Sebuah kajian “malu-malu” budaya intelektual kita

Lagi-lagi saya seperti orang gila. Memikirkan banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang mustahil—tidak terpikirkan. Kegilaan saya kali ini adalah mencoba menularkan kegilaan pada orang lain. Saya ingin mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih luas lagi melalui tulisan ini. Mereka tidak perlu mengetahui jatidiri, sifat dan keseharian saya. Dialog ini cukup berlangsung dalam tataran tekstual yang mencoba merepresentasikan gagasan dalam pikiran kepada pembacanya.

Tentu saja, komunikasi sudah terjalin ketika audiens telah membaca dan memaknai pesan tekstual yang tersurat di dalamnya. Persoalan yang dimunculkan adalah berkaitan dengan masalah intelektual, budaya baca-tulis, budaya kritis yang semuanya saling terkait. Apakah tingkat kecerdasan orang-orang Indonesia lebih rendah daripada orang-orang luar?

Pertanyaan ini muncul ketika mengamati pengetahuan, referensi-referensi Barat yang menghegemoni di Indonesia. Tak bisa dinafikan bahwa bahasa Inggris memainkan peranan utama dalam transfer gagasan. Penguasaan terhadap media, teristimewa internet menjadi alasan lainnya pada era sekarang yang membantu difusi referensi yang diproduksi Barat. Kita seringkali menjadi konsumen dalam segala hal, sedikit yang menjadi produsen. Apakah kita tidak akan mengimbangi dengan proaktif menjadi produsen dalam referensi ilmu pengetahuan?

Kenapa kita tidak menulis gagasan-gagasan kita sendiri secara orisinil. Satu contoh kecil, saya akan dengan berani menawarkan gagasan mengenai realitas. Gagasan ini tidak saya kutip dari pakar manapun. Ia orisinil, meski mungkin secara tidak langsung di balik tercetusnya ide tersebut mungkin ia merupakan bentukan dari gagasan-gagasan yang sudah ada. Bukankah “Tidak ada yang baru di bawah matahari.”

Saya membagi gagasan tentang realitas/kesadaran menjadi tiga, yaitu; realitas umum, khusus dan mutlak. (1) Realitas umum, merupakan keadaan yang terjadi di alam fisik tertentu dan dipersepsi sama oleh kebanyakan orang. Misal, merah itu warna bukan hitam, api itu bersifat panas dan dapat membakar. (2) Realitas khusus merupakan keadaan yang dipersepsi secara khusus oleh masing-masing orang. Ia bersifat personal dan subjektif. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan fisiologi manusia, keterbatasan indera, tingkat kecerdasan, serta pengalaman dan latarbelakang masing-masing individu. (3) Realitas mutlak merupakan keadaan objektif, di mana tidak seorang pun yang akan membantahnya. Dalam kenyataan ini ia merupakan sebuah kenicscayaan.

Realitas ini disimbolkan dalam banyak kebudayaan dan masanya tersendiri. Lambang yin-yang dalam Taoisme, Bintang daud dalam lambang orang Israel, wajah semar senyum namun sekaligus bersedih. Kosong tapi berisi-berisi tapi kosongnya dalam budhisme, atau misal dalam ajaran manunggaling kawula gusti. Ia merupakan penyatuan paradoks. Bukankah siang-malam, pria-wanita merupakan sebuah paradoks yang berasal dari sesuatu yang tunggal? Bahasan mengenai kesadaran mutlak ini banyak dibahas dalam psikologi transpersonal.

Saya dengan beraninya mengemukakan ide tersebut, beserta istilah yang dipakainya secara arbitrer (sewenang-wenang). Ia mungkin akan diterima, ditolak atau disempurnakan lagi oleh orang lain. Namun, berani memuntahkan isi pikiran itulah sebuah mental yang harus dibangun secara kultural. Belum tentu referensi-referensi yang mereka tawarkan benar. Dan belum tentu pula sesuai dengan kondisi yang ada di masyarakat kita.

Contoh kasus, ketika kita disuguhkan kajian-kajian dan hasil penelitian ilmuwan Barat dalam ranah ilmu komunikasi. Dalam kajian mengenai gesture misalnya, apakah isyarat tubuh yang sama dalam budaya yang berbeda dapat ditafsirkan sama? Tentu saja ada nilai-nilai yang bersifat universal, Namun dalam hal ini, referensi seperti itu hanya dapat dipakai sebagai pembanding, lebih jauh ia dibahas dalam ranah komunikasi antarbudaya.

Kutip-mengutip merupakan kejadian lazim dalam dunia akademik. Seyogyanya pemikiran-pemikiran orang-orang kita harus juga dapat menjadi acuan Barat, setidaknya ia harus membumi di tanah sendiri. Kenapa kita tidak berteori-teorian tentang sesuatu.

Tidak hanya membaca buku, membaca alam dan gejala sosial secara mandiri pun harus dilakukan. Mungkin kita berpikir filsafat-filsafat personal kita, teori-teorian kita tidak pantas ditawarkan pada dunia intelektual. Bahkan meski ia berawal dari filsafat konyol, ia berpotensi menjadi sebuah teori yang mengagumkan, siapa sangka?

Sikap skeptis yang berlebihan, mental-mental looser, menerima apa adanya dan paradigma “kita tidak bisa” harus diruntuhkan. Terkait dengan masalah mengubah kenyataan yang ada sekarang, ketika saya menuliskan paparan ini, maka berarti saya sedang mencoba mentransfer sebuah kesadaran kepada orang-orang yang membacanya.

Seperti saat saya mengemukakan bahwa kita harus berani tampil mengemukakan pikiran orisinil kita, dalam hal ini berbentuk tulisan (artikel, buku dll). Termasuk uraian bahwa kita tidak lebih bodoh dari orang-orang “Barat”, dan bahkan mampu melampaui mereka yang secara kultural telah lebih dahulu membangun imperium intelektualnya.

Ketika pikiran Anda mengamini gagasan saya, maka telah terjadi suatu perubahan realitas (khusus), dan dengan realitas yang baru saja ditransfer tersebut akan mengejewantah menjadi kejadian-kejadian fisik (perkataan dan tindakan). Dengan kesadaran yang baru itu mungkin Anda akan mulai menulis buku, dengan élan orisinilitasnya berusaha memuntahkan isi pikiran Anda. Artinya kenyataan hidup (realitas khusus) telah berubah—ia ditundukan.

Kenyataan hidup diproduksi, diciptakan oleh kita sendiri. Dapat dibayangkan bagaimana jika sebuah kesadaran positif seperti ini telah ditransfer kepada banyak orang, menyebar seperti virus dan membudaya.

Kalau Anda setuju, mungkin ini saat yang tepat menguji keberanian kita, memperlihatkan gagasan yang terkubur di kepala yang malu-malu untuk keluar, dan mungkin sangat post-colonial.

Memuntahkan isi pikiran, menulis, berkarya dan lemparkan ia sejauh mungkin. Lihat, seberapa jauh ia melambung. Apakah kita berani mendobrak ketabuan-ketabuan itu?