tinggal kita kasih pelajaran, beres deh. Gue jamin mereka nggak bakal berani begitu lagi,” kata salah seorang dari mereka.</p>
<p>            “Dasar bego! Lo kira si Karno bakal diem aja!? Kita bakal dihukum lebih parah dari ini!” omel Bayu.</p>
<p>            “Kayaknya lo ngadu aja deh Bay ke bokap lo,” sahut yang lain putus asa.</p>
<p>            “Nggak akan! Nggak sudi gue kalah taruhan dari si Karno itu! Gue harus bisa singkirin dia dari sekolah ini dengan cara gue sendiri!”</p>
<p>            “Berarti kami nggak perlu ikut campur dong?”</p>
<p>            “Ya&#8230; maksud gue dengan bantuan kalian juga,” Bayu meralat. “Apa kalian terima dikalahin dengan cara kayak begini?”</p>
<p>            “Kali ini gue ngaku kalah, Bay. Gue nggak sanggup kalo lawannya dia,” kata salah seorang dari mereka yang disusul anggukan setuju dari yang lain.</p>
<p>            “WOY!” geram Bayu. “Kalo bukan karena gue, lo semua udah pada dikeluarin dari sekolah ini! Sekali ini aja bantu gue!!”</p>
<p>            Mereka berempat terdiam. Mendengar itu, mau tak mau mereka harus setuju membantu Bayu dalam ‘pertarungannya’.</p>
<p>            “Oke deh,” kata salah seorang dari mereka mewakili. “Kali ini apa rencana lo?”</p>
<p>            Bayu berpikir sejenak, lalu berkata, “Karena gue rasa nggak mungkin untuk nyerang dia terang-terangan, gimana kalo kita keroyok dia dari belakang?”</p>
<p>            “Buset dah! Banci amat strategi lo?”</p>
<p>            “Emang lo ada usul lain!?” tanya Bayu tersinggung. “Lo kan tau gimana gesitnya gerakan tuh orang? Pukulan dan lemparan gue aja ditepis kayak nggak ada apa-apanya! Belum lagi waktu dia nendang ember penuh air yang kita pasang tadi. Dia nendang ember itu kayak nggak ada air di dalamnya. Kita aja setengah mati ngangkatnya. Sementara dia&#8230;. Mungkin anggota militer aja nggak semuanya bisa begitu. Nyerang dia terang-terangan sama aja dengan bunuh diri!”</p>
<p>            “Nggak! Gue tetap nggak setuju! Itu bukan cara gue!”</p>
<p>            “Bener, Bay. Masa’ jagoan kelas atas kayak kita pake cara kotor gitu. Ogah!”</p>
<p>            “Gue juga ogah sih sebenernya,” aku Bayu. “Tapi nggak ada jalan lain.”</p>
<p>            “Gini aja, lo tantang si Karno dari depan, ntar kami berdua nahan dia dari belakang, trus, lo pada pukulin deh! Gimana?”</p>
<p>            “Dodol! Sama aja kotornya!” sahut yang lain.</p>
<p>            “Nggak. Dia bener,” kata Bayu. “Kita harus cari tempat yang tepat untuk lakuin hal itu.”</p>
<p>            “Sip dah! Lagian kalo dipikir-pikir, tuh cara nggak kotor-kotor amat kok. Kapan kita sikat tuh orang?”</p>
<p>            “Nanti. Pulang sekolah,” jawab Bayu mantap.</p>
<p>            “Pulang sekolah!? Gile, tangan gue masih pegel banget nih! Besok aja!”</p>
<p>            “Iya, Bay. Napsu amat lu jadi orang!”</p>
<p>            Ketika Bayu hendak menanggapi keluhan teman-temannya, terdengar suara Dave.</p>
<p>            “Ada apa ini ribut-ribut?”</p>
<p>            Mereka berlima pun segera tutup mulut rapat-rapat.</p>
<p>            Dave berdiri di hadapan mereka. Ia menyesap teh botol dingin di tangannya dengan begitu nikmat. “Hmmmmmmm! Segaaaaaaaaaaaar! Memang enak panas-panas begini minum teh. Betul, tidak?”</p>
<p>            Bayu dan kawan-kawan meliriknya kesal.</p>
<p>            Lalu seketika wajah Dave kembali serius. “Kalian berlima, dengarkan saya! Ini yang terakhir kali saya lihat kalian bertingkah seperti tadi. Sekali lagi kalian kedapatan berbuat onar, saya dan Pak Tanto takkan tinggal diam. Kalian akan menderita lebih dari ini! Mengerti?”</p>
<p>            Tak ada yang menjawab.</p>
<p>            “Saya anggap itu sebagai ‘ya’,” kata Dave. “Sehabis jam istirahat, kalian boleh kembali ke kelas. Kecuali Bayu. Kamu temui saya di ruang guru.”</p>
<p>            Lagi-lagi tak ada yang menjawab.</p>
<p>            “Saya juga anggap itu sebagai ‘ya’. Baik. Saya mohon diri dulu!” kata Dave sembari menyeruput tehnya. “Mmmmh! Nikmatnyaaa!”</p>
<p>            “Brengsek tuh si Karno! Sengaja dia minum-minum di depan kita!” gerutu salah seorang teman Bayu.</p>
<p>            “Kalo gini, gue setuju ama usul lo untuk nyergap dia pulang sekolah nanti, Bay. Gue udah nggak sabar mau hajar tuh orang!”</p>
<p>            “Kita hajar dia sampe mampus! Sekuat apa pun dia, nggak akan mungkin bisa ngalahin kita berlima sekaligus!”</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Masih ada beberapa menit lagi sebelum jam istirahat usai. Dave mengeluarkan bingkisan yang diberikan Maya tadi pagi. Bingkisan itu tertata dengan begitu rapi dan cantik. Agak sayang rasanya jika disobek.</p>
<p>            Terdengar tawa Yadsendew dari dalam saku Dave. “Benar kataku. Gadis itu benar-benar tertarik padamu,” katanya.</p>
<p>            “Berisik!” hardik Dave.</p>
<p>            “Suara apa itu barusan, Pak?” tanya Mahmud yang kebetulan lewat.</p>
