“Kamu mau pergi kemana?”

“Kelangit! Tempat dimana kamu tidak bisa ikut!”

Sepenggal percakapan itu masih kuat membekas dalam ingatan Raysha. Lima tahun yang lalu kata-kata itu mengalir dalam serangkaian kalimat penuh emosi. Bukan karena benci, tapi karena harga diri yang tercabik. Dua tahun menjadi kekasih Raysha tidak cukup bagi Bagas bisa mengambil rasa simpatik kedua orang tuanya, hanya karena bapak Raysha seorang pejabat publik yang cukup dikenal masyarakat luas, Bagas seperti layaknya pungguk merindukan bulan. Sorotan mata ketidaksukaan hingga ucapan yang menyakitkan hati menjadi menu rutin setiap kali dia harus berhadapan dengan orang tua Raysha. Hingga akhirnya restu yang tidak kunjung didapat membuat Bagas membentur jalan buntu dan mengambil sikap “mencampakkan Raysha”.

 

***

Jam dinding membunyikan dentang dua belas kali, jarum panjang dan jarum pendek berpagut dalam satu peraduan di puncak lingkaran kehidupan. Hanya sesaat, karena pada detik berikutnya jarum panjang kembali melaju pergi. Cinta memang tidak abadi, datang dan pergi, tapi seringkali ada pertemuan berikutnya dan mungkin di peraduan yang berbeda.

Raysha menghela nafas panjang, dipandangnya wajah Bara yang tertidur pulas disampingnya. Wajah bocah berusia 2 tahun itu seperti obat mujarab yang mengobati kegelisahannya setiap kali mengenang kehidupannya yang rumit, tapi seringkali juga Bara adalah pengingat kepiluan-kepiluan yang pernah di alaminya.

“Kalau kita punya anak nanti, namanya siapa?”

“Siapa ya?Bagas Raysha, berarti Bara, cinta yang membara!”

“hahaha…tapi itukan nama anak laki-laki, kalau anak perempuan?”

“kalau anak perempuan, akan kuberi nama Raysha!”

“Loh kok namaku?”

“Anak perempuanku akan kuberi nama Raysha, karena mungkin bukan kamu yang akan menjadi ibunya!”

“teeett”.

Obrolan telphon sekitar enam tahun yang lalu itu terhenti. Raysha memencet tombol gagang telphon dan membiarkannya tergelantung kebawah. Disaat segala hal baik mengenai Bagas berusaha disampaikan ke Bapaknya agar mendapat restu, mestinya bukan kalimat itu yang bisa didengarnya dari kekasihnya itu.

Setelah mengusap kening Bara, Raysha beranjak ke kursi yang ada disebelah tempat tidur. Di depannya di atas meja masih menyala laptop dengan secangkir teh hangat disampingnya, lengkap dengan biskuit coklat kegemarannya, cukup untuk menemani penyakit insomnianya sambil mengikuti fikirannya jauh ke masa lalu.

Sudah lima tahun Bagas pergi dari kehidupannya, ke langit! Tempat dimana dia memang tidak bisa ikut. Bahkan kepergian Bagas sudah dilewatinya dengan pernikahan yang berakhir perceraian. Pernikahan dengan mantan suaminya Dodi yang hanya berumur satu tahun. Ketika Bara baru berusia lima bulan dalam kandungan, Dodi meninggalkannya, lantaran orang tua Dodi merasa cukup untuk memiliki besan seorang tahanan korupsi. Pernikahan yang awalnya sangat megah, dihadiri oleh orang-orang hebat dan ternama, dengan resepsi yang digelar disebuah hotel mewah. Hasil perjodohan seorang pejabat eselon satu di instansi pemerintahan dengan relasinya seorang pengusaha property kenamaan. Raysha Alyaa binti Darmawan dengan Dodi Faisal bin Setyono Diningrat, dan Bara lahir empat bulan setelah perceraian itu.

