<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerpen Archives &#8902; Penulispro.net</title>
	<atom:link href="https://penulispro.net/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://penulispro.net/category/cerpen/</link>
	<description>100% Atlet Senam Jari Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2015 07:49:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>SUMPAH PEMUDA</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rohli]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2015 05:27:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen upacara sumpah pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/</guid>

					<description><![CDATA[<p>SUMPAH PEMUDA Oleh : Rohli maulana Selasa 28 oktober 2014 adalah hari sumpah pemuda dan merupakan salah satu hari besar bagi Negara Indonesia, Hari ini bertepatan dengan hari sumpah pemuda, di sekolahku mengadakan upacara untuk memperingati hari tersebut demi menghormati jasa para pahlawan terutama para pemuda yang dulunya berjuang untuk Negara ini merebut kemerdekaan dari ... <a title="SUMPAH PEMUDA" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/" aria-label="Read more about SUMPAH PEMUDA">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/">SUMPAH PEMUDA</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>SUMPAH PEMUDA</strong></p>
<p style="text-align: center">Oleh : Rohli maulana</p>
<p>Selasa 28 oktober 2014 adalah hari sumpah pemuda dan merupakan salah satu hari besar bagi Negara Indonesia, Hari ini bertepatan dengan hari sumpah pemuda, di sekolahku mengadakan upacara untuk memperingati hari tersebut demi menghormati jasa para pahlawan terutama para pemuda yang dulunya berjuang untuk Negara ini merebut kemerdekaan dari para penjajah.</p>
<p>Di rumah aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, menyiapkan segala sesuatunya mulai dari buku pelajaran, pulpen, pokoknya alat tulis yang lainnya, setelah itu aku memasukannya kedalam tas dan siap bergegas aku merasa hari ini semangatku berapi-api sekali untuk sekolah, mungkin terbawa euforia suasana sumpah pemuda . sebelumnya aku melihat jam terlebih dahulu dan ternyata waktu masih menunjukan pukul 06:10 WIB aku pikir meski hari ini aku semangat sekali untuk pergi ke sekolah lebih baik aku menonton TV sebentar kira sampai jam 06:30 aku berangkat, maklumlah jarak sekolah dari rumahku tidak terlalu jauh, hanya berjalan kaki juga sampai, paling Cuma 10 menit untuk sampai ke gerbang sekolah.</p>
<p>“Dikabarkan para pelajar SMA 1 Cikuya dan SMA 3 Cikuya terlibat tawuran, mereka saling melempar batu satu sama lain, Ada yang menggunakan gir motor yang di jadikan sebagai senjata, ada juga yang menggunakan bom bolotov, mereka terlibat tawuran di sebabkan oleh salah satu siswa dari SMA 3 Cikuya yang di palak oleh siwa SMA 1 Cikuya saat akan pulang di jalan dekat tol, korban yang dipalak tersebut memberitahukan kepada teman yang lainnya karena tidak terima tindakan tersebut, setelah beberapa jam mereka terlibat tawuran akhirnya pihak kepolisian berhasil membubarkan kejadian tersebut, karena ada salah satu warga yang melapor, dari kejadian itu beberapa siswa SMA 1 Cikuya terluka akibat terkena hantaman batu dan satu siswa dari SMA 3 Cikuya tewas akibat kepalanya terkena gir motor dan mengalami pendarahan yang parah sehingga nyawanya tidak dapat tertolong, para korban di larikan kerumah sakit terdekat sedangkan para pelajar lainnya yang dianggap sebagai profokator ditangkap oleh kepolisian untuk di selidiki lebih lanjut.”</p>
<p>Ah apa-apaan ini.( sambil mematikan tv )</p>
<p>“Mau jadi apa Negara ini kalo para pelajarnya juga sudah sering melakukan hal-hal yang menyimpang, tidak sadarkah mereka terhadap yang mereka lakukan, sangat tidak mencerminkan para pemuda dulu yang semangat untuk menyatukan antar sesama pemuda, tidak pernah ada yang di beda-bedakan tidak seperti pemuda sekarang yang banyak menimbulkan perpecahan dimana-mana.”</p>
<p>Akupun langsung berangkat sekolah karena waktu sudah menunjukan pukul 06:30,aku pergi kesekolah jalan kaki, meskipun di rumah ada motor tapi aku memilih tidak menggunakannya sebab jalan kaki lebih sehat dan membuat tubuh segar, selain itu dapat menghemat uang jajan.</p>
<p>Dijalan aku bertemu dengan berbagai anak sekolahan sama seperti aku, ada yang dari SMK,SMP, sampai SD mereka berpakaian rapi lengkap dengan segala atributnya, namun ada beberapa anak yang tidak berpakaian rapi, mereka tidak menggunakan atributnya dan yang lebih parah mereka mencoret-coret bajunya dengan tulisan nama geng, nama idola dan sebagainya, melihat itu aku langsung miris dan sekaligus merasa kesal terhadap perbuatan mereka, bukan sok rapi atau sok disiplin tapi hanya tidak enak saja melihat para pelajar seperti itu karena mereka adalah para pemuda penerus bangsa, kalau sejak muda saja mereka sudah begini apalagi nanti kedepannya mau jadi apa nasib bangsa ini, untuk belajar disiplin saja sudah sulit.</p>
<p>Dan akhirnya akupun sampai di sekolah, teman-temanku banyak yang sudah sampai duluan.</p>
<p>“hey li, apa kabar?”. Doni menyapa aku sambil bertanya.</p>
<p>“Baik … Eh aku sudah tidak sabar banget nih”.    </p>
<p>“Emangnya ada apa Li, sampe-sampe tidak sabar begitu? “.</p>
<p>“Ini kan hari spesial, yaitu hari besarnya untuk kita para pemuda Indonesia J”.</p>
<p>“oh itu tohh, kalo itu sih aku sudah tahu, maksud kamu sumpah pemuda kan??”</p>
<p>“iyalah apalagi, kita sebagai pemuda penerus bangsa harus bangga dengan datangnya hari ini, hari ini kan hari perjuangan para pemuda dulu untuk melawan penjajah di Negara kita Gus”.</p>
<p>“Iya ya, betul kamu Li,aku jadi semakin semangat nih, jadi kepengen cepet upacara trus membacakan text sumpah pemuda”</p>
<p>“Yupsss…”.</p>
<p>Setelah beberapa menit ngobrol tak terasa ternyata sudah waktunya upacara di mulai, para siswa pun berbondong-bondong menuju lapangan, Para dewan guru sudah berbaris di depan, namun para murid belum baris rapih, sampai ada guru yang harus menertibkan para siswa, ada yang sambil ngobrol, ada juga siswa yang di paksa untuk keluar kelas oleh para guru agar mengikuti upacara, yang lebih parah ada yang pura-pura sakit supaya tidak mengikuti jalannya upacara, memang pagi hari ini cuacanya sangat cerah dan terik matahari sangat terasa sampai menembus kulitu,</p>
<p>Aku tak tahu perasaanku seperti apa melihat kejadian tadi, aku merasa kok mereka tidak ada semangat sama sekali untuk mengikuti upacara, padahal ini untuk memperingati jasa para senior mereka yang dulu sama muda nya seperti sekarang, sangat miris karena tidak ada rasa penghormatan atau penghargaan bagi para pemuda dulu yang sudah berjuang.</p>
<p>Upacara pun dimulai, tura sudah berkeliling untuk memeriksa setiap barisan agar rapi, MC sudah mulai berbicara dan semua muridpun mengikuti jalannya upacara.</p>
<p>“eh don apaan tuh di kerah baju kamu?”. Toni manggil doni.</p>
<p>“ apaan emang..? gk ada apa-apa juga,,,!</p>
<p>“itu ada dasinya .. hehehehe “.</p>
<p>Toni tidak memperhatikan jalannya upacara dan malah ngajak bercanda Doni.</p>
<p>“ sst liat deh sepatu si haris baru loh,, “ kata toni yang mulai membuat kegaduhan lagi.</p>
<p> </p>
<p>Aku pun kesal terhadap toni yang dari tadi selalu bercanda, sehingga membuat aku terpaksa membentak dan memarahi Toni untuk memperhatikan jalannya upacara, tapi yang terjadi malah sebaliknya aku membuat suasana upacara makin tidak karuan sehingga peserta lain tidak konsen mengikuti jalannya upacara, suara gaduh dimana-dimana termasuk kelas yang lainnya juga, ada yang becanda cengengesan tidak jelas ada yang injak-injak sepatu antar teman dan terlihat juga ada salah satu guru yang turun kembali ke kelapangan untuk menertibkan para siswa. Semua itu sangat memprihatinkan sekali, ternyata selama ini semangat para penerus bangsa sudah tidak tercermin lagi, rasa hormat sudah tidak ada, dan yang lebih parah lagi mereka tidak tahu makna dari upacara sumpah pemuda tersebut, sungguh sangat jauh sekali dengan apa yang di cita-citakan para pemuda dulu yang mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.</p>
<p>Dari kejadian itu aku merasa sudah gagal menjadi seorang pemuda penerus bangsa yang baik, karena aku sendiri tidak bisa mengajak kepada teman-temanku untuk tidak melakukan kegaduhan dalam upacara tersebut tapi malah aku sendiri yang membuat kegaduhan dengan membentak temanku sendiri, seharusnya aku upacara saja dengan khidmat agar aku sendiri bisa memberikan contoh kepada yang lain.</p>
<p>Dibalik itu semua aku banyak mengambil pelajaran hari ini, jika ingin mengajak orang lain dalam kebaikan lakukan dahulu oleh diri sendiri toh nanti lama kelamaan mereka juga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan aku juga berharap semoga para pemuda bangsa Indonesia bisa mengerti akan pentingnya menghormati jasa para pahlawan dulu agar kehidupan bangsa ini kedepannya sejahtera dengan di penuhi rasa kebersamaan para pemuda Indonesia yang bersatu, karena bangsa yang baik tercermin pada jiwa-jiwa para pemuda yang sekarang ada .</p>
<p>SEKIAN</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/">SUMPAH PEMUDA</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/08/sumpah-pemuda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>WAKTU ADALAH CINTA</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mia Rahmawati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2015 13:26:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[MIA RAHMAWATI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/</guid>

					<description><![CDATA[<p>WAKTU ADALAH CINTA TELAT MASUK SEKOLAH,SUDAH BIASA&#8230; TAPI BAGAIMANA KALAU TELAT NEMBAK CEWE, APALAGI CEWE IMPIAN haddooohh X_X , INILAH YANG DI ALAMI DESTA SAAT INI. BACA YUK KELANJUTAN CERITANYA 🙂 PRESENT MENJELANG PAGI Pagi hari ayam berkokok keras sekali saat itu DESTA masih berbaring di kasurnya,tidak lama Alarmpun berbunyi DESTApun langsung melihat jam dan ... <a title="WAKTU ADALAH CINTA" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/" aria-label="Read more about WAKTU ADALAH CINTA">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/">WAKTU ADALAH CINTA</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><b>WAKTU ADALAH CINTA</b></p>
<p><b>TELAT MASUK SEKOLAH,SUDAH BIASA&#8230; TAPI BAGAIMANA KALAU TELAT NEMBAK CEWE, APALAGI CEWE IMPIAN haddooohh X_X , INILAH YANG DI ALAMI DESTA SAAT INI. BACA YUK KELANJUTAN CERITANYA <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> </b></p>
<p><b>PRESENT</b></p>
<p><b>MENJELANG PAGI</b></p>
<hr />
<p><b></b></p>
<p> <b><i>Pagi hari ayam berkokok keras sekali saat itu DESTA masih berbaring di kasurnya,tidak lama Alarmpun berbunyi DESTApun langsung melihat jam dan terkejut karna kesiangan dia langsung berlari menuju kamar mandi.</i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>saat DESTA sedang mandi tiba-tiba Air yang ada di kamar mandipun Mati dengan sendirinya , DESTA berteriak. </i></b></p>
<p> <i>&#8220;Ibu, Bapa, Ema, Abah, aki, nini,Bibi, emang dll, airnya mati nih, apa ada orang diluar???&#8221;</i> <i><b>(Teriakan DESTA)</b></i></p>
<p> <b><i>Tidak ada satupun orang yang mendengarkannya. Terpaksa DESTApun menghentikan mandinya dalam keadan di seluruh badannya di penuhi dengan busa.(jorok)</i></b><br /> <b><i>Lalu DESTApun segera berkemas-kemas untuk pergi bersekolah.</i></b><br /> <b><i>DESTA langsung berlarian keluar kamarnya, dia sama sekali tidak sempat untuk sarapan .</i></b></p>
<p> <b>DALAM PERJALANAN</b></p>
<p> <b><i>Saat DESTA sedang berjalan menuju halte di pinggir jalan DESTA menemukan selembar uang senilai 10.000 rupiah dia terkejut , dia sangat ingin mengambil uang itu , sebelum dia mengambil uang itu dia berpikir terlebih dahulu. </i></b></p>
<p> &#8220;<i>Waaahh ada uang tuh, Ambil gak yaaaa??? ambil gak yaaaaaaaa???? Kalau diambil dosa, kalau gak di ambil sayang , keburu diambil orang&#8221;</i> <i><b>(dalam hati DESTA)</b></i></p>
<p> <b><i>Tiba-tiba dikanannya munculah , MALAIKAT dengan memakai baju putih dan memakai mahkota dengan membawa tongkat berlambangkan bintang, dan sebelah kirinya muncul SETAN berpakaian merah dan bertanduk dua berkuku panjang berwarna merah dengan membawa tongkat berlambangkan tengkorak. MALAIKATpun berkata:</i></b></p>
<p> &#8220;<i>Jengong di ambil yey dutanya, nanti kamyu bisa Apes Terus and masyuk neraka, you mau masyuk nerakos ??? Di nerakos itukan banyak api, panasonik bingitts, pokoknya enggak bingittsss deh :s&#8221;</i> <b><i>kata MALAIKAT sambil merayu DESTA</i></b></p>
<p> <i><b>karna setan tidak terima dengan perkataan MALAIKAT, SETANpun tidak mau kalah.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ambil sajo DES, lumanyun meskipun cuman ceban, tapikan bisa buat beli rokok 1 bungkyus ,cuco markuco kan M&#8230; kalau soal dosa sih gimana ntar ajos , ayo ambil ayo jangan ragu-ragu&#8221;</i></p>
<p> <i>&#8220;Jengong DES, jengong&#8221;<b> *MALAIKAT</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ambil DES Ambil&#8221; <b>*SETAN</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Jengong DES, jengong&#8221; </i><b>*MALAIKAT</b></p>
<p> <i>&#8220;Beerrriiissssiiikkk kalian, baiklah aku gaakkk aaakkkaaann&#8221;</i><b> terhenti dari situ MALAIKAT berkata </b></p>
<p> <i>&#8220;yes , cuco marico hahaha bingits bingitsss itu baru anak baik, sudah ekeu duga you pasti gak akan ambil duta itu&#8221;</i></p>
<p> <i>&#8220;Kata siapa , maksud gue &#8230; Gue gak akan nolak buat ambil tuh uang, lumayan 10rb hahahaha&#8221; <b>(ucap DESTA)</b></i></p>
<p> <b><i>MALAIKATpun kesal, dan SETANpun senang, tertawa terbahak-bahak menertawakan MALAIKAT. &#8220;</i></b><i>Heh Demek 1-0 yah, you kalah and ekeu menang,&#8221;</i><b><i> kata SETAN kepada MALAIKAT</i></b></p>
<p> <i><b>Sesampainya di HALTE, DESTA menunggu bis dengan wajah kesal</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Mana sih itu bis, gue udah kesiangan banget nih ah&#8221; </i></p>
<p> <b><i>tidak lama BISpun datang, DESTA duduk dikursi yang paling belakang dengan wajah gelisah karna takut tidak bisa mengikuti pelajaran.</i></b></p>
<p> <b><i>Dalam perjalanan dia merasa kesal dengan anak kecil yang disebelahnya , anak itu tidak bisa diam entah kenapa dengan anak itu , tidak lama anak itu muntah tepat mengenai celana DESTA, diapun sangat kesal sekali.</i></b></p>
<p> (<i>&#8220;hadoooohh bisa gak sih muntahnya di kamar mandi aja&#8221; <b>Bentak DESTA kepada anak itu, anak itupun menangis, ibunya tidak terima dengan perlakuan DESTA kepada anaknya)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Heh, Ujang kalaupun saya tau anak saya bakalan muntah, pasti bakalan saya kasih kantong plastik, dan satu lagi dimana-mana bis tuh gak ada kamar mandinya, STOP Pak supir&#8221;</i> <b><i>(makian si Ibu sambil menunjuk-nunjuk wajah DESTA dengan wajah sangat kesal dan menghentikan perjalanannya) </i></b></p>
<p> <b><i>DESTApun merasa takut dan berpikir keras </i></b><i>&#8221; Oh&#8230; Iya ya , di Bis kan gak ada kamar mandinya&#8221; -_-&#8216;</i></p>
<p> <b><i>Tidak lama setelah kejadian itu , tiba-tiba bis itupun mendadak berhenti dan mengejutkan semua penumpang,</i></b></p>
<p> <i>&#8220;ADA APA INI ????&#8221; <b>Ucap orang-orang yang ada di bis. Lalu sang supirpun langsung keluar dari bisnya dan berlari menuju semak-semak seperti orang ketakutan. Tiba-tiba salah seorang penumpang bis yang melihat sang supir berlarian itu berkata&#8230;</b></i></p>
<p> <i>&#8220;SEPERTINYAAA BIS INI AKAN MELEDAK!!!&#8221;</i></p>