<p>            “Nada dering saya, Pak. Jelek ya suaranya?”</p>
<p>            “Nggak juga sih. Bingkisan apa itu, Pak?”</p>
<p>            “Kue dari siswi. Mari Pak kita makan sama-sama.”</p>
<p>            “Waaaaaah&#8230;. Pak Karno sudah punya fans rupanya,” goda Mahmud.</p>
<p>            Dave tertawa. “Ah, ini sih biasa.”</p>
<p>            Ketika Dave sibuk membuka bingkisan itu, Mahmud bertanya, “Bikin salah apa lagi si Bayu itu, Pak?”</p>
<p>            Dave menghela napas. “Tadi dia coba mencelakai saya. Benar-benar kelewatan.”</p>
<p>            Mahmud tak berkata-kata lagi. Dalam hati ia masih menyimpan rasa iba seandainya hukuman yang diberikan Dave ini sampai ke telinga ayah Bayu.</p>
<p>            Dave melirik ke arah guru-guru yang tadi kena kerjai oleh Bayu. Mereka semua tampak lebih tenang. Bahkan beberapa tersenyum-senyum sendiri. Dave tahu mereka senang karena dendam mereka terhadap Bayu terbalaskan.</p>
<p>            Bingkisan pun akhirnya terbuka.</p>
<p>            “Wow! <em>Cake </em>coklat kismis,” seru Mahmud. “Hebat juga ya Bapak ini.” Mahmud menyenggol Dave dengan sikunya. “Baru kemarin masuk, sudah bisa dapat hatinya Maya. Jarang-jarang lho Pak ada yang bisa begitu.”</p>
<p>            Dave tertawa. “Kok Bapak tahu ini dari Maya?”</p>
<p>            “Maya selalu bikin kue ini setiap ada acara, atau ada orang yang spesial,” jelas Mahmud sembari mencomot kue yang sudah dipotong kecil-kecil itu.</p>
<p>            Dave juga turut mencicipinya. “Enak banget! Jadi Maya sering ngasih ini ke cowok-cowok yang dia suka?”</p>
<p>            “Nggak juga, Pak. Ini khusus untuk orang yang menurutnya spesial. Kira-kira begitu lah yang diceritakan Sabrina.”</p>
<p>            “Oh begitu. Anda dekat dengan Sabrina?”</p>
<p>            Mahmud tertawa. “Saya dan Sabrina udah seperti teman dekat. Karena saya dan dia punya hobi yang sama: menggosip!”</p>
<p>            “Waaaaah! Bisa-bisa nanti kalian menggosipin saya karena kue ini.”</p>
<p>            Mahmud nyengir. “Nggak kok, Pak. Nggak. Karena Bapak udah bagi-bagi kue ini, kali ini saya bakal tutup mulut.”</p>
<p>            Mereka pun tertawa. Dave juga membagikan kue lezat itu pada guru-guru yang lain.</p>
<p>            Bel masuk berbunyi. Siswa-siswa yang berada di luar pun segera kembali ke kelas masing-masing. Termasuk Bayu dan kawan-kawan yang akhirnya mengakhiri hormatnya pada Sang Saka Merah Putih. Teman-temannya memutuskan untuk membeli air, sementara Bayu langsung menuju ruang guru.</p>
<p>            Ketika masuk, semua guru yang ada di situ memandangi Bayu dengan tatapan sinis, bahkan merendahkan. Bayu menyadari semua itu. Namun ia terus melangkah seolah sudah kebal.</p>
<p>            Dan tiba lah ia di depan meja Dave. Ia melihat kue yang sedang dinikmati Dave dan Mahmud. Coklat kismis&#8230;.</p>
<p>            Maya. Nama itu langsung melintas di benak Bayu. Emosi pun kian merajainya. Tanpa ia sadari, tangannya mengepal geram. Hatinya serasa terbakar.</p>
<p>            Dave meminta Mahmud meninggalkan mereka berdua. Setelah pria feminin itu berlalu, Dave mempersilakan Bayu duduk.</p>
<p>            “Kue?” tawar Dave.</p>
<p>            Bayu menggeleng singkat. “Langsung aja. Lo mau ngomong apa?”</p>
<p>            “Bisa kamu bicara lebih sopan?”</p>
<p>            “Nggak!”</p>
<p>            Dave menghela napas. Ia bingung harus bagaimana lagi supaya Bayu jera.</p>
<p>            “Dengar!” kata Bayu.</p>
<p>            Dave melirik. Ia mulai terbiasa dengan sikap kurang ajar Bayu.</p>
<p>            “Gue bakalan berubah. Gue bakalan patuh sama segala peraturan sekolah ini.”</p>
<p>            “Tapi?”</p>
<p>            “Tapi lo harus bisa ngalahin gue secara laki-laki.”</p>
<p>            Dave tertawa. “Kamu ngajak berantem?”</p>
<p>            Bayu diam. Namun tatapan benci Bayu yang mengarah pada Dave menjawab semua.</p>
<p>            “Oke,” kata Dave. “Saya harap ini kompetisi terakhir kita. Kamu harus tepati janji. Bisa, kan?”</p>
<p>            “Kalo gue nggak bisa tepati janji, lo nggak bakal berada di sini sekarang, kan?”</p>
<p>            Dave tersenyum. Ia mengangguk. “Kalo saya menang, kamu bakalan patuh. Gimana kalo seandainya saya kalah?”</p>
<p>            “Lo harus keluar dari sekolah ini,” jawab Bayu dengan raut wajah yang kejam. “Berani nggak?”</p>
<p>            Dave tertawa lagi, membuat Bayu semakin kesal.</p>
<p>            “Oke. Saya terima,” kata Dave dengan senang hati. Ini kesempatan bagus untuk bergerak ‘mendekati’ Bayu.</p>
<p>            “Gue tunggu di belakang sekolah.”</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Bayu memasuki kelas dengan wajah tegang. Ia melangkah tak acuh di depan guru yang baru saja akan memulai pelajaran itu. Ia menatap Maya sembari terus melangkah.</p>
<p>            Maya balas menatapnya. Tatapannya sarat akan kebencian dan kekecewaan.</p>
