Sebenarnya saya tak pernah membayangkan bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan mempunyai gelar sarjana. Selepas SMA orang tua saya sudah mengatakan bahwa mereka tidak sanggup membiayai saya kuliah. Keinginan saya untuk melanjutkan kuliah ketika itupun saya pupus. Dengan suara tertahan karena sedih, Ibu berujar “ Mugo-mugo suk mben, kowe iso kuliah dewe, biso dadi sarjana (semoga suatu saat nanti kamu bisa kuliah, bisa jadi sarjana). Dalam hati saya mengaminkan kata-kata Ibu. Meskipun saya tak yakin akan bisa melanjutkan kuliah.

Saya kemudian memilih bekerja, dan sedikit-sedikit membantu keuangan keluarga. Namun, itu tak menghentikan keinginan saya untuk terus belajar. Saya pikir, belajar tidak hanya dibangku formal saja. Di tempat kerja pun saya juga belajar. Belajar apa saja, mengenai pekerjaan, bagaimana bersosialisasi bahkan tentang kehidupan.

Setelah saya menikah semuanya berubah, praktis saya hanya tinggal di rumah. Karena terbiasa beraktifitas, saya bosan hanya berdiam diri di rumah. Saya berupaya mencari kegiatan di luar rumah. Akhirnya suami menyuruh saya untuk ikut semacam kursus Guru Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan guru Bahasa Inggris selama satu tahun. Disinilah kemudian saya menemukan passion saya di dunia pendidikan. Saya mulai memberikan les bahasa Inggris pada anak-anak SMP dan SMA di sekitar rumah.

Kemudian tahun 2003 hingga 2005 saya mengajar di sebuah Sekolah Dasar. Bahkan saya akhirnya mengikuti kuliah jarak jauh yang diselenggarakan Dinas Pendidikan selama 3 semester. Namun, saya akhirnya tidak melanjutkan kuliah jarak jauh ini karena suatu alasan. Salah satunya karena faktor biaya. Ketika itu, kami terkena imbas krisis ekonomi. Sehingga kami tak lagi mampu membayar biaya kuliah yang membengkak.

Saya masih tetap mengajar, tapi di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Impian untuk melanjutkan pendidikan semakin kuat namun terkendala biaya. Tetapi Allah memang Maha Kaya, Maha Mendengar. Tahun 2009, disaat Ibu sudah berpulang setahun sebelumnya saya mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta dan diterima sebagai mahasiswi PG PAUD.

Saya dan suami bertekad untuk bisa menyelesaikan pendidikan ini apapun rintangannya. Waktu itu saya sempat tidak yakin, apakah mampu membayar biaya kuliah yang tidak sedikit. Belum lagi biaya transport karena jarak kampus dengan tempat tinggal yang jauh. Berbekal keyakinan, ketekunan, keseriusan saya dalam belajar dan bantuan dari keluarga besar, akhirnya saya lulus tepat waktu dengan predikat Cumlaude di usia saya yang sudah 34 tahun. Sungguh di luar dugaan saya. Allah telah memudahkan jalan bagi saya. Allah mengabulkan doa Ibu. Masih terngiang kata-kata Ibu kala itu bahwa suatu saat saya pasti bisa menjadi sarjana.

Ibu, terima kasih atas doa-doa yang kau panjatkan. Semoga saya bisa amanah menyebarkan ilmu dan kebaikan. Semoga saya bisa amanah dalam menerapkan ilmu yang telah saya dapatkan. Hikmah yang bisa saya petik adalah doa seorang Ibu bisa menjadi sebuah kekuatan bagi anak-anaknya. Belajar dari Ibu, akan selalu kupanjatkan doa-doa terbaik untuk anak-anak saya.