Ingin menjadi penulis hebat seperti Habiburrahman El Shirazy dan Andrea Hirata yang tulisannya difilmkan dan menarik banyak penonton? Menjadi penulis itu memang susah susah gampang. Banyak sekali penulis-penulis hebat dari Indonesia. Baik itu penulis fiksi maupun non fiksi, penulis artikel juga jauh lebih banyak. Ingin tulisannya dimuat di surat kabar seperti penulis-penulis hebat? Siapa bilang menulis itu sulit. Sebenarnya setiap orang adalah penulis. Karena dalam keseharian sudah dapat dipastikan terjadi proses menulis. Misalnya update status, mencatat, merangkum hasil rapat juga disebut menulis, dan sejak di bangku sekolah sudah diajarkan menulis. Menulis itu gampang, semudah ngomong. Kali ini, akan mengulas tips cara menjadi penulis yang produktif dan dipertimbangankan.

 

Menentukan Ide

Langkah pertama adalah, menentukan ide atau topik bahasan. Susah menentukan ide? Kunci menentukan sebuah topik dan ide adalah, biarkan otak mengalir dan liar berfikir. Jangan menekan otak untuk menemukan topik yang bersifat besar dan berat. Ide dapat diperoleh melalui hal-hal sederhana.

Tentukan topik yang paling dekat dan sering ditemui. Misalnya, topik tentang persahabatan, pendidikan dan masih banyak yang bisa diangkat sebagai sumber tulisan. Ambil topik yang dekat dengan kita, kemudian tentukan arah tulisannya, sebelum mengambil benang merahnya. Jika hal tersebut sudah dilakukan, maka, langkah selanjutnya adalah melakukan observasi.

 

Observasi

Observasi tidak selalu mengeluarkan banyak uang. Jangan bayangkan observasi sebagai momok yang dihindari. Seorang penulis yang hebat, mereka selalu mengobservasi. Tidak jarang pula melakukan penelitian secara ilmiah. Jika masih takut, lakukan observasi secara kecil-kecilan. Misalnya dengan cara mengamati perilaku orang-orang yang ada disekeliling. Kunci dari sebuah tulisan yang menarik adalah kemampuan kita dalam mengamati.

 

Amati

Mengamati itu kunci penting menemukan problem yang bisa dijadikan sebagai benang merah tulisan. Seorang penulis harus mampu menyampaikan temuan dari pengamatannya. Kenapa harus mengamati? Karena banyak para pembaca yang tidak sempat mengamati setiap masalah. Tidak semua pembaca juga peka melihat fenomena yang akan diangkat. Itulah, sebagai penulis penting menyampaikan gagasan, ide ke dalam bentuk tulisan.

Jika masih menjadi penulis pemula yang ingin tulisannya di muat di surat kabar atau majalah juga bisa dengan cara “amati”. Amati gaya bahasa penulis lain dalam menyampaikan tulisan, kemudian pelajari dan praktekkan dengan mencoba menuliskannya.

 

Tuliskan

Tuliskan!, apapun itu ide, gagasan dan pesan yang ingin disampaikan. Bagi penulis pemula, Abakan tata bahasa, penulisan EYD yang baik dan benar. Asal tuliskan saja. Jangan pikirkan komentar orang lain jika membaca tulisan kita. Saat menulis, jangan hiraukan hasil tulisannya bagus atau tidak. Lupakan itu semua untuk sementara. Karena, ada beberapa tipe penulis, jika memikirkan itu semua justru akan menghambat produktifitas dalam menulis, karena dihantui oleh banyak hal.

Saat menulis, biarkan pikiran dan tangan berekspresi menyampaikan apa yang hati dan pikiran ingin sampaikan. Langkah terakhir ketika tulisan sedah selesai, baca ulang hasil tulisan yang dibuat. Di sinilah, kita berposisi bukan sebagai penulis, tetapi sebagai editor, yang harus detil memperhatikan EYD.

 

Tips yang penulis lakukan, setelah menulis dari awal sampai akhir usai, penulis keluar sekedar mandi, sholat atau mencuci baju. Tujuannya adalah, mendinginkan pikiran selepas diperas habis untuk menulis. Beberapa jam kemudian, baru membaca ulang tulisan kita dan memposisikan sebagai editor. Kenapa harus diberi jeda? Karena jika usai menulis dan langsung memposisikan sebagai editor, subjektivitas dalam mengedit jauh lebih subjektif. Karena cara menjadi penulis yang diperhitungkan harus mampu memperhatikan kepantasan teks, logika, etika dan estetika masyarakat.