Siapa yang tak ingin kehidupan rumah tangganya selalu bahagia sepanjang masa? Semua pasangan suami istri pasti ingin hidup rukun dan selalu bahagia. Untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, kedudukan keduanya haruslah seimbang. Suami dan istri memiliki hak juga kewajiban masing-masing. Seorang istri harus tahu perannya sebagai istri. Sebaliknya, seorang suami pun harus mengetahui perannya sebagai suami.

Bagaimana jadinya bila si istri justru berperan lebih dominan daripada suaminya? Apakah seorang istri yang mendominasi tersebut akan mampu mempengaruhi peran sang suami yang memang lebih tinggi dalam rumah tangga?

Terlepas dari hal tersebut, tak sedikit pula suami yang memperbolehkan istrinya lebih dominan, dalam arti menyerahkan seluruh urusan kepada si istri. Sang istri pun ternyata memang suka melakukan banyak pekerjaan. Bila si istri ini merasa kewalahan dengan tugasnya tersebut, ia pun pada akhirnya akan meminta bantuan suaminya.

Alasan Istri Mendominasi

Banyak alasan yang membuat seorang istri dicap lebih dominan, salah satunya adalah karena pola pikir orang di Indonesia sifatnya masih paternalistik, yakni sang suami harus jadi kepala rumah tangga sehingga dirinyalah yang layak lebih dominan.

Nah, jika pemikiran seperti itu dibalik, hal ini akan dipandang janggal dan suami tersebut dicap “suami-suami takut istri”. Padahal sebenarnya semua itu bergantung pada kebutuhan masing-masing keluarga.

Bagaimana Jika Istri Lebih Dominan?

Jika seorang istri lebih dominan, suami akan cenderung merasa tersiksa dan tak dianggap lagi oleh si istri. Suami akan menganggap istrinya telah mengambil alih kepemimpinan keluarga, sehingga ia tak dapat melakukan apa pun.

Akibatnya, komunikasi antara suami dan istri jadi terhambat. Bahkan, permasalahan yang sepele pun akan menjadi besar karena seringnya terjadi perbedaan persepsi.

Jika buruknya komunikasi dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, suami akhirnya akan menjadi pribadi yang acuh atau cuek. Dirinya berpikir segala hal dapat dilakukan sang istri tanpa bantuan dirinya.

Selain itu, suami pun menjadi pasif tetapi agresif. Artinya, di belakang sikapnya yang cuek, tersimpan perasaaan tertekan, marah, dan kesal sehingga dirinya cuek dalam segala hal dan tak mau ambil pusing.

Solusinya

Bila sudah terlanjur basah, baik suami maupun istri harus mengintrospeksi diri. Istri jangan takut mengajak suaminya berdiskusi dan sebaliknya, sehingga tak terjadi miss komunikasi. Keluarkan semua yang terpendam dan selesaikan dengan bijaksana.

Jangan sampai suami lupa dengan tanggung jawabnya. Istri pun demikian. Suami adalah seorang pemimpin dalam rumah tangga dan istri wajib berbakti kepada suami. Jangan sampai ketika sebagai seorang wanita mampu melakukan segala hal, membuat kita jadi meremehkan suami. Walau bagaimanapun, kewajiban seorang istri adalah tetap berbakti kepada suami. Semoga bermanfaat!