Home Inspirasi Stop Kenikmatan Sesaat!

Stop Kenikmatan Sesaat!

Stop Kenikmatan Sesaat!

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution
Puasa mengandung makna menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Proses penahanan diri merupakan wujud kesuksesan secara lahiriah. Apa yang ditahan? Segala hal yang dapat membuat kita lalai. Misalnya makan, minum, bersetubuh dll. Kenapa saya kategorikan sebagai yang melalaikan? Karena makan, minum, bersetubuh dll adalah aktivitas yang melalaikan kita dari tujuan utama puasa. Yaitu, merasakan kesulitan yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang fakir. Jika kita mampu merasakan itu, maka kita termasuk Sha’im yang sukses. Sukses bisa merasakan apa yang dirasakan orang fakir yang berada dibawah kita statusnya. Sedangkan si fakir, ketika puasa tujuannya adalah merasakan adanya kebersamaan yang ditetapkan Allah kepada umat Islam. Si fakir dan si kaya sama-sama meraih kesuksesan. Si kaya sukses karena bisa menahan kenikmatan sesaat. Sedangkan si fakir juga sukses karena bisa manahan diri untuk tidak selalu merasa hina. Karena itu, Islam benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Memberikan kasih sayang agar satu dengan lainnya saling merasakan. Orang kaya misalnya, merasakan bagaimana si miskin menahan lapar. Sedangkan si miskin merasakan bagaimana enaknya hidup dengan ada harta ketika diberi zakat fitrah di akhir Ramadhan. Jika ditelusuri, Puasa mengandung spirit kesuksesan. Kesuksesan buat siapa saja yang ingin bahagia. Dengan menahan diri dari menikmati sesuatu akan membawanya menjadi orang yang sukses. Kesengsaraan sedikit akan tetap melahirkan kebahagian yang cukup berarti nantinya. Maka, cukup tepat istilah sengsara membawa nikmat disematkan kepada orang-orang yang memaknai puasanya dengan penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah. Ingin tahu contoh orang yang sengsara membawa nikmat. Baca kisah perjalan hidup Aris Wibowo berikut ini. Aris Wibwo adalah pencipta lampion-lampion cantik yang terbuat dari rotan dan kertas singkong atau yang biasa disebut Tiang Jaler. Lampion-lampion yang dihasilkannya telah menghiasai berbagai event. Sebut saja di antaranya welcome Dance RCTI, fitur berita Lativi dan lain-lain. Saat memulai usaha Tiang Jaler, Aris dilanda kebingungan. Antara tetap menjadi membuka usaha atau menjadi pegawai kantoran yang baik dan benar, yang bekerja dari jam setengah delapan pagi hingga setengah lima sore dengan gaji yang sudah tetap setiap bulannya. Perasaan canggung, paranoid terhadap kegagalan, dan ketidaktahuan untuk mulai dari mana sempat menjadi penghambat. Belum lingkungan keluarga dan teman-teman kantoran selalu mencemoohkan ketika mengungkapkan idenya membuka usaha Tiang Jaler. Dengan kebulatan tekad, kesiapan mengambil resiko dan perasaan tawakkal kepada Allah, ia memilih membuka usaha dari tetap menjadi pekerja kantoran. Setelah memilih buka usaha, bukan tidak mengalami kesulitan. Ia kerap dihantui kegagalan usaha. Ternyata, setelah beberapa tahun Tiang Jaler mampu tumbuh besar dan dibutuhkan berbagai acara yang bernuansa oriental, seperti bernuansa Cina dan Jepang. Akhirnya, kini Ari memiliki keuntungan bersih setiap bulannya hingga 15 juta rupiahSetelah memilih buka usaha, bukan tidak mengalami kesulitan. Ia kerap dihantui kegagalan usaha. Ternyata, setelah beberapa tahun Tiang Jaler mampu tumbuh besar dan dibutuhkan berbagai acara yang bernuansa oriental, seperti bernuansa Cina dan Jepang. Akhirnya, kini Ari memiliki keuntungan bersih setiap bulannya hingga 15 juta rupiah. Dengan memahami cerita Ari di atas, kita dapat menyatakan bahwa Ari menahan dirinya dari memilih jadi kerja kantoran demi meraih cita-citanya menjadi pengusaha lampion. Artinya, Ari telah melakukan usaha ‘berpuasa’ sementara dengan memilih membuka usaha. Ia mengalami kesulitan tapi dengan penuh keyakinan yang terpatri di hatinya bahwa dibalik ini akan lahir kesuksesannya. Apa yang dipikirkan Ari ternyata benar. Lalu, bagaimana dengan anda? Siapkah anda merasakan kesulitan sementara?