Banyak orang bertanya kepada mereka yang baru saja menjadi muslim atau mualaf bagaimakah mereka berusaha sukses hidup sebagai seorang muslim. Jawaban mereka bahwa dirinya baik-baik saja, sudah sering shalat, sering puasa sesuai dengan perintah Allah Swt, dan sudah tidak lagi melakukan hal yang dilarang dalam Islam. Tapi, masih ada satu masalah yang belum bisa dihilangkan hingga saat ini, yaitu ketidakberdayaan untuk berhenti merokok.

Merokok dari Sisi Kaum Muslim

Lihatlah, merokok dari sudut pandang umum dan secara umum, terutama para kaum muslim. Mereka beranggapan bahwa merokok sebagai sesuatu hal yang tak berpengaruh terhadap karakter seseorang. Karena beranggapan kecil atau bahkan tak berpengaruh bagi kehidupan agama, maka mereka kaum muslim yang merokok lebih banyak dari kaum lainnya. Mereka bahkan merokok layaknya cerobong asap.

Ketika menerima Islam, Anda bisa meninggalkan segala hal yang diharamkan dan ini tentu sangat baik, karena tak semua orang mampu melakukan hal tersebut dengan instan. Apalagi dengan sekejap berubah setelah menerima menjadi seorang mualaf.

Hanya sebuah masalah besar yang tersisa, yaitu kecanduan pada rokok sampai tembakau menguasai hati. Dalam kondisi seperti ini, Anda berkesimpulan bahwa meninggalkan kebiasaan merokok adalah perjuangan yang tidak mungkin bisa dimenangkan.

Rokok Melemahkan Iman

Walaupun tak berarti menurut pandangan orang, sebenarnya merokok pada kenyataannya adalah kelemahan terbesar orang beriman. Kebiasaan merokok ini telah membiarkan pelakunya kehilangan kekuatan sama sekali untuk berkeinginan.

Rokok menjebak dan merusak kemauan dirinya dengan sebuah cara pasti. Jika seseorang tak mampu berhenti dari kebiasaan merokok yang buruk, merokok suatu saat nanti akan memutuskan setiap kebaikan yang diperbuatnya, bahkan sampai keimanannya dan juga kepercayaannya.

Hal itu lah yang jadi alasan utama berhenti dari kebiasaan buruk merokok selain alasan lainnya. Kita harus meninggalkan kebiasaan buruk merokok selama-lamanya, sehingga kemauan akan muncul kembali dan melindungi seseorang jatuh ke dalam kontrol keinginan atau kemauan rendah dirinya juga setan sebagai penasihat kejahatan bagi ego seseorang. Siapa pun yang tak bisa menguasai diri, maka akan berpindah ke tangan nafsu binatangnya dan nafsu setan yang mampu menghancurkan sisi sifat manusia dari ruhaninya.

Manusia sering melihat sesuatu sebagai hal yang tak berakibat besar atau tidak berbahaya, padahal di hadapan Allah Swt, hal tersebut berakibat besar dan sangat berbahaya. Sama halnya dengan merokok yang mungkin saat ini bagi umat Islam tidak menjadi masalah, tetapi di hadapan Allah Swt hal tersebut bisa jadi adalah kelemahan fatal bagi orang yang beriman.

Bagi orang yang beriman, merokok seperti seseorang membiarkan lubang kecil di depan pintu yang bisa dilewati oleh maling. Walaupun telah menutup seluruh pintu untuk melakukan perbuatan dosa besar, apa artinya jika luang kecil tadi masih ada?

Apa maksudnya dari keberadaan pintu tersebut? Lebih baik biarkan saja terbuka agar seluruh kebaikan bisa masuk. Lalu, muncul lagi perkataan bahwa pintu tersebut tebal dan sudah menutup lalu dikunci dengan sangat kuat. Tidak ada artinya sebuah lubang kecil dan itu bukan sebuah masalah.

Boleh saja hal tersebut dibilang bukan masalah. Tapi, coba pikir, maling bisa saja membuka pintu dengan memasukkan kawat lewat lubang kecil tadi dan masuk lalu mengambil semua harta di dalamnya. Jika membiarkan lubang kecil itu sebagai tempat masuk dan berkuasanya setan, seseorang akan mempertaruhkan keimanan dan kepercayaannya dalam bahaya besar.

Anda memang telah mampu meninggalkan banyak larangan yang dilarang Tuhan dan telah mengunci semua pintunya. Yang harus dipikirkan adalah apa yang dapat dilakukan terkait lubang kecil di pintu Anda yang disebabkan rokok?

Semoga bermanfaat!