Sehari sebelum hari raya, hampir semua status di media sosial menanyakan tentang “Apa Makna Lebaran Tahun ini?” Cukup membuatku selalu mengerutkan alis dan juga bertanya pada diriku, apa sih makna lebaran?

            Jika coba ditelaah, kata makna untuk hari kemenangan pastinya susah untuk diungkapkan. Bukan hanya manusia yang dapat memaknai hari istimewa tersebut, tetapi seluruh alam semesta seakan ikut mendapatkan energy tambahan. Takbir yang berkumandang mengisi seluruh sudut kota, bahkan takbir semakin semarak jika menyentuh daerah pedesaan.

            Ada yang menyambutnya dengan melakukan pawai kendaraan hias, ada juga yang takbir keliling dengan berjalan kaki dan membawa obor serta diiringi langkah kaki-kaki mungil anak kecil yang jumlahnya mencapai puluhan orang. Saya dan keluarga, biasanya malam takbiran masih sibuk membereskan rumah, menyapu bagian yang masih berpasir dan melap setiap meja hingga terlihat kinclong esok harinya.

            Baru tahun ini, akhir saya benar-benar berpikir tentang makna lebaran dalam perjalananku sebagai umat muslim keturunan. Setiap orang pasti memiliki jawaban yang beragam dalam memaknai sesuatu. Apalagi, jika hal itu terjadi sudah berulang kali dalam kehidupannya.

            Memeluk agama Islam, memang sudah merupakan agama warisan dari nenek moyang keluargaku. Semakin besar dan bertambah jumlah umur, saya semakin yakin dengan apa yang saya jalani. Islam bukan saja menjadi agama, tetapi sudah menjadi identitas keagamaanku. Khimar atau biasa disebut dengan jilbab sudah kugunakan sejak duduk di triwulan terakhir di bangku SMA.

            Bukan hanya tubuhku yang merasa memeluk agama tersebut, setiap aliran darah dan mimpi-mimpi malamku selalu diisi dengan seribu tanya akan keraguan yang kerap melintas di kepalaku. Dulu, sebelum berhijab Allah SWT memberikan jawabnya melalui mimpi yang indah kala itu.

Mimpi seorang lelaki yang sedang menungguku dibawah pohon rintang di padang rumput yang hijau, duduknya tidak diam, melainkan sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Ketika saya mendekat, lelaki tersebut menghentikan bacaannya dan kemudian menoleh ke arahku sambil menyerahkan satu lembar kain putih. Saya mengambilnya dengan penuh keraguan, Ia kemudian berucap “Tutup mahkotamu, maka Allah akan selalu menjagamu.”

Mimpi yang singkat dan membuatku terbangun dengan keinginan yang besar untuk mengenakan hijab. Esoknya, meski tidak memiliki bekal yang cukup untuk berhijab, saya tetap menutup auratku. Saya yakin, mimpi itu bukanlah bunga penghias alam bawah sadarku, melainkan pesan yang harus saya jalani sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Jadi, jika ditanya makna tentang lebaran bagiku merupakan sebuah gerbang awal dimana saya, Anda dan seluruh umat muslim harus kembali berjuang memenuhi catatan amal dengan segala kebaikan di dunia, sehingga ketika buku amal itu mulai diperiksa di bulan Rajab, dan dievaluasi di bulan Sa’ban, kita semua dinyatakan sebagai umat muslim yang berhak untuk kembali bertemu dengan bulan yang penuh rahmat dan hidayah sang pencipta.

Bulu kudukku terus berdiri, ketika mendengarkan takbir dikumandangkan. Kesunyian alam semesta seakan terisi dengan sebuah nutrisi yang mampu menggerakkan seluruh isinya tanpa harus mendapatkan energy tambahan apapun. Allah maha besar, Allah maha Besar.

Jika lebaran begitu dinanti oleh sejuta umat, maka bagiku lebaran bukan hanya hari kemenangan tetapi hari yang dipenuhi oleh makna, makna yang hanya mampu dijamah oleh setiap jiwa yang akan terus merindukan Ramadhan meski telah berlalu. Selamat Hari Lebaran, Mohon maaf lahir dan bathin.