Dunia literasi Indonesia semakin hari semakin maju dan bersaing. Munculnya penulis-penulis baru turut meramaikan kancah dunia ini. Anda kah salah satunya? Jika anda ingin menjadi penulis, tentu saja anda harus memerhatikan bagaimanakah cara menjadi penulis seharusnya, agar keinginan itu menjadi penulis bisa terwujud.

Tak cukup hanya menjadi penulis saja? Anda ingin menjadi penulis yang terkenal dan tetap berkualitas karyanya? Semua bisa dijalankan asal impian menuju ke sana diimbangi dengan semangat dan kerja keras yang tinggi. Mustahil seseorang yang hendak menjadi dokter anak hanya berpangku tangan tanpa mau belajar sedari dini lalu dia berharap seketika menjadi dokter anak yang dipercaya pada orangtua di seluruh penjuru negeri. Seorang penulis pun sama. Dia akan selamanya menjadi manusia biasa yang tak memiliki karya bila tiada usaha yang dilakukannya sama sekali. Maka, cara menjadi penulis memang harus dipelajari.

Menjadi penulis adalah pilihan

Pertama yang harus dipahami dalam cara menjadi penulis adalah menjadikan menulis sebagai pilihan. Mengisi kehidupan anda sebagai seorang penulis adalah sebuah pilihan yang harus diakui. Pertama, mantapkan anda dalam dunia kepenulisan ini. Jangan setengah-setengah. Kata salah seorang motivator, menjalani hari dengan setengah-setengah itu sama dengan terpaksa. Bila anda sudah berkeinginan menjadi penulis yang ingin bermanfaat bagi banyak pembaca di negeri ini, mantapkanlah. Ini adalah satu pilihan yang telah anda centang untuk bersama-sama penulis lain menginspirasi banyak orang melalui goresan pena anda. Orang-orang di sekeliling kita memiliki pilihan hidup masing-masing. Dan semua itu akan ada konsekuensinya.

Menjadi penulis bukan tiada tantangan. Apalagi keinginan kita sekarang tak hanya menjadi penulis yang biasa-biasa saja. Kita ingin buku kita best seller, nama kita terkenal, juga yang paling penting adalah kualitas dari tulisan tetap terjaga dan kita perhatikan. Bukan murahan, bukan asal jadi. Maka, bersiaplah dengan segala konsekuensi anda menjadi seorang penulis.

Budaya membaca, janganlah ditinggalkan

Kata salah seorang Khalifah Islam, Sayyidina Ali RA“menulis itu mengikat ilmu.” Benarlah ungkapan tersebut. Bahwasanya, setiap ilmu yang kita peroleh dari membaca dan dari mana saja, akan lebih terjaga manakala kita mencatat atau menuliskannya. Bandingkan dengan kita mengingatnya saja, sungguh kita akan lupa. Karena Tuhan menciptakan daya ingat kita penuh dengan keterbatasan.

baca buku
gambar dari google

Cara menjadi penulis berikutnya adalah dengan membiasakan budaya membaca. Rajin mencari tahu informasi yang berkembang di masyarakat, membuka wawasan seluas-luasnya, mengikuti update buku-buku terbaru dan kaya gizi bagi penulis, akan menambah peluang kita mengembangkan ilmu dalam menuliskan setiap ide yang muncul dalam benak kita. Bukan sekadar apa yang tertuang secara spontan dari otak, namun kita sudah memiliki “tabungan” pengembangan dari banyak hal yang telah kita baca. Bahasa kita tidak begitu-begitu saja dan ulasan-ulasan kita tidak melulu berkutat pada ide utama. Semakin banyak yang kita baca, semakin luas pengembangan makna dari satu ide yang muncul dalam pikiran kita.

Di sinilah kita memerhatikan adanya istilah “penulis dengan karya yang berkualitas”. Penulisnya berkualitas, karyanya juga berkualitas. Sungguh akan sangat berbeda kualitas karyanya antara penulis yang maniak sekali membaca dengan penulis yang ogah-ogahan membaca.

Jangan sampai kelak saat buku karya kita sudah bejibun diterbitkan oleh berbagai penerbit, ternyata isinya tidak terlalu banyak inovasi alias sama saja dengan buku-buku yang sebelumnya sudah terbit dengan tema yang sama.