<p>            Sakit hati dan rasa kecewa Bayu terhadap Maya saat itu benar-benar mengganggunya. Ia pun duduk di bangkunya yang terletak di pojok belakang, di mana teman-temannya menatapnya heran.</p>
<p>            Bayu melamun. “Secepat itu kamu lupain aku?” tanyanya dalam hati.</p>
<p> </p>
<p>* * *</p>
<p> </p>
<p>Akhirnya, tiba juga waktu pulang sekolah. Para siswa berhambur keluar kelas dengan ceria. Ruang guru pun perlahan mengosong ditinggal penghuninya.</p>
<p>            “Nggak pulang, Pak?” tanya Mahmud yang menemukan Dave sedang melamun.</p>
<p>            “Masih ada yang harus saya selesaikan. Pak Mahmud duluan aja,” jawab Dave ramah.</p>
<p>            “Oo begitu. Ya udah, saya duluan ya, Pak,” Mahmud mohon diri.</p>
<p>            Setelah yakin sekolah sudah cukup sepi, Dave segera bangkit dari kursinya dan melangkah menuju taman kecil tak terawat yang terletak di belakang sekolah. Tempat itu jarang didatangi. Tumbuhan liar menjalar di mana-mana. Kursi dan meja patah, serta kayu bekas tak berguna lainnya turut menyemakkan tempat itu. Terdapat pula pondok kecil yang dulu digunakan sebagai gudang.</p>
<p>            Gosip yang beredar, taman itu berhantu. Karena itu lah tempat ini jarang didatangi.</p>
<p>            “Berkelahi dengan siswa. Buruk sekali caramu memberi didikan,” kata Yadsendew yang masih tersembunyi di balik saku celana Dave sebagai ponsel.</p>
<p>            “Kalau ada cara lain, akan dengan senang hati kugunakan,” sahut Dave acuh tak acuh sambil terus melangkah. “Hanya dengan cara ini mereka akan jera. Lagi pula, mungkin saja dengan begini kita bisa lebih dekat dengan Bayu. Bukankah dia sudah berjanji akan patuh?”</p>
<p>            “Itu kan kalau kau menang.”</p>
<p>            “Ngawur kau.”</p>
<p>            Yadsendew tertawa. “Kalian memang mirip. Sama-sama keras kepala.”</p>
<p>            Dan tibalah Dave di tempat itu. Ia melihat Bayu sudah menunggu dengan dua orang temannya. “Waaaah&#8230; tiga lawan satu?” tanya Dave dengan nada mengejek. “Keroyokan bukan cara laki-laki sejati, Bayu. Itu cara banci.”</p>
<p>            Bayu mengangkat bahu. “Apa boleh buat. Mereka juga sakit hati karena lo udah mainin mereka.”</p>
<p>Sikap Dave yang begitu santai membuat mereka kesal. Mereka pun segera mengambil kayu berpaku yang berserakan di tanah berumput itu.</p>
<p>Mereka heran, mengapa Dave masih terlihat santai di situasi seperti ini. Pakaian batik yang seharusnya menghalanginya bergerak secara leluasa pun tidak ia lepaskan. Ia bahkan tersenyum seperti akan memainkan permainan yang sudah pasti akan ia menangkan. Bayu dan kawan-kawan segera sadar bahwa mereka diremehkan.</p>
<p>Dave merasakan ada langkah kaki yang mendekat di belakangnya. Dua orang. Lalu langkah itu berubah menjadi terkaman. Maka, Dave pun segera berbalik dengan lincahnya dan dengan beberapa gerakan ia berhasil menjatuhkan dua orang tersebut.Kedua teman Bayu itu pun langsung ambruk tanpa sempat membalas.</p>
<p>“Dari awal saya sudah curiga mengapa kalian hanya bertiga. Gampang sekali dibaca. Seharusnya kalian tetap muncul di hadapan saya berlima dan suruh teman lain menyergap saya dari belakang,” komentar Dave. “Taktik kalian payah!”</p>
<p>Bayu dan dua orang lainnya pun waspada. “Apa boleh buat. Kita serang dia bertiga,” bisik Bayu. Dan mereka pun menyerang dengan kayu di tangan mereka.</p>
<p>Dave berdiri dengan tenang menanti mereka. Ia mengambil ponselnya—atau lebih tepatnya Yadsendew.</p>
<p>Bayu dan kawan-kawan pun sudah sangat dekat dan dengan liar mengayunkan kayu kokoh itu.</p>
<p>“MAMPUS LO!!” geram Bayu.</p>
<p>Namun yang terjadi malah mereka terjatuh, terbawa oleh kekuatan mereka sendiri. Ketiganya bingung dengan apa yang terjadi. Mereka pun menatap kayu-kayu itu. Ukurannya tinggal setengah. Setengahnya lagi tergeletak di dekat kaki Dave. Mereka benar-benar kebingungan.</p>
<p>“Payah sekali kalian ini. Apa kalian tidak bisa membedakan mana kayu yang masih kokoh dan mana kayu yang sudah rapuh?” kata Dave sembari memasukkan Yadsendew kembali ke dalam saku celananya. “Lihatlah! Diayunkan sedikit saja sudah patah begitu.”</p>
<p>Kedua teman Bayu pun membuang kayu di tangan mereka dengan kesal. Pikiran mereka begitu kacau sehingga perkataan Dave barusan terdengar logis.</p>
<p>Tapi tidak dengan Bayu. Ia terlalu cerdas untuk menerima begitu saja semua pernyataan yang dikatakan Dave. Ia mengamati kayu di tangannya baik-baik. Kayu itu masih bagus, masih kokoh. Bagian yang terpisah tadi juga bukan karena patah yang disebabkan oleh kerapuhan. Bagian itu tampak rapi. Sudah jelas itu dipotong oleh sesuatu yang sangat tajam. Tapi apa? Apakah pedang? Ah, tidak mungkin, pikirnya.</p>
<p>Bayu mengamati Dave. Ia tidak membawa apa pun di tangannya. Lagi pula, serapuh apa pun sebuah kayu, mungkinkah akan patah semudah itu hanya dengan sekali ayun?</p>
<p>Melihat mereka berlima yang tergeletak putus asa, Dave yakin takkan ada perlawanan lagi dari mereka. “Bayu, kamu sudah kalah. Kamu sudah berjanji untuk patuh kalau kamu kalah, kan? Sekarang ikut saya!” Dave mendekati.</p>