<p> <b><i>Sambil berteriak, sontak semua orang yang ada di bispun berteriak dan keluar dari bis.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;AWAS ADA BOM, ADA BOM, BISSNYA AKAN MELEDAK&#8221; <b>teriakan seorang kenek. </b></i></p>
<p> <i>&#8220;Emang meledaknya karna BOM ya pak ???&#8221;</i><br /> <i><b>Pertanyaan dari salah seorang penumpang Bis.</b></i></p>
<p> &#8220;<i>Aku juga tidak tau :D&#8221; <b>kata seorang kenek itu . *jleb -_-</b></i></p>
<p> <i><b>DESTA ikut Terkejut dan ikut beteriak.</b></i><br /> <i>&#8220;Ada BOM &#8230; Ada BOM, semuanya menunduk&#8221;</i></p>
<p> <i><b>DESTA buru-buru keluar dia langsung menuju ke semak-semak dimana supir itu berada.</b></i><br /> <i><b><br /></b></i> <i><b>Saat sang supir akan kembali ke bis dia melihat DESTA.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ada apa nak, kenapa semua orang teriak-teriak??&#8221;</i> <i><b>Kata sang supir.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ada bom pak dalam bis ,bisnya sebentar lagi akan meledak&#8221;</i></p>
<p> <i><b>Sang supirpun ikut ketakutan dan menutupi telinga sambil menatapi bisnya. </b></i></p>
<p> <i>&#8220;Kok gak meledak-meledak ya nak , bisnya???&#8221; <b>*SUPIR</b></i></p>
<p> <i>&#8220;sebentar lagi pak , sabar tunggu aja dulu nanti juga pasti meledak kok bisnya&#8221;.</i> <i><b>*DESTA </b></i><br /> <i><b><br /></b></i> <i><b>Beberapa saat kemudian lagi.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;de emang bis siapa yang akan meledak???&#8221;</i> <b><i>*SUPIR</i></b></p>
<p> <i>&#8220;bis,punya Bapak, kata orang &#8211; orang dibis bapa ada BOMnya, karna liat bapak berlarian seperti orang yang ketakutan&#8221; <b>*DESTA</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Aaaaappppaaa Bis saya ada BOMnya , orang saya tadi berlarian kesemak-semak karna kebelet pengen pipis kok&#8221;<b> x_x *SUPIR</b></i></p>
<p> *DESTA &#8220;oh&#8230; Yaaaaaaa&#8221; </p>
<p> <b><i>Sang supirpun langsung mengumumkan bahwa di bisnya itu tidak ada BOM.</i></b><br /> <i>&#8220;Woy semuanya ayo kita lanjutkan perjalanannya, Bis saya tidak ada BOM , tadi itu saya tidak kuat ingin Buang air kecil makanya saya lari-lari<b>&#8220;</b></i><b> (Teriakan sang supir)</b></p>
<p> <i><b>Semua penumpangpun bersurak. Dan menatapi wajah salah seorang penumpang Bis yang memulai kehebohan ini dengan wajah kesal. </b>&#8220;Hhhhuuuuuuuu&#8221;</i><br /> <i><b>Penumpangpun merasa lega dan kembali melanjutkan perjalanannya.</b></i> </p>
<p> <b>SETIBA DISEKOLAH</b></p>
<p> <i>&#8220;pak stop pak, pak stop&#8221;</i><br /> <i><b>(Teriak DESTA) bis pun berhenti , namun sayang saat DESTA turun dari bis , tasnya tersangkut dipintu bis dia berteriak kembali.</b></i><br /> <i>&#8220;Pak buka pak pintunya , pak tas saya tersangkut paaaakk&#8221;<b> (teriakan desta)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Hadoooh ada apa lagi sih&#8221;</i> <i><b>(kata sang kenek sambil membuka pintu bisnya)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Tas aku tersangkut pintu pak&#8221;</i></p>
<p> <i>&#8220;ya sudah sana, merepotkan saja kau ini&#8221; <b>(bentakan sang kenek)</b></i></p>
<p> <b><i>Sampailah di depan gerbang sekolah, Dia sudah sangat kesiangan, gerbang sekolahpun sudah di tutup rapat-rapat , semua murid sudah memasuki kelas yang terlihat hanyalah SATPAN yang sedang siap siaga menjaga sekolah.</i></b><br /> <b><i>DESTA kebingungan bagaimana cara masuk sekolah dengan sembunyi-sembunyi, dia berpikir keras, lalu Malaikat dan Setan itu Muncul lagi.</i></b></p>
<p> <i><b>*SETAN</b></i> <i> &#8220;udah deh DAS DES DOS gak usah sekolah ajos, you kan belum ngerjain PR, daripada sekolah dimarahin SATPAM sama GURU kan enggak bingitttsss :(, kalau gue sih mending MaBals ajooss dari padas dimarahin&#8221;</i></p>
<p>  <i><b>*MALAIKAT </b>&#8220;JENGONG DES, you kan sebentar lagi mau ujiANS , Masya gak Masyuk kelas sih, you mau!! gak NAeK Kelas, nanti di ejek sama Temans-Temans satu kelas you, kan gak bingitttss keeeless&#8221;</i></p>
<p> <i><b>DESTApun berpikir keras kembali </b>&#8220;BAiklah dari pada gue gak naik kelas,gue bakalah masuk sekolah hari ini, gengsi dong kalau gue gak naik kelas&#8221; <b>kata DESTA</b></i></p>
<p> *MALAIKAT &#8220;EMEBESSS , you kan cowo sejati masya gak naik kelasss sih, mau taro di mana Muka lu??? Taro DI EMPANG , Gak Bisa kelesssss ahahaha&#8221;</p>
<p> <b><i>SETANPUN kalah , karna DESTA memutuskan untuk sekolah.</i></b></p>
<p> <i><b>*MALAIKAT</b> &#8220;CUCO MARICO DESTA and You setan yang terkutuk yang bertanduk dua, berhidung CUTBRAY, pake kutek merah lagi, mau kemana lu ?? Mau dugem?? Yang ada manusia pada takut liat tampang lu haha, dan Bermata 2(eh emang dua ya mata lu) Hmmm yah itulah pokonya tampang lu tuh emang enggak bingittsss ya,sekarang you kalah , me and you scorenya one and one, so gue pasti Bakalan bisa ngalahhhin you M&#8221; </i></p>
<p> <i><b>*SETAN</b> &#8220;Tunggu aja pembalasan gue&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Beriisssik banget sih kalian , gue lagi mikir nih gimana caranya biar gue bisa masuk sekolah sekarang.&#8221; <b>(Tegur DESTA)</b></i></p>
<p> <b><i>(DESTApun berpikir keras, dan beberapa saat kemudian DESTA mempunyai ide cemerlang).</i></b></p>
<p> <i>&#8220;AHA, Gue punya ide cemerlang&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ide cemerlang apa&#8221; <b>Ucap MALAIKAT dan SETAN.</b></i><br /> <i>&#8220;KEPO DEH </i><br /> <i><del>_</del></i>&#8216;&#8221;<b> ucap DESTA</b></p>
<p> <i><b>Terhenti sampai Disitu DESTA merasa tidak nyaman dengan celananya yang sangat bau , karna terkena muntahan anak kecil tadi , lalu dia memutuskan untuk mencari Toilet terlebih dahulu sebelum melakukan ide cemerlangnya itu.</b></i><br /> <i><b><br /></b></i> <i><b>Tepat depan sekolah DESTA memberanikan diri untuk menghampiri satpam yang ada di sekolah. </b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ehemmmm pak , boleh saya masuk&#8221;</i> <i><b>ucap DESTA</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Sudah jam berapa ini, niat sekolah gak sih kamu ini ???&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Niat donk pak makanya kesini juga, tapi tadi ada beberapa kejadian , pokoknya panjang banget deh kalo di Ceritain&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Saya tidak mau dengar cerita dan alasan kamu , lebih baik kamu pulang lagi saja sanah&#8221;</i></p>
<p> <i><b>Dengan ide cemerlangnya, DESTA sedikit menipu Satpam itu.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Pak, ada cewe cantik tuh disana , sexi banget,Bohay lagi&#8230; Gila, liat deh pak jenggotnya keliatan ampe kemana-mana gitu&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Mana Mana &#8230;?&#8221;<b> (Ucap pak satpam)</b></i></p>
<p> <b><i>(saat satpam itu mencari wanita yang di maksud DESTA, DESTApun langsung lari dan masuk kesekolah)</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Akhirnya gue bisa masuk sekolah juga, ide cemerlang gue emang benar-benar berhasil&#8221; </i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Sialan tuh anak ngibulin gue . Eh tunggu dulu perasaan semua cewe gak ada jenggotnya ??? Gila gue udah di bego-begoin sama anak kecil&#8221;<b> x_x </b></i><br /> <i><b>(Ucap pak Satpam dengan wajah kesal) </b></i></p>
<p> <b>DI SEKOLAH</b></p>
<p> <b><i>Saat DESTA menuju ke kelasnya , dia bertemu dengan wanita idamannya bernama ASTI.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Hai&#8230; ASTI kamu cantik banget hari ini&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Hai juga DESTA, makasih ya udah bilang aku cantik&#8221; <b>(jawan ASTI dengan pipi merah)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Iya ama-ama :D, ASTI aku mau tanya sesuatu donk sama kamu&#8230; ??Hihi&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Tanya apa???&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;ASTI kamu tau gak apa bedanya Kamu sama Air Comberan???&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Kok ASTI di banding-bandingin sama air comberan sih DES ?? :(&#8220;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Dengerin dulu ASTI, aku belum selesai ngomongnya&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Oh iya&#8230; Aku gak tau apa bedanya aku sama air comberan :(&#8220;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Kalau Air Comberan ngalirnya di susukan , kalau kamu ngalirnya di hati aku &#8230; Haahaha &#8220;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ih kamu bisa aja, udah ah aku mau masuk kelas&#8221;<b> (kata ASTI dengan wajah yang malu karna gombalan DESTA)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ywdah, nanti pulangnya aku anterin ya?&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Anterin pake apa , kan kamu gak punya motor&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Anterinnya pake pesawat terbang aja ye , biar aa bisa nyampe ke hati nenk ASTI haha&#8221;<b> <a class="ot-hashtag aaTEdf" href="https://plus.google.com/s/%23eeeaaaa" rel="nofollow">#eeeaaaa</a></b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ah udah ah ngegombal mulu&#8221;</i></p>
<p> <b><i>Saat DESTA akan masuk kelas , dia melihat keadaan di kelasnya sangat berisik, DESTA senang karna saat itu tidak ada guru di kelasnya. Dengan pedenya Dia langsung masuk kelas.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Gila , udah mau pelajaran ke 3 baru masuk &#8230; Cari mati aja lu&#8221;<b> (ucap teman sebangkunya)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Alah ceritanya panjang bro, diem aja lu gak usah KEPO ,yang penting tutup mulut lu jangan ampe ada guru yang tau kalau gue baru dateng&#8221; </i><br /> <i><br /></i> <b><i>DESTA pun duduk dengan rapi dan mengeluarkan alat-alat tulisnya, dia sudah sangat siap untuk mengikuti pelajaran ketiga, tapi sayang tidak lama Bell istirahatpun berbunyi.</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Hmmm , baru juga dateng , udah bell istirahat lagi </i><br /> <i><del>_</del></i><i>&#8221; ucap DESTA</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Makanya , kalau tidur tuh jangan kaya kebo&#8230; Hahaha&#8221;<b> (ejekan temannya)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Elu tuh kebonya&#8230; Haha&#8221; <b>(ejekan DESTA)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;kurang ajar lu&#8221;<b> </b></i></p>
<p> <b>KANTIN</b></p>
<p> <i><b>Saat DESTA akan memesan makanan , dia melihat ASTI sedang duduk sendirian sambil meminum satu gelas lemon tea dengan bibirnya yang sexi dan wajahnya yang cantik , yang mebuat DESTA sangat tergila &#8211; gila padanya ,DESTA terus menatapi ASTI dengan tatapan yang sangat tajam sampai-sampai DESTA tidak sengaja menabrak orang yang sedang membawa mangkok yang berisikan bakso yang masih sangat panas, lalu bakso itupun tumpah tepat mengenai kaki DESTA dan bajunya , tapi dia sama sekali tidak menghiraukannya dia masih terus menatap ASTI meskipun dia sudah di maki-maki oleh pemilik bakso itu </b></i></p>
<p> <i>&#8220;DASAR MAHO lu, minta maaf ke , apa ke ma gue bakso gue tumpah nih&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;ASTI Oh ASTI&#8221; <b>(ucap DESTA sambil enatap ASTI)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Makan tuh ASTI&#8221;<b> (sambil memasukan bakso besar kedalam mulut DESTA) </b></i><br /> <i><br /></i> <b><i>DESTA terus menatapi ASTI tanpa mengedip sedikitpun , karna ASTI merasa Risih ASTIpun langsung bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri DESTA </i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;apaan sih lu liatin gue kayak gto, MAHO LU&#8221;<b> ( kata ASTI dengan Tamparan yang sangat keras) . </b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Gak apa-apa deh di tampar ASTI juga gue udah seneng banget, ya beginilah kalau lagi jatuh cinta&#8221; </i><br /> <i><br /></i> <b>CINTA SIH CINTA TAPI GAK SEGITUNYA JUGA KELEEESSSS. </b><br /> <b><del>_</del></b><b>&#8216;</b></p>
<p> <b><i>BELL Masuk kelaspun berbunyi. Pelajaran ke 3 Sosiologi di mulai , DESTA mempersiapkan kembali alat tulisnya &#8230; Gurupun datang dan semua siswa satu kelas mengucapkan salam kepada gurunya.</i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>Saat guru sedang menjelaskan, Desta melihat Gurunya itu sekilas seperti ASTI, desta membayangkan </i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>ASTI berada di hadapannya saat itu dengan memakai gaun putih yang sangat seksi dan mengelus &#8211; ngelus wajah Desta dengan senyuman manisnya dan wajah cantiknya, namun tidak lama tiba-tiba saja ASTI menjadi monster yang sangat mengerikan dan berteriak.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;DESTAAAAAAAAAAAA&#8230;. Apa kamu perhatikan ibu sedang menerangkan di depan ????&#8221; <b>Bentak Ibu Guru dengan wajah kesal.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Iya ASTI, eh Ibu maksud saya , saya memperhatikan ibu kok&#8221; <b>jawab desta dengan wajah ketakutan.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Baiklah , kalau kamu benar memperhatikan Ibu, berarti kamu sudah paham dengan apa yang Ibu jelaskan tadi di depan, sekarang giliran kamu untuk menjelaskan lagi apa yang ibu jelaskan tadi di depan kepada semua teman-teman kamu&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Aaaappaaa Bu ??? Sekarang bu???&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Bukan tahun depan, ya sekaranglah&#8230; Cepat kedepan&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Aduh Bu saya gak kuat nih kebelet pengen pipis , gimana donk bu??&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Gak ada alasan lain , kamu kedepan sekarang atau kamu ibu kasih tugas yang banyak&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ywdah deh Bu saya kedepan sekarang&#8221;</i></p>
<p> <b><i>Semua siswa menertawakan DESTA , dan salah seorang siswa berteriak</i></b> <i>&#8220;Makanya jangan ASTI aja yang ada di otak lu , pelajaran juga Dongse hahaha&#8221;</i></p>
<p> <i>&#8220;Berisik kalia&#8221; <b>bentak Ibu guru</b></i><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>DESTApun memberanikan diri untuk kedepan.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Hai, teman &#8211; teman apa kalian senang hari ini ??? Hmmm aku tidak tau harus bilang apa tapi aku harus bilang, dan aku masih bingung untuk bilang kalau sebenarnya aku tidak tau harus bilang apa sekarang :(&#8221; <b>(kata Desta dengan wajah kebingungan)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Hadoooh apa sih lu ini Desta , ngomongnya muter-muter kayak kolecer hahaha&#8221;<b> (teriakan DIZA teman sebangkunya)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ayo DESTA jelaskan apa yang ibu jelaskan tadi , apa yang di maksud dengan sosialisasi itu????&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Aduh apa ya Bu???, ibu tau gak , kasih tau aku donk bu??&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Lah macam mana pula kau ini DES, kenapa kau malah tanya balik ke IBU&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Oh iya bu aku tau, sosialisasi itu adalaaaaahhh????hmmmm &#8221; <b>(DESTA Berpikir keras)</b></i><br /> <i><br /></i> <b><i>Beberapa saat kemudian</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Lah , lama kali kau mikirnya nak ??? Ibu kasih waktu kau 5 Detik kalau kau tidak tau Ibu akan kasih kamu tugas, 1.2.3..&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <b><i>Terhenti dari situ , DESTA langsung menjawab.</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Stop Bu saya tau , saya tau &#8230; Sosialisasi itu adalah &#8230; Hmmm kata yang tedapat 11 huruf, S.O (so) S.I (si) A.. L.I (li) S.A (sa) S.I (si) di baca SOSIALISASI gitu kan Bu ??? Hehe :D&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;KELUAAAARRR KAU DESTA, lari keliling lapangan 10x , kau pikir Ibu ini anak TK&#8221; <b>(teriak ibu Guru dengan wajah kesal)</b></i></p>
