Senang, susah, sakit, duka, putus asa, dan perasaan sejenisnya pasti pernah kita rasakan. Inilah yang dinamakan dengan sunatullah. Tak ada satu pun manusia yang tak pernah merasakan gembira ataupun sedih, sebab memang suka duka diberikan rata kepada seluruh umat manusia.

Saat Duka Datang Berkunjung

Saat sedih dan duka menghampiri, hampir bisa ditebak manusia akan kembali mengingat Allah Swt. Manusia mulai kembali lagi membaca Al-Quran lembar demi lembar yang terlihat masih baru, sebab memang jarang dibaca.

Yang paling sering dilakukan saat duka melanda adalah shalat, yaitu melakukan shalat Tahajjud. Ya, shalat Tahajjud dianggap sebagai jalan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Ditambah lagi dengan zikir, wirid, dan doa. Semua doa diucapkan dan mungkin diminta dengan beranggapan ada doa “sakti” yang dengan sekejap mata akan menghilangkan masalah.

Apakah ini salah? Tidak! Perbuatan tersebut tidak salah sebab memang bagian dari hidup manusia. Manusia akan kembali pada Allah Swt saat hatinya sudah tak tahu harus bagaimana. Sudah terasa lelah akal mencari jalan terbaik dan sudah lelah bibir mencari solusi kemeranaan diri.

Nah, untuk mengatasai berbagai permasalahan hidup, ada dua jalan yang bisa dipilih atau memilih salah satu. Pilih jalur lambat atau jalur cepat?

Jalur Lambat

Jalur lambat untuk mengatasi permasalahan hidup adalah shalat, membaca Al-Quran, zikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Jadi, jika kepedihan dan kesulitan hidup datang, cara ini bisa menjadi soluisnya. Lalu, kenapa ibadah-ibadah tersebut disebut jalur lambat? Ada ada dengan sholat Tahajud? Kan pahalanya besar sekali dan Allah akan menaikkan derajat orang-orang yang sering Tahajjud?

Hal tersebut memanglah tidak salah, tetapi yang penulis bahas adalah dari sudut pandang berbeda. Apa itu? Shalat itu adalah ibadah paling murah. Maksudnya, shalat itu adalah ibadah yang dilakukan semua orang.

Apakah dengan shalat hati menjadi tentang dan tenteram? Insya Allah hati menjadi tenang. Tapi jika ditanya apakah akan menjadikan seseorang bahagia? Mungkin bisa mungkin tidak. Apa solusinya sudah terjawab? Insya Allah pasti terjawab. Kapan? Hanya Allah yang tahu.

Pada dasarnya, ibadah itu hanya akan memperkaya amal, tetapi belum bisa menarik bahagia masuk ke dalam rumah kita, belum mau bersilaturahmi ke dalam hati, dan belum mau membesuk jika kita sedang sakit. Ya, karena memang kita mungkin hanya beribadah mengikuti raga kita. Apalagi bila akal dan jiwa tidak ada ilmunya, bisa tambah pusing hidup ini.

Inginnya bila sudah Tahajjud selama sebulan, sim salabim doa kita langsung terkabul dan masalah pun langsung hilang. Padahal sebenarnya sholat dan doa yang dipanjatkan itu masih menunggu konfirmasi dari Allah Swt apakah diterima atau ditolak.

Selain itu, kita sendiri sudah tobat atau belum? Benar tidak ibadah yang dilakukan? Fikihnya sudah bisa atau belum? Wudhunya memakai aturan atau tidak? Membaca Al-Quran-nya sudah tartil atau belum? Syarat, rukun, dan sunnah-nya sholat sudah benar atau tidak? Dan pertanyaan lainnya.

Jika diri ini masih belum mau mengisi hati serta akal dengan pengetahuan Islam, jangan berharap besok lusa doa kita akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Jalur Cepat

Ingin jalur cepat mengatasi masalah hidup? Ada satu solusi yang bisa dilakukan tanpa harus memikirkan syarat dan rukunnya. Yang terpenting hati ini ikhlas. Apa itu? Sedekah lah kepada anak yatim, fakir miskin, ke masjid, dan ke mana pun. Insya Allah permasalahan Anda akan tuntas.

Dalam bersedekah, jangan tanggung-tanggung. Misalnya, hanya bersedekah 5 ribu rupiah bila di dompet Anda tersimpan uang 5 juta rupiah, dan seterusnya. Jika bukan sedekah uang, jangan menyedekahkan baju bekas atau sepatu bekas. Sedekahkan yang bagus dan baru sangat dianjurkan. Masa sih ingin bahagia hanya dengan memberi baju bekas?

Kenapa sedekah bisa menghapus masalah hidup? Jika memberi kegembiraan kepada orang lain, kegembiraan tersebut akan mendekati dan memeluk Anda. Hal ini sesuai dengan hadist yang maknanya kurang lebih sedekah itu bisa memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api.

Sebuah penelitian tahun 2008 tentang hubungan memberi dengan kebahagiaan yang dilakukan seorang preofessor dari Jerman menjadi bukti kedahsyatan sedekah. Dalam penelitian ini, seluruh responden diberi uang saku berjumlah sama. Responden ini dibagi dua, yang pertama harus membelanjakan uang tersebut dan yang kedua sebagian uangnya harus disedekahkan.

Hasil riset membuktikan, responden pertama merasa kurang dan ingin terus membeli. Sementara itu, responden kedua merasa hatinya bahagia dan tenang walaupun sebagian uangnya diberikan kepada orang lain. Subhanallah, berabad-abad lalu, ternyata Nabi Muhammad sudah mengidentifikasi bahwa sedekah menjadi pembawa ketenangan dan kebahagiaan batin.

Ada banyak kisah nyata tentang sedekah. Orang yang kaya dan menjadi sukses ternyata sering memberi uang kepada para anak yatim. Mereka hobi membahagiakan orang lain dengan harta yang dimilikinya.

Ada juga kisah tentang seorang pegawai negeri yang gajinya tak seberapa. Tapi, dia selalu menyisakan gajinya setiap bulan untuk membayar listrik mushola di lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu, pegawai negeri ini pun masih rutin membayar pinjaman ke bank, karena dua orang ustad sudah dihajikan olehnya. Apa keajaibannya? Setiap kali dirinya akan haji atau umroh, pasti ada saja orang yang memberi uang sebanyak biaya paket umroh. Subhanallah.

Anda ingin bahagia? Solusinya adalah banyak-banyaklah sedekah, tetapi jangan bilang siapa pun. Sedekah memang keren abis!