Mestinya tidak ada pernikahan dengan Dodi!” gumam Raysha membathin. Dicengkramnya rambutnya dari dua sisi kepalanya, ditutup kedua matanya berusaha menepis bayangan yang tiba-tiba muncul, ditariknya nafas dalam-dalam. Secangkir teh hangat yang dari tadi didiamkan dinikmatinya perlahan, dilanjutkan dengan sepotong biskuit coklat yang langsung dikunyahnya dengan geram, hingga kenikmatan menjalar di sepanjang lidahnya. Raysha menarik mouse dari laptop yang dari tadi dalam posisi standby. Mulai dipilahnya lagu-lagu pilihan kesukaannya untuk di mainkan oleh winamp player, dan tak lama lantunan “ Someone like you” yang tersaji dalam suara indah Adelle mengalun pelan mengisi keheningan ruang 6×4 meter tersebut. Kursor mouse berputar-putar di layar laptop yang dimainkan Raysha, tidak jelas file yang ingin dibukanya. Tetapi kegalauan Raysha menggerakkan kursor mouse membuka folder bertajuk “Memory”, dan dengan dua kali klik wajah-wajah masa lalu terpampang di hadapannya. Photo bagas bersama dirinya dalam posisi saling berangkulan dengan senyuman yang sumringah. Photo bersama teman-teman kuliahnya. Lalu di folder yang lain bertajuk “My Wedding”, beberapa photo yang menggambarkan sebuah pesta mewah menyegarkan lukanya yang lain, di situ terlihat dirinya menggunakan pakaian pengantin wanita adat jawa berdampingan dengan seorang lelaki berbadan tegap yang juga mengenakan pakaian pengantin pria adat jawa. Raysha terus memainkan kursor mouse membuka file photo satu demi satu, photo-photo saat bersama Bagas. Photo-photo pernikahannya dengan Dodi. Photo-photo bersama ibunya yang meninggal dua tahun yang lalu. Photo Bapaknya yang saat ini masih menjalani proses hukuman di penjara. Photo Bara ketika baru lahir, hingga berumur dua tahun. Photo-photo masa kecilnya. Semuanya seperti mengalirkan sebuah cerita yang sangat komplek. Kisah yang belum bisa di tebaknya, apakah semua ini akan happy ending ataukah sad ending?

 

***Bersambung

Previous articleMahligai Kasih Illahi
Next articleInsyaallah, ini “Lebaran” Berbagi Cerita.. bukan Duka
Terlahir di sebuah desa pedalaman di Sumatera Barat, tepatnya desa Indudur Kec.IX koto Sungai Lasi - Kabupaten Solok, dari seorang Ayah (Alm.) yang kerap dipanggil “Buya” karena lebih dominan dalam profesi sebagai guru mengaji dari pada pekerjaan asli sebagai pedagang, dan seorang Ibu Perempuan mulia tiada duanya Ibunda Syahniar. Terlahir pada hari dimana semua orang memuliakan Ibu yaitu 22 Desember 1981, dan Alhamdulillah, segala puji ke hadirat Allah SWT, serta salawat dan salam bagi junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, karena mendapat anugerah keyakinan sebagai seorang muslim. Seperti perjalanan angin, telah beranjak dari ruang dan waktu, sehingga saat ini setelah mendapat pendamping hidup seorang wanita yang teramat baik, dan dikarunia dua orang putri yang cantik jelita, kehidupan telah membawa tubuh, jiwa dan pemikiran di sebuah desa lainnya di Kabupaten Bogor - Jawa Barat, setelah bergulat dengan angkuhnya Jakarta selama hampir 13 Tahun. Disinilah aku hari ini, dengan jiwa dan pemikiranku, mencoba menemukan makna, dibalik segala yang aku lihat, dengar, rasa dan yang ingin aku pahami, hanya dengan satu tujuan, memberi manfaat sekecil yang aku bisa pada sesama, karena seperti kata bijak ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya”.