Dunia politik pasti sedang dikisruhkan oleh Ahok perihal kata-kata toilet yang dianggap tidak baik dipublikasikan. Sementara itu, dunia media sosial juga masih heboh dengan berbagai kisah, dari mulai yang sering kita jalani sampai sesuatu yang sama sekali baru.

Jika kamu bosan dengan berita yang sedang in dan sedang tidak mau berhubungan dengan dunia politik, saatnya kamu membuka-buka halaman media sosial yang cukup unik. Misalnya saja, melihat beberapa komunitas fotografi, melihat komunitas menggambar, atau bahkan melihat komik buatan temanmu sendiri.

Ngomong-ngomong soal komik, ada satu komik yang sedang in di media sosial, nih. Kamu bisa menengok ke laman berikut ini: Komik Lucu. Komik tersebut berjudul Pertobatan Mulyono yang dalam satu pekan terakhir tiba-tiba menjadi in kembali. Padahal, komik tersebut sudah di-posting tiga bulan yang lalu.

Dalam waktu beberapa hari ke belakang, para netizen banyak yang membicarakan karya unik buatan Fajar Sahrul ini. Komik tersebut di-share di Facebook, Twitter, dan Path. Jika kamu melihat sepintas, mungkin kamu tidak tertarik sama sekali dengan komik yang satu ini karena kualitas gambarnya memang tidak sebagus gambar buatan komikus yang memang biasa membuat komik.

Gambar Penyok kok Fenomenal?

Mungkin ini yang ditanyakan oleh beberapa orang di antara kamu. Bahkan tidak sedikit netizen yang mengomentari komik tersebut “lucu” hanya karena gambarnya yang memang mirip gambar anak TK atau anak SD.

Namun, gambar yang buruk atau yang tidak memuaskan tidak selalu tidak bermakna, kan? Ada juga gambar yang bagus namun ternyata tidak punya nilai moral sama sekali. Nah, komik inilah yang kemudian mampu mmebuat netizen merasa diri mereka mendapatkan sesuatu setelah membaca komik karya Fajar tersebut.

Gambar komik Pertobatan Mulyono sendiri terdiri atas 17 gambar yang disebut sebagai halaman dengan teks yang hanya bisa dibaca jika kamu sudah mengklik gambarnya.

Sinopsis Komik Pertobatan Mulyono

Cerita komik ini berawal dari preman bernama Mulyono yang melakukan tindakan yang kasar dan kejam terhadap istrinya yang bernama Laksmi. Mulyono sendiri merupakan sosok laki-laki yang digambarkan sebagai lelaki berwajah seram, brewokan, dengan titik berjumlah enam di dahinya. Mulyono ini sering memukuli Laksmi sampai istrinya itu babak belur.

Sampai pada suatu hari, penyiksaan yang dilakukan oleh Mulyono akibat Laksmi menolak membuatkan kopi membawa bahaya terhadap istrinya itu. Laksmi mengalami patah leher dan kelumpuhan.

Sayangnya, Mulyono masih juga enggan merasa bersalah dan sadar atas kekeliruannya. Lelaki tersebut tetap berbuat onar hingga datanglah seorang santri yang kemudian dipalak dan dipukuli. Santri tersebut masih sangat muda, terbilang remaja. Namun, apa yang terjadi?

Santri tersebut tidak melawan Mulyono, melainkan berdoa. Mendengar doa tersebut, Mulyono pun kemudian meluluh dan bertobat. Sekembalinya ke rumah, Mulyono melihat istrinya telah tiada. Setelah kejadian nahas itu, Mulyono kemudian belajar agama dan menjadi ahli ibadah. Hingga akhirnya Mulyono memutuskan untuk menjalankan sekolah kepolisian dan menempuh hidup baru yang lebih baik.

Cerita tersebut sepertinya tampak sederhana, namun mampu memberikan makna yang cukup baik untuk mengingatkan kita akan dosa yang telah dilakukan dan waktu yang mungkin kita miliki untuk bertaubat.

Kalau kamu, punya komik lain yang juga menarik enggak?