kenangan

barangkali benar, masa tak pernah tegas menangkap fokus
atau melatari tema dalam buramnya kisah tentang laku
bukankah pada kesan semua kenangan itu dititipkan
lalu mengendap dalam fragmen acak tak merunut
saling silang dalam percakapan yang tersakap

 aku baru saja memahami kenangan
bukan sepiawai apa kisah diperankan
lebih pada sedalam apa kesan ditancapkan
kiranya, inilah alasan mengapa aku mengubur
senyum paling manis di kedalaman bola matamu

meski tanpa lisan
tanpa aksara
hanya sisa

 ~hers,170714