<p> <i><b>DESTA berlarian keluar lapangan , dengan wajah yang kesal kepada gurunya.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Mending gue lari aja deh, dari pada di kelas liat wajah si monster itu&#8221;<b> (ucap DESTA sambil mengejek gurunya)</b></i></p>
<p> <i><b>Tidak lama saat DESTA lari , tiba-tiba ada ASTI lewat dengan wajahnya yang cantik dan rambutnya yang teurai dia kibaskan rambutnya itu dari depan ke belakang betapa cantiknya ASTI saat itu membuat DESTA makin jatuh cinta padanya.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Cantik sekali ASTI ,ASTI Kesini donk, ASTI &#8230; I LOVE U&#8221;<b> (teriakan DESTA di lapangan kepada ASTI)</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Ih, apaan sih DESTA kayak orang gila teriak-teriak manggil nama gue, Dilapangan lagi <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f641.png" alt="🙁" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> </i> <b><i>(ucap ASTI sambil berlarian ke dalam kelas karna ketakutan) </i></b></p>
<p> &#8220;ASTI I LOVE U&#8230;&#8221;<i><b> ( Teriakan desta terus seperti itu membuat satu sekolah melihatnya) </b></i><br /> <i><b><br /></b></i> <i>&#8220;ADA APA??? ADA APA???&#8221;<b> Ucap para siswa.</b></i></p>
<p> <b><i>guru sosiologipun langsung menghampiri DESTA.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Hey , nak apa-apaan kau ini seperti orang gila saja,saya menyuruhmu untuk lari 10x keliling lapangan bukan teriak-teriak seperti ini&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;saya memang sudah gila Bu, saya tergila &#8211; gila sama ASTI&#8221; </i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Bah , macam mana pula kau ini &#8230; ASTI tidak akan mau dengan orang seperti kau , apalagi kelakuan kau yang seperti ini, makin ilfeel saja si ASTI Itu sama kamu&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Tapi saya sangat jatuh cinta padanya Bu&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Sudah memalukan saja kau ini , masuk kelas sekarang&#8221; <b>(sambil menjewer telinga DESTA)</b></i><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>DESTApun masuk kelas , dia ditertawakan dan di buli oleh satu kelas</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Heh, DESTA kalau lu lagi jatuh cinta , biasa aja kali gak usah teriak-teriak kaya gto haha&#8221; <b>(ucap DIZA teman sebangkunya)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Habis ASTI cantik banget tadi &lt;3&lt;3&#8221; </i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Makan tuh ASTI , sampe kapanpun dia gak akan mau sama cowo aneh kayak lu&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Gue pasti bisa dapetin ASTI&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;MIMPI Kali &#8230; Hahaha&#8221;</i></p>
<p> <b><i>Bell pulangpun berbunyi, semua siswa berkeluaran dari kelasnya&#8230; </i></b><br /> <b><i>ASTI merasa tidak tenang saat itu , karna dia takut DESTA menghampirinya&#8230; Dia langsung berlarian, namun sayang DESTA tiba-tiba sudah di belakang dia saja </i></b><br /> <b><i><del>_</del></i></b></p>
<p> <i>&#8220;Hai ASTI, pulang bareng yukk&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Gak mau , jauh &#8211; jauh sana&#8230; Kamu itu aneh *Freak&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ayolah ASTI, nanti aa beliin apa aja yang kamu pengen&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ih udah ah, aku gak mau pulang bareng kamu&#8221;</i></p>
<p> <b><i>ASTI langsung berlarian , menghindar dari DESTA namun sayang ASTI kakinya tersandung batu sehingga dia terjatuh dan melukai kakinya, Dengan wajah yang sangat malu karna hampir semua orang melihatnya.</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Ya ampun ASTIku sayang kamu gpp kan&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ini semua tuh gara-gara kamu ya DES, kamu ituh udah bikin hari aku disekolah jadi gak tenang, semua anak-anak satu kelas pada ngomongin kita, apa kamu gak mikir?? Aku itu malu DES :@&#8221; <b>(Bentak ASTI kepada DESTA)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Maaf ya ASTI, aku Minta maaf, aku harus gimana biar kamu maafin aku&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Bilang ke semua orang yang ada disini kalau kamu gak cinta sama aku&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;HEY SEMUANYA, AKU GAK CINTA SAMA ASTI&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Iiiiiiiiiii bego banget sih kamu ini, nanti aja teriaknya&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Loh kenapa emangnya??&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Kalau kamu teriak sekarang mana ada yang mau denger, orang-orang udah pada pulang DESTA&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Oh okelah kalo begitu, tapi kamu mau kan pulang bareng aku ???&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ogah&#8230; Pulang bareng aja sana sama pak satpam, gue mau pulang sendiri aja&#8221; <b>(bentak ASTI sambil meninggalkan DESTA)</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ih Asti , kamu ngeluchu ya masa aku pulang sama satpam, tapi kamu luchu sih ASTI&#8221; </i></p>
<p> <i>&#8220;Oh iya , satu lagi kalau kamu benar-benar suka sama aku , kamu harus datang jam 8 malam nanti Di Caffe yang biasa kita datengin, kamu harus bilang ke semua orang kalau kamu suka sama aku, ingat telat 15 menit otomatis aku bakalan nolak cinta kamu.&#8221; <b>Kata ASTI</b></i></p>
<p> <i>&#8220;SIAP ASTI SAYANG, AKU PASTI DATENG &#8230; DAN BILANG KESEMUA ORANG KALAU AKU CINTA KAMU&#8221;</i> <i><b>teriak DESTA.</b></i></p>
<p> <b><i>Saat menuju pulang ke rumah DESTA berfikir</i></b><br /> <b><i> </i></b><i>&#8220;pake baju apa ya nanti malem biar ASTI tertarik dengan penampilanku???&#8221;</i></p>
<p> <b><i>DESTA memutuskan untuk memakai baju badut , karna setaunya baju badutlah yang bisa membuat perempuat terkejut dan menerima cintanya (Hmmm&#8230; KORBAN FTV -_-) </i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>PENCARIAN KOSTUM</i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>Saat DESTA akan mencari kostum Badutnya , DESTA Bertemu dengan Orang gila yang seluruh badannya di penuhi dengan Daun-daun , orang gila itu menabrak DESTA sambil berkata.</i></b><br /> <i>&#8220;Awas ada orang gila, awas ada orang gila&#8221;<b> ucap orang gila itu.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Lu tuh yang gila, bukan gue, eh tapi bagus juga tuh orang gila kostumnya, lumayanlah buat nembak ASTI nanti malam, kostumnya gak pake biaya cuman Daun doank hahaha &#8220;</i> <b><i>kata DESTA.</i></b></p>
<p> <b><i>DESTApun segera mencari Daun sebanyak-banyaknya dan selesailah kostum yang dia buat, tidak terasa waktu menunjukan jam 6.30 dia harus segera mandi dan mempersiapkan diri. </i></b><br /> <b><i>Dalam perjalanan , desta langsung memakai Kostumnya dengan wajah ceria , semua orang memperhatikan tingkahnya dan melihat kostum yang dia pakai. Saat desta akan menaiki bis, seorang kenek malah mengusirnya</i></b> <i> &#8220;orang gila gak boleh masuk bis, naik odong-odong aja sana&#8221; <b>kata sangkenek.</b></i></p>
<p> <i>&#8220;Gue bukan orang gila pak, kalau naik odong kapan nyampenya&#8221;<b> </b><b>jawab desta dengan wajah kesal.</b></i></p>
<p> <b><i>Dia memutuskan untuk berjalan kaki, karna tidak ada bis, dan naik taxi pun tidak cukup uang.</i></b><br /> <b><i><br /></i></b> <b><i>Saat berjalan kaki dia menemukan kembali Uang senilai 20rb rupiah. Dia kembali berpikir </i></b><i>&#8220;WoW ambil gak ya ??&#8221;</i> <i><b>kata DESTA</b></i></p>
<p> <b><i>Munculah malaikat dan setan itu .</i></b><br /> <i>&#8220;Ambil DES, lumanyun buat beli hadiah untuk Asti&#8221; <b>SETAN</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Jengong DESTA , yu mau apes lagi , ntar yu di tolak lagi cintanya sama ASTI&#8221;<b> Malaikat</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Alah jangan dengerin apa kata si mala, udah ambil ajo ,lumanyun&#8221;<b> SETAN</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Jengong Des, Jengong&#8221; <b>Malaikat</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Ambil Des, Ambil&#8221;<b>SETAN</b></i><br /> <i>&#8220;Jengong Des, jengong&#8221; <b>Malaikat</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Aaaaaaa berisik kalian , uang itu gak akan gue ambil, gue bakalan pergi ke caffe dengan usaha gue sendiri &#8221; <b>kata DESTA</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Akhirnya gak di ambil juga °\(^▿^)/° 2-1 gue menang yu kalah setan , sekarang Enyahlah kau Enyah jauh-jauh sana dari Desta, sana &#8211; sana , pait , pait , pait &#8221; <b>ucap Malaikat</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Sialan , liat aja nanti pembalasan gue&#8221;<b> SETAN</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Sampai kapanpun gue liatin pembalasan lu, itu juga kalau bisa hahaha&#8221; <b>Malaikat</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Sebentar , mending uangnya gue umpetin aja di bawah batu , biar gak ada yang liat lagi hihi&#8221; <b>ucap DESTA</b></i></p>
<p> <b>WAKTU MENUNJUKAN JAM 7:15.</b></p>
<p> <i>&#8220;Waduh gk kerasa udah jam 7 lagi, perjalanan masih jauh lagi&#8221; </i></p>
<p> <b><i>Tidak lama ojeg lewat, Desta langsung menarik tangan sang ojeg.</i></b><br /> <b><i>&#8220;Pak tolong pak saya akan bertemu dengan wanita idaman saya , saya mau tembak dia sekarang juga di caffe , anterin saya ke Caffenya pak tolong ya pak&#8221; kata DESTA</i></b></p>
<p> <i>&#8220;Ogah, dasar orang gila lu,so so an nembak cewe , belum ngomong juga pasti bakalan di tolak lu haha &#8221; <b>ucap tukang ojeg sambil pergi. </b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Yehhh, dari pada lu tuh udah wajah jelek , motor jelek, bentar lagi juga bakalan mogok tuh motornya hahaha&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <b><i>Dan akhirnya motor tukang ojeg itupun beneran Mogok.</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Hahaha akhirnya , mogok juga motornya, makanya jangan ngeremehin gue &#8220;<b> kata DESTA</b></i><br /> <i><br /></i> <b><i>Dari jauh DIZA seperti melihat DESTA, dan dia langsung menghampiri desta dengan memakai motor barunya.</i></b><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;DESTA, ngapain lu udah kaya orang gila aja !! Hahahaha &#8221; <b>ucap DIZA</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Wah kebetulan lu kesini, ceritanya panjang, anter gue ke caffe yang biasa kita datengin dekarang juga&#8221;</i></p>
<p> <b><i>DIZA pun mau mengantarkan DESTA , sampailah DESTA di Caffe, tepat puku 7:50 saat DESTA masuk ke caffe, dia di tertawakan banyak orang dan ASTI terkejut melihat penampilan anehnya. Dengan wajah kesal Asti pergi keluar sambil menampar wajah DESTA dan berkata </i></b><i>&#8220;Kamu Memalukan&#8221;.</i></p>
<p> <i>&#8220;Asti denger dulu penjelasan aku , HEI SEMUANYA AKU SAYANG ASTI, aku gak mau kehilangan dia , aku cinta dia aku sengaja memakai kostum ini agar asti tau betapa besarnya pengorbanan aku menuju kesini dengan memakai kostum aneh seperti ini,aku rela di buli aku rela di usir asalkan Asti terima cinta aku&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Wow so sweet&#8221; ucap orang-orang</i><br /> <i><br /></i> <i>Terhenti dari situ Asti terharu dengan perkataan Desta.</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Okelah kalau begitu , saya Tolak kamu , karna kamu telat lebih dari 15 menit, kamu lupa ya kalau jam aku itu lebih 15menit dari jam yang kamu pake &#8221; <b> kata ASTI</b></i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Oh iya , kenapa aku gak kepikiran kesituu, maafin aku ASTI :(&#8220;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Tidak ada kata maaf buat kamu DESTA&#8221;<b> kata Asti sambil keluar dari caffe</b></i><br /> <i><br /></i> <i><b>Desta menangis sambil menundukan kepalanya dan terus berucap </b>&#8221; maafin aku Asti, maafin aku Asti&#8221;</i><br /> <i><br /></i> <i>&#8220;Kasian sekali dia :(&#8220;<b> ucap salah seorang yang berada di caffe itu.</b></i><br /> <b><i>Semua ikut bersedih sampai-sampai malaikat dan setanpun juga ikut bersedih.</i></b><br /> <i><br /></i> <i><b>Tidak lama Asti mucul kembali ke caffe itu dan berteriak</b> &#8220;I LOVE U DESTA :D&#8221;</i></p>
<p> <b><i>Desta terkejut dan kembali berteriak</i></b><i> &#8220;LOVE U TO ASTI&#8221; <b>merekapun berpelukan dan semua ikut terharu dan bersenang &#8211; senang, sampai -sampai malaikat dan setanpun berpelukan tanpa mereka sadari .</b></i></p>
<p> <b>SELESAI</b></p>
</blockquote>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/">WAKTU ADALAH CINTA</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/06/waktu-adalah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sebab Aku Perempuan</title>
		<link>https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[emwepe]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2015 05:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sebab perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEBAB AKU PEREMPUAN Hujan kembali berhasil membuatku terperangkap di ruangan ini, ruangan yang telah kusinggahi sejak dua tahun lalu. Ruangan yang telah membantuku menciptakan beragam inspirasi dengan sejuta kenangan dan pengalaman. Meski berkali-kali aku terperangkap di ruangan ini namun keadaan yang lengkap tanpa satu pun lawan bicara membuatku menangkap sejumput rasa dalam benak. Tak asing ... <a title="Sebab Aku Perempuan" class="read-more" href="https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/" aria-label="Read more about Sebab Aku Perempuan">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/">Sebab Aku Perempuan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEBAB AKU PEREMPUAN</strong></p>
<p>Hujan kembali berhasil membuatku terperangkap di ruangan ini, ruangan yang telah kusinggahi sejak dua tahun lalu. Ruangan yang telah membantuku menciptakan beragam inspirasi dengan sejuta kenangan dan pengalaman. Meski berkali-kali aku terperangkap di ruangan ini namun keadaan yang lengkap tanpa satu pun lawan bicara membuatku menangkap sejumput rasa dalam benak. Tak asing namun aku harus merabanya untuk memastikan bentuk rasa itu</p>
<p>Tak ingin salah menafsirkan sebab sudah cukup lama aku tidak menyentuh belacu usang itu di sudut otakku. Sembari menunggu keberhasilan rabaanku, mataku melancong seakan ingin menangkap gerakan setiap butir air dari langit. Kunikmati pemandangan guyuran air dengan khidmat. Tak sulit melihatnya sebab ruanganku berada di lantai tiga dari lima lantai gedung bergaya modern. Ruangan dengan fasilitas terlengkap dibanding ruangan besar lain milik pemilik saham atau kepala bidang. Entah mengapa pimpinan memberikan ruangan istimewa ini padaku. Mungkin untuk menyuap agar aku betah di kantor menggarap beragam proyek perusahaan yang memang menyita waktu dan tenaga. Tak jarang aku mengeluhkan padatnya jadwal yang tak mengizinkanku untuk sekadar meneguk kopi di warung langganan.</p>