<p>Bayu yang lagi-lagi merasa terhina karena kalah sekaligus bingung dengan apa yang terjadi, menolak ajakan Dave, kemudian lari meninggalkan mereka semua. Dave pun mengejar.</p>
<p>Setelah cukup jauh dari taman di mana empat orang teman Bayu masih terkulai, Yadsendew berkata, “Sudahlah, Dave. Tidak usah dikejar. Biarkan saja dulu. Kurasa sia-sia saja mengatakan yang sebenarnya kepada Bayu di saat seperti ini.”</p>
<p>Dave pun berhenti. “Tapi waktu kita tidak banyak, Dew! Kita tidak boleh mengulur-ulur. Penduduk Sanivia butuh Bayu segera.”</p>
<p>“Kau tenang saja. Mereka pasti akan bertahan. Lagi pula, waktu yang diberikan untuk kita masih tersisa dua puluh delapan hari lagi.”</p>
<p>Dave teringat akan tempatnya berasal, sebuah planet bernama Sanivia. Sebuah planet yang sedang mengalami krisis. Planet yang bahkan tidak bisa lagi menjamin keselamatan penduduknya.</p>
<p>Ia melihat sosok Bayu yang berlari semakin menjauh.</p>
<p>Hari yang panjang&#8230;.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/">THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 2</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 1</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jufan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2014 15:51:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/</guid>

					<description><![CDATA[<p>CHAPTER 1 The Kid   “Selamat, Pak,” ucap pria berumur 40 tahun berkumis tebal itu pada sosok nan tampan yang berdiri tegak di hadapannya. “Anda kami terima untuk mengajar di SMU Soekarno-Hatta ini sebagai guru fisika,” tambahnya sambil mengulurkan tangan.             Pemuda rupawan itu tersenyum. Dengan yakin dan mantap, ia sambut tangan pria yang menjabat sebagai ... <a title="THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 1" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/" aria-label="Read more about THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 1">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/">THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>CHAPTER </strong><strong>1</strong></p>
<p style="text-align: center">The Kid</p>
<p> </p>
<p>“Selamat, Pak,” ucap pria berumur 40 tahun berkumis tebal itu pada sosok nan tampan yang berdiri tegak di hadapannya. “Anda kami terima untuk mengajar di SMU Soekarno-Hatta ini sebagai guru fisika,” tambahnya sambil mengulurkan tangan.</p>
<p>            Pemuda rupawan itu tersenyum. Dengan yakin dan mantap, ia sambut tangan pria yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMU tersebut. Mereka pun berjabat tangan, tanda bahwa telah terbentuk kesepakatan yang kokoh di antara mereka.</p>
<p>            “Terimakasih, Pak Tanto,” balasnya.“Saya akan melakukan yang terbaik dan mengabdi sepenuhnya untuk sekolah ini.”</p>
<p>            “Bagus sekali, Pak. Tapi….” Raut wajah Pak Tanto berubah. “… tolong rapikan rambut Anda jika sedang berada di sekolah ini!” pintanya tegas.</p>
<p>            “Lho? Kenapa, Pak?” tanya pemuda itu bingung. “Bukannya ini gaya rambut yang paling populer di Bumi?”</p>
<p>            “Maaf?”</p>
<p>            “Eh! Um… maksud saya, rambut saya ini kan, modelnya anak muda jaman sekarang. Jadi tak ada salahnya saya….”</p>
<p>            “Rapikan rambut Anda atau cari sekolah lain untuk Anda mengajar.”</p>
<p>            “Oh! Jangan, Pak! Baik, baik. Akan saya rapikan rambut ini sesuai permintaan Bapak.”</p>
<p>            “Nah. Jawaban seperti itu yang saya inginkan.” Senyum simpul kembali terbentuk di bibir Pak Tanto yang setebal kumisnya itu. “Baiklah, Pak. Silakan Bapak kembali besok untuk mulai mengajar di sini.”</p>
<p>            “Pak Tanto!” Seorang guru memanggil Pak Tanto dengan panik dari luar pintu.</p>
<p>            “Ada apa, Pak Galih?”</p>
<p>            “Pak Hamzah, Pak. Jantung beliau kumat lagi ketika mengajar fisika di kelas 3 IPA 1. Ambulance sedang dalam perjalanan menuju kemari.”</p>
<p>            “Di mana beliau sekarang?”</p>
<p>            “Sedang istirahat di ruang UKS.”</p>
<p>            “Nanti saya lihat keadaan beliau. Sudah ada yang menggantikannya mengajar?”</p>
<p>            “Belum, Pak. Guru-guru fisika yang lain juga sedang mengajar di kelas mereka masing-masing.”</p>
<p>            “Ya sudah. Pak Galih tenang dulu,” kata Pak Tanto. Pandangannya kembali ke pemuda semampai yang berdiri di sampingnya. “Maaf, Pak. Kebetulan sekali. Sepertinya saya harus meminta pertolongan Bapak untuk mengajar saat ini juga di kelas 3 IPA 1. Ini benar-benar di luar dugaan kami. Saya meminta Bapak untuk menggantikan jam pelajaran Pak Hamzah selama beberapa hari sampai beliau sembuh. Kebetulan beliau juga merupakan guru fisika. Setelah beliau pulih, baru lah kita jalankan prosedur yang sudah kita sepakati tadi. Bagaimana, Pak? Sanggup?”</p>
