Currently set to No Index
Currently set to No Follow

Welcome To Ramadhan

Welcome To Ramadhan
Biasanya, anak-anak kalau sudah selesai menikmati libur panjang akan terlihat ceria saat kembali masuk sekolah lagi. Ada yang gembira karena ketemu teman sekelas yang sudah lama tidak bertemu dan bersapa. Ada juga yang gembira karena akan dapat teman baru. Dan yang pasti, anak-anak yang masuk dalam rangking lima besar akan lebih ceria dan lebih semangat lagi agar bisa meraih juara umum.
Dengan aneka ceria itu, tak ayal mereka saling bertukar pengalaman kala saling bertemu. Ada yang cerita tentang indahnya masa-masa di kelas sebelumnya. Ada yang cerita bagaimana baiknya si A tapi sekarang sudah tidak satu kelas lagi. Ya, yang lalu akan berbeda pasti dengan sekarang. Makanya, dari pintu pagar hingga kelas banyak terpampang tulisan, “Welcome to School”
***
Ilustrasi apakah yang dapat Anda tangkap dari keceriaan di atas? Kalau saya katakan, bahwa Ramadhan yang kita lalui setiap tahunnya sama seperti kondisi anak-anak kita di awal masuk sekolah atau ketika kita sekolah dulu, kira-kira Anda sepakat tidak? Saya cukup yakin, kita sangat ceria ketika Ramadhan datang. Keceriaan itu muncul karena setiap amal baik pahalanya akan digandakan. Kita ceria juga dikarenakan akan ada buka puasa bersama dengan teman-teman kantor, teman-teman semasa sekolah di SMA dulu dll. Bahkan, kita
akan ceria ketika dapat meningkatkan dan memperbanyak amal agar meraih lailatul qadar. Sekarang, sama tidak ilustrasi di atas dengan kondisi kita menyambut Ramadhan? Kita mempunyai kondisi yang nyaris sama dengan anak-anak ketika mereka pertama sekali masuk sekolah dengan kita menyambut kehadiran Ramadhan. Bedanya, hanya ketika Ramadhan datang kita sambut lebih ceria sebab Allah menjanjikan tubuh kita tidak akan disentuh api neraka sedikitpun. “Siapa yang bergembira dengan datangnya Ramadhan, diharamkan Allah jasadnya atas api neraka” (al-Hadits). Kalau di sekolah, kecerian yang ada hanya akan di sambut dengan kata-kata “well come”, tanpa ada janji apa-apa.
Sebenarnya, bulan Ramadhan adalah potret kehidupan manusia selama se- tahun. Dari lebaran hingga puasa yang akan datang. Kalau menggunakan ibarat sekolah, selain ramadhan adalah liburan. Ramadhan adalah masa pendidikan kita. Makanya bulan Ramadhan sering disebut dengan Syahrud Dirasah (bulan pendidikan). Bagaimana kita menjalani kehidupan di Ramadhan seperti itu juga nantinya kita di luar Ramadhan. Kita yang menanam Kita juga yang akan memetik. Kita bisa jadi akan rajin sholat ke mesjid, bisa jadi rajin sedekah dan bisa jadi anda akan tetap biasa-biasa saja. Ramadhan itu aktivitas yang akan mengajari dan menunjang kita menjadi lebih terdidik. Tapi, tetap saja, tinggal cara kita bagaimana merespon Ramadhan.
Pendidikan apa yang di dapat di Ramadhan? Hanya kita yang bisa menentukan. Kita bisa mendapatkan Ramadhan seperti air mengalir. Kita bisa mendapatkan Ramadhan seperti kecepatan mobil automatic. Dan anda bisa mendapatkan Ramadhan seperti kecepatan roket. Semua itu tergantung kita. Kita sukses bisa, biasa-biasa juga bisa, bahkan kita gagal sekalipun cukup bisa. Ramadhan seperti kecepatan mobil automatic. Dan anda bisa mendapatkan Ramadhan seperti kecepatan roket. Semua itu tergantung kita. Kita sukses bisa, biasa-biasa juga bisa, bahkan kita gagal sekalipun cukup bisa.
Jika menjalani Ramadhan seperti air mengalir sama seperti apa yang pernah diobrolkan Rasulullah kepada para sahabatnya dan diteruskan kepada kita, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Seperti air bukan? Air akan selalu mengikuti ke mana arah atau jalur yang ada. Tanpa pernah bisa merubah diri sendiri. Statis. Kalau tak ada saluran, dia akan diam di situ. Hidupnya senantiasa membutuhkan ‘curahan’ bantuan. Apabila tidak ada, banjir pun terjadi.