<p>Hujan kali ini telah berhasil membantu meraba isi belacu usang di sudut memoriku. Kini aku yakin bahwa belacu usang itu berisi ingatanku tentang sosoknya. Dia, lelaki cadas yang unik. Keras namun lembut, dingin namun hangat, kaku namun lentur. Akhirnya untuk kali pertama sejak dua tahun lalu, aku mensyukuri kepadatan jadwalku. Ya, ternyata setumpuk tanggung jawab sebagai Ketua Divisi Media Cetak membantuku melupakan kekosongan hari tanpa kehadirannya. Andai dianalogikan dengan masa tenggang, hari ini adalah batas akhir isi ulang dan jika terlambat maka masa aktif pun terhenti. Masa tenggang adalah masa kesendirian yang sangat kuhindari sebab aku tidak pernah menyukai kesadaran bahwa aku merindukannya.</p>
<p>Dia berjanji akan segera kembali membawa setumpuk kenangan dari negara kincir untuk ia ceritakan dan bonus ilmu dari ahli bidang untuk ia tularkan. Bukan tidak mungkin bagiku untuk sebulan mengendalikan tanggung jawab dari negara perantauannya sehingga kami pun menikmati sebulan musim semi dengan menciptakan momen terindah. Namun dia melarangku untuk berangkat ke tempatnya, dia pun mengatakan enggan bertemu denganku selama masa baktinya pada negara di benua itu. Ketika aku memberontak, dengan bijak dia menyampaikan idealismenya, &#8220;Ketika kaki memutuskan untuk menapaki satu tempat, pastikan ia melangkah dan menyelesaikannya hingga akhir. Meski tanpa pertemuan namun jangan pernah takut untuk menggenggam rasa rindu. Tanamkan dalam hatimu bahwa biarkan Tuhan yang merangkai kisah kita.&#8221;</p>
<p>Jangan pikir kami pasangan kekasih, bukan pula sepasang suami-istri yang tengah terpisah benua dengan lumpur kental berjenis rindu. Bahkan kami pun bukan sahabat berkedok saudara seperti kebanyakan modus remaja zaman sekarang. Kami tidak memerlukan judul untuk menghias ikatan ini. Ya, kami hanya dua manusia yang saling berusaha menyatukan rasa dengan sejuta perbedaan. Tidak pernah ada kalimat struktural berbunyi, ‘maukah kamu menjadi pendampingku?’ atau ‘maukah kamu menungguku selagi aku mengemban tugas negara di benua seberang?’ atau setidaknya, ‘jaga hati hingga aku kembali.’ dalam hubungan kami. Cukup kode yang tertangkap antara kami sebagai penyatu komitmen abstrak namun serupa norma.</p>
<p>Jangan pula dipikir kami tidak memiliki masalah dalam hubungan abstrak ini. Jauh sebelum kami memutuskan menjalani kisah, banyak hal yang membuatku ragu untuk melangkah. Tentang rencananya untuk melahap ilmu di benua seberang, sisa kekecewaanku pada sebuah pengkhianatan, serta ibuku yang selalu berusaha menawarkan beberapa pria mapan. Entah bagaimana kami dapat melalui semua gundukan ranjau, yang jelas ikatan abstrak kami tidak begitu saja lahir dari surga dan tidak pula tercipta semudah Chairil Anwar menulis puisi.</p>
<p>Hujan telah reda, menyudahi perjalanan pikiranku yang melalang buana hingga sudut saraf memori tentangnya. Kutarik ransel buluk di meja kerja dan jaket yang tergantung di sandaran kursi. Segera aku keluar ruangan, meninggalkan belacu usang dalam ruanganku, tak ingin membawanya pulang. Kantor telah sunyi senyap, hanya satpam dan pekerja kebersihan yang tersisa. Bahkan anggota divisiku pun mungkin telah memeluk ranjang dengan mesra. Sambil berjalan dengan langkah agak cepat kulirik sekilas angka digital penunjuk waktu di meja Rani, salah satu anggota divisiku. Dalam perut Doraemon itu aku tahu kini lewat dari tengah malam, dini hari yang dingin. Cukup dramatis dan melankolis bagi hati yang tengah menyadari tumpukan kerinduan tak tersentuh.</p>
<p>Secarik kertas kecil di sela pintu masuk kamar kosku menyita sebagian perhatian yang mulai merindukan ranjang. Kuraih dan kuamati, tulisan tangan itu sangat akrab di retinaku, memacu detak jantung seolah aku tengah membaca pengumuman sebagai pemenang undian ratusan milyar. Isi tulisannya berhasil membuatku kehilangan selera untuk segera merebahkan tubuh dan menikmati sisa malam sebelum aktivitas kembali menggugat tanpa ampun.</p>
<p><em>Aku pulang memenuhi janji.</em></p>
<p>Hanya itu. Singkat, padat, jelas, dan tak mungkin aku salah mengenali tulisan tangannya. Ya, itu pasti tulisan tangannya. Pasti. Dia yang setengah jam lalu berkeliaran menari-nari bahkan meloncat-loncat tanpa arah di otakku. Butuh sekitar sepuluh menit untuk sadar bahwa aku masih berdiri dengan memegang kertas sakti di bibir pintu kamar. Perlahan kulangkahkan kaki ke dalam kamar dan meletakkan ranselku di pinggir ranjang. Kawan sebelah kamar rupanya telah lelap sebab tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Kamarku tidak terlalu luas namun tidak terlalu sempit untuk harga setengah juta di jantung kota metropolitan. Cukup beranggotakan dua orang saja dalam rumah mungil ini, aku dan kawanku, Nanda.</p>
<p>Suasana malam ini sangat tepat untuk menyendiri sebab aku butuh waktu mencerna keajaiban. <em>Kemana aku harus mencarinya? Bagaimana cara aku menghubunginya? Dimana dia malam ini menenggelamkan mimpinya? Bersama siapa dia di tengah guyuran hujan malam ini? Mengapa dia tidak menghubungiku terlebih dahulu sebelum ke sini?</em> Begitu banyak pertanyaan memenuhi lipatan otakku dan dapat dipastikan semua tidak terjawab. Sementara badanku terlalu lelah untuk mendukung otak yang masih saja memproduksi pertanyaan tanpa henti. Hingga ujung tenaga, mataku semakin berat dan aku pun tertidur sembari memegang secarik kertas sakti, di ambal hangat yang kubeli bersamanya tiga tahun lalu.</p>
<p> Keesokan hari, kusimpan teka-teki mengenainya dan kembali fokus pada segenap sisa tumpukan tugas di meja kerja. Rapat koordinasi hari ini sungguh melelahkan, membuat tak ada ruang dan kesempatan untuk menyentuh belacu tentangnya. Aku terselamatkan. Sekali lagi kukatakan, “Terima kasih, kesibukan.”</p>
<p>Seminggu sejak kertas sakti itu melayang di kosku, tidak ada lagi kabar tentangnya. Kucoba menghubungi beberapa teman dekatnya untuk mencari kabar, bahkan aku menyempatkan untuk menengok tempat tinggalnya di kota rantau kami, tetap tidak ada jejak. Jujur saja kedatangan kertas sakti itu menguras sebagian besar pikiranku dan itu sungguh melelahkan. Pikiranku bercabang antara pencarian jejaknya dan tenggat waktu proyek yang tengah kukerjakan. Sebulan kemudian, kertas sakti kembali hadir. Kali ini di meja kerjaku. Lengkap dengan boneka kecil gantungan kunci berbentuk penguin.</p>
<p><em>Tidak ada keraguan untuk memastikanmu.</em></p>
<p><em>Mata sebatas melihat.</em></p>
<p><em>Hati menentukan keputusan.</em></p>
<p>Tiga kalimat pendek kembali memberikan sengatan listrik tepat di pusat nadi. Tergesa aku menghampiri kumpulan rekan kerja, kutanyakan pada mereka siapa yang meletakkan atau masuk ke dalam ruanganku selama aku belum datang pagi ini. Tidak ada yang dapat memberikan jawaban pasti sebab mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku putus asa mencari keberadaannya, keputusasaan yang merangsang air mata mengalir tanpa ampun. Tirai ruangan yang biasa kubuka dan kubiarkan orang lalu-lalang melihat aktivitasku kini kututup rapat. Tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka. Terlalu angkuh bagiku untuk mengakui pada dunia bahwa kesakitan merindukannya adalah kelemahanku.</p>
<p>Aku lelah dengan beragam kode dan tanda yang ia mulai sejak empat tahun lalu. Kini aku membutuhkan sebuah kepastian tentang hatinya. Tentang judul yang tak terdefinisi. Meski masing-masing telah meyakini adanya sebuah ikatan namun aku tak sekadar menuntut keyakinan melainkan ikatan berkomitmen. Sebab aku perempuan.</p>
<p>***</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/">Sebab Aku Perempuan</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2015/01/sebab-aku-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biarlah Waktu yang Menjawab!</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ziah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2014 07:46:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Kisah Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Perselingkuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada dua orang anak remaja bernama Zia dan Egi. Mereka berdua adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan karena cinlok. Zia dan Egi belajar dalam satu sekolah yang sama namun berbeda jurusan. Egi jurusan pemesinan sedangkan Zia jurusan computer. Awalnya mereka berdua sama sekali tidak saling kenal. Namun awal kedekatan mereka berdua di mulai saat acara ... <a title="Biarlah Waktu yang Menjawab!" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/" aria-label="Read more about Biarlah Waktu yang Menjawab!">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/">Biarlah Waktu yang Menjawab!</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua orang anak remaja bernama Zia dan Egi. Mereka berdua adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan karena cinlok. Zia dan Egi belajar dalam satu sekolah yang sama namun berbeda jurusan.</p>
<p>Egi jurusan pemesinan sedangkan Zia jurusan computer. Awalnya mereka berdua sama sekali tidak saling kenal. Namun awal kedekatan mereka berdua di mulai saat acara perpisahan di Yogyakarta.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/12/Bus-Pariwisata.jpg" alt="Bus Pariwisata" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Bus Pariwisata | Foto : imgarcade.com</figcaption></figure>
<p>Egi dan Zia yang merupakan siswa kelas 3 ikut dalam acara perpisahan sekolahnya ke Yogyakarta. Perasaan cinta mulai timbul karena dalam satu bis yang sama. </p>
<p>Perjalanan akan di mulai pukul 8 malam Awalnya Zia duduk bersama sahabatnya yaitu Lili. Namun di tengah perjalannan Lili mabok karena tidak kuat dengan perjalanan yang berliku-liku. Jadi Lili pindah ke bangku lain supaya bisa merebahkan tubuh, sedangkan Zia duduk sendirian.</p>
<p>Karena perjalanannya malam jadi tidak heran semua rombongan tidur. Namun Zia tidak bisa tidur. Egi yang duduk di belakang Zia selalu saja menggoda Zia dengan beragam cara.</p>
<p>Mulai dari menepuk pundak Zia sampai menggodanya dengan berbagai ucapan. Zia menanggapinya dengan biasa saja maklumlah siswa pemesinan memang suka bercanda.</p>
<p> </p>
<p>Namun Egi yang tidak tega melihat Zia sendirian langsung duduk di sebelahnya. Zia kaget melihat Egi sudah berada di sampingnya.</p>
<p>Zia : loh kok kamu disini bukannya di bangku belakang ya ?</p>
<p>Egi : Emangnya ga boleh ya duduk di sini. Di sana ga enak duduknya.</p>
<p>Zia : hmm ya silahkan aja sih.</p>
<p>Mereka berdua menjadi akrab satu sama lain. Perjalanan malam ke Yogyakarta mereka habiskan untuk mengobrol. Namun obrolan berhenti setelah Zia tertidur. Egi yang duduk di sebelahnya pun ikut tertidur karena waktu yang sudah larut malam.</p>
<p>Tiba di Yogyakarta semua siswa menyambutnya dengan penuh keceriaan . Di yogyakarta rombongan mendatangi candi Borobudur, malioboro serta parang tritis. Rombongan menginap di hotel galuh. Tidak terasa sudah waktunya untuk kembali ke kota Bandung.</p>
<p>Zia awalnya duduk sendirian karena Lili ingin duduk di kursi belakang. Namun Egi datang dan langsung duduk di sampingnya kembali.</p>
<p>Egi : bolehkan duduk di sini lagi ?</p>
<p>Zia : iya boleh aja ko</p>
<p>Seperti biasa suasana di bus penuh keceriaan karena rombongan karaoke bersama. Tapi Lain halnya dengan Egi dan Zia memilih untuk mengobrol.</p>
<p>Mereka berdua asyik mengobrol tentang hal percintaan. Egi curhat tentang kekasihnya kepada Zia. Egi bilang kepada Zia kalau dirinya sangat sayang kepada kekasihnya tersebut. Segala hal mengenai kekasihnya Egi ceritakan kepada Zia.</p>
<p>Sekarang giliran Zia yang bercerita. Namun nampaknya Zia lebih tertutup masalah percintaannya. Egi bertanya siapa pacar Zia sekarang . Zia menjawabnya dengan simple bahwa dirinya sedang menikmati masa kesendiriaannya.</p>
<p>Pembicaraan terhenti ketika terdengar lagu Bondan prakoso &amp; Fade 2 Black. Ternyata Egi sangat suka dengan lagu-lagu dari Bodan Prakoso &amp; Fade 2 Black ini.</p>
<p>Zia juga mempunyai lagu favorit dari musisi ini yaitu ya sudahlah. Lagu yang menyimpan banyak kenangan mengenai kebersamaan bersama teman-temannya.</p>
<p>Egi tidak berhenti bernyanyi satu demi satu lagu berganti sampai akhirnya giliran lagu yang berjudul bunga. Zia yang tertarik dengan lagu itu ikut bernyanyi.</p>
<p>Namun nampaknya Egi meminta Zia untuk menyanyikan lagu bunga sampai bagian akhirnya. Zia dan Egi nampaknya asyik mengalunan lagu tersebut.</p>
<p>Setelah puas menyanyikan semua lagu bondan prakoso Egi kembali menggoda Zia. Kali ini dia berniat untuk menjadi mak comblang antara Zia dan temannya yang bernama Uki.</p>
<p>Bahkan Egi meminta nomor handphone Zia agar bisa berkenalan dekat dengan Uki. Namun Zia menganggapnya hanya gurauan. Tapi karena Egi terus memaksa Zia memberikan nomor handphonenya.</p>
<p>Zia : ya udah ni numb nx 0852xxxxxxxxxx</p>
<p>Egi : ok deh aku save ya. Tapi namanya siapa ya ?</p>
<p>Zia : ya parah dari tadi minta nope tapi gatau nama. Nama aku Inem</p>
<p>Zia yang awalnya hanya becanda saja namun ditanggapi dengan serius oleh Egi. Egi menyimpan nomor Zia dengan nama Inem.</p>
<p>Perjalanan sudah sampai ke kota Bandung. Perpisahan antara Egi dan Zia rasanya sangat berat.</p>
<p>Dua hari kemudian&#8230;&#8230;</p>
<p>Tiba-tiba ada sms yang masuk ke handphone Zia dari nomor yang tidak dikenal.</p>
<p>“Assalamualaikum “</p>
<p>Pesan tersebut hanya berisikan salam, tanpa diketahui siapa pengirimnya. Zia langsung membalas sms itu</p>
<p>“Waalaikum salam . ini siapa ya ?”</p>
<p>Ternyata jawaban dari nomor tersebut bukan memberitahukan namanya melainkan.</p>
<p>“ ini inem ya .. hha”</p>
<p>Zia kaget waktu itu Egi meminta nomor untuk temannya tapi yang menghubunginya malah Egi sendiri.</p>
<p>Setelah itu mereka berdua terus menjalin komunikasi melalui sms. Sampai akhirnya Egi memberitahukan isi hatinya kepada Zia. Kalau sebenarnya semenjak pertama kali dia mendekati Zia, itu karena Egi suka pada Zia. Zia menganggap bahwa Egi sedang bercanda.</p>
<p>Bukan hanya itu Egi malah meminta Zia untuk mengizinkannya main ke rumahnya nanti hari sabtu. Setiap hari Zia dan Egis sms. Semakin hari semakin dekat saja bahkan panggilan sayang sudah dilontarkan lewat sms walaupun hanya sebagai bahan gurau semata.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/12/Egi-dan-Zia.jpg" alt="Egi dan Zia" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Egi dan Zia | Foto : littleucrit.wordpress.com</figcaption></figure>
<p>Hari sabtu telah tiba Zia kira Egi hanya becanda, ternyata benar dia datang ke rumah Zia.</p>
<p>Zia : ko kamu tau rumah aku ?</p>
<p>Egi : Sebenernya dari dulu aku suka merhatiin kamu bahkan sampai ngikutin kamu pulang .</p>
<p>Zia : Wah jadi mata-mata dong.</p>
<p>Egi : iya mata-mata hati kamu . haha</p>
<p>Zia langsung mengajaknya masuk ke rumah. Orang tua Zia sedang tidak ada jadi hanya ada Zia sendiri. Seperti biasa mengobrol tentang berbagai hal. Namun ditengah obrolan Egi terdiam dan langsung memegang tangan Zia. Lalu Egi berkata Zia aku mau jujur sama kamu . Aku sayang sama kamu . Aku putusin pacar aku demi kamu.</p>
<p>Zia tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Egi. Zia merasa bahwa Egi masih sayang dengan pacarnya dan hanya perasaan biasa yang muncul dihati Egi terhadap Zia. Namun akhirnya Zia menerima Egi karena mempunyai perasaan yang sama.</p>
<p>Hari pertama jadian Egi perhatian selalu sms bahkan menelpon hanya untuk sekedar mengetahui keadaan Zia. Bahkan baru saja dua hari mereka jadian, Egi berani datang ke rumah Zia untuk sekadar silahturrahmi.</p>
