Mengenal Ibunda Jokowi Lebih Dekat
Buku : Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi
Penulis : Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : April, 2014
Halaman : Xvii + 137 halaman

Dibalik pria sukses, ada wanita yang hebat. Ungkapan ini bukan sekedar kata-kata saja, tapi benar kenyatannya. Kesuksesan seorang pria bukan saja karena isteri yang mendampinginya. Tapi, bisa juga seorang ibu yang senantiasa memotivasi dan mendidik anaknya menjadi sukses. Salah satu wanita tersebut adalah Sujiatmi, Ibunda Jokowi.
Di dalam buku “Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi” ini dipaparkan secara detail seperti apa motif-motif pendidikan yang diberikan Sujiatmi kepada Jokowi. Sehingga tak mengherankan mengapa Jokowi menjadi orang yang tampak sederhana dan begitu dekat dengan rakyat kecil. Tak hanya itu, buku ini juga memamaparkan seperti apa Sujiatmi kecil hingga menikah dengan Widjiatno, Bapak Jokowi.
Buku yang terdiri dari delapan tulisan ini awal mulanya menceritakan kisah hidup Sujiatmi yang tidak ingin seperti anak-anak perempuan sekampungnya, yang tidak mengenyam pendidikan dan lebih memilih membantu orang tua di sawah. Ketika menempuh pendidikan dasar di SD Kismoyo, Ia adalah satu-satunya siswi yang bersekolah di SD tersebut. SD Kismoyo bukanlah sekolah yang dekat dengan rumahnya. Setiap hari ia ke sekolah dengan berjalan kaki sekitar 5 kilometer. Sesekali saja ia pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda.
Sujiatmi menikah di saat usianya masih 16 tahun, sehingga ia tak mampu menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Meski menyesal, namun ia bercita-cita akan menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Dalam berumah tangga, ia yang selalu mengambil keputusan dan suaminya melaksanakan. Bukan lantaran ia ingin jadi pemimpin, tapi karena karakter suaminya yang pendiam. Widijianto tergolong orang yang manut. Mau tidak mau iaSujiatmi berperan dalam pengambilan keputusan. (hal. 23)
Dari buku yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama ini akan tampak terang benderang bahwa keberhasilan Jokowi menjadi Walikota Solo tak terlepas dari peran Sujiatmi. Ia terkenal di kalangan masyarakat Solo sebagai ibu yang suka mengikuti pengajian di kampung-kampung. Setiap Minggu, Selasa, Rabu dan Kamis, ia mengisi aktivitasnya dengan mengikuti pengajian di kampung-kampung. Setiap Sabtu ia ikut senam pagi yang diadakan di kompleks Danar Hadi dan setiap hari jumat ia selalu berkumpul dengan JJP (Jalan-Jalan Pagi). Kedekatan ibunya tersebut dengan masyarakat yang membuat Jokowi dengan mudah mendapatkan simpatik dan dukungan dari khalayak Solo. (hal. 65-66)
Saat Jokowi ingin ikut Pilkada Solo, Sujiatmi berpesan kepada Jokowi, “Kalau kamu cari uang, dagang saja, gedein perusahanmu. Tapi kalau kamu nyalon walikota, kamu harus jujur dan ndak boleh macam-macam. Jangan gunakan uang dari jabatan walikotamu. Kalau mau kaya jangan jadi walikota, jadi pengusaha saja. Kamu masih bisa ngembangin pabrikmu, bisa lebih besar lagi.” (Hal. 54)
Begitu juga ketika Jokowi tampil di Pilkada DKI Jakarta, Sujiatmi pun ikut berperan membantu Jokowi. Ia selalu mendampingi Jokowi ‘blusukan’ ke kampung-kampung. Baik Pilkada Solo maupun DKI Jakarta, Sujiatmi tak pernah “ngotot” terhadap sebuah kemenangan. Jabatan sebagai pejabat negara, baginya, adalah sebuah amanah. Jika memang amanah itu harus jatuh pada anaknya, maka itu memang sudah kehendak Tuhan. Tapi jika tidak, maka memang itu bukan jalannya. (hal. 62)
Buku ini sungguh sangat layak dibaca oleh siapa saja, karena tak lepas dari nuansa pendidikan. Bagi yang ingin tahu apakah Jokowi berasal dari keturunan Cina atau tidak, buku ini menjawab dengan gamblang bahwa ia asli keturunan Jawa. Bagi yang ingin tahu apakah Sujiatmi, Ibunda Jokowo muslimah atau kristiani buku ini menjelaskan bahwa ia seorang yang gemar mengikuti majelis-majelis taklim.