<p>            Pemuda itu kembali tersenyum optimis. “Seperti yang saya katakan tadi, Pak Tanto,saya akan melakukan yang terbaik dan mengabdi sepenuhnya untuk sekolah ini. Tentu Anda tahu persis maksud dari kata-kata itu. Jadialangkah malu dan hinanya saya jika tidak menyanggupi permintaan Bapak di hari pertama ini,” kata pemuda itu tegas. Semangat dan aura pemuda itu terasa begitu meluap hingga membuat dua pria itu terkesan. Biar masih muda, tapi kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya menjadikannya terlihat begitu ‘besar’.</p>
<p>            Pak Tanto dan Pak Galih tersenyum bangga pada guru baru itu. Sepenuhnya mereka sadari bahwa bukanlah pria biasa yang sedang mereka hadapi ini. Sebuah kehormatan bagi mereka bisa bekerja sama dengan guru yang berdedikasi seperti pemuda itu.</p>
<p>            “Baiklah kalau begitu, Pak. Sekarang Bapak ikut Pak Galih untuk mengambil seragam guru untuk Bapak. Begitu selesai, segera lahkembali dan kita temui siswa-siswi kita di kelas 3 IPA 1.”</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center">* * *</p>
<p>Asap tebal mengotori langit hitam yang indah itu. Gemuruh senjata api, sabetan pedang, teriakan manusia, serta darah yang membanjir menambah buruk suasana. Namun keadaan itu sama sekali tak menggoyahkan semangat tempur seorang laki-laki tangguh berumur 25 tahun yang dengan lihai memainkan pedangnya menyerang musuh-musuh yang mengadang. Ratusan jiwa yang mengganggu telah gugur di tangannya.</p>
<p>            Hingga akhirnya, lawan seimbang yang ia tunggu muncul juga di tengah ramainya medan perang. Dua pria yang saling bertatapan dengan sorot mata penuh kebencian itu berlari berhadapan dengan kecepatan tinggi dengan menggenggam erat pedang yang siap mereka ayunkan dengan tenaga bak setan. Jarak mereka semakin dekat dan pertarungan adu pedang pun tak terhindarkan.</p>
<p> </p>
<p>“Pak? Pak?” Suara berat Pak Tanto memecah lamunan pemuda yang baru saja diterima menjadi guru itu. “Mari kita temui murid-murid kita.”</p>
<p>            “Baik, Pak Tanto,” jawab pemuda itu yang kemudian bangkit dari kursi yang didudukinya dan melangkah menuju ruangan yang akan menjadi ‘medan tempurnya’. Baju batik bercorak hitam-putih, celana kain hitam panjang yang berkilau, serta rambut basah belah samping yang tersisir rapi menjadikan pemuda itu terlihat semakin rapi, tampan, namunterkesanlugu. Dengan berjalan di belakang Pak Tanto, pemuda itu memasuki ruang yang bertuliskan ‘3 IPA 1’ di pintu masuknya.</p>
<p>            Semua mata tertuju padanya. Terdengar samar olehnya, decak kagum para siswi yang menatapnya. Mata genit mereka terbelalak seperti sedang melihat malaikat.</p>
<p>            Langkah Pak Tanto dan pemuda itu terhenti persis di depan kelas, berhadapan dengan siswa-siswanya.</p>
<p>            “Anak-Anak, beliau inilah orang yang Bapak sebutkan tadi, yang untuk sementara waktu akan mengajar fisika menggantikan Pak Hamzah yang saat ini kurang baik kondisinya. Silakan perkenalkan diri Anda, Pak!” Pak Tanto mempersilakan.</p>
<p>            “Terimakasih, Pak Tanto.”</p>
<p>            Sayup-sayup, terdengar suara bisik-bisik nakal dari mulut para siswi.</p>
<p>            “Kayaknya dia keturunan Eropa, deh. Pasti namanya kebarat-baratan gitu. Mukanya aja imut, ganteng. Kayak bule gitu. Iya nggak, sih?” bisik salah seorang siswitomboi pada teman sebangkunya yang cenderung lebih feminin dan cantik.</p>
<p>            “Pastinya, Sab. Tebakan gue nih ya, pasti namanya Steve, Gerald, atau Edward, mungkin? Aduuuuuh, ganteng banget, sih? Bisa betah nih gue diajarin ama dia. Kyaaaaa!!” sahut temannya yang disusul dengan teriakan gemas dan pipi yang memerah luar biasa. Teriakannya menyihir kelas menjadi lebih senyap. Semua mata kini tertuju pada gadis manis itu. Iapun menunduk malu karenanya.</p>
<p>            Pak Tanto geleng-geleng kepala.</p>
<p>            Pemuda itu tak ambil pusing dengan kejadian ganjil barusan. Ia melanjutkan perkenalan yang tadi tertunda. “Perkenalkan, Anak-Anak,” ia memulai, “nama saya….”</p>
<p>            “Steve…!”</p>
<p>            “Edward…!”</p>
<p>            “Bernard…!”</p>
<p>            “Joe…!” Kembali terdengar bisikan-bisikan para siswi, menerka nama sang guru baru yang berwajah agak <em>western</em> itu.</p>
<p>            “Soekarno Mangunsoetjipto,” pemuda itu menyebutkan namanya. Suasana kelashening seketika. Kali ini benar-benar senyap. Seisi kelas seolah tak percaya akan apa yang mereka dengar barusan. Waktu seakan berhenti.</p>
<p>            “Bi&#8230; bisa Bapak ulang?” pinta siswi yang berteriak tadi. Tubuhnya gemetar.</p>
<p>            “Soekarno Mangunsoetjipto,” ulang pemuda itu.</p>
<p>            Seorang siswa bengal yang duduk paling belakang, di sudut sebelah kanan, tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Empat orang temannya tersenyum merendahkan.</p>