<p>Padahal, jarak antara tumah Egi dan Zia tidaklah dekat. Namun, karena rasa sayang yang begitu besar kepada Zia, Egi rela datang jauh-jauh demi bertemu dengan pujaan hatinya tersebut.</p>
<p>Tidak disangka ternyata Egi masih berpacaran dengan mantannya dulu tanpa sepengetahuan Zia. Suatu hari ketika Egi datang ke rumah Zia, Zia tidak sengaja mendengar nada sms dari hp Egi. Tapi saat itu Egi sedang keluar dan akhirnya Zia memutuskan melihat pesan tersebut, takutnya penting.</p>
<p>Tapi ternyata, sms yang muncul adalah dari mantannya yang dulu. Kalau cuma sms biasa mungkin masih wajar. Namun, dalam pesan tersebut berisikan ucapan sayang. Seketika Zia tertegun kaget melihat kenyataan tersebut.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/12/Zia-dan-Egi.jpg" alt="Zia dan Egi" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Zia dan Egi | Foto : tumblr.co</figcaption></figure>
<p>Tidak lama setelah itu, Egi datang. Zia hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan satu kata pun. Melihat sikap Zia yang berubah, Egi pun penasaran.</p>
<p>Egi : Kenapa Zia kok diem?</p>
<p>Zia : gak apa-apa kok, cuma ngantuk?</p>
<p>Mendengar pernyataan Zia tersebut, Egi tak percaya dan masih dibayangi rasa penasaran yang begitu besar. Hari sudah sore, Egi memutuskan untuk pulang.</p>
<p>Biasanya ketika Egi hendak pulang, Zia selalu mengantarkannya sampai depan pintu. Berbeda dengan sekarang, Zia membiarkan begitu saja Egi pulang dan langsung masuk ke kamarnya.</p>
<p>Egi pun pulang dengan penuh penasaran, tanpa mengetahui bahwa pujaan hatinya terluka karena kebohongan yang dibuatnya.</p>
<p>Satu minggu kemudian…..</p>
<p>Dari hari ke hari, hubungan Zia dan Egi semakin renggang. Egi entah kemana tak ada kabar, sama halnya dengan Zia. Zia sama sekali tidak menghubungi Egi. Wajar saja, hati Zia masih terluka dengan pengkhianatan Egi kepadanya.</p>
<p>Satu hari kemudian…..</p>
<p>Tiba-tiba handphone Zia berbunyi dan ternyata ada pesan masuk dari Egi.</p>
<p>“Zia , kmana aja sih gada kabar. Apa Egi punya salah sama Zia?</p>
<p>Zia yang membaca pesan tersebut hanya bisa tertegun. Dan akhirnya Zia membalasnya</p>
<p>“ga papa kok, Cuma lagi males megang hp aja, oh ya udah yah sms nya soalnya gada pulsa, dahh”</p>
<p>Lagi dan lagi Zia menutupi kesedihannya kepada Egi. Sikapnya seperti ini yang membuat Egi tidak kunjung mengerti akan kesalahan yang telah diperbuat.</p>
<p>Hari sabtu tiba…..</p>
<p>Seperti biasanya Egi menghubungi Zia dan berkata bahwa dirinya kan datang kerumah melalui pesan singkat .</p>
<p>Egi : Zia aku ke rumah sekarang ya.</p>
<p>Zia : ga usah repot” , udah malam mingguan aja sama pacarnya.</p>
<p>Membaca balasan sms tersebut Egi langsung panik. Tapi , iya dasar buaya masih bisa berkelit. Bilangnya sih mantannya salah kirim, padahal udah jelas-jelas ada nama dia “Egi”.</p>
<p>Zia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Egi. tapi Egi menolak. Zia merasa sudah cukup sabar menutupi semua rasa sakitnya dan keputusan yang tepat adalah mengakhirinya.</p>
<p>Ternyata eh ternyata setelah putus dengan Zia. Egi menjalin hubungannya kembali dengan sang mantan secara terang-terangan di media sosial fb. Melihat kenyataan tersebut, Zia sadar bahwa Egi bukanlah kekasih yang tepat untuknya.</p>
<p>Tiba-tiba Egi datang lagi ke kehidupan Zia. Sama seperti dulu Egi mengumbar janji janji manis kepada Zia. Sayang, Zia sekarang bukan Zia yang dulu. Zia sudah cukup pintar untuk melupakan orang yang melukai hatinya, yaitu “Egi”</p>
<p>Kebohongan itu seperti bangkai. Sepintar apapun kamu menyimpannya, nanti akan tercium juga. Biar waktu yang menjawabnya.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/">Biarlah Waktu yang Menjawab!</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/12/biarlah-waktu-yang-menjawab/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahkan Keajaiban Pun Butuh Sedikit Waktu</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ziah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2014 08:27:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Arti Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengorbanan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita ini berkisahkan tentang 5 sifat yang terdampar di sebuah pulau. 5 sifat itu adalah CINTA, KEBAHAGIAAN, KESEDIHAN, KEKAYAAN, KECANTIKAN. Kelima sifat tersebut terdampar disebuah pulau yang tak berpenghuni. Tidak ada satu orang pun yang mereka temui di pulau tersebut. Melihat suasana pulau yang nampak sepi, mereka pun merasa sangat ketakutan. Ketakutan tersebut membuat mereka ... <a title="Bahkan Keajaiban Pun Butuh Sedikit Waktu" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/" aria-label="Read more about Bahkan Keajaiban Pun Butuh Sedikit Waktu">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/">Bahkan Keajaiban Pun Butuh Sedikit Waktu</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini berkisahkan tentang 5 sifat yang terdampar di sebuah pulau. 5 sifat itu adalah CINTA, KEBAHAGIAAN, KESEDIHAN, KEKAYAAN, KECANTIKAN.</p>
<p>Kelima sifat tersebut terdampar disebuah pulau yang tak berpenghuni. Tidak ada satu orang pun yang mereka temui di pulau tersebut. Melihat suasana pulau yang nampak sepi, mereka pun merasa sangat ketakutan. Ketakutan tersebut membuat mereka bingung harus melakukan apa, supaya bisa pergi dari pulau itu.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/11/pulau.jpg" alt="pulau" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Pulau | Foto : planet-berita.blogspot.com</figcaption></figure>
<p>Dari kelima sifat tersebut tidak mempunyai inisiatif apa-apa untuk menjadikan suasana pulau tersebut menjadi lebih baik.</p>
<p>Beberapa saat kemudian…..</p>
<p>Kelima sifat tersebut CINTA, KEBAHAGIAAN, KESEDIHAN, KEKAYAAN, dan KECANTIKAN mulai mencari sesuatu yang berguna untuk diri mereka masing-masing. </p>
<p>Pulau tak berpenghuni tersebut berada tidak jauh dari gunung. Kemudian muncul beberapa tanda yang menendakan bahwa beberapa saat lagi gunung tersebut akan meletus. Ketika mereka sedang sibuk mencari-cari cara untuk menyelamatkan diri, terdengar suara yang amat keras.</p>
<p>Mendengar suara tersebut, mereka pun mencari-cari asal mula bunyinya. Tidak lama kemudian, mereka tahu bahwa suara keras yang tadi terdengar berasal dari gunung meletus.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/11/Gunung-Meletus.jpg" alt="Gunung Meletus" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Gunung Meletus | Foto : diariodeunjovenpoeta.blogspot.com</figcaption></figure>
<p>Gunung yang meletus tersebut mengakibatkan, air laut semakin lama semakin naik. Hal ini memungkinkan pulau tak berpenghuni tenggelam. Mengetahui hal itu, mereka sibuk mencari sesuatu untuk menyelamatkan diri masing-masing.</p>
<p>Tapi sayangnya, CINTA tidak seberuntung 4 sifat lainnya. CINTA tidak berhasil menemukan apapun untuk menyelamatkannya. Air laut sudah mulai menutupi mata kaki CINTA, namun ia belum juga menemukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian……..</p>
<p>Air semakin meninggi, ketika itu CINTA melihat KEKAYAAN sudah berhasil mendapatkan perahu untuk menyelamatkan diri. Lalu CINTA memanggilnya.</p>
<p>CINTA : KEKAYAAN… KEKAYAAN tolong aku, aku ingin pergi dari pulau ini tapi tak ada satu perahu pun yang tersisa untukkku.</p>
<p>KEKAYAAN : Maaf CINTA, perahuku sudah penuh dengan barang-barang yang nilainya sangatlah mahal.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang, KEKAYAAN pun pergi meninggalkan CINTA tanpa rasa bersalah</p>
<p>Tidak lama kemudian, datang KECANTIKAN yang juga sudah mendapatkan perahu untuk menyelamatklan diri. CINTA pun memanggil KECANTIKAN dan berharap mau menolongnya.</p>
<p>CINTA : KECANTIKAN…KECANTIKAN tolong aku, aku tidak bisa berenang</p>
<p>KECANTIKAN : Maaf CINTA, saya kan cantik sedangkan kamu kotor. Aku tidak suka dengan hal” kotor. Aku tidak ingin perahuku yang cantik menjadi jelek, karena pakaianmu kotor.</p>
<p>Untuk kedua kalinya, CINTA tidak berhasil menemukan orang yang mau menolongnya. Padahal, air sudah mulai menutupi badannya.</p>
<p>Kemudian datanglah KESEDIHAN bersama perahunya dihadapan CINTA.</p>
<p>CINTA : KESEDIHAN… KESEDIHAN tolonglah aku, aku tidak mau hanyut terbawa ombak laut ini.</p>
<p>KESEDIHAN : Maaf CINTA, tapi saya sedang sedih. Saya ingin meratapi KESEDIHAN saya seorang diri. Maaf….</p>
<p>Ternyata, KESEDIHAN pun tidak bisa menolong CINTA.</p>
<p>Namun, tidak lama setelah itu datanglah KEBAHAGIAAN. KEBAHAGIAAN merupakan harapan terakhir CINTA untuk menyelamatkan dirinya.</p>
<p>CINTA : KEBAHAGIAAN… KEBAHAGIAAN tolong aku. Aku ingin selamat. Tolong…..</p>
<p>Namun sayangnya, teriakan CINTA tidak terdengar oleh KEBAHAGIAAN. Hal ini dikarenakan, KEBAHAGIAAN sangat merasa bahagia bisa selamat dari pulau tak berpenghuni tersebut.</p>
<p>Tubuh CINTA pun semakin lama tenggelam, hanya kepalanya saja yang belum terendam air. Ternyata, tidak ada satu sifat pun yang bisa menyelamatkan CINTA. CINTA pun akhirnya tenggelam, tapi tidak lama setelah itu datanglah penyelamat untuk CINTA. Penyelamat tersebut berhasil membawa CINTA ke pinggir pantai.</p>
<p>Ketika CINTA tersadar, dihadapannya berdiri kakek tua. CINTA pun bingung berada dimana dan siapakah penyelamat itu sebenarnya?</p>
<p>Lalu CINTA bertanya-tanya ke orang-orang di sekitarnya, sebenarnya siapa yang telah menyelamatkannya?</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/11/waktu.jpg" alt="waktu" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Waktu | Foto :mocks.ie</figcaption></figure>
<p>Pada akhirnya, CINTA berhasil menjawab rasa penasarannya tersebut. Ternyata, kakek tua tadi adalah penyelamatnya yang tidak lain WAKTU. Hanya WAKTU yang bisa mengerti dan menyelamatkan CINTA</p>
<p>Akan tetapi CINTA masih bingung kenapa WAKTU mau menyelamatkannya. Padahal teman-teman yang mengenalku saja tidak mau menolongku, tapi kenapa dia yang tidak mengenalku mau menolongku, (gumam CINTA).</p>
<p>Jawabannya sangat sederhana “Sebab hanya WAKTUlah yang tahu betapa berharganya CINTA”.</p>
<p>CINTA yang tumbuh karena rupa (KECANTIKAN/KETAMPAN) akan pudar dimakan usia. CINTA yang tumbuh karena KEKAYAAN, akan hilang karena kehidupan selalu berputar kadang diatas kadang dibawah.</p>
<p>CINTA yang tumbuh akan KEBAHAGIAAN dan KESEDIHAN tidak akan kekal, karena Kesenangan an KESEDIHAN dalam perCINTAan silih berganti.</p>
<p>Akan tetapi, CINTA yang tumbuh seiring berjalannnya WAKTU akan mampu bertahan. Hal ini dikarenakan, detik demi detik ia pergunakan untuk memahami arti CINTA yang sesungguhnya.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/">Bahkan Keajaiban Pun Butuh Sedikit Waktu</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/11/bahkan-keajaiban-pun-butuh-sedikit-waktu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>A thousand winds</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ella_s]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2014 13:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/</guid>

					<description><![CDATA[<p>            Seseorang harus punya suatu yang ia percaya untuk bisa bertahan hidup. Begitupun aku, aku percaya bahwa tuhan memiliki suatu yang manis untuk masing-masing umatnya. Juga bagiku yang sangat mengharapkan suatu kehidupan yang manis. Meski saat ini adalah saat dimana aku banyak mengeluh dan aku merasa buntu. Aku masih ingin terus memegang kepercayaan itu. bahwa ... <a title="A thousand winds" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/" aria-label="Read more about A thousand winds">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/">A thousand winds</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>            Seseorang harus punya suatu yang ia percaya untuk bisa bertahan hidup. Begitupun aku, aku percaya bahwa tuhan memiliki suatu yang manis untuk masing-masing umatnya. Juga bagiku yang sangat mengharapkan suatu kehidupan yang manis. Meski saat ini adalah saat dimana aku banyak mengeluh dan aku merasa buntu. Aku masih ingin terus memegang kepercayaan itu. bahwa aku pasti akan menemukan jalannya, jawabannya.</p>
<p>             Inong. Begitulah orang-orang selalu memanggilku. Nama itu mulai melekat di tubuhku sejak aku berumur 2 tahun. Pada saat ayahku sering mendengarkan salah satu statiun radio. Satu tokoh lucu dalam sebuah iklan radio yang sangat Ayah sukai tersebut bernama Inong. Sejak saat itu Ayah maupun orang di sekitar mulai memanggilku dengan sebutan Inong. Sampai akhirnya aku tumbuh dewasa dan tak banyak orang yang tau nama asliku.</p>
<p>            Berbicara tentang tumbuh. Aku memiliki cerita yang ingin aku bagi pada banyak orang.</p>
<p>            Sepanjang aku bisa mengingat tak banyak kenangan dimana aku dapat melihat ayah setiap hari. Entah sebab apa, aku mulai tinggal berdua saja bersama nenekku. Di rumah sempit yang seingatku pernah aku tinggali bersama ayah, ibu dan kakak laki-lakiku. Pada saat itu aku belum banyak mengerti mengapa mereka tak ada disampingku. Dan aku tak cukup punya keberanian untuk menanyakan hal tersebut pada nenekku. Aku hanya diam dan menyimpan pertanyaan.</p>
<p>Setiap hari aku terbangun sendiri dari tempat tidur dan melihat nenekku tengah menanak nasi. Nenekku tak pernah banyak memasak lauk. Ia hanya menyiapkan telur dadar atau ikan asin. Entah untuk pagi, siang atau malam. Jika aku merengek meminta jajan, ia akan mengeluarkan uang seribu rupiah yang ia sembunyikan dibalik batik kumalnya. Jika aku meminta jajan kedua kalinya di hari yang sama, nenek tak segan memarahiku. Kadang aku tak bisa terima. Aku berpikir lebih baik aku menangis saja sekencang-kencangnya. Tetangga kerap protes karena suara tangisku mengganggu kedamaian mereka. Dan bila sudah seperti itu, nenekku makin tak sabar untuk menghentikan tangisku. Dia akan mengangkat apapun benda yang ada didekatnya dan mengancam akan memukulku dengan benda itu jika aku tak berhenti menangis. Alih-alih berhenti, biasanya aku memilih untuk semakin menjerit-jerit karena kesal pada tetangga yang malah menyulut emosi nenekku. Aku menjerit-jerit saat itu sebagai bentuk protes pada nenek dan tetanggaku.</p>
<p>            Saat itu adalah liburan tahun pertamaku di sekolah dasar. Ayahku datang berkunjung bersama kakak laki-lakiku. Hari itu aku pikir betapa senangnya jika ayah ada di sini. Aku dapat jajan berkali-kali dalam sehari. Bahkan aku dapat membeli jajanan yang dari dulu aku selalu ingin aku beli di warung dekat rumahku. Dan keinginanku lainnya. Yaitu mengenakan baju bagus di lemari yang selalu nenek larang untuk aku kenakan. Untuk hari itu saja aku merasa tak ada alasan bagi teman-temanku untuk tidak bermain bersamaku. Aku punya bekal yang sama seperti yang mereka miliki disaku celananya. Aku mengenakan baju bagus seperti yang selalu mereka kenakan sehari-hari. Ayah, ku mohon jangan pergi. Ini pertama kalinya aku bisa mengingat bahwa aku punya Ayah.</p>
<p>            Tapi Ayah tak dapat mendengar seruan hatiku. Suatu pagi, dia dan kakak laki-lakiku sudah berpakaian rapi pagi-pagi sekali. Saat itu nenek mengantar mereka untuk pergi. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan tanpa bisa merengek agar Ayah tetap tinggal bersamaku. Aku tak berani. Bahkan aku bertanya apakah mungkin aku berhak untuk memintanya tetap tinggal bersamaku. Aku hanya melihatnya tersenyum dan melambaikan tangan.</p>
