Mengembalikan Nilai Kepantasan

Mungkin, tak banyak dari kita yang sekarang betul-betul ingat bahwa apapun yang kita lakukan hari ini bukan menjadi apa yang bisa kita hasilkan di masa depan, tapi apa yang bisa kita pantaskan untuk hasil di masa depan.

Singkatnya, zaman sekarang lebih banyak diantara kita yang menganut paham nilai keharusan (harus menjadi apa) bukan merenungkan nilai kepantasan (pantas menjadi apa). Pergeseran nilai ini telah membawa konsekuensi yang sangat buruk bagi dunia penididikan kita yang berimbas pada kualitas lulusan (sarjana) yang ada.

Seorang teman saya pernah berujar, “buat apa pintar dan menguasai ilmu jika tidak jadi sarjana.” Sebuah pernyataan yang menohok jantung saya, yang sebelumnya mengatakan kepadanya bahwa pemahaman kita terhadap ilmu dan representasi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih bermakna daripada selembar kertas ijazah.

Bagi saya pernyataan tersebut sekaligus menyimpulkan bahwa yang selama ini dikerjakannya, yang selama ini dilakukan oleh teman saya tadi, sejak ia menginjakkan kakinya di Universitas ini sebetulnya hanya berorientasi pada selembar ijazah semata. Tentang bagaimana ia mampu menguasai ilmu tersebut, apalagi menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat tidaklah penting.

Hasilnya, sudah barang tentu bisa ditebak. Setiap tahun, tempat pendidikan di negeri ini mencetak banyak lulusan. Sayangnya, kuantitas lulusan tak dibarengi dengan kualitas lulusan itu sendiri. Kesulitan mencari kerja, aplikasi ilmu yang sangat tidak memadai padahal sudah memiliki gelar, hingga minimnya tanggungjawab sebagai seoarang akademisi, adalah konsekuensi nyata dari memaksakan keharusan tadi.

Kembali pada Upaya Memantaskan Diri

Bagaimanapun gelar sarjana adalah sesuatu yang berharga. Tapi jelas akan lebih bermakna bila gelar tersebut merupakan apresiasi dari kualitas keilmuwan yang mampu dibuktikan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Setiap sarjana seharusnya mampu memberdayakan ilmunya secara menyeluruh untuk kemaslahatan orang banyak.

Semua itu adalah proses yang dimulai dari memantaskan diri. Kita perlu merubah sistem belajar kita agar lebih berkualitas dan efektif. Bukan terburu-buru meraih gelar, karena yang terpenting itu bukanlah gelar, tapi ilmu. Sebab dengan ilmu, yang memadai pastinya, maka kita pantas untuk sebuah gelar.

Ditulis oleh : https://www.facebook.com/mohasriady.mulyono

Leave a Reply