Istilah jilbobs ini memang sedang tren di kalangan media sosial. Namun sesungguhnya aplikasi jilbobs ini juga ternyata sudah ada sejak lama, sebelum istilah ini sendiri muncul. Jilbobs sendiri mempunyai arti sebagai wanita berjilbab, tapi masih memperlihatkan lekukan bagian tubuhnya. Jika sudah begitu tentu tidak lagi mengindahkan jilbab yang berfungsi sebagai penutup aurat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, namun sudah merambah pedesaan. Bahkan di beberapa wilayah sudah dibentuk sebuah komunitasnya, yang tentu mencoreng agama Islam. Jika hal ini masih dibiarkan tanpa adanya kesadaran maka akan sulit untuk dihentikan. Sementara itu, mereka yang tergabung ke dalam komunitas tersebut akan merasa berbangga dengan status tersebut.

Imbas yang paling terasa ialah akan terjadi dan berpengaruh terhadap orang sekitar kita, bahkan anggota keluarga kita sendiri. Jika sudah begitu, akan banyak efek buruk yang dirasakan nantinya. Katakanlah itu dari segi kejahatan karena akan banyak pria yang menjadi tergoda jika imannya tidak kuat. Hal itulah yang hanya akan merugikan pelaku jilbobs sendiri.

Landasi Istri dengan Agama yang Benar

Ketika menikah tentu harus memiliki modal yang kuat untuk membina rumah tangga agar tetap kuat. Suami dan istri mungkin saja belum memiliki kesempurnaan, namun seiring dengan jalannya waktu hal itu bisa diperbaiki. Termasuk dalam halnya istri kita yang cenderung masih menyandang status jilbobs.

Jika hal ini sudah terjadi, janganlah kita sebagai suami ada kebanggan terhadapnya. Bagaimanapun juga suami akan menjadi imam dalam keluarga yang akan bertanggung jawab, termasuk sikap istri kita di mata Tuhan. Kita memang menginginkan istri untuk tampil cantik, namun kecantikan tersebut jangan sampai mengorbankan agama yang kita sandang.

Apa jadinya jika istri kita sedang berada di luar dengan kondisi jilbobs masih disandang? Pakaian yang ketat, aurat yang diperlihatkan, jadi bahan tontonan banyak orang, tentu hal itu tidak kita inginkan, bukan? Kita sudah sepantasnya merasa sedih ketika istri kita berada dalam posisi tersebut.

Untuk itu, berusahalah sekuat tenaga untuk mengubah persepsi istri dalam hal kecantikan. Cantiklah untuk suami, bukan cantik untuk orang lain. Fashion yang mengutamakan kesopanan, namun tetap mengedepankan kecantikan masih banyak tersedia dan bisa kita upayakan.