Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa kini materi sudah merasuki ke dalam semua urusan. Tidak hanya ke dalam urusan yang bersifat kemanusiaan seperti rumah sakit, bahkan urusan agama juga kini telah banyak yang “dikuasai” oleh materi. Contoh nyatanya ialah pernikahan.

Banyak orang yang menjadi lemah tatkala berbicara antara keinginan menikah, tapi harus disangkutkan dengan materi. Sebagian besar dari mereka bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya perneh dilakukan. Mereka bisa berutang dengan sangat banyak atau bahkan mencari pasangan lain yang bisa diajak untuk menikah secara hemat.

Ada beberapa stigma di masyarakat yang berkembang bahwa menikah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, bukannya nikah itu anjuran dari agama sehingga hanya agamalah landasan utamanya. Kedua-duanya memang ada benarnya dan itu semua bisa dipadukan.

Hanya masih banyak orang yang memiliki persepsi bahwa nikah itu mahal sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Jika telah begitu, pernikahan yang sedianya dianjurkan pun serasa ditunda-tunda dan dihalang-halangi atas nama materi.

Untuk menyiasati hal itu, ada beberapa cara agar kita yang akan menikah tidak semata memikirkan materi.

1. Sandarkan semuanya kepada ibadah

Ketika niat awal menikah ini sudah dilandasi dengan ibadah maka semuanya akan aman. Kita tidak akan lagi dipusingkan dengan harus seberapa besar materi yang kita kumpulkan atau konsep seperti apa yang akan kita pakai. Bukannya ketika memikirkan semua itu akan membuat kita pusing hingga stres?

Cobalah saling diberi pengertian jika pasangan kita masih berpikir satu sisi. Pernikahan itu memang membutuhkan materi, namun tidak selamanya pikiran hanya berada di satu sisi. Ubahlah mindset kita untuk bisa bahwa materi tidak akan bersifat abadi. Sementara itu, jika nikah dilandasi dengan ibadah, bukan tidak mungkin ketika cobaan menghadang, rumah tangga kita masih kokoh.

2. Percayalah dengan pernikahan yang sederhana

Menikah sederhana itu bukanlah suatu hal yang memalukan. Bahkan hanya mengundang dua keluarga besar sekalipun bukan merupakan aib. Justru inilah yang menjadi sebuah prestasi bahwa kita bisa menikah sesuai dengan anjuran agama.

Tidak sedikit memang pasangan yang menghindari menikah dengan cara seperti ini. Sebagian besra dari mereka beranggapan bahwa menikah itu hanya sekali seumur hidup. Jadi sudah sepantasnya semua yang bisa dilakukan, dikerahkan dengan maksimal. Padahal yang harus diingat adalah bukan pernikahan mewah yang bisa melanggengkan, tetapi hati yang ikhlas bisa saling menerima satu sama lainnya.

3. Buang jauh-jauh gengsi

Masyarakat kita masih menjunjung tinggi gengsi? Itu adalah suatu kebenaran. Kita lebih sering memikirkan apa kata orang lain. Bukannya yang harus dipikirkan itu kita yang akan menjalani sebuah pernikahan? Dan orang lain tidak akan berperan dalam rumah tangga yang akan kita bina.

Sejatinya kita bisa membuang jauh-jauh gengsi terhadap orang lain, termasuk dengan terselenggaranya pernikahan. Pernikahan dengan cara apa pun dan dengan kemampuan yang kita miliki adalah yang lebih penting, daripada terus menerus memikirkan komentar apa yang akan diberikan orang lain.

4. Percayakan semuanya pada jodoh di tangan Tuhan

Kita boleh saja merasa yakin pasangan kita akan menjadi jodoh seumru hidup. Atas nama cinta dan atas nama pengorbanan, keyakinan itu semakin menguat. Namun apa jadinya jika Tuhan sendiri tidak merestui hubungan tersebut?

Jodoh memang di tangan Tuhan, namun semua itu bisa kita upayakan untuk bisa terwujud. Semua dikembalikan kepada bentuk usaha kita dalam mewujudkan pernikahan. Ketika cinta dan perjuangan tidak lagi bisa diberikan, maka takdir tersebutlah yang berkehendak.

Ketika materi sudah merasuki hati kita yang paling dalam, percayalah kita hanya akan merasakan kesenangan yang semu. Materi tidak bisa dijadikan segalanya. Kitalah yang harus mengatur sejauh mana materi dibutuhkan, bukan kita yang selalu dikendalikan oleh materi.