Istilah Jilboobs kini ramai diperbincangkan. Istilah ini  mengandung pengertian pemakai jilbab yang seksi. Tidak perlu saya jelaskan lebih jauh yang seksi seperti apa. Yang jelas, fenomena semacam ini bukanlah wacana baru. Hanya mungkin baru-baru ini media sosial dan situs portal mengangkat topik ini ke publik.

Jilboobs sendiri bagi saya merupakan istilah yang terdengar menggelikan. Menggelikan karena ada saja orang yang menggabungkan dua kata dari Jilbab dan Boobs. Kreatif sih memang, tapi bagi saya bukan pada tempatnya. Penyebutan istilah “Jilboobs” malah semakin mengotak-ngotakan pemakai jilbab. Dan seperti umumnya pengotakan atau pengkategorian, itu menjadi seperti semacam pengkastaan. Apalagi di media sosial banyak orang yang mencela pemakai Jilboos. Pada akhirinya, istilah ini membuat perempuan yang mendapat predikat Jilboobs merasa cara berkerudungnya menjadi bahan ejekan. Hinaan dan cercaan pada mereka yang dianggap sebagai Jilboobs pun membuat mereka terasa dipojokan.

Sebenarnya, pemakaian jilbab yang seksi sudah saya kenal sewaktu saya kuliah. Ketika saya masuk salah satu kampus ternama di Jawa Barat, saya banyak menemukan pemakai jilbab semacam ini. Tidak sedikit mahasiswi dari berbagai fakultas yang menggunakan jilbab tapi bjunya cukup ketat. Fenomena ini lantas disindir langsung oleh rektor di kampus saya. Tidak secara langsung sih, tetapi lewat sebuah puisi (maaf lupa judul puisinya) berbahasa Sunda.

Tentang istilah Jilboobs, saya punya pandangan. Pandangan saya tentang Jilboobs ini membludak di otak saya. Untuk mempermudahnya, saya uraiakan pandangan saya tentang Jilboobs ke dalam beberapa poin berikut ini.

  • Dipandang Banyak Pria

Harus diakui, perempuan yang memakai jilbab namun memakai baju ketat sehingga dadanya terbentuk memang menarik. Sebagai lelaki normal, saya menyukainya. Malah saya lebih suka memandang hal seperti ini dibandingkan artis yang memakai tanktop. Tentu mau tidak mau, suka tidak suka, perempuan yang memakai baju ketat selalu menjadi objek pandangan pria (tidak semua memang tapi hampir kebanyakan). Bila perempuan risih akan hal ini, tentunya ia harus sadar bahwa cara berpakaian dia kurang tepat. Lain soal jika dia terus memakai pakaian yang serupa. Saya tidak akan menyalahkan cara dia memakai pakaian tersebut, itu hak dia tapi itu berarti dia siap mengambil resiko dipandang oleh banyak mata pria.

  • Biar Trendi  

Alasan banyak perempuan yang memakai jilbab  tapi ketat adalah mengikuti trend masa kini. Trend fashion saat ini memang didominasi dengan pakaian yang ketat atau ukuran kecil. Karena itu, perempuan yang memakai kerudung dan masih ingin terlihat modis tentu akan menggunakan pakaian ketat ini. Sah-sah saja memang karena tidak sedikit perempuan yang tidak mau terlihat norak. Silakan gunakan dan bergayalah kalau memang itu membuat nyaman dan terlihat keren.

  • Lebih Praktis

Penggunaan pakaian yang ketat untuk perempuan berjilbab bisa disebabkan karena perempuan tersebut menyukai kepraktisan. Cukup masuk akal apalagi untuk perempuan yang aktif dan kerja lapangan. Penggunaan baju yang lebar tentu akan cukup menyulitkan meskipun sebenarnya kalau dibiasakan tidak akan soal. Bagi saya sih, silakan gunakan yang praktis dan buat nyaman tetapi tentunya penggunaan pakaian yang lebih baik sangat disarankan.

  • Sebagai Proses Pembelajaran

Selalu ada hal positif dari suatu hal yang dianggap negatif. Misalnya, tentang perempuan yang memakai jilbab tapi berpakaian ketat. Hal positifnya adalah bahwa perempuan masih tetap berhijab meskipun memang tubuhnya terlihat seksi. Bisa saja sebelumnya dia tidak pernah menggunakan kerudung. Ia pun kemudian mulai belajar kerudung sedikit demi sedikit. Ketika ia berkerudung kemudian pakaiannya ketat, itu hal yang lumrah. Mungkin suatu saat ia akan memakai pakaian yang lebih baik. Saya selalu ingat, bahwa untuk menjadi lebih baik pun ada yang namanya proses. Dan dalam menjalani proses ini tidak semua orang “berjalan” pada tempo yang serupa.
muslim_lolita_101_by_lechatdesigns-d36rzaa
Dari uraian-uraian tersebut sudah jelas bahwa saya tidak begitu mempermasalahkan Jilboobs atau perempuan berkerudung yang tampil seksi. Itu hak setiap perempuan dalam memakai pakaian jenis apapun selama dia memang nyaman. Memang pakaian jenis ini akan menggoda kaum pria untuk memandang bagian tubuh tertentu. Tetapi justru pandangan ini bisa menyadarkan perempuan untuk memakai pakaian yang lebih baik. Perempuan yang merasa risih dengan hal ini tentu tidak akan merasa nyaman. Karena ketidaknyamanan ini,  maka mulailah ia proses untuk belajar bahwa penggunaan pakaian ketat memang membuat risih karena banyak pria terus memandang bagian tubuhnya.

Secara keseluruhan, Jilboobs bagi saya bukan soal yang perlu dibesar-besarkan. Fenomena ini sudah berlangsung lama.  Blow-up Jilboobs oleh media justru malah memperkeruh suasana. Sampai-sampai MUI kemudian memafatwakan bahwa Jilboobs itu haram. Fatwa ini tentu akan membuat perempuan, terutama remaja yang baru belajar berkerudung akan merasa bersalah. Apalagi mereka juga sudah tersudutkan oleh hinaan netizen di internet. Hal yang perlu digarisbawahi tentang fenomena Jilboobs, cuman satu : bimbingan. Berilah arahan agar perempuan yang disebut “Jilboobs” itu menggunakan pakaian yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

gambar bersumber dari : Devianart,
dengan hak cipta  Dilabeli untuk Digunakan Ulang