Familiar dengan istilah “jilboobs” ?. Istilah Jilboobs sedang menjadi trending topic di dunia maya saat ini. Konon jilboobs adalah istilah baru yang merupakan kombinasi dari kata jilbab dan “boobs” (alias –maaf – bagian dada wanita). Jilboobs telah menjadi fenomena baru, perlahan mengalihkan perhatian dari mode hijab warna-warni ala Dian Pelangi dan hijab model punuk unta yang sudah berlalu. Jilboobs adalah mode pakaian dengan mengenakan kerudung atau jilbab namun pakaian sang wanita mempertontonkan lekuk tubuh terutama di bagian dada. Bagi sebagian besar muslimah yang paham benar akan ayat-ayat Al Quran tentang kewajiban berhijab fenomena ini tentu sangat memprihatinkan. Sedangkan sebagian pecinta mode mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

              Sebagai sesama saudara ukhuwah satu iman adalah kewajiban bagi kita mengingatkan bahwa esensi dari hijab, jilbab adalah mengulurkan kain yang menutup kepala hingga ke dada. Seperti dalam surat An Nuur : ayat 31 dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya. Jilbab atau hijab adalah identitas bagi seorang muslimah. Bukan tanpa sebab Allah mewajibkan kaum muslimah untuk mengenakan jilbab. Tujuan jilbab antara lain tertera dalam surat Al Ahzab ayat 59, yaitu supaya muslimah lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

quran2

            Allah Maha menyayangi para muslimah. Perintah hijab diturunkan untuk melindungi mereka . Secara ilmiah, menurut penelitian otak pria lebih mudah terpengaruh rangsangan ketika menerima stimulant secara visual. Artinya pria serta merta akan tertarik melihat pemandangan tubuh molek seorang wanita, namun ketertarikan ini terbatas pada nafsu birahi semata. Menurut penelitian ilmuwan Amerika, seorang neuroscientist bernama Louanne Brizendine, bagian nafsu birahi pria berada di bagian depan otaknya. Bagian depan otak tersebut secara otomatis menyebabkan seorang pria “merekam” detail visual dari bagian-bagian tubuh yang menarik dari wanita yang ditemuinya. Lebih lanjut Brizendine menyatakan bahwa ada suatu bagian dalam otak pria yang berbentuk mirip papan sirkuit dan bagian ini hanya berisi fantasi seksual. Bagian tersebut 2,5 kali lebih besar dari wanita, parahnya lagi bagian tersebut selalu menyala dan bekerja hampir 24 jam. Dapat dikatakan bahwa sangat berbahaya bagi wanita berpakaian minim atau mempertontonkan lekuk tubuh ketika berada di dekat pria yang tak mampu mengendalikan fantasinya. Hal inilah yang patut dipahami oleh para jilboobers.

             Lalu bagaimana sikap kita pada para jilboobers ?. Mengajak menuju kebaikan tak hanya dilakukan dengan menyuruh dan memberi instruksi atau teguran. Seseorang tentu lebih menghargai pendapat orang lain apabila dinyatakan secara lembut tanpa menimbulkan rasa rendah diri, tersinggung atau sakit hati. Tentu dapat dibayangkan jika para jilboobers menerima caci maki, celaan dan teguran keras dari mereka yang merasa lebih benar. Alih-alih memperbaiki cara berpakaian mungkin saja para jilboobers memilih menanggalkan jilbab mereka. Ada baiknya pemahaman pentingnya berjilbab yang syar’i dilakukan secara pendekatan hati ke hati. Memotivasi jilboobers menghadiri aktivitas pengajian, kajian majelis taklim dengan mayoritas pengunjung yang mengenakan pakaian sesuai syar’i akan lebih mengena bagi mereka. Menghujat, melecehkan, memperolok dengan kata-kata tak sepantasnya sembari menyebarluaskan foto-foto para jilboobers bukanlah hal yang bijak. Pertama karena Allah sendiri telah memberikan rambu-rambu berukhuwah seperti tertera pada surat Al Hujurat ayat 11-12 bahwa hendaknya sesama muslim/muslimah tidak mengolok atau memberikan gelar buruk pada muslim/muslimah lain, menjauhi prasangka dan menghindari menggunjing. Alasan kedua, menyebarkan foto-foto jilboobers sama halnya dengan membuka aib mereka padahal Allah telah menjanjikan akan melindungi siapapun yang menutub aib saudaranya. Alasan ketiga dikhawatirkan gambar yang tersebar malah akan memberikan inspirasi bagi para pemula dalam mengenakan jilbab karena menganggapnya sebagai bagian dari mode.

Satu hal yang perlu ditanamkan pada generasi muda, mengenakan hijab adalah perintah Allah. Tak perlu khawatir tidak tampil menarik karena berhijab. Allah tidak memandang pada bentuk tubuh dan penampilan namun pada kesungguhan kita untuk beriman. Berhijab bukan berarti tidak modis, menjaga penampilan tak hanya dengan berpakaian mengikuti trend mode dunia. Isi kepala yang terasah dengan ilmu pengetahuan, tutur kata lembut, bahasa tubuh yang sopan dan kerapian dalam berpakaian serta piawai dalam menjaga kebersihan adalah faktor-faktor yang menentukan penampilan seseorang di depan umum agar mudah memperoleh teman.