Interview degan Dedi Suardi di kediamannya, Ciburial, Dago - Bandung.

“Dan di antara tanda kekuasaan-Nya Ialah yang menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk melata yang disebarkan di antara keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya bila Dia menghendaki. (QS, Asy-Syura : 29).

Adalah makhluk berakal yang diciptakan tuhan, untuk beribadah tunduk kepadanya, rata-rata dari mereka mempunyai kepala lebih besar dari menusia biasa, dengan kapasitas otak 1800cc, sedang manusia bumi hanya sampai 1300 cc. Mereka terdiri dari ras yang berbeda, ada jenis yang mirip dengan kita seperti Askeet, alien wanita yang berasal dari gugus bintang pleiades, ada yang mirip-mirip tokoh rekaan di film startrek, dan yang paling populer dikenal awam adalah jenis Grey, dengan ciri; kepala botak, bentuk oval, mata hitam yang besar, kulit berwarna putih agak abu-abu atau kekuningan.

Protagon no 90, Tulisan itu terpatri di depan sebuah hunian Dago atas, rumah yang asri, dengan gaya arsitektur yang khas. Adalah Dedi Suardi pemilik rumah tersebut. Seorang pelukis yang sempat dianggap gila karena berseloroh soal Unidentified Flying Object(UFO). Tak lain kedatangan saya pun malam itu merupakan rangkaian penelusuran sayai memburu informasi menyoal UFO.

Pria kelahiran Bandung, 63 tahun silam, yang menjadi dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia(STSI) ini mengaku, sering melihat piring terbang di kawasan Ciburial-Dago atas, “Para tetangga kompleks di sana pun banyak yang melihat, bahkan pengalamannya lebih hebat dari saya,” tuturnya. Mengapa wahana luar angkasa itu sering terlihat di kawasan ini? Dedi menjawab, selain karena daerahnya yang terbuka, juga mungkin karena mereka menyedot air resapan tanah, yang konon merupakan bahan bakar pesawat mereka. Namun siapakah mereka? untuk apa mereka datang ke bumi ini, Dago?

Menurut data yang terdokumentasikan, mereka datang sebetulnya untuk meneliti manusia, alam dan aktivitasnya, seperti kejadian di Amerika, Penyanyi country Johny Sand, berbincang dengan bahasa antarpikiran(Telepati) melalui sebuah bola penerjemah sebesar bola basket, yang terletak di antara mereka, “What are you doing?” tanya mereka, namun tak sedikitpun terlihat mulutnya bergerak, “Suaranya dalam, bagaikan orang menelepon dari jarak jauh,” ujar Johny., ketika mobil yang ditumpanginya dicegat oleh dua makhluk asing. Mereka memberitahukan bahwa ledakan nuklir akan memengaruhi rotasi bumi, sehingga terjadilah instabilitas (Ketidakstabilan) alam.

Banyak orang yang menyangsikan keberadaan mereka, termasuk kaum ulama dan ilmiawan sendiri, tak sedikit dokumen yang disembunyikan dari publik, termasuk dokumen-dokumen yang dimiliki NASA, namun beberapa bukti yang ditemukan cukup banyak yang berhasil dipublikasikan, termasuk dokumentasi olahan yang dikemas dalam VCD oleh Dedi.

Dalam VCD-nya, diperlihatkan sejumlah film asli, autopsi pembedahan alien jenis grey yang mengalami kecelakaan di Roswell, sejumlah foto piring terbang, termasuk yang melintas di kota Bandung, hingga dokumentasi astronot bulan pertama, Neil Amstrong, yang membidik sejumlah piring terbang beserta Mothership (Kapal induk), yang sedang melakukan aktivitasnya di bulan.

Foto yang sempat dirilis di Majalah Tempo.

Majalah TEMPO dalam rubrik “Selingan”nya, pernah membahas makhluk dengan intelejensia tinggi tersebut, dengan judul, “Menanti Suara Dari Bima Sakti”. Pada edisi 12 Januari 1991 tersebut, dikisahkan pula tentang kemunculan UFO di Indonesia, termasuk foto piring terbang yang muncul di atas kapal laut yang melintas di ladang minyak laut jawa.

Kediaman serta galeri seni pelukis Sudjana Kerton.

Sanggar Luhur-Dago atas, pertengahan tahun 1979. “Pada waktu itu tengah malam, datang pesawat aneh, bentuknya seperti cakram bercahaya, menyilaukan. Saya takut! mau lari pada saat itu. Tiba-tiba datang dua robot, makhluk kecil-kecil (Alien-Red), saya di bawa kedalam tangga cahaya yang menyedot ke dalam pesawat. Saya kira saya bermimpi!, setelah berada di atas pesawat, tiba-tiba! ada makhluk tinggi sekali, kepalanya botak, jubah dan kulitnya putih, memandang saya, saya takut sekali! Lalu saya diperiksa di sebuah ranjang, setelahnya saya tidak ingat apa yang terjadi, sadar-sadar sudah berada di tempat saya diculik pertama kali, dan bekas kaki mereka sempat saya abadikan dengan gips,” Tutur almarhum Sudjana Kerton, seniman lukis yang mempunyai reputasi internasional, seperti penuturannya kepada Dedi Suardi.