“Aku nyesel menikah dengan dia, dulu sebelum menikah dia romantis banget peduli, kenyataanya dia cuekin aku terus.”

“Suamiku keluar kota terus weekend ini, aku selalu ditinggal.”

“Kasihan pasangan muda itu anaknya cacat, mungkin pengaruh nikah muda ya?'” celoteh seorang ibu dari sebrang komplek.

Sering saya mengalami keluh kesah lainya dari seseorang yang sudah menikah, tidak satu orang tapi lebih dari satu orang.saya pribadi belum menikah belum tahu terlau detail tentang masalah dalam rumah tangga.

Memang tak sedikit yang bercerita bahagianya mereka menikah dan sedih pula mereka karena menikah. Apapun itu maslaahnya ataupun senangnya dalam menikah, saya mengambil kesimpulan bahwa menikah memang bukan sekedar menikah , menikah bukan sekedar ada seseorang yang menemani kita ditempat tidur, menikah bukan sekedar status belaka, menikah bukan sekedar untuk membuat keturunan , ada makna terdalam dalam menikah.

1. Menikah untuk menyatukan dua insan yang berbeda dalam segala hal

menikah untuk menyatukan dua orang yang berjenis kelamin berbeda, menyatukan dua isi kepala yang berbeda, menyatukan pribadi dengan alatar belakang asuhan, suku, adat yang berbeda. dan disanalah bagaimana dua insan ini diuji akan saling mengerti satu sama lain, menerima kondisi kekurangan dan kelebihan dua insan. sudah kah kita siap menerima kekurangan dan kondisi dari pasangan kita?

2. Menikah untuk menyatukan dua keluarga

Jika memang kita mendapatkan calon yang berbeda latar budaya , adat kebiasaan. perlu ekstra pendekatan yang lebih pada calon suami/istri kita. Bisa jadi hal yang sepele ini yang nantinya akan menjadi “percikan api ” di rumah tangga.

Bisa kita mulai untuk mnegtahui ada kebiasaan di calon mertua kita saat hari besar, makanan apa yang sering disajikan, kebiasaan apa yang dilakukan. bisa juga kita tanyakan hal yang menjadi kebiasaan dirumah tersebut. intinya ketika berbda budaya dengan apa yang kita lakukan terimalah, mulai untuk menghargai.

3. Menikah untuk menghasilkan “generasi emas”

Ketika menikah tak sedikit orang yang sudah memiliki keturunan, namun ketika ketururnannya lahir dibiarkan bagitu saja, dididik dengan seadanya, bahkan ketika harus menikah, anak dibiarkan bagitu saja ujung-ujungnya dititipkan pada orang tuanya.

Padahal ketika sudah berjanji untuk menikah & mendapat keturunan , orang tuanya lah yang berkewajiban ‘membesarkan”sang buah hati, mendidiknya, mengajakrannya banyak hal, dan orang tuanya lah sejatinya panutan bagi anakanya. Sudah siapkah kita menjadi orang tua yang baik untuk anak kita?

Bukan maksud untukk menggurui, bukan maksud untuk mencegah orang lain menikah dalam keterbatasan, sebagai wujud renungan pada diri sendiri, sebenarnya untuk apa menikah? ketika sudah menikah apa yang harus saya lakukan? Apakah menikah hanya untuk menggumbar kemesraan? apakah hanya utk melkasanakan kewajiban yang asalanya haram menjadi halal?

Yang pasti semua orang akan mengalami fase ini. dalam waktu yang tepat dan kita pantas tentunya. Dan semua orang sudah ada pasangannya masing-masing .

#JustShare #BerbagiItu Indah