Siapa yang tidak tahu film Hunger Games? Seru ya! Penonton diajak membayangkan hidup di dunia utopia yang terdiri dari distrik-distrik, bukan negara. Setiap tahun diselenggarakan lomba bertahan hidup oleh anak-anak yang mewakili setiap distrik. Lomba itu ditayangkan secara langsung di televisi. Tontonan tersebut ditujukan untuk menakut-nakuti rakyat supaya tunduk pada penguasa.

Apakah penonton film Hunger Games mendapat kesan yang sama dengan saya? Terus terang saya lebih suka bukunya, Hunger Games trilogy. Pesan yang saya dapat, media merupakan alat yang sangat efektif digunakan oleh penguasa untuk mencapai tujuannya. Menebarkan rasa teror, menyebarkan doktrin, membuat rakyat tunduk. Di tangan pihak yang tepat, media juga dapat digunakan sebagai penyebar optimisme.

Di Hunger Games 1 pemirsa menyaksikan Katniss yang maju mengajukan diri sebagai tribute untuk menyelamatkan adiknya. Tindakan itu dianggap sebagai lambang yang memercikkan bibit pemberontakan.

Namun di tangan pihak yang tepat, media juga dapat digunakan sebagai penyebar optimisme. Di Hunger Games 2, Katniss memanfaatkan kunjungan ke salah satu distrik untuk menunjukkan simpatinya kepada penduduk distrik tersebut.  Perlahan, benih pemberontakan mulai disemai.

Puncaknya di Hunger Games 3 ketika Katniss didandani dan diminta berakting sedemikian rupa. Melalui tayangan televisi, rekaman Katniss yang pura-pura bertarung disebarkan untuk mengobarkan semangat para pemberontak. Permintaan Katniss untuk ikut bertarung beneran ditolak, khawatir dia terluka. Padahal dirinya merupakan aset penting lambang perjuangan. Tapi jiwa Katniss bukan jiwa pura-pura, walaupun tujuannya untuk kebaikan. Akhirnya dia maju sendiri ke pusat Capitol untuk menjatuhkan si penguasa dzalim. Tanpa kekeran kamera. 

sherlockSaya juga mendapatkan kesan yang sama ketika menonton salah satu adegan di serial Sherlock. Dia yang menguasai media adalah yang sesungguhnya berkuasa. Seorang penguasa media dan penguasa segala macam informasi menjadi ancaman. Sherlock berupaya keras mengorek bank datanya. Hingga curiga bahwa si penguasa itu mengenakan kaca mata semacam google glass yang mampu men-supply segala informasi tentang lawan bicaranya dalam waktu seketika. Ternyata bukan. Yang dikenakannya kaca mata biasa.

Belakangan si penguasa media mengungkap rahasianya. Buat apa dia memerlukan bank data, kalau semua data dan informasi ada di otaknya. Dengan media yang dikuasai, dia bisa menyebarkan segala macam informasi dengan mudah. Dengan mudah pula pemirsa melahap informasi tersebut. Walau berita salah sekali pun, tapi siapa yang mampu membendungnya jika sudah terlanjur tersebar? Berita yang telah menjadi konsumsi publik otomatis menjelma menjadi kebenaran.

Gambar dari sini dan sini.

Tulisan lain di sini.