Sudah 6 bulan ini, kita dijejali setiap hari dengan informasi politik di tahun politik yang semakin panas saja. Genderang perbedaan sesama kita ditabuh begitu deras, atas nama demokrasi, kebebasan dianggap sebagai peluang untuk mengaktualisasi diri dalam berekspresi sesuka hati.

Semua unsur warga negara tumpah ruah meneriakan jargon dan jagoan politiknya masing-masing. Dari pekerja kuli, pegawai kantoran, tukang mie, selebriti hingga kyai, mempertontakan sebuah pesta demokrasi yang amblas tak terkendali. Seketika rona wajah bangsa berubah menjadi anarki, lupa tata cara untuk santun, serta dihiasi oleh benci.

Itulah potret kekinian anak negeri ini yang saban hari mensesaki media-media sosial. Kadang, lebih banyak berisi intrik-intrik politik yang terdengar sudah mulai agak basi. Pergesekan antar kelompok kerap sekali terjadi. Budaya santun dan ramah terkikis hampir habis, dan Bumi Pertiwi mulai menangis.

Sebelum terlambat, hendaknya seluruh insan menyadari bahwa semua ini hanya sementara belaka. Persaingan politik hanyanlah drama yang dimainkan oleh beberapa atau segelintir orang belaka, namun efeknya dapat memecah belah bangsa.

Mengembalikan Indonesia yang Sebenarnya

Ibarat bayi yang baru lahir, seharusnya fitrah manusia Indonesia dikembalikan ke habitat aslinya. Sebagai negara yang dikenal memiliki kekayaan budaya dan masyarakat yang santun dan ramah. Kita berhenti sejenak dari hingar bingar kesibukan politik praktis, agar kekalutan antar sesama tidak berakhir statis, yang bisa merugikan bangsa dalam waktu yang lebih lama.

Kita perlu mengubah pembicaraan di warung-warung kopi yang akhir-akhir ini bertemakan politik, menjadi lebih banyak membicarakan tentang-tentang hal-hal sederhana yang memperkuat ukhuwah. Merangkul semua elemen bangsa untuk mendiskusikan arah kebijakan yang tepat untuk masa depan negara ini yang lebih sejahtera.

Tentu saja semua hal ini bisa mulai kita lakukan dari diri sendiri sebelum akhirnya menginspirasi seluruh negeri. Lupakan sejenak perbedaan pilihan yang menjadikan kita saling bermusuhan. Mari membangun Indonesia yang jauh lebih baik dari hari ini, mari mengembalikan Indonesia yang berbudaya, santun, dan ramah.

Ditulis oleh : https://www.facebook.com/mohasriady.mulyono