Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Di dalam tafsir Al-Kasysyaf, Syeikh Zamakhsari mencantumkan hadis Rasulullah SAW. yang bernada, “Siapa yang membaca surat al-hakumut takatsur akan dilimpahi berbagai kenikmatan di dunia ini dan ia akan diberikan ganjaran seperti orang yang membaca seribu ayat al-Qur’an.” Hadis ini bisa menimbulkan tanda tanya di saat kita hanya membaca dan memahami terjemah surat at-takatsur ayat per ayat. Karena di dalam surat tersebut tidak dijelaskan tentang berbagai kenikmatan yang bakal didapat. Bahkan, yang ada hanyalah ayat yang berbicara bakal ditanya kenikmatan yang pernah diperoleh di dunia ini. (QS. At-Takatsur: 9)
Sejatinya, untuk mengkaji rahasia yang terkandung di dalam surat at-Takatsur tidak bisa dilakukan dengan membaca terjemahnya saja. Tapi cobalah untuk mengkajinya melalui penafsiran para ulama tafsir, karena mereka menafsirkan surat at-Takatsur dengan menggunakan dalil syar’I, yaitu al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW.
Bila dikaji di dalam kitab tafsir al-Jami’ li ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi menyebutkan bahwa surat ini adalah satu-satunya surat di dalam al-Qur’an yang berbicara tentang menziarahi kubur tergolong salah satu obat yang paling mujarab bagi hati yang keras. Karenanya, surat ini akan memberikan berbagai kenikmatan yang bagi orang yang membacanya. Pembaca surat ini akan paham bahwa apa pun yang dimilikinya di dunia ini bakal ditinggalkannya. Ketika bisa memahami ini dengan bijak akan menempa diri menjadi pribadi yang zuhud.
Pribadi yang zuhud adalah, pribadi yang hanya mengambil harta hanya untuk kebutuhannya saja. Selebihnya, bakal disedekahkan atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkannya. Meski ia bekerja, upah atau gaji yang didapatnya dibagi menjadi dua. Yaitu, untuk kebutuhan hidupnya dan untuk disedekahkan kepada orang lain. Artinya, Bila kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi, maka selebihnya ia berikan kepada orang-orang yang tidak mampu.
Di sinilah seseorang akan mendapatkan beragam kenikmatan. Di antaranya, ia bakal terselamatkan dari keinginan mengumpul-ngumpul harta yang bakal menyusahkannya nanti di akhirat, saat ditanya oleh Allah ihwal hartanya. Dari mana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan harta tersebut.
Kenikmatan yang lain yang didapat pribadi zuhud adalah, ia akan terselamatkan dari aneka jenis penyakit, karena ia hanya menggunakan harta dan makannya seukuran kebutuhannya. Sungguh, kebanyakan manusia saat ini mengalami beraneka penyakit karena terlalu berlebih-lebihan dalam mengumpulkan harta, makanan dan kebutuhan hidup lainnya. Maka di ayat pembuka dari surat at-Takatsur, Allah SWT langsung mengingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (QS. At-Takatsur: 1-2)
Di dalam kitab hadis shahih muslim disebutkan, ketika selesai membaca surat at-Takatsur Rasulullah Saw. bersabda, “Anak adam mengatakan, hartaku, hartaku! Tidaklah kau memiliki apapun dari hartamu, kecuali apa yang engkau makan dan ia pun habis, apa yang engkau pakai dan dia pun menjadi usang, apa kau sedekahkan, ia pun menjadi berlalu. Harta selain itu akan lenyap dan perkenanlahlah untuk orang lain.”
Ucapan Rasulullah SAW. tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan manusia hakikatnya tidaklah banyak. Ia hanya perlu pada makanan yang dimakannya, dan pakaian yang dipakainya. Jika ada yang lebih, hendaklah disedekahkan. Jika tidak, inilah yang membuat seseorang menjadi mudah terserang penyakit. Karena ia bisa sibuk memikirkan hartanya atau ia menjadi orang yang gemar mengonsumsi segala hal yang halal secara berlebihan sehingga membuat fisiknya menjadi tidak sehat.
Inilah di antara nikmat yang bakal diberikan Allah kepada orang yang rajin membaca surat at-Takatsur. Ia akan mendapatkan kenikmatan karena tidak mudah terserang penyakit. Ia akan mendapatkan kenikmatan karena tidak sibuk mengumpulkan harta, sehingga kehidupannya menjadi lapang dan senang. Makanya, Rasulullah Saw. bersabda, “Dua nikmat yang dilupakan kebanyakan manusia adalah sehat dan waktu senang.”
Penyesalan Para Pengumpul Harta
Para ulama tafsir sepakat, bahwa ayat ke-3 sampai dengan ayat ke-8 dari surat At-Takatsur adalah, gambaran yang bakal terjadi pada orang-orang yang hanya menyibukkan diri dan membanggakan diri mereka dalam hal mengumpulkan harta. Mereka bakal menyaksikan apa yang telah disiapkan Allah SWT. Maka tak heran bila Allah menggunakan kata “kalla” sebanyak tiga kali di dalam ayat.
Ketika Allah SWT. berfirman, “Sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS. At-Takatsur: 3), para ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini akan membicarakan tentang kematian pasti akan datang, dan para pengumpul harta bakal berpisah dengan hartanya. Akibat perbuatannya tersebut, ia tidak memiliki bekal amal yang banyak saat dipanggil Allah SWT. Sungguh, ini adalah penyesalan pertama para pengumpul harta.
Lalu ketika Allah SWT. berfirman, “dan sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui” , para ulama tafsir sepakat bahwa ini juga bagian dari penyesalan manusia selanjutnya. Yaitu, ketika masuk ke dalam kubur, lalu Malaikat Munkar dan Nakir datang menemuinya dam mengajukan beragam pertanyaan hingga tak mampu menjawab. Pertanyaan yang diajukan tak luput dari sekitar permasalahan harta yang dimiliki dan untuk apa digunakan.
Ketika Allah SWT. berfirman, “Sekali-kali tidak, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin”, para ulama sepakat bahwa ini adalah penyesalan terakhir manusia saat mengetahui dengan yakin bahwa catatan amalnya hanya berisi catatan tentang keburukan akibat menyibukkan diri dalam mengumpulkan harta sehingga lupa ibadah atau ibadah hanya dijadikan sekedar penuh kewajiban sebagai muslim.
Ketika Allah SWT. berfirman, “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” para ulama sepakat bahwa neraka jahim adalah tempat akhir dari orang yang sibuk mengumpul harta. Harta tersebut bukan digunakan untuk ibadah atau diinfakkan di jalan Allah, tapi hanya untuk membanggakan diri. Di hari penghisaban nantinya akan ditanya kepada Allah SWT. tentang nikmat-nikmat yang sudah diberikannya, tapi tidak pernah digunakan untuk yang baik. Sungguh, yang ada nantinya hanyalah penyesalan demi penyesalan.
Karena itu, marilah menjadi pribadi yang zuhud. Pribadi yang hanya menggunakan harta untuk kebutuhan primernya saja dan selebihnya digunakan untuk ibadah dengan cara disedekahkan atau diinfakkan di jalan Allah SWT. Wallahul musta’an.