<p>            Gadis itu terdiam.Tubuhnya lemas seketika.Wajahnya pucat. Tak kuasa menerima fakta yang baru saja ia dengar, ia pun pingsan. Tubuhnya ambruk ke lantai.</p>
<p>            “<em>Astaghfirullah</em>, kelas ini.” Kali ini Pak Tanto benar-benar malu. “Kalian berdua! Bawa Maya ke ruang UKS!” perintahnya pada dua siswa berbadan besar yang duduk tak jauh dari siswi bernama Maya itu.</p>
<p>            “Maafatas ketidaknyamanan ini, Pak,” kata Pak Tanto setelah Maya digotong keluar.“Silakan lanjutkan.”</p>
<p>            “Baik, Pak.”Pemuda itu berdehem.“Biar lebih akrab, Kalian bisa memanggil saya dengan Pak Karno saja.”</p>
<p>            “Bapak tinggal dimana?” tanya siswi tomboi yang merupakan teman sebangku Maya tadi.</p>
<p>            “Untuk sementara, saya masihmengontrak rumah,” jawab pemuda itu.</p>
<p>            “Status Bapak lainnya?” tanya seorang siswa yang cukup tampan yang duduk di bangku paling depan, persis di hadapan meja guru.</p>
<p>            “Saya lahir pada tanggal 18 Maret dua puluh limatahun yang lalu.Masih <em>single</em>, lulusan Harvard University, jurusan….”</p>
<p>            “Harvard? Ah, bo’ong tuh!” potong siswa yang tertawa tadi.</p>
<p>            Ini sudah kelewatan.</p>
<p>            Pemuda yang mengaku bernama panggilan Karno itu melihatnya dengan begitu dingin. Tampaknya siswa itu adalah siswa dengan tubuh paling tinggi dan paling tangguh di kelas itu. Sama sepertinya, wajah anak itu juga agak kebarat-baratan.</p>
<p>            “Bayu! Jaga sikapmu!” bentak Pak Tanto.</p>
<p>            Pemuda itu tampak terkejut ketika Pak Tanto menyebut nama ‘Bayu’. Namun, ia sembunyikan keterkejutannya itu dan kembali pada perkenalannya seperti tidak terjadi apa-apa. “Ada lagi yang ingin bertanya?”</p>
<p>            Tak ada yang menjawab.</p>
<p>            “Baiklah, Pak Karno. Anda sudah bisa mengajar di kelas ini,” kata Pak Tanto. “Jika ada keluhan atau kendala, jangan sungkan untuk bicara pada saya. Satu hal lagi.” Pak Tanto berjinjit, hendak berbisik ke telinga pemuda itu.</p>
<p>            Sadar bahwa ternyata telinganya terlalu tinggi untuk dijangkau oleh bibir Pak Tanto, pemuda itu pun sedikit membungkuk.</p>
<p>            “Berhati-hatilah dengan lima siswa yang duduk di pojok kanan belakang itu. Mereka cukup sulit diatur. Khususnya siswa berambutacak-acakan bernama Bayu itu. Kenakalan mereka bukan kenakalan remaja pada umumnya. Saya harap Anda waspada dan bijaksana dalam bertindak.”</p>
<p>            “Saya mengerti, Pak.”</p>
<p>            “Nah, Anak-Anak. Bapak tinggal dulu, ya. Selamat belajar,” kata Pak Tanto mengakhiri pertemuan. Ia lalu melangkah keluar kelas.</p>
<p>            Tinggal lah pemuda itu seorang diri menghadapi para siswa. “Baik. Sudah sampai dimana pelajarannya?”</p>
<p>            “Potensial Listrik, Pak,” jawab siswi tomboi tadi.</p>
<p>            “Begitu. Kamu kelihatannya cukup aktif, ya. Siapa namamu?”</p>
<p>            “Sabrina Yusuf, Pak.”</p>
<p>            Pemuda itu mengangguk. “Si Maya itu, kenapa sepertinya kaget sekali mendengar nama saya? Apa nama saya sebegitu buruknya?”</p>
<p>            “Bagus kok, Pak,” jawab Sabrina gugup. Sekilas terlihat sedang menahan tawa.“Mungkin karena Maya hari ini kurang sehat. Jadinya… ya… gitu deh.”</p>
<p>            “Lagian Maya itu emang anaknya gampang sekali pingsan, Pak,” tambah siswa yang duduk paling depan tadi.</p>
<p>            “Oo, begitu.” Pemuda itu mengangguk sambil melihat nama siswa tersebut di bagian dada sebelah kanan. Rahmadi Prasetyo.</p>
<p>            “Emang kenapa? Lo naksir sama Maya?” tanya Bayu kasar. Ia lalu menaikkan kakinya ke atas meja, kemudian menyalakan rokok dengan santai. Perilaku serupa diikuti oleh empat orang temannya.</p>
<p>            “Kalian siswa baru di sini?” tanya pemuda itu tenang pada kelima berandal itu.</p>
<p>            “Menurut lo?” Bayu balas bertanya sambil mengisap rokok yang ada di mulutnya.</p>
<p>            “Kalau kalian siswa baru di sini, saya ingin beritahu bahwa siswa dilarang merokok di sekolah ini. Tapi kalau bukan,” ia melanjutkan,“berarti kalian tidak lebih dari binatang yang tidak memiliki akal dan pikiran. Dengan melihat wajah kalian saja, saya sudah tahu kalau kalian berlima adalahorang-orang bodoh. Apa saya benar?”</p>
<p>            Semua terkesiap mendengar kata-katanya yang begitu tajam.</p>
<p>            Lima siswa itu punlangsung terpancing emosinya. Mereka lalu bangkit dari kursi, dan menghampiripemuda itu. “Lo belum tau siapa gue, orang baru? GUE BAYU PRATAMA!! ANAK DARI uummmmfffhhhh…!!”</p>
<p>            Kalimat Bayu terputus akibat adanya hapusan <em>whiteboard</em>  yang tiba-tiba saja ada di mulutnya. Pemuda itu menyumpal mulut Bayu dengan kecepatan yang mengesankan.</p>
<p>            Seluruh kelas takjub dan tersenyum menahan tawa melihat itu.</p>
<p>            “Dasar anak manja. Di mana rasa malumu?” Kemarahan pemuda itu mulai tampak, namun ia tetap tenang.</p>
