Untuk Indah

di manapun

Dear,

Sebuah buku tebal masih terlihat menemaninya malam itu. “Memoar, Sherlock Holmes,” Titel yang tepampang di sampul buku tersebut. Dalam redup lampu baca kamarnya, sang lelaki tengah asyik membaca buku yang melegenda di dunia tersebut.

Namun, tampaknya sang lelaki tidak benar-benar membaca buku kisah detektif itu. Jelas, terlihat kegelisahan menyelimuti aura wajahnya.“ Sebentar lagi waktunya,” Gumam pria 20-an itu. Pukul 12 pas adalah saat yang dinantikannya sejak tadi.

Waktu terus berjalan, namun detik demi detik terasakan sangat panjang. “Teng!” Jarum jam di dinding menunjukan pukul 00.00 waktu setempat.

Lelaki tadi lalu bangkit dari rebahan kasurnya, menyisipkan pembatas buku pada halaman 124 buku kesukaannya, Ia simpan buku itu di pinggir bantal tidur. Ia raih pulpen berwarna hitam bersama secarik kertas kosong di meja kamarnya. Setelah beberapa saat, ia duduk bersimpuh menghadap timur dimana matahari biasa mengawali tugasnya memberikan hangat ke seluruh pelosok bumi.

entah apa maksudnya, apa yang akan dilakukannya?

Sesaat kemudian, dalam keheningan malam. Sang lelaki mulai memejamkan mata, berkonsentrasi penuh dalam kesyahduan yang ada, dalam kentalnya malam yang khas.

Suasana pada saat itu begitu tenang, yang terdengar hanyalah suara nafas halus sang lelaki sendiri dan barangkali suara beberapa ekor makhluk malam. Lelaki tersebut serta merta membuka tutup pulpen yang digenggamnya lalu menuliskan beberapa kata pada carik kertas putih dalam genggamannya. “Jadikan dia milikku, jadikan dia miliku, kabulkan permohohonanku, kabulkan doaku, kumohon,” bunyi goretan tinta pada kertas itu.

Ia lalu menggenggam kertas itu dengan penuh harap, dan berucap penuh kepasrahan “Ya tuhan atau apapun engkau yang menciptakan perasaan, Izinkan aku bersanding dengannya, harus……….”.

Bangkit berdiri, sang lelaki keluar membuka pintu kamarnya melewati ruang makan dan pintu yang menghubungkan dapur dan halaman belakang rumahnya. kreekk….gagang pintu terbuka, wuush… Udara malam yang tidak bersahabat menerpa wajahnya.

Tangan sang lelaki memegang korek api bersama beberapa lembar kertas koran berdebu.

Dalam kegelisahannya, ia menuju tanah kosong di sebelahnya. Koran-koran tadi ia letakan di tanah. “Kabulkan,” harapnya sambil menyulut batang korek yang dibawanya.

Kertas yang berisikan permohonan pada sang”Tuhan”, ia bakar bersamaan dengan koran-koran yang bisu, dalam balutan malam, berharap semoga asap dari” Kertas Harapan” terbang menuju langit mencapai yang kuasa, dan mendengar permohonan seorang makhluk-Nya.

Indah, apa kamu masih menyimak?

Maafkan aku! cerita diatas hanya rekaanku saja mungkin ada, ataupun jelas-jelas tulisan seorang penulis amatiran belaka. Maksudku, aku Cuma mau bilang aku tidak ingin menjadi “Sang Lelaki” seperti yang aku ceritakan diatas.

Aku ingin kamu tahu, perasaanku yang luluh, tulus terhadapmu itu saja!

Aku bukan orang yang pandai bermulut manis, sikapku yang pemalu membuatku tak sanggup memandang wajah orang yang aku sayangi….Seandainya ada semut yang mengintip saat aku merangkai kata dalam surat ini, dia pasti akan menertawakan aku, sungguh!

o..yah itu saja saat ini yang ada dalam fikiranku, Cukup sederhana! karena sesungguhnya kebenaran itu sederhana. Mungkin kau ingin mengetahui kelanjutan kisah sang lelaki tadi?

Akhirnya, sang lelaki ditemukan tewas tenggelam di sebuah laut selatan jawa. Diduga oleh pihak yang berwenang, sang lelaki berjalan menyusuri hutan, gunung, ngarai dan tiba di pantai selatan pulau jawa, sesampainya di tepian pantai, ia mencuri perahu nelayan setempat dan membawanya ketengah laut,. Dan pada akhirnya? ia menenggelamkan dirinya sendiri dalam lautan yang luas.. .tenggelam dalam kegelapan… disaksikan makhluk-makhluk air, karena orang yang dicintainya menolak ketulusan cinta sang lelaki………..