“Semua yang kulakukan ini tulus untukmu, ay…”


 

 

Tuhan…

Terima kasih Tuhan telah mengirimkan malaikat kecil untukku ini. Aku tahu bahwa aku adalah manusia berdosa maupun orang yang kurang bersyukur atas karunia-Mu yang sudah Kau berikan padaku.

Aku menyadari cinta darinya sangat tulus. Aku menyadari bahwa kehadirannya sangat special untukku di saat hidupku timpang dan menjadi yatim piatu sekarang ini tidak mudah.

Tuhan tahukah apakah yang menjadi keinginanku saat ini?

Aku hanya ingin pergi menyusul Mama dan Papaku, Tuhan. Namun aku sadar bahwa waktuku menjalani perziarahan hidup ini lama. Masih ada yang harus kulakukan di dunia ini.

Aku tahu bahwa waktu enam bulan yang lalu adalah masa-masa terberatku pasca kepergian Mommi. Aku kehilangan pegangan, Tuhan. Aku kesepian. Aku merasakan berbagai macam dentuman keras di dalam hatiku ini. Peristiwa pahit kualami selama enam bulan yang lalu.

Tuhan…

Aku tak akan meminta Kau menghakimi beberapa orang yang telah membuat nyawa Mommi hilang. Aku tak meminta Kau menghukum mereka de ngan situasi yang ada di api penyucian. Tuhan mengajariku bagaimana aku harus memperlakukan orang-orang yang tega menyakiti hatiku dan ketiga saudaraku ini untuk mengasihi mereka semua.

Terbesit di dalam benakku untuk melayani Tuhan selamanya. Menjadi seorang suster biarawati adalah hal yang terbaik bagiku. Namun Tuhan telah mengubah total semuanya yang telah kurencanakan ini.  Aku hanya bisa berusaha menyelami pikiran dan rencana-Mu yang luar biasa, Tuhan.

Jawaban yang kutemukan ini sangat menyakitkan, Tuhan. Mereka terdiri dari empat orang yang merupakan pembunuh berdarah dingin yang tega membayar pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Mommi dengan rapi. Namun aku percaya bahwa Tuhan akan membimbing mereka secara perlahan. Aku tahu mereka diselimuti buah kedagingan dunia yang siap mengancam jiwa mereka.

Satu hal yang merupakan kado terindah bagiku ditengah badai hidupku ini, Tuhan…

Kau telah menghadirkan sosok yang bisa membuat kepingan hatiku yang hancur berkeping-keping ini bisa perlahan-lahan merekat kembali walaupun aku harus merasakan pahitnya diperlakukan lebih rendah dari anjing oleh empat orang pembunuh berdarah dingin ini.

Tidak apa-apa, Tuhan…

Jika mereka harus seperti itu memperlakukan aku dan ketiga saudara dengan sangat rendah dari anjing. Kau lebih baik bahkan sangat menyayangi kami bertiga ini. Kau tak akan pernah meninggalkanku seorang diri menghadapi hantaman badai yang selalu menerjang hidupku ini, Tuhan…

Tuhan…

Aku mencintai sosok yang Kau hadirkan di dalam hidupku ini. Aku berdoa semoga ia mampu membimbingku dengan sabar. Aku tak melihat darimana ia berasal maupun harta duniawi yang ia miliki, Tuhan. Aku menyayangi hatinya dan ketulusannya. Aku tahu ini adalah Natal pertamaku tanpa kedua orang tuaku namun ini adalah Natal pertamaku bersamanya…

Tuhan…

Lindungi dia untukku. Biarkan ia hidup lebih lama dariku. Agar ia bisa membawa jasadku kembali ke makam kedua orang tuaku kelak. Cinta ini akan aku bawa sampai maut menjemputku kelak, Tuhan.

 

Yogya, 17 Desember 2014