<p>            Bayu menyingkirkan penghapus itu dari mulutnya. “Brengsek!!” Ia melayangkan tinju ke wajah pemuda itu.</p>
<p>            Dengan tenang, pemuda itu menepisnya dengan begitu mudah, lalu mencengkeram tangan itu. “Jangan belagu kamu, Bocah ingusan!” katanya dengan tatapan yang liar. Pemuda itu memancarkan amarah yang dapat dirasakan oleh semua yang ada di ruangan itu.</p>
<p>            Bayu mengeluh kesakitan. Ia memberontak, mencoba melepas cengkeraman pemuda itu. Namun, pemuda itu terus mencengkeramnya dengan lebih keras hingga Bayu benar-benar kesakitan.</p>
<p>            “Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri. Sudah sebesar ini masih mengandalkan orangtua. Bocah seumuranmu seharusnya belajar dengan giat dan buat bangsa dan orangtuamu bangga dengan prestasi yang kauraih. Bukannya sibuk berlindung di belakang bokong orangtuamu yang kaya itu,” kata pemuda itu. Ia tetap tenang. Namun pandangan liarnya meruntuhkan nyali mereka berlima.</p>
<p>            Situasisudah benar-benar kacau. Siswa yang lain hanya bisa menahan napas sekaligus takjub melihat aksi guru baru mereka.</p>
<p>            “Kau menodai bangsa kita,” geram pemuda itu.</p>
<p>            Bayu yang tak kuasa lagi melawan, membentak teman-temannya, “Kalian berempat kenapa diam aja!? Bantuin dong!!”</p>
<p>            Mata liar pemuda itupun beralih ke empat anak lainnya.</p>
<p>            Mereka terkesiap.</p>
<p>            Tidak tahan dengan rasa takut yang melanda dirinya, salah seorang dari mereka akhirnya menangis menghiba-hiba. “Ampun, Pak Karno. Kami salah. Kami minta maaf.”</p>
<p>            Semua tertawa lepas melihat tingkah kelimasiswa bengal itu. Tanpa sadar mereka bertepuk tangan untuk guru baru yang berhasil menaklukkan kelima siswa nakal itu sekaligus.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center">* * *</p>
<p> </p>
<p>Bel istirahat akhirnya berbunyi. Siswa dan para staf SMU Soekarno-Hatta akhirnya bisa bersantai sejenak sebagaimana jam istirahat biasa.</p>
<p>            Namun ada yang tidak biasa kali ini: lima siswa paling bengal di sekolah itu dihukum hormat bendera sampai habis jam istirahat. Semua benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka lihat.</p>
<p>            “Sabrina!” Seorang guru laki-laki yang bertingkah seperti perempuan memanggil Sabrina yang tak henti tertawa melihat lima orang yang menjalani hukuman tersebut.</p>
<p>            Sabrina pun menghampiri guru bertubuh pendek dan berkacamata tebal itu. “Pak Mahmud manggil saya?”</p>
<p>            “Ya. Siapa sih, Sab, yang berani menghukum Bayu cs itu?”tanyanya penasaran dengan cara bicara yang feminin.</p>
<p>            “Pak Karno, Pak.”</p>
<p>            “Pak Karno?”</p>
<p>            “Iya. Pak Karno. Itu lho, guru fisika baru yang gantiin Pak Hamzah. Hari ini hari pertama Pak Karno ngajar. Orangnya ganteng lho, Pak. Masih muda. Baik lagi,” jelas Sabrina.</p>
<p>            “Tadi dia ngajar di kelasnya kamu?”</p>
<p>            “Iya. Barusan aja kelar pelajarannya.”</p>
<p>            “Yang mana sih orangnya?” tanya Mahmud makin penasaran.</p>
<p>            “Yang itu, tuh. Yang lagi jalan,” tunjuk Sabrina.</p>
<p>            “Eh? Bule, ya? Wah, cakep juga tuh!”</p>
<p>            “Benerkan!”</p>
<p>            “Berani juga dia hukum si Bayu itu, ya. Tapi ini gawat, kan?”</p>
<p>            “Gawat? Maksud Bapak?”</p>
<p>            “Ya ampun, Sab. Kamu lupa ama kasusnya Pak Andra waktu kalian kelas satu dulu?”</p>
<p>            Sabrina memutar otak, mencoba mengingat kembali kejadian yang dimaksud. “Oh! Yang dipecat itu?”</p>
<p>            Mahmud mengangguk. “Waktu itu dia menghukum Bayu juga, kan?”</p>
<p>            “Trus?” tanya Sabrina yang masih belum menangkap maksud dari Mahmud.</p>
<p>            “Astaga nih anak begonya! Kamu nggak inget Pak Andra dikeluarin gara-gara bokapnya Bayu?”</p>
<p>            “Yeee! Biasa aja dong, Pak! Namanya juga lupa! Tapi sekarang udah inget! Bokapnya Bayu sang donatur terbesar sekolah yang nggak terima anak kesayangannya di hukum, meyakinkan Pak Tantoselaku kepala sekolah untuk mecat Pak Andra. Dan sialnya Pak Tanto terpengaruh, sehingga akhirnya bener-bener ngeluarin Pak Andra.”</p>
<p>            “<em>Exactly</em>! Gosip yang Bapak denger, Pak Tanto terpaksa penuhi permintaan itu karena disuruh pilih, Pak Andra yang keluar atau Pak Tanto sendiri yang dicopot dari jabatannya. Emang enakyapunya banyak kenalan orang-orang berpengaruh. Bisa semena-mena!”</p>
<p>            “Wah, berarti Pak Karno bisa aja ngalamin nasib serupa, dong?! Gimana nih, Pak? Gawat ini!”</p>
<p>            “Makanya dari tadi Bapak bilang juga apa!? Sekarang kita liat aja perkembangannya. Semoga Pak Karno lebih mujur.”</p>
<p>            Sabrina tak tega melihat pemuda yangbaru saja dilantik menjadi guru itu akan langsung dipecat hanya karena Bayu mengadukan hukuman yang ia terima pada ayahnya. Sabrina melihat sosok pemuda itu melangkah menuju ruang kepala sekolah. “Semoga nggak terjadi apa-apa pada Pak Karno,” harapnya cemas dalam hati.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center">* * *</p>
