Kisah Romantis Rasulullah. Saw dan Siti Khadijah

Kisah Cinta Rasulullah dan Khadijah
Kisah Cinta Rasulullah dan Khadijah | Foto : mentalhealth4muslims.com

Mungkin beberapa di antara kalian sudah tahu cerita mengenai keromantisan Rasulullah. Saw dan Siti Khadijah.  Ya, Rasulullah. Saw dan Siti Khadijah merupakan sepasang suami istri.

Meskipun umur Siti Khadijah lebih tua dibandingkah Rasulullah. Saw, namun itu bukan menjadi halangan untuk menyatukan cinta mereka. Siti Khadijah dan Rasulullah. Saw hidup sederhana, meskipun mempunyai harta berlimpah. Sikap rendah hati dan bijaksana selalu diperlihatkan keduanya kepada semua orang.

Siti Khadijah adalah istri yang setia mendampingi Rasulullah. Saw, dikala susah maupun senang. Disaat orang lain menyalahkan Rasulullah. Saw, Khadijah selalu berada didepan untuk membelanya. Disaat orang lain mencaci maki Rasulullah. Saw, Khadijah selalu menenangkannya. Ya, Khadijah merupakan sosok istri setia dimata Rasulullah. Saw.

Tidak heran, Rasulullah. Saw selalu menjaga keromantisan hubungannya bersama Khadijah. Setiap hari, Rasulullah. Saw selalu menyempatkan waktu untuk membelai kepala Khadijah dengan penuh kasih sayang.

Dan tak jarang, Rasulullah. Saw tidur diatas pangkuan Khadijah. Selain itu, Rasulullah. Saw juga mempunyai panggilan sayang untuk khadijah, yaitu si pipi merah.

Mungkin bagi anak muda zaman sekarang, panggilan seperti itu tidak bermakna apa-apa. Berbeda halnya dengan dulu, penggilan sayang adalah panggilan yang jarang diucapkan orang lain. Bukan seperti anak zaman sekarang yang panggilan sayangnya standar, seperti beibz, honey, darling, yang, pipih mimih, bunda ayah, dan masih banyak lagi.

Bagi Rasulullah. Saw, Khadijah merupakan sosok istri paling sempurna, karena hanya dari Khadijah lah Rasulullah. Saw bisa mendapatkan keturunan.

Kisah Cinta Adam dan Hawa

Kisah Cinta Adam Hawa
Kisah Cinta Adam Hawa | Foto : weheartit.com

Nah, untuk kisah yang satu ini pastinya sudah tidak asing lagi di telinga Anda. ya, kisah cinta Adam dan Hawa memang populer dalam sejarah Kisah Cinta Islam.

Kisah ini dimulai, saat Adam dan Hawa adalah sepasang suami istri yang berada di Surga. Allah melarang mereka berdua untuk memakan buah terlarang.

Namun, hasutan iblis menjerumuskan keduanya untuk memakan buah terlarang tersebut. Allah akhirnya murka kepada Adam dan Hawa dan menjatuhkan mereka ke bumi.

Adam dan hawa dijatuhkan ke bumi di tempat yang berbeda. Adam diturunkan di Sarandeep (India), sedangkan Hawa di Jeddah. Allah sengaja memisahkan mereka, karena telah melanggar perintahNya. Namun, karena Adam dan hawa senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya, allah mempertemukan mereka kembali.

Pertemuan itu terjadi di padang Arafah. Setelah itu Adam dan Hawa kembali bersatu dan melahirkan anak-anaknya.

Kisah Cinta Fatimah Az Zahra dan Ali bin Abu Thalib

Kisah Cinta Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abu Thalib
Kisah Cinta Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abu Thalib | Foto : salmanitb.com

Fatimah Az Zahra merupakan salah satu anak Rasulullah. Saw. Fatimah Az Zahra dikenal sebagai perempuan yang lembut, namun mempunyai sikap tegas dan penuh keberanian. Tidak heran banyak lelaki yang terpikat oleh kepribadiannya tersebut.