<p>            Sepertinya aku telah tumbuh tanpa berdamai dengan nenekku. Hubungan kami masih tetap sama seperti saat aku berumur 4 tahun. Setiap hari aku masih merengek dan menangis. Dan rupanya makin banyak orang yang kumusuhi dalam hatiku. Tak satupun orang di sekelilingku yang aku suka. Tapi akupun tak punya keberanian untuk melawan mereka secara terang-terangan. Satu-satunya bentuk protes yang bisa aku luapkan adalah menangis menjerit-jerit saat nenekku memarahiku. Tak peduli itu kekesalan pada siapa, aku hanya akan menumpahkannya saat itu.</p>
<p>            Disaat aku sudah membenci semua orang yang tinggal di sekelilingku. Ada satu orang baru yang mulai datang dalam hari-hariku. Ibu. Seharusnya aku mengenali wajah itu dan bisa lebih dekat dengannya. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa mengenali wajah yang selalu melamun dan punya dunianya sendiri. Bahkan saking asyiknya berkutat dengan dunianya sendiri ia sampai tak bisa melihatku tumbuh dari hari ke hari. Dia hanya membawaku pergi dari rumah lama itu menuju rumah baru yang lebih besar. Dan aku hanya mengikutinya karena nenekpun mengikutinya. Tak ada pilihan bagiku. Tak ada.</p>
<p>            Meski kehadirannya tak seperti kehadiran ayah yang mewujudkan semua keinginanku. Tapi aku juga merasakan bahwa hidupku mulai membaik. Nenek tak lagi berteriak-teriak memarahiku. Dan semua baju bagus yang ada di lemari bisa aku pakai untuk bermain sehari-hari. aku mulai hidup membaik meski hatiku tetap saja protes karena merasa kehadiran ibu seperti ada bagiku. Ia tak pernah menengokku dan aku tak berani mengusiknya. Aku hanya melihatnya kadang bersama temannya. Datang kemudian pergi lagi. Kadang tidur seharian di kamar mendengarkan lagu-lagu yang ia suka. Bau badannya selalu wangi setiap kali ia melewatiku. Ibu selalu cantik dengan pakaian bagus yang ia kenakan. Suatu waktu ketika ia sedang tertidur dan pintu kamarnya terbuka, aku sangat ingin masuk dan berharap ia mengajakku untuk tidur disampingnya. Namun keinginan itu tak pernah terwujud sampai aku berajak dewasa dan mulai mengabaikan impian konyol tersebut.</p>
<p>            Alih-alih memikirkannya aku mulai menetapkan satu kerinduan yang kurasa lebih baik untuk dirasakan. Aku mulai merindukan kehadiran ayah dan berharap suatu saat ia akan muncul kembali bersama kakak laki-lakiku. Aku mulai mengingat bahwa pernah hadir satu pelukan hangat dalam hidupku. Pelukan dari ayahku.</p>
<p>            Semasa kecilku, aku telah banyak menyimpan rasa benci. Namun seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai berganti dengan harapan dan mimpi-mimpi. Aku tidak ingat, kapan aku mulai menjadi gadis pendiam dan asik mengurung diri sendiri di kamar. Aku hanya nyaman ketika aku mendengarkan seorang Dj mengoceh di radio. Karena aku dapat merasakan bahwa dunia ini tidak sepi. Akupun mulai merangkai cerita-ceritaku sendiri. kadang aku mencatatnya, kadang aku hanya merenungkannya. Sambil kupandang jalan sepi dari balik jendela kamarku. Hati adalah teman terbaik untuk aku bertanya dan menemukan jawaban. Seperti Dj yang selalu ramai bertanya dan memjawab pertanyaannya sendiri.</p>
<p>            Ibu, aku telah banyak diam dan berpikir dalam hidupku. Saat ini aku merasa bahwa aku ingin mulai mencari sesuatu yang mungkin membawaku keluar dari rumah yang sepi ini dan mendapatkan kehidupan yang manis. Walau selama ini aku tampak tak peduli. Tapi tetap saja, aku sering terluka karena kau seolah mengabaikanku. Dan orang-orang disekeliling yang entah mengapa seolah terusik dengan kehadiranku. Aku ingin lenyap dari hadapan mereka.</p>
<p>            Tak pernah ku bayangkan bahwa gemuruh besar akan datang mengoyak rumahku yang hening. Aku kedatangan orang yang selalu kurindukan. Tapi kali ini berbeda. Dia tak nampak seperti orang yang aku banggakan. Urat wajahnya menegang memancarkan kemarahan yang dahsyat. Ia berhadapan dengan ibu cantikku yang mulai menangis menjerit-jerit. Sedang ku lihat kulihat disisi lain, kakak laki-lakiku berusaha keras menyembunyikan tangisnya.</p>
<p>Tas ransel besar berisi baju-baju milik kakakku masih ia dekap erat-erat. Dengan wajah merah padam kakak masih duduk berjongkok didapur walau Ayah sudah pergi. Saat itu aku paham bahwa kedatangan Ayah kali ini adalah untuk mengantarkan kakak agar seterusnya dapat tinggal disini. Ayah bilang ia tak sanggup membayar uang sekolah Kakak. Saat itu aku merasa bahwa satu-satunya malaikat yang aku punya didalam hatiku telah mati. Ayah tak ubahnya dengan orang-orang yang kubenci. Hanya bisa membuat aku menangis.</p>
<p>Sudah seminggu Kakakku di rumah ini. Namun tak juga ia membongkar ransel dan membereskan baju-bajunya ke dalam lemari. Ku beranikan diri mendekatinya. Tak nampak seperti manusia. Yang nampak hanya pupil mata membesar yang berusaha ia tutupi dengan rambutnya. Ia masih tertidur memeluk ranselnya. Ingin ku dekap dan menghapuskan segala kesedihannya. Ingin ku katakan bahwa ia tak sendiri.</p>
<p>Tapi dikemudian hari, Kakakku perlahan bangkit. Hari itu adalah hari dimana ia memutuskan meninggalkan sekolah yang ia cintai. Ia mulai bekerja di sebuah home industri pengrajin topi. Ia lakukan apa saja yang ia bisa kerjakan agar ia dapat uang. Setiap hari bekerja keras dan mempelajari hal-hal baru. Hingga akhirnya ia bisa menjahit dan mendapat upah yang lebih besar. Diam-diam ia juga menyisihkan upahnya dan menabung.</p>
<p>            Kakakku yang pendiam. Aku tidak tau apakah kau memang pendiam atau kau memutuskan untuk diam sejak hari naas itu. Tapi semenjak kehadirannya aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kedatangannya tak pernah aku nanti-nanti. Namun ternyata kedatangannya adalah yang paling aku butuhkan. Ia tak membelikan baju bagus untukku. Tapi ia selalu merapikan dandananku dari kepala sampai kaki. Ia meninggalkan sekolahnya kemudian mencukupi kebutuhan pendidikanku. Namun pada intinya kehadirannya adalah menyampaikan bingkisan tuhan yang sebelumnya selalu ku ragukan. Kasih sayang.</p>
<p>            Setidaknya aku berterima kasih pada Ibu yang telah melahirkannya untukku. Dan juga pada Ayah yang telah mengantarkan ia kesampingku.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/">A thousand winds</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/10/a-thousand-winds/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mita, Gadis Kecil Penderita Kanker</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ziah]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2014 08:13:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Penderita Kanker]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Hidup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mita, gadis cilik yang ceria. Ceria meski kanker menggerogoti tubuhnya. Di usia kanak-kanak, buah hati tentu membutuhkan perhatian yang lebih dari kedua orangtuanya. Begitu pula dengan Mita. Mita merupakan anak perempuan yang cantik dan selalu ceria. Namun dibalik keceriaan tersebut tersimpan rasa sakit yang amat perih. Di usianya yang masih muda, Mita harus berjuang melawan ... <a title="Mita, Gadis Kecil Penderita Kanker" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/" aria-label="Read more about Mita, Gadis Kecil Penderita Kanker">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/">Mita, Gadis Kecil Penderita Kanker</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mita, gadis cilik yang ceria. Ceria meski kanker menggerogoti tubuhnya.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Kanker.jpg" alt="Kanker" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Kanker | Foto : medcitynews.com</figcaption></figure>
<p>Di usia kanak-kanak, buah hati tentu membutuhkan perhatian yang lebih dari kedua orangtuanya. Begitu pula dengan Mita. Mita merupakan anak perempuan yang cantik dan selalu ceria. Namun dibalik keceriaan tersebut tersimpan rasa sakit yang amat perih. Di usianya yang masih muda, Mita harus berjuang melawan penyakit ganas. Penyakit ganas yang diderita Mita adalah kanker paru-paru.</p>
<p>Meski harus berjuang melawan penyakit kanker, lekukan senyum dibibirnya tak pernah pudar. Justru, penyakit kanker tersebut membuat Mita lebih memahami arti hidup yang sebenarnya. Tak peduli seberapa berat penyakit yang dialami, waktu terus berjalan. Untuk itu, setiap detik dalam hidupnya dijalani Mita dengan penuh semangat.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Tersenyum.jpg" alt="Tersenyum" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Tersenyum | Foto : andradaclaudia.wordpress.com</figcaption></figure>
<p>Bagi Mita, hal yang terpenting bukan seberapa lama dia bertahan hidup, melainkan sejauh mana ia mampu mengukir kenangan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu, Mita selalu berusaha membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama kedua orangtua.</p>
<p>Namun sayang, saat Mita masih berusia 5 tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan. Mau tidak mau, Mita harus menerima kenyataan pahit tersebut. Minggu-minggu pertama sepeninggal orangtuanya, Mita hidup dari belas kasihan para tetangga.</p>
<p><strong>Yayasan Kanker</strong></p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Anak-anak.jpg" alt="Anak-anak" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Anak-anak | Foto : berandanews.com</figcaption></figure>
<p>Tidak lama setelah itu, ternyata ada orang yang tergerak hatinya untuk membantu Mita. Ia adalah pemilik yayasan kanker. Sama seperti namanya, yayasan tersebut khusus dibangun bagi para penderita kanker. Di tempat tersebut, Mita tinggal bersama anak-anak lain yang menderita kanker.</p>
<p>Meski menderita kanker, anak-anak di  yayasan ini selalu ceria menjalani masa hidupnya yang singkat. Selain mendapatkan pengobatan, penderita kanker juga diberikan hiburan dan kegiatan positif lainnya. Mulai dari belajar membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan lain-lain. Semua hal tersebut dilakukan sebagai pemacu semangat hidup para penderita kanker.</p>
<p><strong>Cita-cita Menjadi Koki Hebat</strong></p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Koki-Cilik.jpg" alt="Koki Cilik" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Koki Cilik | Foto : kekoci.wordpress.com</figcaption></figure>
<p>Sama seperti anak-anak lainnya, Mita juga mempunyai cita-cita. Cita-cita Mita adalah menjadi koki hebat. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Mita harus berlatih memasak. Mungkin bagi anak-anak lain yang masih memiliki ibu bisa meminta bantuan untuk mengajarkan memasak. Tapi bagi Mita, ia harus berusaha sendiri, karena ibunya telah meninggal dunia.</p>
<p>Ternyata putri kecil ini tak kehabisan ide untuk belajar memasak. Setiap pagi, Mita sudah berdiri tegap di depan dapur yayasan. Apa yang Mita lakukan di depan dapur? Mita berdiri di depan dapur untuk menunggu bibi memasak. Ya, Mita belajar memasak dengan melihat bibi mengolah bahan makanan di dapur.</p>
<p>Melihat kesungguhan Mita, Bibi akhirnya mengajarkannya memasak. Awalnya, Mita hanya diminta Bibi untuk mencuci sayuran yang akan diolah. Kemudian berlanjut belajar memotong sayuran. Pisau yang digunakan tentu saja tidak tajam. Hal ini bertujuan, agar tangan Mita terbebas dari risiko terluka.</p>
<p>Dan pada suatu hari, yayasan kanker tersebut mengadakan lomba memasak. Peserta lomba memasak tersebut, tentu saja para penderita kanker. Semua peserta  sangat antusias mengikuti perlombaan ini, terutama Mita. Bagaimana tidak, menjadi seorang koki adalah cita-citanya. Perlombaan ini menjadi tolak ukur sejauh mana kemampuan Mita dalam hal memasak.</p>
<p>Peserta lomba dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang, 2 anak penderita kanker dan 1 orang dewasa. Di usia yang masih kecil, tentu membutuhkan bantuan dari orang dewasa. Oleh karena itulah orang dewasa diikutsertakan.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Lomba-Memasak.jpg" alt="Lomba Memasak" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Lomba Memasak | Foto : www.dailytelegraph.com.au</figcaption></figure>
<p>Lomba memasak dimulai. Lama waktu memasak adalah 2 jam. Di awal waktu lomba, semua peserta mulai mencuci dan memotong bahan-bahan makanan. Mita sangat menikmati perlombaan ini. Apalagi dibandingkan teman-temannya, Mita cukup handal dalam memotong sayuran.</p>
<p>Satu jam telah berlalu, bahan-bahan sudah selesai dipotong. Langkah selanjutnya tinggal mengolah semua bahan di atas penggorengan. Mita sudah tak sabar untuk memasukkan semua bahan ke wajan penggorengan.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/HUjan.jpg" alt="Hujan" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Hujan | Foto : www.eexploria.com</figcaption></figure>
<p>Namun sayang, tiba-tiba hujan mengguyur tempat perlombaan. Hujan sangat deras, membuat perlombaan memasak tersebut terpaksa dibatalkan. Semua anak dibawa masuk ke dalam yayasan untuk berteduh.</p>
<p>Ternyata ada satu anak yang masih bertahan memasak di tengah guyuran hujan. Siapa lagi kalau bukan Mita. Ya, Mita tetap asyik memasak meski hujan mengguyur badannya. Untung saja, pengurus yayasan menyadari bahwa ada anak yang masih tertinggal di luar.</p>
<p>Pengurus yayasan tersebut berusaha membujuk Mita untuk berteduh. Namun Mita tetap bersikeras bertahan di luar menyelesaikan masakannya. Mita tidak memperdulikan kesehatannya. Padahal hujan deras itu justru membuat paru-parunya terganggu.</p>
<p>Untung saja, pengurus yayasan akhirnya berhasil membujuk Mita masuk untuk berteduh. Setelah itu, pengurus yayasan menyuruh Mita untuk segera mengganti pakaiannya yang basah. Namun ternyata, Mita tidak mengganti bajunya, tetapi bergegas ke dapur untuk melanjutkan memasak.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Sesak-Napas.jpg" alt="Sesak Napas" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Sesak Napas | Foto : www.sabodo.com</figcaption></figure>
<p>Melihat hal tersebut, pengurus yayasan khawatir mengganggu kesehatan Mita. Apalagi hujan deras tadi membuat badan Mita kedinginan dan akan berakibat fatal pada kesehatan paru-parunya. Percakapan alot antara Mita dan pengurus yayasan pun terjadi.</p>
<p>Mita                             : Mita mau masak sekarang.<br />Pengurus yayasan    : Jangan nanti Mita kecapean. Besok lagi masaknya ya.<br />Mita                            : Gak mau, Mita mau masak sekarang pokoknya.<br />Pengurus yayasan    : Mita, masaknya besok aja, sekarang ganti baju nanti sakit.<br />Mita                            : Gak mau. Mita takut ga sempet masak nanti.<br />Pengurus yayasan    : ibu janji, besok kita masak. Sekarang Mita istirahat ya<br />Mita                            : Tapi Mita takut ga sempet masak nanti<br />Pengurus yayasan    : Mita masih punya banyak waktu buat masak kok.<br />Mita                            : Iya bu (Mita lari ke kamar sambil meneteskan air mata).</p>
<p>Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Semua sudah terlelap dalam tidurnya. Namun tiba-tiba dari kamar Mita terdengar suara minta tolong. Mendengar suara itu, pengurus yayasan segera menghampiri kamar Mita. Ternyata sesak napas Mita kambuh, mungkin karena kelelahan dan kehujanan.</p>
<figure style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="attachment-full" src="https://penulispro.net/wp-content/uploads/2014/10/Good-Bye.jpg" alt="Good Bye" width="740" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Good Bye | Foto : www.wattpad.com</figcaption></figure>
<p>Tanpa menunggu waktu, pengurus yayasan langsung membawa Mita ke rumah sakit. Dokter berjanji akan berusaha semaksimal mungkin melakukan penanganan untuk Mita. Setelah beberapa jam menunggu, sayang dokter membawa kabar buruk. Dokter gagal menyelamatkan nyawa Mita.</p>