Perluas jaringan jika anda ingin terkenal

Ini dia yang sering jadi daya tarik tersendiri menjadi seorang penulis. Bayangannya, menjadi penulis itu kelak namanya akan dikenal di mana-mana, sering disuruh mengisi seminar kepenulisan, menjadi tokoh masyarakat yang dikagumi, keren, dan banyak yang minta tanda tangan layaknya aktor dan aktris ternama.

online
gambar dari google

Cara menjadi penulis yang terkenal, adalah dengan memperluas jaringan anda. Mau terkenal seperti siapa anda, anda yang menentukan. Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazhy, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Baim Lebon, Gol A Gong, Mira W, Ary Ginanjar, Ahmad Ghazali, Taufik Ismail, atau seperti Nasirun Purwakartun kah yang anda idamkan kemashurannya? Maksimalkan potensi yang anda miliki untuk bersosialisasi baik secara offline maupun online. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa era masa kini sangat sulit untuk menghindar dari dunia online. Penerbitan, kelas kepenulisan, info dan segala macam tentang dunia penulis bisa terhubung melalui internet. Anda jangan sampai tidak menguasai semua ini.

Buat akun sosial media yang membawa brand anda sendiri. Cara menjadi penulis yang satu ini sangat mengasyikkan menurut saya. Pakai nama pena yang ingin anda “jual” dalam karir kepenulisan. Pakailah nama itu di manapun anda berinteraksi di dunia digital. Lama kelamaan nama itu akan melekat pada mereka yang secara langsung membaca profil anda.

Munculkan quote anda sebagai seorang penulis dan berusahalah peka pada hal-hal hangat yang menjadi topik pemberitaan sesuai bidang anda. Jaringan anda jangan hanya sebatas pertemanan pada orang yang sudah anda kenal. Jelajahi lebih banyak lagi penerbit kecil hingga penerbit yang sudah tingkat nasional. Bergabunglah dengan komunitas penulis dan maksimalkan peran anda di sana, jangan hanya sebagai silent reader. Gali ilmu sebanyak-banyaknya dan perkenalkan anda kepada semua orang. Inilah cara menjadi penulis yang selama ini anda cari.

Kepada pembaca yang hendak memiliki buku anda, jangan segan untuk memberikan kesan positif tanpa dibuat-buat. Bukankah sudah sewajarnya sebagai manusia kita memiliki energi positif, bukan? Interaksi anda akan menunjukkan karakter. Maka, jeli dalam berinteraksi di dunia digital dan non digital tetap harus diperhatikan.

 

Kaya dengan menulis, adalah bonus

Cara menjadi penulis terkenal dan tetap berkualitas yang terakhir yaitu, memahami hakikat kaya dengan menulis. Hmm, siapa yang tidak puas. Sudah punya profesi keren, bukunya laku keras, kita jadi manusia tersohor dengan karya yang kualitasnya number one, royalti berlipat dan kita menjadi manusia kaya raya! Aduhai, hampir setiap penulis memimpikan itu.

 

Namun, pahamilah sejatinya kekayaaan yang kita peroleh dari menulis itu adalah sebuah bonus. Bonus atas ide-ide cemerlang kita, bonus atas kesungguhan kita yang ingin berbagi banyak kebaikan melalui tulisan kita. Dari siapa bonus itu? Dari Tuhan.

 

Jika kekayaan itu biar kita anggap sebagai bonus, salahkah bila seorang penulis menjadikan profesinya sebagai profesi utama untuk mencari penghasilan? Tentu saja tidak ada yang salah. Bahkan bila itu anda lakukan (menjadikan penulis sebagai profesi utama), maka anda sudah 100% menjadi penulis. Hanya saja, hakikat ini harus ada di dalam hati kita agar ke depan kita makin siap menjalani tantangan sebagai seorang penyuara kebenaran lewat tulisan. Karir penulis itu tetap saja akan dimulai dari bawah. Proses naik ke atas itu masing-masing akan mengalami perbedaan tempo. Hasil yang didapat pun akan berbeda-beda. Maka jika orientasi awal anda hanya untuk meraih kekayaan dengan cara menjadi penulis, saya takut anda tidak akan siap dengan proses yang anda jalani. Ditakutkan pula kualitas tulisan yang dihasilkan jadi kurang memiliki bobot andai yang dicari adalah “harga” semata.



Baik, cara menjadi penulis yang terkenal dengan kualitas karya yang tetap oke harus selalu ada di dalam diri penulis. Step di atas bisa dicoba, untuk lebih memantapkan segala peluang dan perencanaan yang sudah kita buat. Cara menjadi penulis yang saya suguhkan tidak susah, bukan? Sukses selalu, dan bersemangatlah menjadi penulis dan pembaca yang bijak!