<p> </p>
<p>“Pak Tanto memanggil saya?” tanya pemuda itu sopan.</p>
<p>            “Ya. Silakan duduk, Pak.”</p>
<p>            “Kalau saya boleh tahu, ada perlu apa Bapak memanggil saya?”</p>
<p>            “Saya dengar&#8230;.” Suara Pak Tanto bergetar. Lalu setelah menghembuskan napas, ia melanjutkan,“… Anda menghukum Bayu dan teman-temannya dengan cukup keras?”</p>
<p>            “Benar, Pak. Sikap mereka tadi sangat keterlaluan.”</p>
<p>            Pak Tanto kembali menghela napas. “Apa yang telah dilakukan berandal-berandal itu kali ini?”</p>
<p>            Pemuda itu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Lagi-lagi Pak Tanto menghela napas. Aura bahagia sama sekali lenyap dari wajahnya.</p>
<p>            “Saya jadi serba salah,” katanya.</p>
<p>            “Serba salah kenapa, Pak?”</p>
<p>            “Dua tahun yang lalu, Bayu dihukum oleh seorang guru karena kenakalannya. Ia disuruh berdiri di luar kelas dan tak diizinkan masuk hinggausai jam pelajaran. Bayu tak terima diperlakukan seperti itu.Ia pun mengadu kepada ayahnya yang merupakan orang berpengaruh yang memiliki banyak relasi di pemerintahan dan departemen pendidikan. Lalu ayahnya datang ke sekolah bersamabeberapa orangpenting tersebut, dan guru yang menghukum Bayu ituterpaksa sayaberhentikan hari itu juga. Saya tidak punya pilihan.Semua itu terjadi hanya karena menghukum murid dengan cara berdiri di luar kelas. Saya tak bisa apa-apa. Guru-guru pun tak ada yang berani menghukum Bayu semenjak kejadian itu. Kalaupun Bayu sudah keterlaluan, paling hanya diberi teguran biasa saja. Bayangkan apa yang akan terjadi jika ayah Bayu mendengar anaknya dihukum hormat bendera di hari yang panas begini.”</p>
<p>            “Anda menyalahkan saya?”</p>
<p>            “Tidak, Pak Karno. Sama sekali tidak. Saya hanya menyayangkan jika guru hebat seperti Anda harus berhenti mengajar karena hal tersebut. Di awal karir Anda pula. Saya sepenuhnya mendukung tindakan keras Anda terhadap siswa seperti Bayu.Namun saya takkan bisa apa-apa jika orang-orang yang kedudukannya berada di atas saya berpikir berbeda.”</p>
<p>            “Saya mengerti, Pak. Saya akan meyakinkan Bayu untuk tidak mengadukan ini kepada ayahnya jika keadaannya seperti itu.”</p>
<p>            “Dengan cara apa?”</p>
<p>            “Dengan cara saya.”</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center">* * *</p>
<p> </p>
<p>Pemuda itu keluar dari ruang kepala sekolah. Ia lihat Bayu dan teman-temannya masih hormat bendera dengan ditonton satu sekolahan. Ia meneruskan langkahnya menuju toiletpria. Tidak ada seorangpun di toilet ituselainpemuda itu dan&#8230;.</p>
<p>            “Kau lihat sendiri kan, Dew? Tugasku kali ini cukup sulit,” keluh pemuda itu dengan sebuah bahasa asing.</p>
<p>            Sesuatu berwujud ponsel melompat keluar dari saku celana pemuda itu, yang kemudian berubah menjadi robot dengan tinggi kurang lebih enam puluh sentimeter.Bentuknya menyerupai manusia dengan tubuh berwarna keemasan. Mata bundarnya yang berwarna hijau menyala terang.</p>
<p>            “Berapa kali harus kukatakan, panggil aku dengan nama lengkapku:Yadsendew!” protes robot itu dengan bahasa yang sama pula.</p>
<p>            “Ya, ya, ya.”</p>
<p>            “Jadi bagaimana?” Yadsendew bertanya. “Apakah itu benar bocah yang kita cari?”</p>
<p>            “Ya. Aku yakin itu dia,” jawab pemuda itu.“Namanya juga sama: Bayu Pratama. Perawakan keras, wajah rupawan, tubuh tinggi, dan keras kepala. Bukankah itu sangat cocok dengan kriteria orang yang kita cari?”</p>
<p>            “Aku juga berpikir begitu. Lalu bagaimana dengan sikap manjanya?Itu sama sekali tidak mencerminkan sifat seorang laki-laki planet Sanivia.”</p>
<p>            “Begitulah jadinya kalau tinggal di planet tenang seperti ini. Diadopsi oleh orang kaya pula. Tapi untuk itulah kita kemari. Melatihnya agar menjadi kuat layaknya prajuritplanet Sanivia sejati, dan membawanya pulang ke sana.”</p>
<p>            “Semoga kekuatannya memang sehebat yang dikatakan para petinggi agar kita bisa mengusir para penjajah biadab itu. Tapi aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya tadi. Sepertinya butuh waktu bagi kita untuk memberitahu yang sebenarnya tentang dirinya. Sepertinya ini akan sangat sulit, Dave.”</p>
<p>            “Dari awalsudah kubilang, ini tidak akan berjalan mudah. Aku akan berusaha semaksimal mungkin.Mulai dari penyamaranku sebagai Karno, hingga melatih Bayu Pratama, sang penguasa Lubang Hitam!”</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/">THE BLACK HOLE &#8211; CHAPTER 1</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/07/the-black-hole-chapter-1-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