<p>Pengurus yayasan merasa sangat bersalah karena tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir Mita untuk bisa memasak. Padahal Mita sudah berkata “ Mita takut ga sempet masak”. Ternyata itu adalah pertanda bahwa Mita akan segera pergi untuk selamanya.</p>
<p>Nah, buat kita yang sehat harusnya bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup Mita. Perjuangan hidup Mita menjadi tamparan keras bagi kita untuk bersyukur. Bersyukur masih bisa menjalani kehidupan. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menghirup udara. </p>
<p>* Cerita ini diangkat dari kisah nyata.</p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/">Mita, Gadis Kecil Penderita Kanker</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/10/mita-gadis-kecil-penderita-kanker/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerpen dimuat di Majalah HAI, 25-31 Agustus 2014</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Niradea]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2014 05:17:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/?p=2040</guid>

					<description><![CDATA[<p>  Langit Menangis Oleh: Nina Rahayu Nadea &#8230; Sengaja kupijit klakson motorku ketika kulihat Nita dengan terburu menuju kelas.             “Aw berisik tau&#8230;!” Nita mendengus.             Aku hanya tersenyum dan segera membuka helm.             “Hey Bambang, keren, motor baru nih?”Tanyanya sumringah ketika tahu aku yang membawa motor.             “Iya dong.”             “Asyik bisa nebeng nih.” ... <a title="Cerpen dimuat di Majalah HAI, 25-31 Agustus 2014" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/" aria-label="Read more about Cerpen dimuat di Majalah HAI, 25-31 Agustus 2014">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/">Cerpen dimuat di Majalah HAI, 25-31 Agustus 2014</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p>Langit Menangis</p>
<p>Oleh: Nina Rahayu Nadea</p>
<ol>
<li>&#8230;</li>
</ol>
<p>Sengaja kupijit klakson motorku ketika kulihat Nita dengan terburu menuju kelas.</p>
<p>            “Aw berisik tau&#8230;!” Nita mendengus.</p>
<p>            Aku hanya tersenyum dan segera membuka helm.</p>
<p>            “Hey Bambang, keren, motor baru nih?”Tanyanya sumringah ketika tahu aku yang membawa motor.</p>
<p>            “Iya dong.”</p>
<p>            “Asyik bisa nebeng nih.”</p>
<p>            Seketika lapangan yang kujadikan tempat parkir motor menjadi ramai. Kulihat wajah-wajah yang tak asing lagi. Robi, Amran dan beberapa cewek berada di sampingku sambil mengelilingi motorku.</p>
<p>            “Akhirnya, ibumu membelikan juga.” Robi berkata.</p>
<p>            “Ayahmu setuju, Bang?” Amran menimpali.</p>
<p>            “Dengan perjuangan besar, akhirnya mereka memberikan motor padaku…ha&#8230; ha&#8230;.”</p>
<p>            “Wah dasar kamu, ada-ada saja ngakalin orang tua.” Mereka cengengesan mendengar akalku dalam merayu orang tua untuk membelikan motor.</p>
<p>            Hari ini aku benar-benar merasa seperti arjuna. Apalagi di hadapan cewek. Mereka yang biasanya acuh, kini rasa-rasanya mulai lengket, kaya permen karet. Nita yang terkenal judes, kini kelihatan ngedeketin aku. Atau kulihat juga Rani yang dari tadi senyum saja ke arahku. Gini deh kalau di sekolah menjadi orang top. Pasti diperhatikan orang terus. Duh geer nih.</p>
<p>            Suasana kelas hari ini kurasakan berbeda. Mungkin karena hatiku yang sedang dilanda bahagia. Sehingga aku bisa menikmati pelajaran yang aku ikuti. Padahal biasanya tidak. Aku teringat dengan janjiku pada Ibu, bahwa akan belajar giat kalau mempunyai motor. Akan aku buktikan itu, Bu, bisikku dalam hati.</p>
<p>            Tak terasa bel berbunyi. Segera kukemasi buku dan siap meloncat menuju motor baru.</p>
<p>            Di tempat parkir telah menunggu Amran dan Robi.</p>
<p>            “Hayu mau ikut?” Robi bertanya.</p>
<p>            “Kemana?”</p>
<p>            “Balapan motor, sekalian ngetes motor barumu!”</p>
<p>            “Ngak ah malas, ibuku menungguku!”</p>
<p>            “Duh anak Mami.” Ledek Amran.</p>
<p>            “Dimana?”</p>
<p>            “Dekat daerah Tarogong. Ayo gabunglah! dijamin asyik.”</p>
<p>            Sebenarnya aku malas mengikuti ajakan Amran dan Robi, tapi mereka memaksa. Karena solidaritas, akhirnya aku turut dengan mereka. Segera tiga buah motor melaju menuju daerah Tarogong, tepatnya di sebuah lapangan yang besar. Ternyata di sana telah berkumpul para pengguna motor.</p>
<p>            “Kenalin nih anak baru,” Amran mengenalkanku pada teman-teman yang ada di sana.</p>
<p>            Aku segera berbaur dengan mereka. Rasa riskan dan takut pertama kali bertemu mereka, tidak kurasakan. Ternyata mereka begitu ramah dan terkesan <em>friendly</em>. Sehingga kali pertama di sini, aku sudah merasa betah. Tadinya aku hanya akan sebentar berada di lapangan ini. Aku ingat ibuku yang sudah wanti-wanti padaku agar tidak menghamburkan waktu untuk hal yang negatif. Tapi hatiku panas, ketika dalam satu kali putaran aku kalah dan mereka mengolokku.</p>
<p>            “Wah anak baru nih ngak becus kerja…!”</p>
<p>            “Ayo dong, Bang, masa motor baru sudah kalah sama motor tua punyaku.”</p>
<p>            Akhirnya akupun memulai balapan bersama mereka dengan segenap kemampuan. Sampai akhirnya aku menang. Sampai aku merasa puas karena akhirnya mereka memuji kemampuanku.</p>
<p>            “Nah gitu dong…ternyata kamu hebat juga, <em>coy</em>!” Seru Alex.</p>
<p>*</p>
<p>            Mempunyai motor, membuatku mempunyai banyak teman. Terutama di tempat balapan itu. Dan aku mulai menikmatinya. Tak pernah aku menduga dari awal, inilah kehidupanku mulai berubah. Aku mulai merasakan indahnya hidup di jalanan. Keinginanku untuk menjadi seorang <em>Marco Simoncelli</em><em>,</em>idolaku kini menjadi kenyataan.</p>
<p>            Agar aku tidak terlambat pulang ke rumah. Demi memuaskan nafsuku kini aku mulai bolos sekolah. Sekali, dua kali tidak ketahuan oleh orang tuaku. Hingga akhirnya aku lebih menikmati hidup di jalanan sebagai pembalab, ketimbang belajar. Ibu tak pernah tahu itu. Karena aku pulang dengan tepat waktu.</p>
<p>            Hingga akhirnya semua terkuak. Ibu menangis dan Ayah marah besar, ketika ada surat panggilan dari sekolah yang isinya menyatakan aku sudah lama membolos. Dan aku hanya diam seribu basa.</p>
<p>            “Kemana saja kau selama ini, Nak?”</p>
<p>            “Dasar anak tak tahu diuntung! sudah dibelikan motor malahan main seenaknya, mana tanggung jawabmu?” Plak tamparan Ayah mendarat di pipiku.</p>
<p>            “Sudah! jangan kau perlakukan dia seperti itu!” Ibu memelukku erat.</p>
<p>            “Itulah kalau kau memanjakan anakmu itu. Coba mana buktinya?“ Ayah marah pada Ibu.</p>
<p>Aku tak kuasa melihat Ibu didamprat habis-habisan. Semua karena ulahku. Ibu memelukku, dengan berurai air mata. Akupun menangis. Pelukan Ibu membuat kehangatan yang luar biasa dalam hatiku. Tamparan Ayah yang panas tak sebanding dengan perasaan sesalku menyaksikan Ibu menangis karena tersakiti. Aku berjanji pada Ibu untuk tidak melakukannya lagi.</p>
<p>            Atas kesalahan yang telah kulakukan. Aku harus menerima konsekwensinya. Ke sekolah tidak dengan naik motor. Ya, Ayah sangat marah dan menjual motor. Alangkah sedihnya hatiku saat itu. Mengapa Ayah tidak memercayai niatku untuk berubah. Aku ingin berubah dan membuktikan pada keluarga untuk menjadi yang terbaik. Tapi semua harapan pupus, walau aku telah menghiba, memohon pada Ayah untuk tidak menjual motor tersebut. Ayah tak bergeming dengan keputusannya. Ia tetap menjual motor tanpa persetujuanku. Aku kecewa berat.</p>
<p>            Yang paling menyakitkan hatiku di sekolah. Tanpa motor Nita tak mau lagi jalan bareng denganku. Walau kami sudah jadian. Tega-teganya dia berboncengan dengan si Jimmy hanya karena motor bebek bututnya. Puih! dasar perempuan matre. Ada uang Abang sayang tak ada uang Abang ditendang.</p>
<p>            Untuk menghindarkan penat dan rasa kecewaku aku tetap menyalurkan hobi membalapku. Aku meminjam dan menyewa motor kepunyaan teman. Kini masa lalu, masa bahagia di ajang sirkuit kembali lagi. Kebahagiaanku sebagai petualang sejati di balapan melekat lagi pada diriku. Dan semua memberikan keasyikan, memberikan nikmat di hati yang luar biasa. Kini aku lupakan masa lalu. Aku lupakan tangisan Ibu yang memeluk dan memohon agar aku kembali ke sekolah. Yang penting saat ini aku menjadi raja. Raja dari segala nafsu yang telah memberiku cinta yang menghindarkan gundahku.</p>
<p>            Suatu hari seperti biasa aku menyewa motor milik Andre temanku. Saat itu, hujan baru saja reda. Rinai hujan masih kentara membayang pada langit.</p>
<p>            Gruuung…. Gruung….</p>
<p>            Motor melaju dengan kecepatan tinggi. Satu putaran tak terjadi apa-apa. Di putaran kedua terjadi kejadian yang sungguh di luar kesadaranku. Entah karena tanah yang licin atau karena motor Andre yang tidak laik jalan. Yang pasti saat itu ketika motor berada di tikungan dengan kecepatan tinggi, motor terlalu rebah ke kanan saat menikung dan sialnya aku tidak bisa mengendalikan sepeda motor. Saking cepatnya motorku saat itu menghantam lintasan jalan, aku terseret beberapa meter dari motor. Bruk…! semuanya gelap.</p>
<p>            Aku tersadar ketika rasa sakit di sekujur tubuhmenyapaku. Lantunan doa terdengar sayup di telingaku. Kubuka mata perlahan. Di sana kulihat Ibu berurai air mata dengan doanya yang terus ia lantunkan. Kutatap wajahnya. Betapa doanya begitu tulus dan mendayu. Kugerakan bibirku tuk bicara dan mohon maaf pada Ibu, tapi tak mampu&#8230;.</p>
<p>            Rinai hujan membasahi pekarangan rumahku. Aku menyaksikannya dari jendela kamar. Langit menangis menyaksikan deritaku. Derita yang telah dibuat atas karma yang aku lakukan sendiri. Langit menangis kehilangan sang pembalap sejatinya. Sama halnya denganku yang kehilangan pembalap sang<em> Marco Simoncelli </em>yang harus gugur di arena sirkuit. Tapi aku masih beruntung, Tuhan masih memberiku kesempatan tuk memperbaiki segalanya walau dengan sebelah kakiku.***</p>
<p> </p>
<p>Nina Rahayu Nadea. Menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Tulisannya dimuat di: Pikiran Rakyat, Galamedia, Kabar Priangan, Majalah Kartini, Analisa Medan, Radar Bojonegoro, Majalah Potret Banda Aceh, Majalah Baca Banda Aceh, Suara Karya, Suara Daerah, Majalah Kandaga, Majalah Mangle, SundaMidang, Galura, Tabloid Ganesha, Tribun Jabar, Koran Merapi-Yogyakarta</p>
<p><a title="tulisanku" href="http://ninarahayunadea.blogspot.com/">http://ninarahayunadea.blogspot.com/</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/">Cerpen dimuat di Majalah HAI, 25-31 Agustus 2014</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/09/cerpen-dimuat-di-majalah-hai-25-31-agustus-2014/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Carpon Mangle</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Niradea]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2014 01:57:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen bahasa Sunda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Imam Ku: Nina Rahayu Nadéa             “Naha manéh téh teu ngarti waé. Geus bosen Bapak mapagahan manéh tatadi téh!” Plak leugeun reflek nyabok pipi.             “Punten abdi, Pak,” Wawan tungkul. Leungeun nyekel pipi anu karasa panas. Hayang mah ambek, hayang mah nangtang guruna. Tapi manéhna nyaho saha ari Pak Cécép. Guru pangkillerna anu taya ampun ... <a title="Carpon Mangle" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/" aria-label="Read more about Carpon Mangle">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/">Carpon Mangle</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Imam</strong></p>
<p><strong>Ku: Nina Rahayu Nadéa</strong></p>
<p>            “Naha manéh téh teu ngarti waé. Geus bosen Bapak mapagahan manéh tatadi téh!” Plak leugeun reflek nyabok pipi.</p>
<p>            “Punten abdi, Pak,” Wawan tungkul. Leungeun nyekel pipi anu karasa panas. Hayang mah ambek, hayang mah nangtang guruna. Tapi manéhna nyaho saha ari Pak Cécép. Guru pangkillerna anu taya ampun ka budak. Rék pisakumahaeun alesan dijieun, dihadé-hadé. Angger tara nolih.</p>
<p>            “Hayang dikaluarkeun ti ieu sakola?” Omongna teugeug waktu teuteupan paadu jeung Wawan.</p>
<p>            “Heunteu Pak.” Témbal Wawan halon. Aya nu ngeyembeng di juru panonna. Tapi teu kaci dikaluarkeun. Manéhna lalaki. Narah ngaluarkeun cipanon. Ngan dina haté aya silalatu anu patingsulabreng minuhan lulurung kalbu. Bener-bener asa diteungteuingan. Teu pira. Enya pira kabeurangan. Jeungna deui pan geus bébéja ka pikét yén manéhna geus néangan heula adi nu teu balik. Pikét mah ning bageur jeung ngarti sarta nitah langsung asup ka kelas. Nasib alus keur teu badami, waktu asup ka kelas, Pak Cécép geus nyampak. Keur nyarékan babaturanna Banu jeung Aléx nu memang katélah bangor.</p>
<p>            “Cicing heula di luar.” Pak Cécép nyarita waktu ningali Wawan asup ka kelas.</p>
<p>            “Suruh masuk sama piket, Pak.” Cenah teu miroséa. Tunduh jeung capé, ayeuna kudu nyanghareupan masalah. Uteuk geus teu bisa nyaring.</p>
<p>            Asa disapirakeun meureun. Keur mah eukeur manéhna keur ngambek katurug &#8211; turug ningali Wawan nu watados, langsung diuk.</p>
<p>            “Kaluar manéh!”</p>
<p>            Wawan cicing.</p>
<p>            “Kadéngé teu. Kaluar!” Sorana handaruan. Kelas comrék.</p>
<p>            “Goblog. Aya&#8230; aya waé.” Sorana ngagerendeng. Wawan kaluar.</p>
<p>            “Ngomong naon manéh bieu?”</p>
<p>            “Heunteu, Pak.”</p>
<p>            “Nganggap kanu torék?” Pak Cécép nuturkeun kaluar. “Hayu ka kantor.”</p>
<p>            “Ngomong naon tadi?” Pak Cécép nanya deui waktu geus adu hareup di kantor. “Rumasa teu boga salah?”</p>
<p>            “Muhun Pak rumaos kasiangan, tapi pan abdi dipiwarang lebet ka kelas ku pikét. Terusna deui abdi mah kakara kabeurangan ayeuna. Néangan heula adi ka dulur. Piraku teu toléransi.” Wawan ngomong tatag. Pangacian kumpul deui.</p>
<p>            “Halah alesan. Déngékeun. Bapak mah teu pandang bulu. Rék sakali duka kali gé sarua kénéh.”</p>
<p>            “Kamari gé Sutisna teu dititah kaluar ku Bu Wiwi basa kabeurangan.”</p>
<p>            “Ari manéh keur nyanghareupan saha?” Pak Cécép neuteup seukeut. “Déngékeun enya manéh karék ayeuna nyieun masalah jeung Bapak. Tapi Bapak gé apal kumaha kalakuan manéh kamari-kamari. Ngarokok di sakola, mabal. Éta téh angger tah nepi kana ceuli. Piraku rék diantepkeun.”</p>
<p>            “Naha beut ngungkit nu baheula Pak. Éta mah basa keur kuring kelas X. Ayeuna geus kelas XII. Bapak tong nyabit-nyabit nu baheula.” Wawan keuheul nataku. Tatadi geus sabar. Tapi ning angger disapirakeun. Komo geus nyabit-nyabit waktu nu baheula. Enya manéhna gé ngarasa baheula mah jadi jalma baong. Tapi naha salah lamun hayang robah. Naha salah lamun ayeuna manéhna wakca nu sabenerna.</p>
<p>            “Sok atuh ngomong nu bener kunaon kabeurangan?”</p>
<p>“Neang adi Pak, ka imah Uwa. Ti kamari teu balik.”</p>
<p>            “Euh. Si Déwi? Paingan atuh geus dua poé teu ka sakola. Adi jeung lanceuk téh ning sarua euweuh cupat nu hadé. Kahadé tah si Déwi teu balik-balik. Bisi kabawa kunu teu puguh. Daék kitu adi manéh jadi awéwé baong?”</p>
<p>            “Pak! Tong sangeunahna atuh ngomong téh.” Wawan nangtung. Leuleuyna leungit baganti keuheul.</p>