Ada 3 orang yang datang melamar Faimah Az Zahra secara bergantian. Orang yang pertama melamar adalah Abu Bakar As Sidiq, beliau adalah sahabat rasululah yang kaya raya namun bijaksana. Tapi entah mengapa, Fatimah Az Zahra menolak lamaran Abu Bakar As Sidiq.

Orang yang kedua melamar Fatimah Az Zahra adalah Umar bin Khatab, beliau juga sahabat Rasulullah. Saw yang kaya raya dan rendah hati. Tapi untuk kedua kalinya, Fatimah menolak lamaran tersebut.

Dan terakhir ada seorang pemuda sederhana yang bernama Ali Bin Abu thalib.  Ali Bin Abu Thalib sebenarnya sudah lama memendam rasa sayang kepada Fatimah Az Zahra. Akan tetapi keterbatasannya dalam hal ekonomi, membuat keberanian Ali Bin Abu Thalib melamar Fatimah Az Zahra menciut.

Ali Bin Abu Thalib sadar, dirinya hanya pria sederhana yang punya baju besi untuk berperang. Tak ada kekayaan lain yang dimilikinya selain itu. Ali Bin Abu tHalib beranggapan, Umar Bin Khattab dan Abu Bakar As Sidiq yang kaya raya saja ditolak, apalagi dirinya yang miskin.  Hal inilah yang membuat Ali Bin Abu Thalib sempat putus asa.

Tapi entah apa yang membuat Ali Bin Abu Thalib tiba-tiba mmpunyai keberanian yang cukup besar.  Suatu hari Ali Bin Abu Thalib memberanikan diri datang ke rumah Fatimah Az Zahra untuk melamarnya. Dengan perasaan tak menentu, khawatir, dan cemas, Ali Bin Abu Thalib mempersiapkan dirinya untuk menerima apapun jawabannya.

Ternyata, jodoh tak kemana. Fatimah Az Zahra menerima lamaran Ali Bin Abu thalib dengan senang hati. Tanpa menunggu waktu lama, dua hari berikutnya Rasulullah. Saw menikahkan Fatimah dan Ali Bin Abu Thalib.

Untuk pernikahannya tersebut, Ali Bin Abu Thalib menggadaikan baju emasnya tersebut, karena hanya itulah barang berharga miliknya. Sungguh sangat mengharukan sekali rasanya.

Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abu Thalib hidup sederhana. Fatimah Az Zahra adalah wanita yang kuat dan setia. Fatimah Az Zahra bukan hanya menghabiskan hari-harinya dengan mengurus anak dan suaminya, melainkan juga menjadi relawan para korban perang.

Ya, disaat waktu luang, Fatimah Az Zahra ikut membantu mengobati mereka yang terluka saa perang. Tidak heran, jika Fatimah Az Zahra dikenal sebagai sosok wanita yang kuat.

Bukan hanya itu, meskipun dalam kesehariannya, Fatimah Az Zahra selalu sibuk, tapi dia tidak pernah meninggalkan shalat sekalipun. Ibadah-ibadah lainnya juga tidak pernah ditinggalkan, seperti tadarus (membaca al quran)

Memang didunia ini tidak ada yang sempurna, begitu pun Fatimah Az Zahra. Suatu ketika Fatimah Az Zahra mengeluh atas semua kegiatan yang dilakukannya. Fatimah Az Zahra berkeluh kesah kepada Ayahnya, Rasulullah. Saw.

Fatimah Az Zahra berkata pada Rasululah sudah tidak kuat mengurus anaknya sendiri, sehingga ia berniat untuk mencari pembantu. Namun, dengan lembutnya Rasulullah. Saw berkata “ semua rasa lelah dan permasalahan akan terasa mudah, hanya dengan berdzikir”

Dari situlah Fatimah Az Zahra sadar bahwa mengeluh tak ada gunanya.  Fatimah Az Zahra kembali mengurus anak-anaknya, suaminya (Ali Bin Abu Thalib), dan para korban perang.