Sejak belajar di SD sampai perguruan tinggi, kita semua pasti belum pernah diajarkan secara mendalam oleh guru tentang keuangan dan cara agar bisa menjadi kaya atau bebas keuangan (bebas finansial). Di sisi lain, kita malah sering diajarkan untuk menabung agar banyak uang seperti pepatah mengatakan menabung sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kenyataannya, banyak orang yang rajin menabung tetapi tidak kaya-kaya. Jadi, kita harus berpikir cerdas menanggapi pepatah tersebut.

Prinsip Menabung – Sedikit Demi Sedikit, Lama-lama Jadi Bosan!

Menurut penulis, prinsip menabung itu sebenarnya sedikit-sedikit lama-lama menjadi bosan, bukan menjadi bukit. Coba saja bayangkan misalnya kita menabung 14 ribu rupiah (harga sebungkus rokok) setiap hari selama 5 tahun.

Mungkin nominal tersebut besar angkanya, tetapi tanpa disadari uang sebanyak itu terus menurun nominalnya, menurun kegunaannya, dan menurun segalanya. Apa sebabnya? Jawabannya karena uang yang selama 5 tahun ditabung tersebut akan terpotong inflasi (kenaikan harga-harga barang). Jika dulu uang 14 ribu rupiah cukup untuk membeli sebungkus rokok, setelah 5 tahun menabung 14 ribu rupiah, hanya bisa membeli setengah bungkus rokok. Apakah ini tidak konyol?

Inflasi atau kenaikan harga barang itu hukumnya pasti dan jangan berharap harga barang bisa turun. Jadi, seperti yang disampaikan sebelumnya, terbukti sudah bahwa menabung sedikit demi sedikit lama-lama jadi bosan dan tak akan menjadi bukit. Mudah-mudahan para pembaca paham dengan apa yang sudah dijelaskan tentang menabung.

Cara Menjadi Kaya Tanpa Menabung

Bagaimana caranya menjadi kaya tanpa menabung? Ini adalah sebuah pertanyaan yang bagus dan kreatif. Berikut ini jawabannya.

Dalam bahasa Inggris, mata uang itu adalah currency. Currency berasal dari kata current yang artinya adalah ‘arus’. Jadi, uang itu haruslah seperti arus yang selalu mengalir dan terus bergerak. Segala sesuatu yang mengalir itu pasti sehat seperti contohnya darah dan air. Bila darah berhenti mengalir, manusia pasti mati. Benar tidak?

Jadi, bila memiliki uang, jangan sampai hanya berhenti di dompet atau di rekening pribadi. Uang yang dimiliki haruslah digerakkan atau dialirkan supaya kita sehat dan berkembang makin banyak. Lalu, bagaimanakah cara menggerakkan uang tersebut? Banyak sekali caranya seperti berdagang, investasi, dan sedekah. Penulis menganjurkan untuk bersedekah terlebih dahulu, baru ke yang lainnya. Ingat, bersedekah tak harus menunggu kaya.

Nabi Muhammad saw semasa hidupnya terkenal sebagai pedagang. Bahkan, orang terkaya di zaman Rasul adalah seorang pedagang. Siapa yang tak ingin menjadi orang kaya dan sukses? Kita semua wajib memiliki keinginan untuk menjadi sukses, tentunya sukses dunia dan akhirat. Jangan pernah merasa pesimis dengan keadaan saat ini. Pesimis adalah “penyakit si miskin”. Oleh sebab itu, kita semua harus optimis dan harus menjadi sukses.

Semoga bermanfaat!