<p>            “Naon sosorongot kitu?” Leungeun neumbrag méja. “Manéh kudu ngahargaan atuh keur ngomong jeung saha? Meuni poporongos jeung nangtung sagala. Naon ngajakan gelut?” Pak Cécép beuki ambek.</p>
<p>            “Enya Pak. Hampura. Tapi teu ngeunah atuh adi sorangan disebut kitu.”</p>
<p>            “Déngékeun Wawan. Bapak mah ngomong téh bakat kunyaah, lain nyingsieunan. Pan nyaho jaman ayeuna téh kumaha? Sok kaberitakeun dina tivi kumaha? Bapak sieun boga murid anu kabawa kusakaba-kaba. Naha Bapak manéh teu melang kitu?”</p>
<p>            “Bapak mah geus teu aya, Pak.”</p>
<p>            “Tuh komo deui Bapak geus euweuh. Manéh kudu leuwih merhatikeun adi jeung kolot. Manéh téh gaganti kolot, kudu jadi imam keur kulawarga. Kitu, Bapak mah peupeujeuh téh.” Pak Cécép menerkeun kacamatana. “Kudu jadi conto anu alus keur kulawarga. Komo lalaki, kudu bisa ngajarkeun nu bener ka adi. Sakali deui kudu bisa jadi imam.” Pak Cécép beuki daria. Asa budal kabéh momot nu mahung manéhna.</p>
<p>            Wawan teu ngomong deui, ngeluk lir bueuk meunang mabuk téh lain bobohongan. Da enya karasa ku manéhna salaku lanceuk can bener-bener bisa ngarawat kanu jadi adi jeung indung. Enya manéhna rumasa pisan, waktu keur nu lain kacida heureut. Tong boroning ngurus jeung merhatikeun kanu jadi adi. Dalah ngurus sorangan gé rumasa can bisa.</p>
<p>Ngarahuh panjang, mikiran adi nu keukeuh embung sakola.Omongan Pak Cécép aya benerna. Kakeueung ngalimpud diri, sieun adina kabawa anu teu bener. Sanajan kasaksian adina memang aya di imah Uwa. Teu kamamana. Ngan can bisa ngabuktikeun da kabeneran uwana teu aya. Jadi teu bisa ngobrol. Jeung manéhna rusuh rék ka sakola. Tapi maenya omongan Pak Cécép nu sidik ngajejeléh rék diantep? Sanajan enya cenah mapatahan tapi angger asa teu pantes.</p>
<p>*</p>
<p>            Anjog ka imah pasarandog pisan jeung hiji awéwé nu kakara pisan kaluar ti imah.</p>
<p>            “Saha éta, Ma?” Wawan tumanya ka indungna.</p>
<p>Indungna teu némbal.</p>
<p>“Ma?” Wawan metot leungeun indungna. Ningali paroman indungna nu bareueus. “Kunaon Ma?”</p>
<p>“Taya nananon?” Walon indungna pondok.</p>
<p>“Tong ngabohong, Ma.”</p>
<p>“Hampura Wan. Ema.“ Indungna ngarénghap panjang. Tina juru panonna geus aya talaga reumis, sayaga bedah. “Duit nu keur ujian téa téh meunang Ema nginjeum. Hampura. Waktu kamari hidep méré duit tina ladang nyablon téh, bieu dibayarkeun ku Ema ka manéhna. Tapi Ema ngajenghok ning&#8230;”</p>
<p>“Ning kumaha, Ma?”</p>
<p>“Aya bungaan sagala. Malah nikel pisan. Padahal mimitana mah teu ubral obrol nanaon. Éstu manéhna sorangan nu nawarkeun bantuan. Nya atoh wé nu aya.“</p>
<p>“Naha atuh Ema téh beut nginjem. Komo deui ka réntenir. Pan ceuk Wawan gé. Keun Wawan rék usaha.” Wawan keuheul kanu jadi indung pédah teu diajak badami.</p>
<p>“Enya tadina mah bisi jadi pikiran. Komo sakeudeung deui nyanghareupan ujian sakola.”</p>
<p>“Tungtungna lain nganggeuskeun masalah, anggur nambah masalah.” Wawan rumahuh panjang.</p>
<p>*</p>
<p> </p>
<p>            “Rumah tangga téh ibarat urang keur balayar. Balayar di tengah lautan anu caina kacida gedé, anu ombakna tinangtu waé nyurungkeun kapal anu keur dipaké ka mana waé. Bisa ngénca bisa ngatuhu. Can tangtu kamana léokna.” Ustad Acéng eureun, neuteup hiji –hiji jalma nu aya di hareupeun manéhna.</p>
<p>            Pak Cécép ngeluk, panglamunan bacacar ka mana waé, asa deukeut asa jauh.</p>
<p>            “Nahkoda kudu sanggup mawa kapal anu keur balayar téa ka tempat anu alus ka jalan anu hadé sangkan sakabéh panumpang nu aya- pamajikan turta anak-anakna bisa salamet nepi ka tujuan. Salamet nepi ka engké poé akhir, tur teu neumbleuhkeun kasalahan kanu jadi kolot. Inget !yén anak-anak bisa waé nungtut urang salaku imam nu teu bisa mawa ka jalan kahadéan. Nungtut nu jadi Bapak, anu tara ngageuing anak-anakna. Pamajikan nungtut nu jadi salaki pédah tara ngageuing kana jalan lempeng tur bener. Salaki kudu bisa jadi imam, pamingpin kulawarga.”</p>
<p>            Omongan Ustad Acéng nembrés kana haté, aya nu noélan kana haté. Lalaunan nepi karasa tarik, nakolan. Aya nu eundeur handaruan ngendagkeun kapengkuhan manéhna salaku lalaki. Pak Cécép memener peci, sidakep ajeg deui. Inget yén manéhna téh hiji tokoh nu diambeuan. Teu meunang céngéng. Teu meunang aya nu ngeundeuk-ngeundeuk kaayaan pribadina. Sidakep deui, saregep ngabandungan ustad nu keur méré ceramah.</p>
<p>            Kabéh keur anteng ngabandungan wejangan, waktu ti gigireun imah Pak Soma tempat anu keur dipaké ceramah téa. Kadéngé anu hog hag. Siga nu keur paraséa.</p>
<p>            “Bu piraku teu boga rarasaan.”</p>
<p>            Cenah ngan sakitu anu kadéngé. Nu puguh mah kadituna sora blag blig blug siga anu keur lumpat.</p>
<p>            Kabéh marelong ka Pak Cécép. Da geus puguh éta sora téh asalna ti imahna. Anu mémang ngaréndéng pisan jeung imah Pak Soma. Pak Cécép ngeluk api-api teu ngadéng. Beuki ngéluk, éta sora beuki atra. Sora pamajikan. “Leutik-leutik teu ngarti manéh!”</p>
<p>            “Pak, tingal heula,” Pak Ridwan anu digigireun noél. “Bilih kumaonam.” Cenah ngaharéwos.</p>
<p>            Teu talangké Pak Cécép nangtung. Ngagidig ka imah sorangan. Reuwas ningali panto bolongor. Sora nu hog hag beuki atra. Beuki deukeut kadéngé pamajikan keur ngomong tarik. Deukeut panto, hiji lalaki nonggongan. Kadéngé hégakna nahan amarah. Pamajikan, sanajan enya ngomong tarik, katangen sieunna. Rampang reumpeung. Sigana enya tadi manéhna lumpat diberik ku éta lalaki. Katigali korsi anu rada ngagésér heunteu dina tempatna.</p>
<p>            “Meunggeus ayeuna mah mending balik!” Rada tatag ningali nu anyar datang. Meureun asa boga panyalindungan.</p>
<p>            “Kuring moal balik. Lamun can panggih jeung salaki manéh. Hayang ngomong anu bener kalakuan manéh kitu.”</p>
<p>            “Kitu kumaha? Budak téh teu nyaho dikasopanan. Ka kolot ngomong kitu. Naha teu sakola manéh?”</p>
<p>            “Puguh matak kuring ka dieu gé sakola. Bu. Teu pantes Ibu anu geus kolot kitu nyarékan indung kuring di hareupeun jalma umum. Di mana salaki di dinya?” Sukuna ngaléngkah ka deukeut pamajikan Pak Cécép.</p>
<p>            “Nya salah indung di dinya atuh, mayar hutang lila waé.”</p>
<p>            “Déngékeun ku bebengok sia. Indung aing mah asa dilejokeun ku sia téh. Cenah mah ngomong nulungan. Hutang geus dibayar waktu manéh ka imah. Naha atuh beut maké paleuleuwih sagala.”</p>
<p>            “Ieuh, Jang. Dimana-mana gé kudu aya leuwihna jaman ayeuna mah. Moal aya nu angger. Sok wé pikir lamun éta duit digolangkeun ku kuring. Geus leuwih ti dinya tah leuwihna. Sakitu mah jamak ménta paleuleuwih ngan saeutik.”</p>
<p>            “Geus lah gandéng. Dimana salaki manéh?”</p>
<p>            “Geus ayeuna mah urusan jeung kuring.” Pak Cécép nyampeurkeun. Asa teu ngeunah ningali pamajikan dijejeléh kitu.</p>
<p>            “Enya. Sok warah kadinya, Kang. Piraku éléh ku budak bau jaringao.”</p>
<p>            “Mana?” cenah ngalieuk ka tukang.</p>
<p>            Barang bréh.</p>
<p>            “Wawan!”</p>
<p>            “Pak Cécép?” Sakedapan ngahuleng. “Oh jadi kieu imam nu dicaritakeun Bapak ka kuring téh. Jadi pamingpin nu kudu bener ngaping ngajaring kulawargana. Hadé pisan. Bapak hasil ngadidik pamajikan Bapak, ngalatih pamajikan Bapak jadi jelema bener, nyaangan sakabéh kulawarga. Nyetak pamajikan jadi rentenir!”</p>
<p>            “Wan! Tong kitu. Éta mah Bapak gé teu nyaho.” Kecap téh ngan saukur diteureuy na jero dada. Sorana kasilep angin kamelang. Nu puguh mah neuteup hareugeueun kanu ngaléos.</p>
<p>            “Kang!” pamajikanna ngaléndotan. Bruug! panto ditutupkeun.***</p>
<p>        </p>
<p>Nina Rahayu Nadea, lahir di Garut 28 Agustus. Menulis fiksi dan non fiksi. Tulisannya dimuat di: Pikiran Rakyat, Galamedia, Kabar Priangan, Majalah Kartini, Analisa Medan, Radar Bojonegoro, Majalah Potret Banda Aceh, Majalah Baca Banda Aceh, Suara Karya, Suara Daerah, Majalah Kandaga, Majalah Mangle, SundaMidang, Galura, Tabloid Ganesha, Tribun Jabar, Koran Merapi Yogyakarta, Majalah HAI.</p>
<p>   </p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/">Carpon Mangle</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/08/carpon-mangle/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Angin Yang Membawa Bunga &#8211; Part. 6</title>
		<link>https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/</link>
					<comments>https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Isa Jatinegara]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2014 07:37:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[aceh darrussalam]]></category>
		<category><![CDATA[ak-47]]></category>
		<category><![CDATA[cuak]]></category>
		<category><![CDATA[gam]]></category>
		<category><![CDATA[keuchik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/</guid>

					<description><![CDATA[<p>[sociallocker id=&#8221;5727&#8243;] Jumlah mereka 7 orang. Kami dibawa masuk kedalam hutan, Kijang yang kami tumpangi disimpan dekat bibir jalan agak masuk kedalam hutan, ditutupi rimbun dedaunan. GAM, Sesuatu yang tidak kami harapkan Entah apa masksud mereka membawa aku dan supirku. Yang jelas membuat pekerjaanku terganggu, tapi aku tidak gentar, aku tidak mau mati disini  pikirku ... <a title="Angin Yang Membawa Bunga &#8211; Part. 6" class="read-more" href="https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/" aria-label="Read more about Angin Yang Membawa Bunga &#8211; Part. 6">Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/">Angin Yang Membawa Bunga &#8211; Part. 6</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[[sociallocker id=&#8221;5727&#8243;]
Jumlah mereka 7 orang.</p>
<p>Kami dibawa masuk kedalam hutan, Kijang yang kami tumpangi disimpan dekat bibir jalan agak masuk kedalam hutan, ditutupi rimbun dedaunan.</p>
<p>GAM, Sesuatu yang tidak kami harapkan</p>
<p>Entah apa masksud mereka membawa aku dan supirku. Yang jelas membuat pekerjaanku terganggu, tapi aku tidak gentar, aku tidak mau mati disini  pikirku , dan kurasa tidak akan terjadi apa-apa dengan kami berdua selagi kami menunjukan itikad baik.</p>
<p>Jalan setapak yang kami lalui  basah. Nampaknya hujan turun cukup deras malam tadi.</p>
<p>Setelah sekitar 45 menit perjalanan kami akhirnya tiba di sebuah perkampungan. Perkampungan itu cukup ramai. Ada para ibu yang sedang menyusui anak-anaknya, anak-anak kecil yang tengah bermain bola, gadis-gadis yang sedang mengerjakan semacam kerajinan tangan, orang-orang yang bercakap-cakap. Jauh beberapa ratus meter di depan sana para lelaki sedang berlatih menggunakan senjata.</p>
<p>Ketika rombongan kami tiba, orang-orang yang ada di tempat tersebut sontak melihat me arah kami. Aku dan Hanafi  menjadi pusat perhatiannya.</p>
<p>Seorang gadis kecil manatapku, ia tersenyum kecil. Kubalas dengan senyuman pula.</p>
<p>Kami dibawa menuju ke sebuah rumah. Aku pun bertanya-tanya di dalam hati. Apa lagi kali ini..</p>
<p>Salah seorang yang tadi memimpin ke 6 militan lainnya langsung masuk ke dalam rumah. Kami  disuruh menunggu di luar dijaga oleh ke 6 orang ber-AK-47.</p>
<p>Tak lama kemudian muncul dari dalam rumah seorang pria  mengenakan kaos oblong putih dengan celana panjang. Penampilannya bersahaja.. Mata pria itu tajam membuat orang yang menatapnya akan menaruh rasa hormat.</p>
<p>“Siapa nama kamu?” katanya padaku</p>
<p>saya pun memberitahukan nama kami berdua.</p>
<p>“apa keperluannya datang ke daerah ini?” tanyanya lagi.</p>
<p>“saya ditemani supir saya ini datang kemari untuk urusan pekerjaan.”</p>
<p>“pekerjaan apa?”</p>
<p>“saya wartawan teungku, ditugaskan oleh kantor saya untuk meliput Aceh paska tsunami dan pasca rekonsiliasi damai”</p>
<p>“kamu cuak ya!”</p>
<p>“bukan teungku saya wartawan, teungku boleh periksa”</p>
<p>pria itu memandangku dan terdiam sejenak. Sebelum akhirnya tertawa, “ha..ha..ha, wartawan,” tawanya langsung terhenti lagi.</p>
<p>“kalian harus menginap disini beberapa hari, kalian tamu kami, tapi jangan coba-coba..” ucapannya kharismatik. Dan sedikit mengancam.</p>
<p>“Amsal, bawa tamu kita ini ke rumah keuchik!”</p>
<p>“baik teungku” jawab si komandan tadi.</p>
<p>Segera kamipun di bawa lagi ke sebuah rumah yang tidak terlalu jauh jaraknya dengan tempat pertama kami tadi tiba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Di rumah keuchiklah kami beristirahat. Keuchik yang dalam bahasa Indonesianya berarti kepala desa itu menjamu kami dengan ramah. Beliau hidup bersama seorang istrinya bernama Aminah. Semalaman kami saling bertukar cerita, namun malam itu tentu saja yang banyak bercerita adalah keuchik Amir sendiri.</p>
<p>Ketika malam telah larut suasana semkain hening, ibu Aminah dan Hanafi telah berpamitan untuk tidur terlebih dahulu, kini tinggal keuchik Amir dan aku.</p>
<p>“maaf pak, sejak tadi saya hanya melihat bapak dan ibu saja, kemana anak-anak bapak?” tanyaku.</p>
<p>Keuchik langsung memandang tajam ke arahku lalu kemudian mengangkat dagunya sedikit keatas, menerawang kearah luar rumah.</p>
<p>“mati..”</p>
<p>“kena tsunami..”</p>
<p>“oh..maaf pak, saya tidak bermaksud..”</p>
<p>“tidak apa,” sergah keuchik amir</p>
<p>pembicaraan jeda beberapa saat.</p>
<p>“satu-satunya anak kami. Anak yang cantik, sayang kamu tidak bisa melihatnya, usianya kira-kira sebaya denganmu”</p>
<p>“dia yang menjadi cahaya yang melingkupi kebahagian kami..” matanya berkaca-kaca.</p>
<p>“&#8230;”</p>
<p>“kami memanggilnya ungong atau bung, namanya bungong, nama yang cantik kan?”</p>
<p>“ya pak,” kataku menanggapi meski aku tak tahu apa artinyya.</p>
<p>“kau tahu apa artinya bungong?”</p>
<p>“tidak pak,”</p>
<p>“artinya bunga, nama yang indahkan?”</p>
<p>“&#8230;&#8230;”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Pagi harinya kami bangun setelah menunaikan shalat saya berkeliling di desa, pembicaraan tadi malam masih terngiang di dalam pikiranku. Mengusik kedalaman batin, menggedor-gedor dinding kepalaku, ah sebuah kebetulan.</p>
<p>Alam Aceh yang indah ini semakin menghanyutkan perasaanku. Cukup lama aku berkeliling di kampung itu. Ketika aku kembali menuju rumah keuchik, Hanafi kelihatan berseri-seri dia langsung menyambarku.</p>
<p>“bang, kita bisa pulang hari ini, teungku mengizinkan kita!”</p>
<p>“oh..”</p>
<p>setelah menyantap makan pagi bersama-sama kami pun segera bersiap untuk pulang. Di luar para pengawal telah menunggu kami untuk segera diantarkan. Teungku nampak dengan pakaian militernya.</p>
<p>“Nak, kamu pulang sekarang, , setelah diselidiki kamu memang wartawan, orang baik. Amsal akan mengantarmua sampai jalan besar. Selamat jalan!”</p>
<p>Aku dan Hanafi berpamitan kepada kecuchik dan istrinya, ada perasaan yang menusuk jantungku ketika kami harus berpisah. Kugenggam tangan kedua orang tua itu.</p>
<p>“Pak, Bu terimakasih atas semuanya, kalau ada umur panjang kita bertemu lagi”</p>
<p>“ya nak mudah-mudahan kehidupanmu di rahmati Allah, kebahagian untuk kalian berdua”</p>
<p>“bapak dan ibu juga semoga bahagia selalu, diberikan sehat”</p>
<p>kutatap mereka berdua, kerut-kerut di wajah kedua orang tua itu melukiskan perjuangan hidup mereka, selamat tinggal&#8230;</p>
[/sociallocker]
<p>The post <a href="https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/">Angin Yang Membawa Bunga &#8211; Part. 6</a> appeared first on <a href="https://penulispro.net">Penulispro.net</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://penulispro.net/2014/08/angin-yang-membawa-bunga-part-6/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