Seperti itu juga orang-orang yang tak pernah mau merubah dan mengonsep diri. Hanya mengikuti alur yang diciptakan Allah. Padahal, sudah jelas dikatakan di dalam al-Qur’an, “Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum hingga dia merubah dirinya sendiri”. Mau sukses dan punya masa depan cerah dengan memiliki pensiunan amal dan harta, jangan menjadikan hidup ini bagai air mengalir. Jangan korbankan kata-kata takdir atau nasib hanya karena kita bersifat seperti air. Takdir itu tergantung kita, bukan mutlak dari Allah.
Beda lagi dengan yang puasanya seperti mobil. Ketika awal perjalanan dia agak menekan pedal gas sedikit agar bannya dapat bergerak. Kalau sudah nyaman dan stabil kadang suka terlena. Tapi, kalau ada urusan mendadak dia akan segera melaju dengan kencang. Hanya lampu merah dan macet saja yang bisa menghentikannya.
Seperti itulah ilustrasi kehidupan orang yang amal puasanya naik turun. Tentunya awal puasa dia begitu smart dalam beribadah. Ketika sudah di tengah- tengah baru mulai kadang naik semangat beribadahnya dan kadang turun bak di temperatur pengukur suhu. Makanya orang yang seperti ini, pahalanya hanya Allah yang membalasnya. Dalam hadits Qudsi dikatakan, “Telah berfirman Allah Swt: “Tiap-tiap anak Adam untuknya sendiri amalnya, selain dari puasa itu untuk- Ku dan Aku akan memberikan pembalasan kepadanya”.
Inilah potret manusia yang mulai mau mengkonsep kehidupan. Namun, kadang- kadang dijalankan dan kadang-kadang tak terjalankan secara penuh. Akhirnya, hidup memang cukup sejahtera, tapi tidak memiliki jaminan masa depan yang terus-menerus cerah. Tipe manusia seperti ini adalah tipe yang tidak bisa memanfaatkan kondisi juga. Ketika kondisi lagi stabil tidak pernah berfikir untuk menabung atau berusaha untuk membuka usaha baru. Kesannya boros dan terlalu nyantai bahkan secara tiba-tiba bisa menjadi orang yang seperti ke mana air mengalir.
Nah, yang perfect itu berpuasa seperti kecepatan roket. Dia berusaha terus meningkatkan amalnya, tanpa ada hasrat untuk menurunkan sedikit pun. Konsep amal yang dirancang selalu sempurna dikerjakan. Di dalam Ramadhan ada aktvitas interospeksi yang kerap dilakukannya. Selesai tarawih, dia langsung mengevaluasi mana amal yang kurang berjalan lancar dan mana yang lancar dan selalu mulus. Tipe orang yang puasa seperti ini akan terus merubah amal yang kurang lancar menjadi lancar. Yang sudah lancar makin ditingkatkan. Frekuensi ibadahnya terus melambung ke atas. Dan orang yang berpuasa seperti ini, yang berhasil meraih “nobel” lailatul qadar. Mendapatkan pahala melebihi umurnya di dunia dan mendapatkan garansi jaminan masuk surga.
Orang yang serius ingin sukses sama seperti orang puasa roket. Ia selalu berusaha untuk bisa mencapai targetnya. Dalam menjalankan program hidup selalu ada rancangan. Mana yang tidak terlalu meningkat, ditingkatkan. Yang sudah meningkat lebih dan makin ditingkatkan. Bahkan, orang yang sukses bagaikan roket ini sudah membuat garansi hidup. Ia sudah merencanakan apa yang harus dilakukannya untuk 30 tahun ke depan atau sampai batas umur rata- rata manusia, 60 tahun. Tiap tahun, bulan, minggu dan bahkan hariannya selalu ada great dan target tertentu yang harus dicapai.
Pokoknya, orang yang seperti roket ini bisa memiliki banyak cita-cita. Bahkan, dia bisa merangkap tiga hingga lima jabatan yang dimiliki sekaligus. Dia bisa jadi penulis, pengusaha, dosen, pemandu wisata dan public speaker. Kenapa bisa? Alasannya karena sudah merencanakan hidupnya sejak jauh-jauh hari dan sudah tahu apa yang harus disiapkan agar bisa meraih yang diimpikan. Bagaimana dengan Anda? Silahkan pilih tipenya!

Leave a Reply